
Villian menggaru kepalanya dan duduk di kursi.
Dia melihat Villian sebenar sedang berbaring di kasurnya.
"Aku ingin membantunya."
Villian mendengar itu dan menjadi bingung.
'Apa dia memiliki seseorang yang dia suka atau apalah?'
Villian sebenar menyentuh kalung di lehernya. Villian tidak pernah melihat kalung daun semanggi itu. Itu kalung 3 daun semanggi yang cukup cantik berada di tubuh yang cantik.
"Apa tidak ada cara untuk aku membantunya?"
Villian sangat bingung mendengar itu. Dia tidak pernah mengingat dirinya pernah menulis Villian memiliki sebuah perasaan pada seseorang.
.
.
.
Tiba tiba pemandangan berubah dan itu menjadi kamar yang dulunya pernah ia tinggali.
Angin bertiup dan membuka buku yang berada di atas meja.
[Villian mati tertusuk oleh seseorang yang cemburu kerana dia dekat dengan pria paling tampan kerajaan itu.]
Buku itu terhenti di muka surat akhir dari cerita itu.
[Villian mengalirkan air matanya saat dia akan mati.]
Villian terus membaca muka surat akhir itu.
['Ahh.... Pada akhirnya, aku tidak bisa membantunya.' Villian tersenyum sedih sambil memikirkan wajah seseorang yang tidak pernah tersenyum saat terus melihatnya.]
Villian bingung di sana.
'Apa aku pernah menulis itu? Aku tidak pernah mengingatnya.'
Sekarang Villian merasa sulit.
'Siapa yang dia sukai dan tidak pernah tersenyum saat melihatnya? Zillo? Gerlic? atau pria paling tampan di kerajaan itu?'
Villian merasa sulit kerana setidaknya dia harus tahu siapa yang di sukai Villian sebenar saat dia menggunakan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, dirinya yang dulu memasuki kamar itu dan membuka buku yang baru saja di belinya.
[Dunia AU.]
Villian mengingat bahwa saat itulah dia menulis Villian sebenar sebagai seorang yang jahat dan keji. Dia sangat menyukai Villian yang itu.
Villian yang tampa ragu membunuh sesama manusia hanya kerana mengganggu tujuannya. Dia menikmati melihat anti hero.
Namun di situ, Villian juga tidak bertahan lama. Kerana Villian adalah charakter antagonis di cerita itu, tentu saja dia akan di bunuh oleh pratogonis.
[Ahh.... Aku gagal lagi. Ku mohon, tersenyumlah. Jangan membuat wajah seperti itu.]
Villian agak panik membaca itu. Dia tidak pernah ingat pernah menulis seperti itu.
[Aku gagal.]
[Aku gagal lagi.]
[Ku mohon, terus semangat dengan kegagalan ku ini.]
[Aku gagal lagi dan lagi.]
[Gagal, gagal dan gagal.]
Villian benar benar kaget melihat tulisan itu dalam dialog Villian setiap dia memasuki kisah apa pon itu.
"Siapa orang sangat ia ingin bantu itu?"
Ruangan itu menjadi putih seketika dan muncul gadis berambut pink yang sangat manis.
Gadis itu tersenyum pada Villian.
"Hei, beritahu aku siapa yang ingin kamu bantu itu!?"
Mata Villian sebenar sedikit bergetar dan terlihat sedih. Namun dia tersenyum seperti dia cukup bajagia.
"Lakukan sesuka mu."
Suara lembut Villian sebenar menerjang kuping Villian yang kini terlihat dengan sosok dulunya yang penuh dengan parut.
"Hei! Ini tidak kelakar! Siapa yang ingin kamu bantu itu!? Aku akan melakukannya jika aku tahu itu siapa!"
Namun Villian sebenar hanya tersenyum lembut padanya.
Saat itu Villian kembali menjadi sosok Villian yang indah. Yang membedakan mereka hanya kalung daun semanggi yang di kenakan Villian sebenar.
Villian sebenar menyentuh kalung itu seperti itu adalah harta yang paling berharga baginya.
