
Hal pertama yang ingin ia lakukan ialah-
.
.
.
.
1 jam kemudian.
"Aku dah mengosongkan 15 butik dan 12 toko perhiasan permata! Mengapa uang milik anak ini seperti tidak bergerak sama sekali!?"
Villian berteriak dengan frustrasi sambil berbaring di rumput yang lembut.
'Kerana mengasingkan diri sejak 5 tahun, Villian tidak pernah menggunakan uangnya jajannya sama sekali.'
Villian tersenyum tak percaya.
"Siapa yang waras tidak menggunakan uang jajannya hingga mencapai triliunan! Ah! Aku bahkan tidak tahu berapa banyak nol yang ada di bank ku! Apa itu masih bisa di bilang triliun?!"
Rancangan untuk mengahabiskan uang hancur total.
"Aku lebih baik buat perusahaan dengan uang itu."
'Itu hanya menambah kerja dan aku akan mati 2 tahun lagi. Itu bukan hal yang menarik untuk di lakukan.'
Villian bangun dari barangnya dan berjalan hingga sampai di depan bar.
'Mabuk mabukkan akan menjadikan ku sampah paling sempurna.
Tapi pengalaman minum ku nol.'
Kerana paman nya yang sering mabuk membuatnya tidak ingin minum sama sekali dan terlihat sama seperti paman nya.
Pengawal yang mengikutinya muncul di depannya.
"Nona muda masih di bawah umur."
Villian mengangkat 1 alisnya.
"Berapa umur ku sekarang?"
Villian bertanya pada pengawal itu.
"16 nona muda."
Pengawal itu menjawab dengan cepat.
"Berapa umur di benarkan minum?"
Sekali lagi Villian bertanya. Pengawal itu menelan ludahnya.
"18, nona muda."
Pengawal itu menjadi bersalah. Nona mudanya tidak akan mencapai umur itu.
"Hah.... Pergilah aku tidak berniat untuk minum juga."
Villian melambaikan tangannya dan membuat pengawal itu pergi.
Villian menukar arahnya ke arah restoran mewah.
Dia masuk dan duduk di tempat paling indah pemandangannya.
Dia memegang menu dan memegang semua menu dengan nol paling banyak.
Setelah 30 minit, datanglah pesanan nya.
'Apa ini aja yang bisa di lakukan restoran termewah? Masakan ku lebih enak.'
Villian mengkritik dalam hati dan hanya menyentuhnya sedikit.
Rasa seperti dia memakan makanan di rumah sakit.
'Apa saat ni garam belum di temukan?'
Namun itu di maklumi. Kerajaan ini tidak memiliki laut di dekatnya dan hanya ada danau dan tasik yang indah.
"Apa bahkan ada laut di dunia ini?"
Villian mengatakan itu sambil memasukkan garfu ke mulitnya dan melihat cuaca yang cerah.
'Cuaca cerah, bukan ke itu bermaksud.'
Villian tersenyum penuh makna.
.
.
.
.
.
Villian sekarang berada di depan danau yang luas dan tenang.
"Aku tak jumpa sungai. Kalau panas, mari cemplung sungai!"
Villian memanjat pohon seperti monyet dan berdiri di hujung dahan yang menghala ke danau.
"Sungai tak ada, danau pon jadilah!"
Villian mengatakan itu dan melompat masuk ke danau.
"Nona muda!!?"
Pengawal yang memehatikannya dari jauh tersentak dan ingin membantunya.
Namun, dia terhenti saat Villian muncul kembali ke permukaan dengan senyum puas di wajahnya.
"Ahhhh! Ini menyegarkan!"
Air yang biru dan rambut pink sakura milik Villian benar benar mempesona untuk di lihat.
Pengawal itu hanya tersenyum dan duduk di tepi danau sambil melihat nona mudanya yang bermain dengan gembira.
Namun senyuman itu menghilang saat mengingat nona mudanya akan mati dalam 2 tahun.
