
"Nona muda, kita akan bertolak segera."
Radex mengatakan itu sambil tunduk hormat. Nona mudanya saat ini seperti pria dari kalangan rakyat biasa.
Sangat bahaya jika dia berpakaiaan mewah. Dia mungkin akan di culik saat berada di luar kerajaan. Di luar kerajaan adalah tempat bandit dan para kriminal lainnya bermaharaja lela.
Villian pon menaiki kereta kuda dan di dalamnya ada 2 pria di dalamnya. Yang kanan duduk dengan aura khas seorang bangsawan dan seorang lagi sedang duduk dengan buku dan beberapa pensel.
"........
Nona muda, apa nona muda akan duduk bersama 2 pria dalam 1 kereta kuda?"
Radex sedikit mengkhawatirkan nona mudanya yang akan duduk di dalam kereta bersama 2 pria.
"Apa yang akan berlaku? Jangan terlalu dipikirkan."
Villian melambaikan tangannya tak peduli dan menaiki kereta kuda itu.
Juga lebih selamat duduk bersama seseorang yang kemahiran berpedangnya hampir mencapai master.
"Hai, Zillo, Gerlic."
Villian duduk sambil menyapa mereka tampa mengunakan nada yang membedakan tingkat status mereka.
"Hai juga, nona muda."
"Sangat senang melihat mu sihat, Villian."
Mereka juga membalasnya dengan baik. Mereka bahkan tidak menegur cara Villian duduk seperti seorang pria dengan mengangkang.
Kereta kuda mula bergerak dan mereka melihat kemeriahan kota di sana.
"Zillo, apa ada kerajaan lain selain kerajaan ni?"
'Apa nama kerajaan ni pon aku tak tau.'
Villian mula memikirkan nama kerajaan itu. Sebenarnya cerita ini sudah selesai 1 tahun yang lalu. jadi dia bahkan tidak terlalu mengingat jalan ceritanya.
Dia merasa sangat ajaib dia masih mengingat semua informasi tentang charakter yang dia ciptakan di dunia itu.
Namun dia sangat mengingat Villian kerana dia selalu membencinya. Di setiap kisah barunya, Villian pasti masuk dalam adegan crossover untuk mengacaukan charakter di cerita itu.
'Apa aku akan bertemu Villian demensi lain yang aku ciptakan?
Villian itu sangat kejam dan bertolak belakang dengan Villian.'
Sekarang fikirannya untuk menulis muncul. Namun dia tidak bisa menulis dalam bahasa dunia ini dan hanya bisa membaca.
Sepertinya kemahiran Villian yang di dapatnya hanya membaca, berbicara bahasa dunia ini dan memakai sepatu tinggi.
Villian mengeluarkan gelang berlian dari sakunya. Dia membenci cara berpakaian seorang gadis ayu. Namun dia selalu iri saat cewek lain memakai perhiasan. Mungkin hanya itu yang tersisa dari dirinya sebagai seorang cewek.
'Ah.... Apa yang di lakukan teman kerja berengsek itu ya. Dia selalu menunjukkan gelang dan perhiasan lainnya yang di belikan boyfriendnya.'
Villian tidak memakai gelang itu dan hanya membelek seperti sedang bermain dengannya.
'Perasaan pertama kali mendapatkan perhiasan. Aku tidak ingin memakainya dan menghilangkan perasaan itu.'
Selama hidupnya 27 tahun, dia tidak pernah membeli perhiasan dan jika melihatnya, dia hanya mampu melirik dan memikirkan teman kerjanya yang memakai perhiasan.
Dia membenci rasa iri yang menyengat di hatinya.
'Ini rasa seperti mimpi aku bisa membeli bahkan 12 toko perhiasan tampa uangku bergerak.'
Sekarang dia merasa semua kehidupannya sebagai cewek tomboy sepertinya sia sia.
'Apa para gangster jalanan yang selalu cari gara gara dengan aku baik baik saja.'
'Mari mencuba.'
Villian menghela nafas dan memakai gelang permata biru muda yang berkilau.
