
Keesokan harinya Villian akan pergi membuat vampir ke pihak mereka. Namun dia bingung mau berperan seperti apa.
Selama dia melihat Rosie dan Alen, mereka hanya seperti manusia pada umumnya.
'Tidak mungkin aku akan berkeliling seperti orang gila sambil menawarkan darah ku, iya kan?'
Villian memuncungkan bibirnya sambil memegang dagunya berpikir keras.
Kreeek......
Pintu di buka dan Alen memasuki kamar itu. Villian tidak peduli akan itu. Dia hanya merenung lemari di depannya.
Dia juga tahu itu adalah Alen. Kerana dia akan bersama Alen sendirian seperti dia bersama Lucard.
"Villian, kamu sangat tidak berhati hati."
Alen berbisik sambil meletakkan kepalanya di pundaknya. Villian menyentuh pipi Alen seperti mendorongnya, namun sangat lembut hingga tidak merasa di dorong.
"Alen, vampir menyukai kepribadian seperti apa? Jika mereka seperti manusia normal, itu akan sangat lama."
Villian bertanya dan melirik wajah Alen di pundaknya.
"Vampir adalah makhluk sama seperti manusia pada umumnya. Yang membedakan adalah obses mereka."
Senyuman penuh makna menampakkan ke dua taring Alen. Matanya di penuhi nafsu untuk mencelakai Villian.
Tangannya mula melingkar pinggang Villian. Itu tidak erat namun Villian mengerutkan alisnya tidak selesa.
Walau begitu, Villian membiarkan saja kerana dia menganggap Alen seperti Mailo dan Diamon yang suka memeluknya.
Lucard dan Millia juga.
Melihat Villian yang membiarkannya membuat Alen ingin semakin nakal. Dia tidak bisa menahan dirinya dengan obses vampirnya.
Namun sebelum bisa bertindak, Villian berdiri dan menolaknya keluar.
"Aku ingin mengganti pakaian. Aku sudah mendapat pelajaran semalam. Jadi tolong tunggu di luar."
Villian menutup pintu dan menguncinya. Alen melihat ke kaca hanya untuk melihat matanya.
Pang!
Alen menampar wajahnya sangat keras hingga dia terhuyung tidak stabil.
'A, apa yang baru saja aku coba lakukan!? Sadar Alen! Kamu tidak bisa mencelakai Villian bagaimanapon itu!'
Alen berlari ke tandas untuk membasuh wajahnya dengan air sejuk.
.
.
.
.
.
Di pohon dunia.
"Jadi, kamu ingin tahu cara memutuskan benang merah Villian?"
Magaret menggaru kepalanya mendengar itu.
Namun tatapan mata Eugine yang dingin membuatnya tidak ingin bertanya mengapa.
"Seperti yang Villian bilang, itu memang rapuh. Aku melihat benang merahnya seperti akan putus jika di tarik dengan perlahan. Kamu tahu kan, memutuskan takdir seseorang bisa membuat mu berakhir seperti naga penguasa langit."
Magaret memperingatkan Eugine namun hanya di balas dengan tatapan dingin.
"Tapi untungnya, memutuskan benang merah Villian tidak di anggap memutus takdir miliknya."
Magaret menggelengkan kepalanya melihat Eugine yang bahkan tidak tergerak dengan peringatannya.
"Jika kamu bisa melihat benangnya, itu mudah. Kamu hanya perlu memutuskannya. Walau begitu, itu tidak bermakna itu tidak akan bersambung dengan orang yang sama lagi."
"Berikan aku cara yang lain. Aku tidak bisa melihatnya seperti mu."
Keringat mengalir di pipi Magaret dan dia menelan ludah tampa sadar.
"Baik, Benang merah Villian adalah jenis benang predator. Saat itu putus, itu akan mencari mangsa lain dan memutuskan benang yang mereka sudah punya. Namun benang Villian lemah. Jadi itu hanya akan tersambung pada mereka yang tidak memiliki benang merah."
Eugine mengerutkan alisnya.
"Apa aku memiliki benang merah?"
Magaret menahan senyumnya saat mendengar itu.
"Tidak, kamu tidak. Zillo, Gerlic, Regis dan Alen juga tidak memilikinya. Benang merah Villian tersambung dengan kutukan Miliknya dan Zillo. Cara mudah, yah.... Sembuh kan saja souhell miliknya. Cara sulit, buat Villian sendiri yang memutuskan benang itu. Saat Villian jatuh cinta pada seseorang, benang itu akan putus dan akan cuba menyambungkan takdir bersama orang itu."
Magaret bisa melihat Eugine berpikir keras.