Nona mudanya memang terkenal baik namun di benci kerana suka mencampuri urusan orang lain dan menghancurkan segalanya.
Bagi pengawal yang sudah senior sepertinya, dia juga pernah di campuri urusannya oleh Villian.
Kerana Villian, dia di marahi ayahnya dan meninggalkan luka bakar kerana air panas di belakangnya.
Dia sangat membenci nona mudanya sejak saat itu.
Bukan salahnya untuk ingin bermain dan pergi bermain kerana Villian yang menariknya secara paksa seperti hari ini.
Dia mengingat wajah yang di buat nona mudanya yang hanya muda 3 tahun darinya saat dia di jauhi oleh semua pelayan yang ada.
Dia terlihat sangat bersalah dan ketakutan. Namun parut luka bakar itu akan ada walau dia meminta maaf seribu kali atau bahkan nangis darah.
Tidak ada yang bisa memaafkannya kerana parut atau luka di hati mereka tidak akan hilang untuk selamanya.
Namun hari ini, nona mudanya berkeliling tampa mencampuri urusan siapapon. Bahkan saat ada yang bertengkar di depannya.
Rasa ingin membantu itu baik. Namun jika itu berlebihan, itu hanya akan menyusahkan orang lain.
Nona mudanya, sejak mengetahui yang dia akan mati, dia langsung bertukar seperti pria dan melakukan apa yang dia mau.
Semua orang berfikir nona muda itu akan mencuba membantu semua orang selagi ada peluang untuk hidup. Kerana itu ramai yang menjauh darinya.
"Nona muda, apa nona muda merasa bahagia hari ni?"
Pengawal itu bergumam sambil duduk memeluk lutut memerhatikan nona mudanya bermain air di danau.
.
.
.
.
.
Seorang pelukis pria datang ke danau untuk melukis karya terbarunya.
Sesaat dia ingin melukis, dia melihat seseorang terjun ke danau.
"Apa apaan!? bunuh diri!?"
Pria itu ingin terjun namun terhenti saat dia melihat orang itu naik ke permurkaan.
Awalnya dia ingat itu pria. Namun saat timbul, topi milik orang itu terlepas dan memamerkan rambut pink sakura yang indah.
Satu satunya wanita berambut pink di kerajaan ini, anak perempuan duke Ajellan.
Nona muda yang terkenal dengan kelakuan nya yang membawa masaalah.
Orang itu saat ini berenang dengan perasaan gembira dan tersenyum sangat manis.
Pria itu duduk di kerusi nya dan mula melukis.
.
.
.
.
.
Setelah 1 jam 30 minit, Villian naik semula ke darat.
Pengawalnya membuka kot pengawalnya dan memberikan itu pada Villian. Villian melihat seorang pelukis di tepi danau dan pergi mendekatinya.
"Tuan, apa tuan melukis diri ku?"
Villian dengan selamba menanyakan itu dan membuat pelukis itu tersentak.
Untung saja dia tidak merusakkan karya terbarunya.
"Maaf, nona muda. Nona muda sangat indah dan saya melukisnya.
Jika nona muda tidak menyukai nya saya bisa membuangnya."
Villian melihat gambar yang berada di kanvas pria itu.
Itu sangat indah dan seperti akan keluar bila bila masa saja.
'Kamu melukis ku? Aku akan membantu kerana itu lukisan ku. Aku tidak ingin menyusahkan sesiapa.'
Pengawal dan pelukis itu memiliki pemikiran yang sama apa yang akan di katakan nona muda itu.
"Ini indah."
Kedua pria itu tersentak tidak menyangka nona muda itu akan memuji tampa mengatakan dia akan membantu.
Villian bahkan tidak menyentuhnya kerana dia basah kuyup saat ini.
"Kau pasti akan menghasilkan kan karya yang baik bahkan tampa melukis diri ku."
Kedua pria itu terdiam.
"Terima kasih untuk gambarnya. Siapa nama kau?"
