
'Anak ini ahli nujum?'
.
.
.
Villian memberikan air pada anak berjubah hitam itu sambil duduk di batu.
Anak itu minum air putih itu dengan sangat lahap.
Zillo dan para pengawal lainnya siap siap jika anak itu cuba menyerang.
Gerlic duduk bersama Villian. Dia berfikir untuk jadi perisai daging jika sesuatu yang tidak diingini berlaku.
"Itu hanya air putih, tak perlu minum seperti itu kan."
Villian berkata seperti itu kerana melihat anak itu minum dengan lahap.
Anak itu tersentak mendengar ucapan Villian.
"No, nona, air putih adalah sesuatu yang sukar di jumpai. Banyak danau dan tasik yang di racuni oleh monster."
Anak itu mengatakan dengan kaget dan sepertinya memaksa Villian untuk menganggap air putih itu sesuatu yang penting.
"Baiklah..... Baiklah...... Apa nama kau dan berapa umur kau? Apa kau ahli nujum?"
Anak itu menundukkan kepalanya.
"Nama saya Lucard. umur saya 13 tahun."
Lucard mengemam bibirnya seperti sulit untuk mengatakan hal seterusnya.
"Ya, saya ahli nujum. Terima kasih sudah membantu makhluk gelap seperti ku."
Lucard terlihat malu dengan dirinya sendiri.
Pak!
Satu pukulan yang cukup keras mengenai kepala Lucard dan dia langsung melihat gadis berpakaiaan seperti pria tepat di matanya.
"Berbicara dengan seseorang harus melihat ke arah matanya.
Apa kamu pernah memanggil roh manusia atau mengendalikan tulang belulang manusia?"
Villian mengatakan itu dengan alisnya yang di kerut.
"Ti, Tidak! Ibu mengatakan kita tidak bisa melupakan jati diri sebagai manusia dan menggunakan mereka! Saya hanya menggunakan tulang belulang monster dan tidak pernah memanggil roh dari kalangan apa pon!"
Lucard meninggikan suaranya membantah.
Villian tersenyum dengan jawapan Lucard.
"Itu bermakna kamu bukan jahat. Kamu tidak pernah menyakiti atau merugikan orang lain. Bahkan manusia, bisa membunuh hanya kerana kekuasaan. Elf, kurcaci dan bahkan naga, mereka semua ada baik dan jahat. Apa yang membedakan makhluk gelap? Hanya kerana di benci dewa, itu tidak bermaksud kamu jahat."
Pak.
Sekali lagi Villian memukul kepala Lucard.
"Ibumu tidak menyesali dirinya menjadi ahli nujum, bukan?"
Villian tersenyum ke arah Lucard. Dia bisa mengetahui yang ibu Lucard sudah meninggal hanya dengan melihat dia sendirian.
Juga kerana Lucard mengatakan ibu saat di tanya. Itu bermakna dia tidak lari dari ibunya.
juga jika terpisah, hal pertama yang akan di kata pertama adalah 'mana ibu'.
Lucard membulat matanya melihat gadis kasar di depannya.
"Iya, ibu bangga dapat meneruskan keturunan ahli nujum sebagai keturunan tampa menggunakan roh apa pon."
Sekali lagi Lucard tertunduk.
"Hnm... Zillo, bukan kau kata, tak ada kerajaan di luar. Di mana semua para ras lain tinggal?"
Zillo masih mengerutkan alisnya saat menjawap dengan tegas.
"Elf memiliki kekuatan untuk membuat dunia atau kerajaan yang tidak terlihat. Namun jumlah elf amat sedikit dan itu membuat elf hanya bisa membina kota di pelbagai tempat. Kurcaci tinggal di bawah tanah dan para makhluk gelap lainnya mungkin hidup bersembunyi di antara mereka.
Elf juga bisa menyamar sebagai manusia dengan baik dan mungkin tinggal dalam kerajaan kita."
Villian hanya memoncongkan bibirnya sambil berfikir.
"Bagaimana kamu membedakan ahli nujum dengan manusia biasa?"
Villian ingat bahwa Zillo langsung tau yang Lucard adalah ahli nujum.
"Hanya ahli nujum, yang memiliki hujung jari berwarna hitam."
Baru Villian melihat kuku Lucard yang hitam juga sedikit hujung jarinya yang hitam.
"Itu tidak bisa di tutupi bahkan dengan sihir sekalipon."
Gerlic mengatakan dengan wajah yang dingin.
"Itu tidak masaalah jika dia memakai sarung tangan, ia kan?"
Villian menampilkan senyum nakal.
"Jangan bilang kamu ingin membawanya bersama kita, nona muda."
Keringat mengalir di pipi Radex yang pertama kali angkat bicara dalam situasi ini.
"Aku tau kau suka membantu, tapi ini keterlaluan, Villian."
Semakin banyak kerutan di wajah Zillo.
'Membantu? Aku? Apa yang dia bicarakan?"
"Siapa yang bilang aku ingin membantunya? Aku ingin membawanya bersama dan menggunakannya."
Semua orang di sana termasuk Lucard bingung. Apa yang bisa di lakukan ahli nujum sepertinya untuk membantu.
Seringai besar terukir di wajah cantik Villian. Jarinya menunjuk ke arah atas dan ada 3 monster terbang seperti kadal dengan sayap menuju ke arah mereka.
"Berapa limit kamu bisa mengendalikan tulang monster terbang seperti itu?"
Villian menyoal dan Lucard dengan wajah serius menjawab.
"Seberapa pon itu. Selagi itu monster mati, saya bisa mengendalikannya. Saya adalah keturunan ahli nujum nombor 1 terkuat dari 10 keturunan lainnya."
Seringai Villian menjadi lebih bersemangat.
"Jika kau ingin mengikuti ku, jadi kan dirimu berguna, Lucard.
Bunuh ke 3 monster itu."
"Kami mengikut perintah!"
Semua pengawal menarik senjata mereka juga Zillo menarik pedangnya keluar.
Hanya 1 tingkat lagi, dia akan menjadi master pedang.
Kerana monster itu masih di dekat kerajaan, monster itu mudah di buru.
Villian menutupi mata, telinga juga hidungnya jika bisa.
Dia yang bahkan sangat takut dan menjauh dari filem apa pon yang di namakan horror dan gore tidak akan bisa menahan dirinya dari muntah jika melihat semua itu.
Setelah selesai di bunuh, Lucard langsung menggunakan kemampuan ahli nujumnya yang membuat semua darah dan daging dari monster itu menghilang dan hanya menyisakan tulang belulang.
"Wau, itu terlihat lebih keren dengan hanya tulang."
Villian memuji tulang itu dan menepuk kerangka kepala kadal terbang itu.
"Ikat tulang monster ni dengan kereta kuda. Kita akan jadikan kereta monster tulang terbang! Semua prajurit naik kuda mengikuti jalan berbatuan itu."
'Perjalanan ini akan menjadi lebih menarik!'
Semua orang merasa kagum dengan pemikiran Villian untuk memanfaatkan monster terbang dan ahli nujum dalam perjalanan ini.
"Lucard, tidak ada yang gratis di dunia ini. Kamu bisa mengendalikannya, kan."
Villian mengatakan itu dengan senyum penuh kemenangan.
'Lucard sayang ku. Ibu pasti, suatu hari, akan ada manusia biasa yang melihat kelebihan kita sebagai sesuatu yang baik.
Jadi tunggu saja.'
Lucard mengingat kata kata ibunya di saat terakhirnya bersamanya.
Lucard tersenyum.
'Ibu, Saya menemukan seorang.'
"Baik, nona muda."
Senyuman yang sangat indah terukir di bibir Lucard untuk pertama kalinya.
"Saya akan mengikuti nona ke mana saja."
Kata itu membuat Villian sedikit merinding.
'Apa aku baru mengadopsi seorang anak?'
Jiwa miskinnya bergelojak seperti dia akan menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak perlu.
'Kota tersembunyi elf, kota bawah tanah kurcaci, sarang naga dan sepertinya ada kerajaan tersembunyi untuk makhluk gelap. Lucard bilang ada 10 keturunan ahli nujum dan itu pasti memiliki kerajaannya.
Baik, itu akan jadi destinasi kita setelah jumpa lautan.'
Villian menaiki kereta kudanya bersama Zillo dan Gerlic manakala Lucard duduk di kersi pengemudi untuk mengendalikan 3 monster tulang terbang.
Beberapa kereta kuda diikat pada monster tulang terbang itu dan penyihir menggunakan sihir pengapungan supaya kereta kuda terbang lebih mulus.
Dengan begitu, mereka mula bergerak di langit biru.
Zillo dan Gerlic terlihat cukup teruja manakala Villian mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta.
"Woah!!! Lucard, ini keren! Kamu benar benar keren!"
Villian yang tidak pernah memiliki peluang naik pesawat di kehidupan sebelumnya sangat menikmati saat ini.
Untuk pertama kalinya, matanya terlihat memiliki cahaya kehidupan.
Dari ketinggian itu, Villian bisa melihat lautan yang luas.
"Lucard, mari pergi ke tempat banyak air tu!"
Villian merasa akan aneh jika dia mengatakan laut dalam bahasanya saat laut tidak ada dalam bahasa yang di guna Villian saat ini.
"Baik, nona."
Lucard mengendalikan monster tulang itu dan mereka pon pergi ke arah lautan.
.
.
.
.
.
Bersambung..............