
Nama aku, itu tak penting.
Aku hanya seorang cewek yang tidak berguna yang berhenti sekolah setelah menginjak 13 tahun.
Orang tua ku mati saat aku berumur 3 tahun dan di jaga seorang paman keluarga ayahku.
Aku di jaga dengan teruk oleh paman ku itu. Aku selalu di pukuli dan selalu di biarkan lapar berhari hari.
Saat aku berumur 13 tahun, aku melarikan diri dari pamanku dan terpaksa berhenti sekolah. Aku berkerja sebagai pelayan cafe atau penjaga kasir demi bertahan hidup.
Sekarang, umurku sudah menginjak 27 tahun dan aku hanya tinggal di apartment murah dan hobi ku menulis cerita imajinasi ku pada buku.
Ada yang selesai, ada yang terbengkalai, ada yang happy ending, Ada tragis ending Dan Ada yang ending yang Di paksa.
Yep, semua tipikal seorang penulis novel ada pada aku.
Namun aku tak pernah ingin membiarkan siapapon membaca cerita yang ku tulis.
Mengapa?
Itu menyebalkan. Tidak seperti kebanyakan penulis, aku membuat cerita berdasarkan kebencian yang aku lepaskan terhadap mereka.
Tak satu pon dari charakter yang di tulis oleh ku mendapatkan kasih sayang seorang penulis. Aku membenci mereka dan ingin mereka semua berakhir dengan ending yang tragis.
Namun, apa kau tau? Charakter hanya di cipta dan mereka akan bergerak sendiri tanpa kita sedari.
Aku membenci melihat pengakhiran cerita ku yang bahagia.
Kenapa mereka bisa bahagia saat aku menderita seperti ini.
Mereka memiliki sahabat, sedangkan aku sendirian. Mereka di sayangi sedang aku selalu di marahi.
Aku membenci mereka dan ingin mereka mencapai ending yang tragis seperti milikku.
Tangan ku yang memegang pensel lama lama kehilangan kekuatannya dan pandangan ku mulai kabur.
'Apa aku mati?'
Aku tau penyebabnya. mengapa tidak? Aku overdose ubat tidur. Aku memiliki insomnia yang membuat ku sukar untuk tidur.
Aku bahkan perlu mengambil 5 pil ubat tidur setiap kali aku ingin tidur.
Dan itu jika aku mengambil 5. Aku juga terkadang mengambil 10 pil hanya kerana aku geram.
Siapa peduli aku akan mati?
Orang tua ku sudah meninggal dan pamanku mungkin sedang mabuk mabukkan. teman tempat berkerja ku sangat menyebalkan dan suka membuli ku. Nenek pemilik apartment ini mungkin senang dengan kematian ku kerana selalu buat tagihan hutang.
'Hah.... Aku baru selesai membayar tagihan hutang juga.'
Dengan lemah, aku menutupi mata ku dan berharap untuk di kubur dengan baik.
.
.
.
.
.
.
'Huh?'
'Siapa cewek cantik berambut pink ini?!'
Aku menyentuh kaca dengan tangan ku yang mulus.
'Mata pink dan rambut pink seindah bunga sakura.'
Senyuman mengerikan muncul di wajah diriku yang indah.
"ha, hahahahahaha!"
Aku tak bisa tidak tertawa dengan keras.
Rambut dan mata pink yang hangat dan penuh kasih sayang, tidak, itu kosong kerana itu menjadi milik ku
ini hanya refensi wajah. 😁⬆️
Bagaimana aku bisa melupakan deskripsi yang paling aku benci dalam cerita yang aku tulis.
Villian, Villian Tex Ajellan. Anak cewek pertama duke Ajellan dan anak kedua dari Ajellan.
Yang pertama adalah kakak cowok nya, Felix Tex Ajellan.
Pratogonis dalam cerita yang ku tulis. Aku membuatnya dengan kebencian terbesar dari semua charakter yang pernah aku ciptakan.
Dia akan mati dalam 2 tahun kerana penyakit yang tidak bisa di sembuhkan.
Penyakit yang di deritanya adalah souhell. Souhell adalah penyakit yang aku ciptakan di cerita itu sebagai penyakit yang mematikan namun tidak sakit.
Itu penyakit kutukan dan setelah menghidap penyakit itu, dia akan mati dalam kurun 2 tahun dan tanda dari penyakit itu adalah di tubuh, memiliki bintik hitam sebesar 2 cm.
Milik Villian ada di bahagian dadanya. Siapa yang berani melihat area itu pada seorang cewek dan anak duke pula.
Namun yang aku benci adalah, dia menyembunyikan sakit nya dan membantu ramai orang dan ingin mati kerana menolong seseorang.
"Hei, apa menyenangkan mati sambil membuat orang menangisi kematian kau?!
Jika ingin mati, diam saja kenapa!?"
Aku berteriak kerana prustasi. Aku menjadi charakter yang aku benci lebih dari siapa pon.
Aku membencinya kerana dia membantu semua orang yang kesusahan yang ia lihat. Charakter seperti itu sangat aku benci. Itu kerana di dunia nyata, tiada siapa yang akan melakukan itu.
Ye. Kebencian aku tak berdasar pada charakter ku yang tak bersalah.
Aku mengakuinya.
Namun dengan itulah aku bertahan hingga umurku 27 tahun.
Satu hal lagi.
"Aku benci drees!!!"
Bagaimana kau bisa menyuruh seorang gadis tomboy yang tidak dan selamanya tidak akan menggunakan kain, memakai dress seperti princess?!
Tipikal gadis anggun tidak cocok dengannya. Gadis yang berantem dengan para gangster tepi jalan dengan bekalan tangan kosong, di suruh jadi princess?
Yang benar saja!
'Ahh.... aku merindukan rambut hitam pendek ku.'
Rambut pink yang panjang itu benar membuat dirinya rimas, jangankan warna yang menjijikkan itu.
"Aku akan mati dalam 2 tahun? Aku anak duke, kan?"
Villian memiliki senyum menakutkan di wajahnya yang tidak akan pernah Villian sebenar akan buat.
"Sungguh sayang. Aku membunuh charakter yang cantik ni setelah 1 tahun 6 bulan. Aku membencinya hingga membuat dia terbunuh oleh cewek yang cemburu dengan dirinya yang di dekati cowok tertampan di kota."
Aku bergumam dengan senyum menakutkan menggunakan wajah cantik Villian.
"Persetan aku mati atau hidup. Kisah yang aku tulis hanya untuk berakhir tragis.
Persetan sama alur cerita yang aku tulis. Aku mulai sekarang, Villian Tex Ajellan. Aku akan melakukan apa yang aku mau."
Aku bergumam dengan senyum menakutkan dan merobek dress pink yang terlihat sangat mahal itu.
"Membantu sebelum mati? Fttt.... Hahahahahahahahahaha!!!"
Sekali lagi aku tertawa dengan menakutkan menggunakan wajah cantik Villian.
"Kalau aku akan mati, baik aku menggila dari tolong orang."
Dia membuka lemari baju Villian. Dia melihat baju untuk menunggang kuda berada di sudut yang sangat jauh di lemari baju itu.
Dengan baju untuk menunggang kuda, aku memakai topi membuat rambutnya terlihat pendek.
Dia membuka pintu dengan segar. Dia akan pergi bertemu tabib dan menyebarkan rumor dia akan mati dalam 2 tahun.
Tidak ada yang akan melarangnya melakukan apapon jika orang orang mengetahui dia akan mati.
"Villian?"
Seorang pria yang lebih tinggi dari Villian dengan rambut dan mata yang sama pink dengan Villian.
Bang!
Villian yang kaget langsung menutup pintu dengan keras.
"Villian, kamu ingin menunggang kuda?"
Kakaknya Villian, Felix Tex Ajellan. Suara yang lembut bertanya pada adiknya.
Dia bingung kerana adiknya sangat takut dengan kuda kerana kuda pernah memakan rambutnya.
"Aku sudah gila kakak. Jadi biarkan saja."
Villian membalas seperti itu membuat kakaknya mengerutkan kening dengan perasaan khawatir.
"Villian, apa ada yang mencabar mu naik kuda?"
Sekali lagi, Felix bertanya dengan suara yang lembut.
"Aku sudah bilang aku gila. Kakak diam dan pergi saja."
Felix tidak mempercayainya. Namun jika dia masuk kamar Villian, dia mungkin percaya.
Dress yang di robek Villian masih berada di sana.
Tidak mungkin adiknya akan merobek dress pink yang sangat ia sukai dan memakainya hampir setiap kali dress itu ada di lemari.
"Villian."
Suara yang lembut namun tegas keluar dari mulut Felix.
"Kakak. Aku gila. Aku akan segera mati."
Villian hanya mengatakannya tampa mempertimbangkan perasaan sang kakak.
Mata Felix membulat mendengar suara lemah Villian.
Itu bukan suara lemah Villian. Itu hanya suara malas.
"Villian, a, apa maksud kamu?"
Suara lembut Felix bergetar saat perkataan keluar dari mulutnya.
Villian menghembus nafas secara internal.
"Souhell."
Villian hanya mengatakannya dengan jujur. Sakit souhell tidak menyakitkan dan penderita penyakit ini bisa hidup sihat seperti manusia normal lainnya.
Hanya, dia akan mati dalam kurun 2 tahun. Itu saja.
Bruk.
Villian mendengar sesuatu jatuh ke lantai dan membuka pintunya.
Dia melihat Felix yang terduduk di lantai dengan muka yang sangat pucat lebih dari dia yang menerima penyakit kutukan itu.
Seluruh tubuh Felix menggigil dan peluh memenuhi tubuhnya.
"Kakak?"
Bahkan untuk Villian, itu sangat mengejutkan.
"Di mana tanda tu?"
Felix menanyakan itu dan dengan tak tahu malunya, Villian menunjuk ke arah bahagian atas dada kirinya.
Felix berdiri dan menarik Villian. Villian hanya mengikuti nya kerana dia tidak bisa mengalahkan kekuatan kakaknya itu.
Dia pasti, kakaknya akan membawanya ke tempat yang memang ia tuju.
Ruang tabib.
Tak perlulah dia mencari cari di rumah yang bagai istana ini.
.
.
.
.
.
Bersambung...........