Itu sangat indah berada di tangan Villian.
Dia mengingat parut yang ada di tangannya. Jika gelang ini di tangannya yang dulu pasti sangat tidak sesuai dan hodoh.
'Apa aku di kubur dengan baik?'
Villian memikirkan itu dan melihat ke luar jendela kereta dan melihat tembok besar yang melindungi kerajaan dari bahaya luar.
Tidak silap, di dunia ini ada monster juga.
Zillo yang melihat Villian baru siap untuk mendengarkannya baru mula bicara.
"Tidak ada. Kaisar di panggil kaisar dan bukannya raja kerana ini dulunya kekaisaran. Namun setelah 5 keturunan tampa ada kerajaan lain, kekaisaran di ubah menjadi kerajaan. Tiada kerajaan lain untuk di jajah lagi. juga monster yang berkeliaran di luar tembok menjadi masaalah untuk memperluas wilayah yang mungkin ingin membina kerajaan baru. Kerana itu, kerajaan ini hanya di sebut kerajaan tampa nama."
'Tak ada nama toh. Penat aku je pikir.'
Villian mengangguk faham.
'Itu alasan mengapa laut tidak di temukan. Juga sangat besar kemungkinan di balik laut yang luas, ada kerajaan lain.
Namun itu mungkin musuh dan teman. Jika memungkinkan, aku ingin itu menjadi teman dan tidak menjadi perang.
Hidup ku hanya 2 tahun dan harus mengurung diri kerana perang!? Aku tidak bisa membiarkan itu!'
Wajah Villian mula terlihat menegang dengan semua yang di pikirkan.
"Nona muda, tiada siapa yang menginginkan perang. Namun jatah makanan yang berkurang juga menjadikan banyak kerajaan mengambil keputusan untuk mengangkat senjata mereka. Tidak ada alasan nona muda harus memikirkan hal yang sudah berlalu."
'Woah...... kata kata bijak.'
Villian memandang Gerlic dengan kagum. Namun bukan itu yang di pikirkan Villian.
'Jika perang baru terjadi 2 tahun ku akan sia sia! Aku akan mengajukan keluhan kepada dewa jika itu terjadi!'
Kereta kuda mereka melewati tembok kota dan mereka mula melihat Padang rumput yang luas. Rumput yang tumbuh tinggi hingga paras pinggang Villian tampak sangat indah.
'Ouh, apa padi ada di dunia ini? Kalau aku jumpa pon, apa yang aku boleh buat? Aku tak tahu cara buat beras.
Gandum ada, kenapa beras tak ada?'
Villian mula mempersoalkan kaedah dunia itu.
'Lain kali kalau aku tulis cerita, pastikan aku terangkan tentang dunia tu dengan baik.'
Cerita Villian adalah cerita dengan ending di paksa.
Yaitu dengan matinya sang pratogonis.
Tak lama mereka bergerak, mereka tiba di bukit berbatuan.
Mereka pon turun dari kereta kuda.
"Kita tidak bisa melalui jalan berbatuan seperti ini. Roda kereta akan rusak."
Zillo mengatakan itu sambil melihat batu batu yang tidak sama besarnya.
Villian bertanya dan Gerlic menggeleng.
"Itu mustahil melainkan kita adalah penyihir kelas atas atau master pedang.
Monster Di daerah luar sangat berbahaya berbanding monster latihan di kerajaan."
'Apa ada naga di dunia ni? Kalau ada, aku nak pelihara 1.'
Mendengar semua pepatah dunia fantasi membuat Villian ingin bertemu naga.
'Apa ada pohon dunia juga?'
Villian mula berpikir untuk mencari pohon dunia jika ada.
"Wau, Apa bahkan naga dan pohon dunia ada di sini."
Villian tampa sedar mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"Aku tidak tahu apa pohon dunia itu ada atau tidak, tapi naga itu ada. Hanya naga adalah makhluk perkasa yang memiliki akal pikiran dan hidup lebih lama dari elf dan kurcaci. Elf dan kurcaci saja sudah sangat sukar di temui, apalagi naga yang sudah tidak memunculkan diri lebih dari 10 ribu tahun."