"Yah..... Itu sebenarnya cara mudah. Namun mengingat kepribadian Villian, itu adalah pilihan yang sulit."
Eugine mengangguk setuju. Mereka yang mencuri dengar perbualan itu dari alat penyadap, mula mengukir senyuman.
Eugine yang sedang emosi tidak perasan akan penyadap sihir di tempatkan padanya. Magaret hanya bisa menahan senyum merasakan penyadap itu ada pada Eugine yang ganas dan kuat.
Gerlic bermain dengan belatinya duduk di atas mayat seorang ahli nujum yang berkhianat.
Senyum mengerikan muncul di wajahnya.
Regis menandatangani dokumen di meja kerja dan mematikan alat penyadap itu.
Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya lalu melihat ke arah istana.
Dia tidak peduli dengan benang merah itu sekarang. Dia khawatir akan obses Alen akan mencelakai Villian. Jika mereka menyembuhkan souhell Villian, itu akan memutuskannya. Jika Zillo menolak, itu hanya membunuh Villian.
Eugine langsung pergi setelah mendapatkan jawaban dan mencari keberadaan kunci itu lebih teliti.
.
.
.
.
.
Alen mendengarnya tersenyum di tandas dan berjalan kembali. Dia menarik dan menghela nafas untuk menahan dirinya dari melakukan sesuatu yang tidak senonoh pada Villian.
Dia berdiri di depan kamar Villian dan menggenggam pakaiannya dengan erat.
"Maaf membuat mu menunggu."
Mendengar suara Villian membuat Alen menarik nafas dalam dalam. Dia ingin mendengar suara indah itu lebih menggoda.
Dia mencakar lengannya sendiri untuk menahan diri.
Villian membuka pintu dan terlihat Villian menata rambutnya dengan sungguh indah. Bulu matanya terlihat menggoda dengan lentikan sempurna. Bibirnya yang berwarna pink dan sedikit kemerahan kerana gincu dan mecup membuat nya sangat menggoda.
Gaun berwarna merah dengan payung di tangannya membuat dirinya terlihat seperti seorang yang bermartabat.
Sepatu hak tinggi di kenakan tersembunyi di balik gaun merah yang menjuntai hingga ke lantai. Kipas hitam kecil di tangannya membuat contras yang mendalam dengan gaun merahnya.
Villian mengeluarkan topi dari gelang kayunya yang berwarna merah hitam sangat membuat warna pink rambutnya menyerlah.
"Bagaimana dengan penampilan ku?"
Cara Villian berbicara sangat menggoda. Bahagian atas yang terbuka menunjukkan belahan dadanya dan sarung tangan hitam eligen dan kipas di tangan lainnya membuat seseorang tidak bisa mengalihkan pandangan dari karya seni itu.
Alen ternganga melihat itu. Melihat Villian dalam dress adalah hal langka. Dan dia menggunakannya saat Alen dalam pengaruh obsesnya.
Dia tidak bisa menahannya. Dia ingin meraih keindahan itu ke dalam genggamannya.
Villian menutup pintu dan Alen mendorongnya ke pintu hingga wajah mereka sangat dekat.
"Kamu memakai pakaian seperti ini saat, aku dalam pengaruh obses ku? Aku tidak bisa menahannya."
Mata Alen di penuhi nafsu yang ingin mendapatkan Villian bagaimanapon caranya.
Obses vampir sangat sukar di lawan. Alen menelan ludah untuk mengendalikan dirinya.
Villian mendengus dan-
Chu-
Villian memberikan ciuman di pipi Alen. Bekas gincu melekat di pipinya.
"Tenangkan diri mu bro. Apa aku terlihat sebegitu menggoda? Jika begitu, itu sukses."
Villian memberikan senyuman hangat pada Alen. Wajah Alen memerah dan melangkah mundur dan melihat di kaca bekas ciuman.
Dia tidak ingin mencucinya. Dia menggunakan ilusi untuk menutupinya.
"Bisakah kita pergi sekarang? Aku akan memberikan ciuman di pipi lain mu setelah ini selesai."
Mata Alen berbinar mendengar itu. Dia menggunakan pengendalian mindanya untuk mengapungkan Villian. Dia pasti Villian tidak bisa bergerak dengan pakaian seperti itu.
Villian tersenyum pada pengertian Alen pada dirinya. Dia memegang tangannya dan menciumnya.
"Terima kasih."
Mata hangat Villian membuat Alen mencair.
Dia merasa obsesnya sudah terkendali sekarang.
'Dia mengendalikan obses ku. Dia benar benar hebat.'
Mereka pon mula meninggalkan istana.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.....................
Nulho: Tolong, otak ku traveling ke luar angkasa. 😥😅ðŸ˜