
".........."
Tidak ada yang bisa membuka mulut untuk menghentikan suasana hening yang mencengkam itu.
Millia mengharapkan Villian yang banyak mulut untuk memulakan perbicaraan. Namun cewek itu saat ini diam sambil menunduk.
Regis berjalan mengitari Villian dan menekan punggung Villian dengan jari telunjuknya.
"Ahhhhhhhhhh!!!!"
Villian langsung melihat Regis dengan tatapan maut.
"Pantas saja kamu diam. Kamu terluka kan."
Villian menelan ludah dan memalingkan wajahnya.
"A, aku tidak terluka. A, aku hanya, terjatuh."
Villian berkata sambil menafikan dirinya terluka.
Regis akhirnya menatap ke 2 ahli nujum di situ.
"Siapa yang merawatnya?"
Millia mengangkat tangan perlahan. Dia merasa kemenangannya hari ini seperti sebuah lelucon di banding dengan pria besar dengan parut di seluruh tubuhnya.
"Apa itu luka ringan?"
Millia menganggukkan kepalanya. Dia hanya mengoleskan minyak pada lebam Villian kerana, kamu tau, dia kan sampah. Dia sendiri tidak cukup makan untuk dirinya sendiri.
"Villian kemari kamu."
Villian di angkat pada pundak Regis yang besar.
"Hei, turun kan aku berengsek! Aku baik baik saja! Aku tidak memerlukan bantuan mu!"
Millia dan Jihe melihat ke arah Villian yang memukuli punggung Regis sekuat yang dia bisa supaya Regis menurunkan dirinya.
"Aku akan membunuh mu berengsek! Turun kan aku!"
Villian masih memukuli Regis.
"Kalian berdua, kalian ikut dengan ku. Seperti nya dia tertarik dengan kalian."
Millia dan Jihe langsung bangun dan mengikuti Regis dari belakang.
Bagaimana mereka bisa untuk tidak mengikuti perkataan raja werewolf?
"Regis sialan! Berani kamu mengancam mereka! Jangan mengganggu teman teman ku! kamu berengsek!"
Millia dan Jihe agak takut jika Regis hilang sabar saat melihat Villian dengan keras berteriak.
Namun mereka langsung mengunci mulut saat Regis memiliki senyum tipis di hujung bibirnya.
.
.
.
.
.
.
.
Di markas werewolf.
Di ruang tabib.
"Tabib tidak ada di sini. Buka baju mu.
Aku tidak aka-"
'Aku tidak akan aneh aneh.' Itulah yang ingin di ucapkan Regis. Namun Villian dengan tidak peduli membuka bajunya seperti bukan hal yang penting.
'Apa dia masih cewek?'
Millia dan Jihe mula mempertanyakan kelamin Villian.
Jika bukan kerana dadanya, mereka mungkin sudah berpikir Villian adalah pria tulen.
"Ahem."
Regis batuk palsu dan mula merawatnya.
Villian menghela nafas dan memakai bajunya semula.
'Ini pertama kali aku di rawat oleh seseorang. rasanya tidak buruk.'
Villian selalu merawat cederanya sendiri kerana cederanya itu bisa di pertanyakan di rumah sakit.
Dia tidak ingin terlibat dengan polisi.
Kruck.......
Wajah Villian memerah. Dia tidak makan sejak pagi kerana langsung pergi dari jendela.
'Ouh, harga diri ku yang malang.'
Villian menggigit tangannya kanannya. Itu kebiasaannya saat dia memalukan dirinya sendiri.
Regis menarik tangan kanan Villian dari mulutnya.
"Mari makan. Aku tau kamu pasti tidak makan dengan benar."
Walau Villian menggigit tangannya dengan sedikit kekuatan, Villian bisa melihat bekas gigitan di tangannya.
'Badan lemah ini......'
Villian hanya bisa mendesah.
.
.
.
.
.
.
.
Di ruang makan.
Mata Millia sudah berbinar melihat makanan di depannya dan Jihe hanya mengambil makanan dan meletakkan di pinggan Millia.
Baginya, ini sudah hal biasa.
Ngap.
Villian yang makan seperti pria tampa sopan santun nya mula ngiler.
"Ahh..... Ini baru namanya makanan enak. Kaya rasa, sungguh......"
Villian dengan cepat mencapai makanan yang berada di depannya.
"Wau ini sangat enak!"
"Benar!"
Villian dan Millia yang nama juga sudah hampir mirip memiliki expresi wajah yang sama.
Bedanya, Villian memiliki berbagai sisa di wajahnya.
"Aku tidak pernah melihat gadis yang makan seperti mu, tidak, aku bahkan tidak pernah melihat pria yang makan seperti mu."
Jihe memandang Villian seperti makhluk yang lebih aneh dari makhluk gelap.
"Apa kamu pernah melihat makhluk selemah ku? Aku unik. Hemp."
Villian mendengus kesal namun masih memenuhi mulutnya dengan makanan.
"Benar, bagaimana kamu bisa selemah itu?"
Villian menelan semua makanannya sebelum membalas.
"Aku anak duke dan inti sihir ku hancur. Itu kerana seseorang mencuba mencelakai kakak ku namun aku yang meminum racun itu kerana penasaran dengan rasa minuman yang kakak ku minum. Juga aku di jauh kan dari latihan pedang kerana aku cewek dan aku mengurung diri hingga minggu lepas."
Millia dan Jihe bisa melihat pisau daging yang patah 2 di tangan Regis.
'Mencelakai seseorang? Benar benar sifat manusia!'