Zillo mengatakan itu sambil melihat peta. Dia harus mencari rute perjalanan yang lebih aman.
"Hmm.... Apa vampir juga ada? were wolf dan necromancer ada di dunia ini."
"Wau, nona muda, anda sangat tahu tentang ras. Namun itu ras yang harus di jauhi kerana mereka adalah makhluk dengan sisi gelap. Selain tu ada juga elf yang menggunakan elimental kegelapan yang membuatnya salah satu dari makhluk gelap.
Makhluk gelap selalu mencuba menyerang manusia dan makhluk hidup lainnya."
Elf dengan alimental kegelapan. Itu membuat Villian sedikit mengangkat alisnya. Dia tidak merasa ada elf yang akan mengambil elimental kegelapan sebagai partner mereka.
'Makhluk kegelapan, mereka seperti diri aku yang lama. Mereka pasti merasa tidak adil di perlakukan begitu.'
Villian melihat ke arah langit biru yang cerah. Dan seorang anak dalam 14 tahunan berjubah hitam berlari seperti sedang melarikan diri dari sesuatu.
Kerana semua orang fokus pada peta, tidak ada yang menyedari kehadiran anak itu.
Dan anak itu melanggar Villian hingga jatuh ke tanah.
dan tangan bocah itu mengenai dada Villian. Namun anak itu tidak menyadarinya berpikir Villian adalah lelaki.
"Maaf! Saya tak!"
'Lembut?'
Sesaat setelah dia merasa ada yang lembut di tangannya, wajahnya langsung memerah dan menjauh dari Villian.
"Maaf! Saya benar benar minta maaf!"
Anak itu tunduk 90 derajat pada Villian. Zillo ingin menarik pedangnya keluar saat Gerlic sedaya upaya menahannya.
"Apa apaan nih bocah? Aku baik baik saja. Kamu, apa kamu baik baik saja? wajah mu merah."
Villian kembali duduk dengan kesopanan seorang gadisnya nol sambil menggosok belakang kepalanya.
"Villian, dia menyentuh dada mu."
Suara Zillo bergetar kerana marah.
"Hmm?... Aku tak peduli kok. Bukan masaalah aku."
'Dada Villian besar bet dah. Sangat mengganggu. Aku rindu dada rata aku.'
Villian melihat ke arah dadanya dengan tatapan kesal.
Dadanya adalah tipe dada ideal untuk para gadis ayu. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
'Di dunia ni aku baru belajar pakai bra. Aku bahkan tak perlu pakai bra sebab dada aku yang rata!'
Wajah Villian semakin kesal.
Dia menggelengkan kepalanya untuk urusan tak berguna itu.
"Oi, bocah, siapa kau?"
Dengan nada suara yang di besarkan dengan sengaja ala gangster dengan wajah gangsternya.
Itulah yang di fikirkan Villian tentang aksinya saat ini.
Namun, dia malah terlihat menawan dengan rambut pinknya yang sudah terurai kerana terjatuh dan topinya terlepas.
Suaranya juga bukan suara gangster dan itu suara tegas yang membuatnya terlihat karismatik.
'Sialan.'
Villian hanya mampu mengumpat dari dalam.
"Saya, saya, minta maaf."
Saat anak itu mengatakan itu, pedang Zillo di tarik dan tatapannya sangat dingin.
Pedang itu menuju ke arah leher anak berjubah hitam itu.
"Kau, necromancer."
necromancer, itu adalah makhluk yang bisa memanggil nyawa orang mati dan menggunakan tulang belulang sebagai prajuritnya.
Anak itu hanya menggigil takut tampa bisa membuka mulutnya.
"Hentikannya."
Villian bangun dan menjauhkan pedang Zillo dari anak itu.
'Anak ini necromancer?'
.
.
.
.
.
.
Bersambung.............
Nulho: Ok, necromancer ni bahasa inggris kalau indo nya ahli nujum.
komen mau newcomer atau ahli nujum.
Ok, see you.