I DO WHATEVER I WANT!

I DO WHATEVER I WANT!
Episode 36



Villian pon pergi bersama Regis, Eugine dan Zillo keesokan harinya.


"Apa yang akan kita lakukan kali ini?"


Semalam, Villian menggunakan metode di mana dia membuat ahli nujum sadar akan kebebasan dan cinta akan kerajaannya.


Villian mengambil permen batangan yang ia suruh koki nya buat, dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Belasah mereka."


Mereka semua tersentak dengan itu. Apa hanya belasah mereka? benarkah?


"Mari tunjukkan pada mereka siapa yang berkuasa di sini. Yang kita perlu buat untuk werewolf yang rakus adalah menunjukkan keputusasaan pada mereka."


Villian memasukkan tangannya ke dalam saku. Dia memakai pakaian formal pria berwarna hitam dengan sarung tangan hitam juga.


Dia mengikat rambutnya dengan cara di sanggul.


Juga memakai jas yang hanya di sangkut di pundaknya.


Dia berbeda dari semalam yang mana hanya bermodal baju T-shirt putih dan seluar jin. Semalam dia hanya seperti bocah yang sengaja membuat kekacauan.


Namun hari ini, dia terlihat seperti pemimpin yang siap melakukan tugas dan bukan kekacauan.


.


.


.


Mereka bertiga melihat para werewolf nongkrong dan mendekat. Mereka mengenal Regis dan mula mengejeknya.


Villian menggigit lolipop nya dan meludah batangnya.


Dia berjalan ke depan dan membuat tangan good dan mengiris di bawah lehernya.


Melihat ejekan itu, werewolf itu menyerangnya.


Villian dengan tenang berdiri saat perisai tidak terlihat di depannya. Dia memakai subang itu bukan hanya untuk hiasan.


Estella lebih baik saat menjadi subang kerana bisa membuat perisai tidak terlihat.


Gelang giok di tangannya berubah menjadi pedang yang terlihat suci.


"Habisi mereka."


2 kata keluar dari mulut Villian. Regis dan Zillo bergerak menghabisi sekelompok werewolf itu. Eugine merasa tidak perlu melakukannya kerana Zillo dan Regis sudah cukup.


Tidak lama kemudian, sekelompok werewolf itu berlutut di depan Villian yang menyilangkan kakinya sambil minum teh buatan Eugine.


Villian menatap werewolf itu dingin. Dia menggunakan pedang untuk mengangkat wajah werewolf yang menunduk itu.


"Beritahu aku, mengapa kalian membantu jubah biru."


Werewolf itu dengan rapat menutup mulutnya.


Villian menarik pedangnya kembali. Dia tidak bisa membunuh seseorang.


"Akan aku tunjukkan keputusasaan pada kalian."


Tikd.


Villian memetik jarinya dan Eugine melangkah maju. Dia menggunakan sihir untuk ilusi. Luka kerana kutukan Zillo membuat werewolf lemah pada sihir. Juga sihir itu adalah milik naga. Itu pasti mengerikan.


Werewolf itu langsung pingsan untuk menerima ilusi itu.


"Setelah ini apa?"


Zillo bertanya sambil menendang werewolf di depannya.


"Kurung saja mereka dalam penjara."


Villian mengatakan itu dan semua orang mengangguk.


Mereka pon melakukan perjalanan memburu werewolf yang mengkhianati raja werewolf.


Villian kehabisan benda untuk memasukkan ke dalam mulutnya.


Dia hanya berjalan di depan dan melihat toko yang menarik perhatiannya.


"Aku ingin ke sana."


Villian menarik lengan baju Eugine yang di sampingnya. Eugine menganggukkan kepalanya.


'Sangat bagus jika kamu bilang dulu sebelum pergi!'


Walau Eugine kesal kerana Villian selalu pergi tanpa bilang apapon, dia cukup senang Villian menarik lengan bajunya dengan lembut tidak seperti charakter yang sedang ia jadi saat ini.


Villian melihat itu dan berjalan masuk ke dalam toko itu.


Seseorang berjubah hitam yang duduk di depan bola kaca yang selalu di gunakan tukang ramal. Villian sudah lama ingin melakukan ini.


"Hai, silakan duduk. Aku sudah tahu tujuanmu ke sini."