"Pergilah."
Suara lembut Villian sebenar sambil memegang kalung daun semanggi itu.
"Hei!"
Villian berteriak dan ingin meraih Villian sebenar yang semakin menghilang.
Hanya itu yang di dengar Villian saat pandangannya menjadi kabur.
.
.
.
"Hah!"
Villian langsung terduduk saat dia membuka matanya. Dia melihat wajah Villian yang cantik di kaca kamar itu.
"Kakak, kamu bangun."
Villian melihat Diamon dalam bentuk naganya sedang baring di kasur yang sama.
Villian menyapu wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ya, aku sudah bangun. Berapa lama aku tertidur?"
"Kakak sudah tertidur selama 2 hari. Itu kerana souhell kakak di pulihkan. Kakak sekarang setidaknya akan bertahan 4 tahun lagi!"
Villian benar benar kaget mendengar itu.
"Aku bisa pulih?"
"Iya! Kakak, jika kita mengumpulkan semua kunci bencana, kamu bisa menyembuhkan souhell!"
Villian benar benar tidak menduga dia akan bisa sembuh. Dia sudah berpikir untuk mati dalam 2 tahun. Tapi sekarang dia di katakan bisa selamat?
Radex yang melihat Villian sudah bangun memberikan bola kaca pada Villian.
"Saya sudah menghubungi duke dan tuan. Mereka ingin berbicara dengan anda setelah anda terbangun."
Bola kaca adalah alat komunikasi manusia di kerajaan tampa nama.
Diamon dengan mudah menyambungkan panggilan itu.
Layar mula naik di udara dan Villian bisa melihat ayah dan kakaknya.
-Kakak dengar kamu bisa di sembuhkan! Kakak sudah mengerahkan semuanya untuk mencari petunjuk tentang kunci bencana!-
Kakaknya sangat senang juga terlihat lelah. Dia pasti sudah tidak tidur 2 malam untuk mencari tahu kunci bencana.
-Villian, ayah sangat senang kita punya cara untuk menyembuhkan mu. Ayah sudah berbincang dengan yang mulia raja untuk penyelidikan menyeluruh.-
Villian bisa melihat mata ayahnya yang sembam seperti sudah menangis cukup lama dan terlihat lelah seperti kakaknya.
Villian tersenyum dan berbual dengan mereka yang sudah lama tidak di lihatnya.
Untuk seketika dia merasa dia merampas kebahagiaan yang seharusnya milik Villian.
Andai saja jika dia dia menulis cerita Villian dengan mengharapkan ending yang baik, mungkin Villian sekarang sedang tersenyum dengan sangat bahagia mengetahui itu.
Mungkin itu efek setelah bertemu dengan Villian sebenar yang indah dan menawan. Bahkan jika dia dalam sosok yang sama, dia merasa dirinya tidak semenawan Villian sebenar.
Setelah dia mematikan panggilan itu, dia berbaring semula.
Dia berpikir, apa dia pantas mendapatkan tubuh yang cantik ini? Keluarga yang baik dan kaya. Apa dia pantas?
Dia melihat ke arah Diamon.
'Apa aku pantas untuk di lahirkan?'
Villian mengingat soalan yang di berikan Diamon padanya saat pertama kali bertemu.
'Apa kamu penting atau tidak itu terserah kamu. Hidup ini milik mu. Aku merasa diriku sampah, ada masaalah? Aku yang menentukan siapa diri aku. Aku tidak berhak menentukan kehidupan yang akan kamu lalui.'
Dia mengingat apa yang dia ucapkan pada naga kecil itu.
Namun itu sedikit berbeda.
Kehidupan yang ia jalani saat ini adalah, kehidupan orang lain.
'Lakukan sesuka mu.'
Dia mengingat apa yang di ucapkan Villian sebenar padanya.
"Benar, tidak berguna berpikiran seperti itu. Ini adalah kehidupan ke 2 ku."
Villian menutup matanya dan kembali tidur.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.................
Maaf dikit sebab aku tak ada ide. 😂😂😅