
Nulho: Huh, lelah sekali. Aku ngedit ini 5 kali hanya untuk membuat situasinya sedikit lebih realistis. maaf kalo typo dan selamat membaca.
.
.
.
.
.
.
.
Mereka menelusuri tangga yang berada dalam lubang itu dan setelah cukup dalam hingga bahkan cahaya dari batu cahaya tidak bisa memasuki lubang itu.
Lorong itu hanya di terangi batu sihir cahaya yang malap.
Saat mereka semakin melesuri lorong itu, mereka melihat seorang elf dengan belati di tangannya.
'Dia pasti salah satu dari agen rahasia elf.'
Elimental kegelapa mempunyai kelebihan unik di mana mereka bisa bersembunyi di kegelapan.
Elf itu tidak menyedari keberadaan elimental kegelapan atau bahkan mereka.
Elimental kegelapan menarik pakaian Villian untuk menunjukkan jalan. Namun mereka seperti di ikuti oleh elf di belakang mereka.
Rosie meletakkan tangannya di mulut supaya dia tidak akan berteriak.
Mereka akhirnya tiba di ruangan dengan sumber cahaya paling banyak.
Villian dan Rosie memerhatikan keadaan dari samping pintu hingga bayang mereka tidak akan terlihat.
Di samping mereka elf itu juga melakukan hal yang sama.
"Kamu elf kecil, apa kamu ingin kontrak dengan elimental kegelapan atau tidak?"
Elf yang kelihatannya seumuran 15 tahun menatap werewolf yang mencekiknya dengan tajam.
"Mana mungkin aku mau, kau banjingan busuk."
"Begitu? Aku lebih menyukainya."
Werewolf itu tersenyum seperti orang gila dan mata elf remaja itu langsung di penuhi ketakutan.
Cuck.....
"Guah...."
Cakar tajam werewolf itu menusuk dada elf remaja itu hingga tembus. Elf itu batuk darah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Tuck..
Elf itu di biarkan tergeletak di lantai.
Darah berceceran di lantai dari tempat elf itu di tusuk juga mengalir turun dari cakar tajam werewolf itu.
Swiing....
Villian bisa melihat tubuh elf itu bercahaya dan muncul daun yang pernah dia makan.
'Daun pohon dunia!? Jadi itu tujuan sebenar mereka.'
Villian melihat elf di sampingnya menggenggam erat belatinya. Urat di lehernya terkeluar dan wajahnya memerah kerana kemarahan dan kesedihan.
Villian mengabaikan elf itu dan melirik Rosie yang berada di belakangnya.
Tangan Rosie sudah terlepas dari pundak Villian. Dia menutup mulut dan hidungnya mencuba untuk tidak berbunyi. Tubuhnya bergetar dan matanya tidak bisa di alihkan dari tubuh elf yang tergeletak di lantai.
"Ha..... hah..... hi, hic...."
Air mata ketakutan mengalir dari matanya.
Dia tidak pernah melihat adegan seperti itu seumur hidupnya.
Dia ingin membantu elf itu. Namun dia sendiri tidak tahu apakah bisa keluar dari tempat ini dengan selamat.
Villian menyentuh tangan Rosie yang gemetar dan membuat Rosie melihatnya. Rosie menampilkan mata yang mengatakan 'Kita tidak bisa!'.
Villian menghela nafas pada riaksi Rosie. Itu adalah riaksi normal saat melihat hal itu. Tapi melihat Rosie masih tetap tenang untuk tidak berteriak atau melarikan diri menunjukkan dirinya berani.
[Aku akan membawa kita keluar dengan selamat, tidak peduli bagaimana itu.]
Villian menulis dengan jarinya di telapak tangan Rosie.
Villian menggerakkan bibirnya dan Rosie memahami maksud dari gerakan bibir itu.
'Percaya pada ku.'
Itulah yang di maksudkan bibir Villian.
Mata Villian menatap Rosie dengan pandangan penuh kepastian.
Rosie mengepal tangan yang di tulis Villian ke dadanya.
Walau dia masih bergetar dan masih ada sisa air mata di matanya, dia tahu dia tidak sendirian. Mereka juga memiliki guli yang di berikan kakaknya.
'Ya, aku baik baik saja.'
Rosie mengumpulkan semua keberaniannya.
"Berani kamu melakukan itu pada para elf muda!"
Villian melihat elf yang melangkah maju kerana marah.
'Tipikal orang bodoh.'
Villian mengejek dalam hati dan bergerak seperlahan mungkin untuk mencapai bahagian pintu tempat elf terkurung.
Elf itu dengan cepat memulai serangannya. Werewolf itu menerima serangan itu sambil tertawa.
'Kemarahan dan kerakusan. Kamu tidak memiliki peluang untuk menang jika kamu bertarung dengan kemarahan.'