Villian kaget saat mendengar wanita paruh baya yang tiba tiba bicara.


"Me, memangnya apa tujuan ku?"


Peramal itu tersenyum pada soalan itu.


"Kamu hanya tertarik dengan toko ini, bukan?"


Villian tersentak dan langsung duduk di depan peramal itu.


Dia orang yang percaya tahkyuh. Tentu saja itu menarik minatnya.


"Jadi, apa yang ingin kamu ramalkan? Cinta? Kekayaan? Atau siapa yang terikat dengan benang merah mu?"


Villian berbinar mendengar itu. Ini pertama kali dia melakukan itu dan itu terlihat mistis.


"Aku ingin tahu siapa pemilik benang merah ku!"


'Aku mungkin akan tahu siapa yang Villian sebenar suka.'


Melihat Villian bersemangat, peramal itu tersenyum.


"Berikan aku tangan mu."


Villian dengan senang hati menghulur tangannya.


Peramal itu meletakkan tangan Villian di atas bola kaca itu.


Bola kaca itu mula bercahaya dengan warna yang gelap.


"Ouh, sepertinya benang merah pada pasangan mu adalah hitam. Dia memiliki kutukan yang membuatnya kesepian. Namun benang merah mu rapuh dan bisa membuat itu terputus dan tersambung pada yang lain."


"Hah?"


Mata Villian terbelalak saat mendengar itu.


'Zillo dan Villian tidak menyukai satu sama lain. Juga kutukannya makin parah jika dia bersama Villian.'


Villian melihat peramal itu dengan tidak percaya.


Peramal itu menghela nafas seperti tahu apa yang di pikirkan Villian.


"Ramalan ini terikat pada jiwa seseorang. Bukan tubuh."


Sekali lagi Villian tersentak.


"Baik, bisakah saya bertanya. Di mana benang merah pada pemilik tubuh ini?"


Peramal itu menghela nafas menduga soalan itu.


"Pemilik tubuh ini sudah melawan takdir dunia dan menjadi seperti makhluk seperti naga penguasa langit. Benang merahnya sudah lama hilang dari dunia ini."


Mata Villian membelalak lagi mendengar itu.


"Bagaimana jika kamu pikirkan benang merah mu dari pemilik tubuh asli mu saat ini?"


Villian menghela nafas dan mengangguk setuju. Dia membayar 1000 emas untuk ramalan itu. Dia banyak uang, jadi dia tidak peduli.


Dia keluar dari toko itu melihat kelompok serigala itu sudah di bantai. Dia mendekat dan melihat Zillo dari atas hingga bawah beberapa kali.


"Ada apa?"


Zillo yang bingung bertanya.


Villian mengeluarkan pikirannya tampa masalah yang membuat 2 yang lain tersedak dan Zillo memerah.


"Apa maksud mu rapuh?"


Villian mengangkat bahu pada pertanyaan penasaran Zillo.


"Peramal itu bilang bahwa benang itu rapuh dan bisa putus kapan saja dan bersambung pada yang lain."


Villian melihat ke arah toko yang dia masuk tadi. Namun toko itu menghilang.


"Toko itu menghilang."


Villian mengatakan itu dengan kaget. Zillo tersenyum dan memegang ke dua tangan Villian.


"Aku akan buat yang terbaik untuk melindungi benang ini."


Villian menatap Zillo dengan pandangan aneh.


"Apa kamu bisa melihat benangnya?"


Zillo mengabaikan kenyataan itu dan tersenyum gembira.


'Bagaimana jika aku membunuhnya? Bagaimana untuk memutuskan benang itu?'


'Aku perlu berbicara dengan Magaret.'


Yang tersisa memikirkan untuk memutuskan benang itu. Walau mereka membuat wajah tidak peduli, mereka mengeluarkan niat membunuh.


Gerlic yang kebetulan lalu saat menyelidiki para kecoak tersentak mendengar itu.


'Villian ku dengan yang mulia? Aku tidak bisa membiarkan itu.'


Gerlic menggenggam erat belati di tangannya.


.


.


.


.


.


Kelelawar terbang dan mendarat di jari Alen.


"Jadi, benang merahnya pada Zillo? Kamu seharusnya tahu apa yang berlaku jika kamu membuat ras vampir obses dengan sesuatu."


Alen tersenyum jauh dari dirinya yang selalu. Vampir adalah ras yang akan melakukan apa saja untuk sesuatu yang mereka obseskan.


"Kamu tidak bisa pergi dari kerajaan ini jika kamu ingin bersamanya. Aku akan memenjarakan mu jika itu terjadi."


Lucard yang kebetulan mendengar itu bersama ahli nujum lainnya melangkah mundur.


Mereka tahu tentang obses seorang vampir. Jadi mereka hanya melangkah mundur.


Lucard menyukai Villian. Namun tidak lebih dari tuan dan bawahan. Namun jika terjadi sesuatu padanya, dia akan selalu melangkah maju.


Diamon yang mendengar itu juga menggelengkan kepalanya.


'Kakak, kamu harus hati hati saat memilih teman baru di masa akan datang.'


Hanya itu yang bisa di pikirkan Diamon.


Diamon duduk bersama Carl sedang minum petang.


'Aku merasa beruntung tidak melihatnya lebih dari penyelamat hidup ku.'


Melihat Alen yang menggila hanya kerana tahu siapa benang merahnya Villian, dia dengan gugup meminum teh nya.


Radex mendengar itu dari depan pintu hanya menghela nafas.


'Nona muda, aku akan mengikuti siapa saja takdir benang anda. Hanya tolong jangan mati.'


Radex hanya pengawal peribadi Villian tidak lebih dari itu. Jadi dia akan mengikuti ke manapon Villian pergi sebagai penjaga.


.


.


.


.


.


Dengan usaha Villian dan yang lain semua werewolf yang melawan mereka di tangkap dan di masukkan ke penjara bawah tanah.


"Mari biarkan mereka untuk beberapa hari."


Villian mengatakan itu dan berjalan pergi. Villian membuka semua bajunya hingga meninggalkan bra saja.


"Hah, baju ini sangat panas."


Pria yang bersamanya hanya bisa memalingkan wajah mereka.


"Villian, walau kamu tidak peduli, bagaimana jika kamu sedikit peduli dengan kami yang pria. Kami tidak senang melihat kamu seperti ini."


Regis mengatakan itu sambil tangan menutup mulutnya. Villian mengangkat alisnya mendengar itu.


Dia memutar otaknya sebentar.


'Ouh, ini dunia di mana memakai pakaian seperti ini adalah hal tabu. Aku mengingat para artis yang memakai pakaian yang lebih teruk dari ini.'


Villian menggelengkan kepalanya mengingat artis sexy di dunianya yang dulu.


'Tunggu, bukankah itu maksudnya aku tidak seharusnya membuka pakaian ku di depan pria? Dan pakaian seperti ini adalah hal tabu.......'


Wajah Villian memerah dan sedikit berkeringat.


'Itu bermakna selama ini......'


Villian mengingat mengganti pakaian di ruangan yang sama dengan mereka tampa masalah selagi dia memakai bra dan seluar.


'Apa yang telah aku lakukan!? Aku sudah terbiasa dengan ini di dunia ku sebelumnya! Tidak ada bawahan ku yang protes akan hal itu! Itu kerana tubuh ku penuh parut dan tubuh Villian ini.........'


Dia melihat tubuh Villian yang putih mulus dan menggoda.


Villian memakai kembali pakaiannya dengan kekok. Dia menarik Zillo.


"Jalan di depan! Aku tidak mahu tahu apa yang akan aku lihat lagi!"


Villian menggenggam baju Zillo dan wajahnya menempel pada pundaknya.


Mungkin kerana efek benang merah, dia merasa punggung Zillo sangat selesa untuk di sentuh.


Zillo memerah merasakan wajah Villian di punggungnya dan berjalan dengan perlahan.


Regis dan Eugine di sirami minyak pada api yang sudah terbakar saat itu.


'Ku bunuh dia!'


'Aku harus menghubungi Magaret segera!'


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...................


Nulho: Akhirnya, bisa lihat Villian menjalin kisah cin-


Eugine, Regis, Alen, Gerlic: *Dead glare*


Nulho: Ahem. Maksud ku blush. kesian Rosie tidak tahu apa apa.