Wajah Regis sangat dingin mendengar itu.
"Belum lagi kerana bibi ku membuat ku seperti orang bodoh yang tidak bisa menulis kerana selalu di pukuli hanya kerana menulis atau membaca. Dia juga selalu memberikan ku racun supaya aku akan mati dengan perlahan."
Millia dan Jihe menelah ludah mereka saat melihat cakar Regis keluar.
"Sepertinya itu akan terkabul kerana aku akan mati dalam 2 tahun lagi."
Millia dan Jihe langsung tersentak. Saat mereka sedikit fokus pada Villian, mereka bisa merasakan aura kutukan.
'Souhell!'
Mereka berdua melihat cakar Regis yang tersimpan kembali.
"Villian, Kamu seharusnya berpikir lebih terbuka."
"Baik....."
Villian hanya memutar matanya malas.
"Bagaimana jika kita pergi membeli belah di kota esok? Kalian tidak membeli apa pon kan."
Villian dan Millia mengangguk dengan semangat.
"Benarkah!?"
Jihe tersenyum sambil mengangguk dengan percaya diri.
'Cewek itu, dia menyukai sesama cewek?'
Jihe memandang Regis dengan pandangan lembut dan sopan. Namun matanya mengatakan 'jangan berani menyentuh milik ku.'
Regis memalingkan wajahnya dan melihat ke arah Villian.
"Aku juga akan membelikan mu apa pon."
Villian yang sedang makan tidak mendengar apa pon yang di ucapkan Regis.
Jihe menahan tawanya hingga bahunya bergetar.
Dan Regis kesal melihat itu namun menahan diri. Dia temannya Villian.
Mereka semua makan dengan baik dan masuk tidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya di kota.
"Woah!!!!"
Villian dan Millia kagum dan mata mereka berbinar.
Wajah mereka mirip, namun apa yang mereka suka berbeda.
"Jihe, lihat dress ini! Ini sangat imut!"
"Regis, jaket pria ini sangat keren! Aku mau satu!"
'Ini terlihat seperti pasangan Bl dan Lb yang sedang double date.'
Villian memikirkan itu dan terus menyentuh barang yang menarik perhatiannya.
Itu juga berlaku pada Millian.
"Apa aku bisa membeli semua ini, Jihe, kamu sangat baik!"
"Tentu saja, kita berteman sekarang."
'Apa kamu tahu seberapa lama aku tunggu untuk berjalan bersama mu!?'
Jihe memiliki wajah cool sedang dia sangat gembira di dalam.
"Apa ini keren? Aku sangat keren dengan baju ini kan!?"
"Iya, kamu keren."
Sementara yang lain menikmati waktu mereka juga.
.
.
.
Mereka terus melewati jalan kota itu dan melihat lihat.
Villian sepertinya melupakan misi utamanya.
Seorang pria bermantel hitam melewatinya.
Simbol iblis di tangannya memudar.
Iya, itu Zillo.
"Villian?"
Malangnya Villian tidak mendengar gumaman Zillo.
"Villian, di mana kamu?"
Zillo membuat wajah yang sangat tertekan.
Gerlic mencari dari langit dengan monster kerangka bersama Lucard. Radex sedang berlarian mengitari kerajaan itu. Dan itu sudah pusingan ke 1000.
Eugine-
"Apa aku membalik saja kerajaan ini?"
Dia memiliki pemikiran yang mengerikan saat ini.
.
.
.
Mata Villian tertumpu pada sebuah perhiasan.
Villian menarik baju Regis dengan hujung jarinya.
"Ada apa?"
Nada bicara Regis seperti biasa dingin.
Villian tidak ingin mengatakannya kerana melihat berapa banyak nol pada harga perhiasan itu.
Itu rantai dengan batu permata dan berlian yang sungguh indah. Itu benar benar menarik dirinya untuk melirik.
"Apa kamu menyukai perhiasan?"
Villian menggerak gerakan bibirnya dan melepaskan baju Regis dan memalingkan wajah nya dari rantai itu.
"Tidak, aku tidak menyukainya."
Walau begitu, matanya terus melirik rantai itu.
Regis terlihat dingin dan langsung berjalan.
Membedakan dirinya dengan Jihe, dia membawa semua barang pria seperti pedang dan sebagainya sedang Jihe membawa pelbagai dress dan perhiasan.
.
.
.
.
.
Di kamar Villian.
Tuk, tuk, tuk.
Ketukan pintu membuat Villian bangun dari kasurnya dan membuka pintu.
Wajahnya agak kecewa kerana tidak mendapatkan rantai itu.
Dia membuka pintu dan Regis di sana menyerahkan sebuah kotak leper segi empat.
Villian hanya mengambilnya dan membukanya.
"Ini!?"
Villian terlihat kaget. Itu adalah rantai yang dia lihat tadi.
"Bukan ke ini sangat mahal!?"
Regis menggelengkan kepalanya dan mengelus lembut kepala Villian.
"Itu pasti sangat sesuai dengan mu. Itu tidak mahal sama sekali."
Villian tersenyum sangat senang lebih dari saat dia membeli barang yang ia suka.
"Terima kasih. Ini pertama kali aku mendapatkan sesuatu dari seseorang. Aku akan menjaganya dengan baik."
Villian memberikan pelukan hangat dan memasuki kamarnya semula.
Regis masih berada di depan pintu kamar Villian dengan kupingnya memerah.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.................
Nulho: Duh Villian, peminat mu bertambah 1 loh. Ingat misi mu dong! 😂