Villian membiarkan elf bodoh itu menyerang secara membabi buta.
Klang! Swing!
Namun, kerana berisik pertarungan mereka, Villian bisa membuka pintu itu dengan mudah.
Villian bisa melihat elf dari kalangan 15 hingga 8 tahun.
Elf di umur 16 tahun sudah berkontrak dengan elimental.
"Tsk."
Villian mendecakkan lidahnya.
Villian juga tertanya. Jadi dia melihat ke arah elimental kegelapan.
-Kami bisa membuat lubang taliportasi. selagi di situ ada bayang.-
Villian mengangguk paham. Walau elimental ini ingin membantu, elf yang naif dan membenci elemental kegelapan, juga tidak bisa berkomunikasi dengan mereka tidak akan menerima bantuan mereka.
"Benar benar naif."
Villian bergumam dan-
Bang!
Villian menendang sell kurungan itu.
Dia tidak peduli jika mereka takut dengannya atau tidak. Untungnya pertarungan di luar membuat bunyi tendangan itu di redam.
"Aku kontraktor elimental kegelapan. Kalian masuk saja ke bayangan itu, Atau-"
Villian melukakan hujung jarinya dan pedang mini menjadi pedang yang mengancam.
Cukd.
Pedang itu di tusuk ke lantai.
"Kalian ingin mati."
Para elf mula bangun dan keluar dari sell kurungan yang lusuh itu.
"Kordinatkan itu ke bayang pohon dunia."
-Tapi ada penjaga-
Kata elimental kegelapan di potong Villian dengan mengangkat tangannya.
"Buat saja."
Elimental yang melihat Villian dengan mata dingin dan mengancamnya langsung melakukannya tampa protes.
Para elf mula melompat masuk ke dalam bayang itu dari yang termuda hingga yang tertua.
Villian memegang pundak elf terakhir.
"Katakan pada penjaga pohon dunia, Agen rahasia mu tidak berguna sama sekali."
Villian mengatakan itu dengan mata yang sangat dingin.
Elf itu mengangguk dan melompat masuk bayangan itu.
-Maaf, tapi hanya elf yang bisa memasuki bayangan ini.-
Villian sudah menjangkakan itu. Werewolf yang bertarung dengan agen rahasia elf itu memasuki ruangan itu dengan cakar yang memandikan darah. Dia menjilat cakarnya dan melihat Villian dan Rosie.
"Pergi dari sini."
Villian mengatakan itu dan para elimental kegelapan itu langsung pergi.
Werewolf Di depannya saat ini adalah kontraktor elimental kegelapan.
Mereka bisa terbunuh jika melawan dia.
Werewolf yang lain datang dan menatap tajam mereka.
"Kakak, sepertinya gadis itu bisa berbicara dengan elimental."
Walau werewolf itu mengatakan kakak, Villian tahu yang itu hanya panggilan hormat dan bukan kerana pertalian darah. Sama seperti dia dan Rosie.
"Hmm.... Begitu? Biarkan dia hidup dan bunuh seorang lagi."
Tangan Rosie sudah gementar sedari tadi langsung tersentak kerana mendengar kata 'bunuh'. Dia tidak bisa bernafas dengan benar kerana takut.
"Bunuh? Heh, mimpi."
Villian mengejek mereka dan membaling sabit milik Rosie ke arah mereka.
Swing..
Werewolf itu mengubah haluan sabit itu dengan mudah.
Namun Villian juga Rosie sudah tidak ada.
Villian dan Rosie berubah menjadi tidak terlihat. Mereka terbang melewati ke 2 werewolf itu.
Namun itu tentu saja hanya pengalih perhatian. Mereka harus melarikan diri segera.
Ke 2 werewolf itu memasuki mode bertarung mereka yang membuat mereka menjadi seperti serigala sebesar hampir 3 meter dan berjalan 2 kaki.
Penciuman mereka pasti sangat bagus juga tangan Villian berdarah saat ini.
"AWOOOOO!!!"
Teriakan serigala yang memekakkan membuat Villian dan Rosie tahu bahwa werewolf itu dalam mode bertarung.
Dengan cepat mereka diikuti oleh werewolf itu.
Tembus pandang sudah tidak berguna.
Rosie mengangkat Villian saat di tangga supaya lebih cepat. Namun saat mereka sudah keluar, Mereka di tarik dan di hempas ke dinding bangunan lama itu.
Villian mendarat di atas Rosie membuat dia tidak kesakitan.
"Rosie, kamu baik baik saja!?"
Rosie menolak Villian menjauh darinya. Akibat hempasan tadi, topengnya terlepas. Rosie sedang menutupi hidungnya.
"Villian, sudah waktunya menggunakan guli itu."
Rosie mengatakan itu dengan lemah. Darah keluar dari mulutnya.
Wajah Villian dan Rosie sama sama berantakan saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung................