
"Lucard, aku harus mencarinya segera."
Pria itu mendengar gumaman Villian.
"Siapa Lucard?"
'Mengapa ingin mencarinya?'
Villian tersentak dan tersenyum kekok.
"I, I, itu...... dia temanku. Dia datang bersama ku dan kami terpisah. Jika aku ingin pulang, aku harus mencarinya dulu."
Villian berdalih dengan wajahnya yang berkeringat.
'Jelas dia berbohong. Siapa sih memangnya anak itu?'
Pria itu hanya mengerutkan alisnya kerana dia harus berpura pura terperdaya dengan omongan itu.
"Apa nama mu? Aku Regis."
Villian lagi lagi terlihat bingung.
"Kamu raja namun tidak ada nama keluarga? Juga nama ku rahasia."
Tidak mungkin Villian memberikan namanya pada pria yang memandangnya sebagai pria. Dia tidak ingin menggunakan nama samaran.
'Kamu membohongi ku dengan nama samaran?! Aku pikir kita berteman, tapi sepertinya kamu ingin mati di tangan ku!'
Dialog biasa dalam sebuah cerita. Dia tidak ingin itu berlaku pada dirinya.
"Apa kamu benar benar hidup dengan baik? Makhluk gelap mana bisa ada nama keluarga. Apa kamu membesar dengan manusia?"
'Gitu toh. Aku tidak membesar dengan manusia. Aku manusia bro.'
Namun itu tidak bisa ia ucapkan pada Regis.
Regis yang melihat Villian ragu untuk menjawab, menghela nafasnya.
"Tidak seperti di rumorkan, werewolf tidak akan makan manusia kecuali mereka yang di telan nafsu kekuasaan."
Kali ini, Villian yang menghela nafas lega.
Tapi sepertinya dia masih berada dalam bahaya jika werewolf itu gila kekuasaan.
'Hidup ku yang malang.'
"Baik, terima kasih untuk informasinya. Aku harus pergi mencari temanku."
Villian berjalan lagi.
.
.
.
.
.
.
"Apa kamu tidak lelah mengikuti ku!?"
Selama sejam hingga matahari terbenam Regis mengikutinya.
"Apa kamu ada tempat menginap? Kamu bisa mengikuti ku."
Villian menggertak giginya dan menunjukkan jari tengah pada Regis.
"Siapa yang mau ngikutin kamu berengsek! Diikutin kamu aja udah kayak diikutin jembalang hantu!"
Perkataan kasar sebagai gangster keluar dari mulut Villian.
Regis mengabaikan kutukan Villian dan memegang kerah tengkuk Villian dan mengangkatnya.
"Turunkan aku berengsek! Kamu banjingan! Aku akan membunuh mu!"
Villian memukuli Regis hingga akhirnya dia lelah dan biarkan dirinya di bawa Regis.
Tentu saja semua pukulan Villian terasa seperti angin lalu pada Regis.
.
.
.
.
.
.
.
Di markas werewolf.
"Selamat pulang, boss!"
Semua werewolf di sana tunduk hormat pada boss mereka yang baru pulang tampa berkomentar pada Villian yang di bawa seperti kucing.
"Sediakan kamar untuknya. Dia tetamuku."
"Siap boss!"
.
.
.
.
.
'Ini kamar apa pejabat?'
Sementara menunggu kamarnya di sediakan para bawahan Regis, Villian menunggu di kamar Regis.
Namun dia tidak duduk di sofa maupun kasur. Dia duduk di atas dokumen yang merata di kamar itu. Semua dokumen itu bisa dijadiin kursi jika di tumpuk dan di situlah dia duduk.
Bagaimana bisa dia duduk di tempat yang nyaman saat tuan rumah sendiri di kubur dengan tumpukan dokumen.
Namun tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membantu hal itu. Mana bisa seorang gadis biasa yang berhenti sekolah di umur 13 tahun bisa mengurus semua itu.
Jika di suruh jadi pelayan cafe atau penjaga kasir ya baru bisa.
"Aku bosan. Berikan aku pensel dan tumpukan kertas kosong."
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
Villian tidak membalas dan berbaring di lantai dan mula menulis.
'Selagi dia tidak mengacaukan apapon, itu baik baik saja.'
Regis membiarkan Villian melakukan halnya sendiri.
.
.
.
.
.
Tuk, tuk, tuk.
Ketukan pintu membuat Regis akhirnya mengalihkan pandangannya dari dokumen.
"Boss, kamar untuk tuan vampir sudah selesai."
Regis yang mendengar itu memandang Villian yang tertidur di lantai dengan pensel masih di tangannya.
"Hah....."
Regis mendesah dan mengangkat Villian seperti mengangkat tas di lengannya.
Dia membaringkan Villian di kasur dan kembali ke kamarnya.
Regis melihat tumpukan kertas di sekitar tempat Villian tertidur dan mengambilnya.
[Raja Iblis Berhati Manusia]
Regis membacanya dan mengerutkan alisnya.
"Bagaimana iblis bisa berhati manusia?"
Regis duduk di kursi meja kerjanya dan terus membaca itu.
[Mengapa? Apa yang berbeza aku dengan yang lain? Aku tetap iblis seperti yang lain!]
Semakin dia membacanya, dia ingin merobek kertas itu.
[Aku ingin muntah. Apa gunanya pertempuran berdarah ini? Itu semua sia sia!]
'Benar, pertempuran yang akan berlaku adalah sia sia.'
[Raja Iblis tertusuk oleh pedang lawannya.]
Regis membulat matanya.
[Sekurangnya, aku mati tampa membuang hati nurani ku. Aku senang berjumpa dengan semua yang memahami diriku hingga pertempuran terakhir ini.]
"Omong kosong! Kemenangan tu sia sia tampa raja iblisnya! Dia yang seharusnya berada di atas tahta!"
Regis berteriak histeris sendiri.
[Namun, tidak ada yang melupakan raja iblis. Tidak ada yang melupakan kata kata terakhirnya sebelum ia mati.]
"Kata kata terakhir?"
[Jangan memaksa dirimu. Jadilah dirimu sendiri tampa malu. Aku bangga memiliki hati lemah seperti manusia. Jadi, tidak perlu malu dan menyembunyikan keterampilan yang berbeza.]
[Mereka tidak bisa melupakan raja iblis yang tersenyum cerah di akhir hayatnya.]
[Tamat]
Tangan Regis yang memegang tumpukan kertas cerita yang di tulis Villian seperti kehilangan kekuatannya dan kertas itu jatuh berserakan di lantai.
"Jadilah diri sendiri? Apa aku bisa bergetar takut saat akulah raja werewolf?"
Regis bergumam sendiri saat melihat kertas yang berserakan di lantai.
[Aku menyukai orang lemah. Kerana mereka lemahlah, aku bisa jadi berguna untuk mereka. Kerana orang lemah memerlukan perlindungan dari mereka yang lebih kuat.]
"Orang yang lemah?"
Regis mengingat salah satu dialog yang di ucapkan raja iblis.
Namun di dunia ini, tidak ada satu pon makhluk yang lemah tampa pelatihan.
'Hemp!'
Tiba tiba Regis mengingat vampir kecil yang memukulnya dengan semua kekuatannya kerana kesal di panggil kecil.
Namun pukulan itu tidak di rasakan sama sekali.
"Lemah, dia sangat lemah."
Regis melihat ke arah jam dan itu sudah 7 pagi.
Dia berjaga sepanjang malam membaca cerita yang di tulis vampir kecil itu.
"Apa dia sudah bangun?"
.
.
.
.
.
.
Di ruang makan.
"Regis, apa apaan dengan sarapan ini?"
Regis hanya diam tidak membalas.
"Jika kamu mencuba untuk menjadi rapat dengan ku, lupakan saja."
Villian bangun dari duduknya dan ingin pergi.
Swing.
Namun cakar tajam para pelayan yang membawa makanan membuatnya kembali duduk.
"Jangan mengancamnya."
"Maaf boss."
Pelayan itu dengan cepat meletakkan makanan dan pergi.
"Maaf, apa kamu takut?"
'Ya iyalah! Aku manusia!'
Villian memasang wajah 'kenapa bertanya pada soalan yang jelas'
"Ini."
Regis memberikan tumpukan kertas yang di tulis Villian pada Villian.
"Hnm? Kenapa kamu memberikan ini pada ku?"
"Aku menyukai cerita yang kamu tulis itu. Aku benar benar termotiwasi dari cerita mu."
Villian bingung seketika.
'Tunggu, kisah ini kan, ending yang di paksa. Apa dia ingin mengorbankan dirinya?'
Villian berpikir bahwa itu tidak mungkin dan memikirkan hal lainnya.
'Aku menyukai orang lemah.'
Perkataan itu memasuki otaknya dan dia melihat ke arah Regis dengan tidak percaya.
Dia pasti di mata Regis saat ini dia terlihat seperti-
Vampir kecil: Lemah + kecil + berlagak kuat dan perlu di lindungi.
Ini⬆️
Villian melihat ke arah sekeliling. Tidak ada siapa pon di sana selain mereka.
'Ini satu satunya cara untuk menyingkirkannya!'
Villian membulatkan tekad nya.
"Regis."
Regis melihat ke arah Villian yang memanggil namanya.
"Terima kasih untuk segala yang kau berikan. Maaf tapi......."
Villian memegang pisau untuk stage daging.
"Sebenarnya aku manusia."
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...............