Pelukis itu sedikit ternganga sebelum tunduk hormat dengan tangan kanan di dada.
"Nama saya Gerlic. Saya hanya dari kalangan rakyat biasa."
'Ah....'
Villian mengingat dia. Gerlic, seorang pelukis yang tidak di akui bakatnya hanya kerana dia bukan dari kalangan bangsawan.
Dia bertemu Gerlic di danau sedang melukis pemandangan di depannya dan membantunya menempatkan dirinya dalam kalangan bangsawan.
Namun perlakuan dirinya hanya membuat Gerlic di tekan oleh para bangsawan dan membuat kakaknya bertanggung jawap dan Gerlic mendapatkan gelar bangsawan berkat kakak Villian.
'Kau membantu atau cuba menghancurkan kerja seseorang?'
Well, itu kerana aku tidak ingin hidup para charakter ku hidup dengan bahagia.
Felix, kau musuh ku.
'Tapi ini bukan lagi cerita yang aku tulis. Aku tidak bisa membuat seseorang yang bernafas dan bergerak di depanku sebagai charakter yang sama. Dengan kemahiran dirinya, aku pasti dia akan mencapai end yang lebih baik.'
"Ini sangat indah. Aku pasti kau pasti akan mencapai sesuatu yang lebih dari menjadi seorang bangsawan."
Villian memandang Gerlic dengan senyum manisnya.
Rambut nya yang basah tidak tertiup oleh angin. Namun senyuman Villian sangat indah untuk di lihat.
"A, apa maksud nona muda lebih dari bangsawan?"
Sekali lagi, Villian tersenyum dengan lembut ke arah 2 pria yang bingung itu.
"Menjadi bangsawan sama dengan perang politik dan selalu harus waspada pada siapa pon. Menjadi bangsawan bukan akhir yang bahagia. Hidup bebas melukis bila bila masa yang kau mau. Bukan ke itu hebat?"
Mata Villian terlihat sangat senang mengatakan itu.
Dan Villian melihat ke arah menara jam dan tersentak.
'4 petang?!
Aku akan di marahi kerana telat pemeriksaan harian!'
Villian yang tersentak langsung berlari pergi.
"Aku dah lambat! Apa pon semoga sukses!"
Itu kata kata terakhir dari Villian yang sememangnya tidak mahu membantunya.
'Hidup bebas melukis bila bila masa yang kau mau.'
Kata itu terngiang di kepala Gerlic.
"Hidup bebas."
Gerlic bergumam dan melihat beberapa helai rambut pink yang basah melekat di kanvas nya.
"Iya. Aku gembira dengan melukis."
Gerlic menggenggam rambut pink yang indah itu dengan senyum di bibirnya.
.
.
.
.
.
Di rumah.
"Ouh, aku lupa. Siapa nama kau? Aku kene melapor dengan siapa aku keluar."
'Felix, kau menyebalkan!'
Pengawal itu memegang bahu kirinya seketika.
"Wakil kapten, Radex V Ejellkel."
'Ouh, anak dari Baron Ejellkel. Baron si sampah tu hah. Dia tak ada beda dengan paman ku.
Pantas dia memegang bahunya. belakang bahu kiri hingga pinggang ada luka bakar yang di sebab kan Villian sendiri kerana mengajaknya bermain saat dia sedang latihan.'
Villian menepuk lembut bahagian bahu kiri Radex dan pergi berjalan pergi.
"Lain kali aku akan memanggil mu lagi."
Tepukan perlahan itu membuat Radex ingin mengalirkan air matanya.
Parut luka bakar itu selalu di ejek kerana sangat jelek dan menakutkan.
Ayahnya yang tahu dia bolos latihan, dalam keadaan mabuk melemparkan air panas ke arahnya.
Itu sudah tidak menyakitkan namun itu masih menyakitkan dari sisi lain.
Apa lagi orang yang menyebabkannya ketakutan saat melihat parut itu.
"Nona muda, anda sangat naif."
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung............