I DO WHATEVER I WANT!

I DO WHATEVER I WANT!
EPISODE 8



Mereka pon tiba di lautan yang luas dan berpasir.


Hanya ada 1 yang janggal.


'Mana pohon kelapa?'


Villian tidak melihat 1 pon pohon kelapa di pesisir pantai itu.


Semua orang yang melihat laut saat ini sangat terpesona. Zillo dan para pengawal lainnya menjatuhkan senjata mereka kerana kagum manakala Gerlic langsung mencapai pensel dan kanvas miliknya dan mula melakar.


'Uwah..... Apa kalian lupa yang dalam laut juga pasti ada monsternya. Hm? Apa ada putri duyung?'


Putri duyung, makhluk separuh ikan dan separuh manusia.


"Itu akan indah jika itu ekor ikan. Namun, bagaimana jika kepala mereka ikan?"


Villian memiliki pemikiran yang mengerikan dan langsung menghilangkan itu dari otaknya.


Sayangnya, tidak ada garam yang sudah siap di saji di pantai itu.


Villian mendekati air itu dan menyentuh dan memasukkan ke dalam mulutnya.


'Asin!'


Villian tersenyum puas dengan itu.


[Beraninya kamu menyentuh kawasan ku, manusia kotor.]


Tiba tiba ada suara dari entah berantah memasuki kepalanya.


Tanah mula bergetar dan turun dari langit seekor makhluk yang besar dan agung.


Semua orang siap siap untuk menyerang. Namun tangan Villian menghentikan mereka.


"Saya meminta maaf atas ketidak sopanan saya, oh, makhluk yang agung."


Villian hanya memujinya kerana makhluk itu sepertinya bisa di ajak bicara.


"Kami baru saja melihat kawasan yang indah. Kami berfikir untuk beristirahat sejenak dalam perjalanan panjang kami."


Makhluk besar dan agung itu melihat ke arah monster kerangka sebelum melihat semula ke arah Villian.


[Kamu membawa makhluk gelap bersama kamu. Apa ini deklarasi kamu sebagai perlawanan?]


Makhluk itu terlihat mengerutkan alisnya dan Lucard menundukkan kepalanya. Villian juga membalas kerutan di wajahnya.


"Saya meminta anda yang agung untuk tidak berprasangka seperti itu. Lucard tidak pernah menggunakan roh dari ras apa pon. Saya tidak menyebelahi makhluk gelap, saya menyebelahi orang di bawah komando saya. Naga yang agung lagi perkasa."


Lucard melihat ke arah Villian dengan pupil mata yang bergetar. Tidak berpihak pada makhluk gelap namun dia seorang. Itu buat dia merasa berada dalam kelompok. Juga Villian menganggapnya sebagai anggota kelompoknya. Dia menahan diri untuk menangis kerana gembira.


Villian dalam sekejap, bisa mengetahui makhluk di depannya adalah naga kerana ukurannya yang besar dan bisa berkomunikasi dengan manusia layaknya manusia.


Makhluk sebesar 20 meter berwarna biru melihat ke arah Villian dengan tatapan tertarik. Sosok makhluk besar itu menguap dan muncul seorang pria berambut biru dengan mata predator dan jubah putih yang terlihat kuno berjalan mendekati Villian.


"Kamu, akan segera mati, bukan?"


Pria itu tersenyum sambil melihat ke arah dada kiri Villian.


Lucard melihat ke arah Villian dengan tak percaya. Yang lain hanya mampu menelan ludah sambil mengangkat senjata. Pria di depan mereka itu bukan makhluk yang bisa di kalahkan seorang manusia.


"Iya, aku akan mati dalam 2 tahun ke depan."


Villian mengatakan itu dengan santai seperti kematiannya adalah hal yang tidak penting baginya.


"Souhell, kan."


Pria itu semakin terlihat tertarik pada Villian. Lucard membulat matanya mendengar itu. 1 dari milyar orang berpotensi mengenai penyakit itu dan mengapa itu harus orang yang dia ingin ikut bahkan jika nyawanya melayang.


"No, nona, itu tidak benar kan."


Wajah Lucard terlihat ingin mendengar Villian mengatakan itu tidak benar.


"Lucard, bahkan makhluk agung, naga yang perkasa menyadarinya, aku dan kau sama sama tidak bisa lari dari kenyataan."


'Aku ingin pelihara naga kecil. Naga tua tak menyenangkan.'


Pandangan pria itu semakin tertarik.


"Saya memohon maaf. Jika bisa, apa saya bisa bertanya nama makhluk yang hebat dan perkasa ini?"


Villian sedang mencuba yang terbaik untuk tetap sopan supaya mendapatkan garam yang dia inginkan.


"Namu aku Eugine, aku naga berumur 1500 tahun. Naga bisa hidup hingga 3 ribu tahun. Aku adalah naga pelindung lautan ini. Jujur saja, apa yang kamu inginkan?"


'Wau, tak ada basa basinya.'


Villian terlihat kagum bahwa Eugine tahu bahwa dia mengingin kan sesuatu.


"Urusan bisnes. Bisakah saya mengambil air yang berada di lautan itu? Itu adalah rasa yang tidak pernah saya rasakan. Saya ingin menjualnya."


Eugine memandang Villian dengan bingung.


"Kamu tau, sangat sukar untuk membawa air yang banyak ke banyak tempat. Dan rasa itu asin."


Villian menyeringai dan memetik jarinya dan ingin memanggil penyihirnya.


Namun itu di hentikan Eugine.


"Jika kau ingin penyihir membawa banyak air, itu tidak bisa juga menguras mana. Jika kamu ingin membuat sesuatu, di depan mu ada penyihir terhebat di dunia."


Eugine mengatakan itu sambil membangga kan dirinya sendiri.


Villian mengangguk dan mengambil satu baldi air laut.


'Airnya masih bersih dan tak ada pencemaran, apa perlu di saring dulu? Ahh.... Malaslah. Mari keringkan airnya hingga kering bahkan tampa matahari atau oven!'


"Uap air ni hingga benar benar kering."


Eugine dengan bingung melakukannya. Bahkan tampa merapal mantra, air itu mula teruap.


Dan setelahnya dia bisa melihat butiran butiran kecil yang berkilau seperti permata.


"Wau, sihir naga benar benar hebat!"


Villian kagum dan menyentuh garam yang sudah siap dalam beberapa detik saja.


"Rasa ini."


Villian memasukkan jarinya ke mulut Eugine tampa malu dan kesopanan yang tadi dia tonjolkan.


"Bukan ke rasanya sama dan lebih asin"


Villian mengatakan itu dengan senyum penuh kemenangan. Eugine meludah kerana mulutnya sangat terasa asin.


"Baik, aku akan berikan air laut ini. Itu tidak seperti itu merugikan sesiapa pon dan kau juga akan mati sebentar lagi."


'Terima kasih atas pengertian anda yang aku tidak ada niat untuk terus hidup!'


Villian kagum melihat Eugine tidak seperti yang lain saat membicarakan hal kematian.


'Naga bisa hidup selama 3 ribu tahun dan pasti menderita kehilangan sangat banyak hingga dia tidak ingin terlibat dengan makhluk yang hidupnya tidak akan lama.'


Villian hanya mengangguk paham pada Eugine.


"Nona muda, apa yang bisa kita lakukan dengan serpihan asin ni?"


Radex bertanya dan Villian mengambil ikan dan menyalutkan sedikit garam pada ikan itu.


"Bakar sampai matang."


Villian memberi perintah dan baru saja penyihir ingin merapal mantra, Eugine sudah melakukannya.


Dan hanya beberapa detik saja, ikan itu matang dengan sempurna.


Villian melihat ke arah Eugine dengan tatapan bingung.


Eugine hanya menampilkan senyuman seperti tidak melakukan apapon.


Kerana wajah Eujine yang sepertinya tidak melakukan apapon, Villian mengubah soalan yang ingin dia tanyakan.


"Aku? Tidak, tidak. Aku hanya memerhatikan siapa yang akan mencemari lautan di mana aku, naga biru berkuasa. Namun penguasa lautan tak lain adalah manusia bawah laut. Manusia bawah laut memiliki insang untuk mereka bernafas di air."


Eugine membalas dengan nada seperti itu lelucon bahwa dia tinggal di lautan.


"Ouh. Jadi bukan putri duyung?"


Mendengar Eugine mengatakan dia bukan penguasa lautan, buat Villian berfikir bahwa putri duyung yang berkuasa. Sepertinya dia salah.


Gumaman Villian membuat Eugine mengangkat 1 alisnya.


"Apa kamu gila untuk menjadikan putri duyung yang terlahir lebih serakah dari ras apapon juga makhluk gelap menguasai lautan?"


Kali ini, Villian yang mengangkat alisnya tidak percaya.


Putri duyung yang selalu di damba dambakan oleh manusia di dunianya, menjadi salah 1 makhluk gelap yang di benci dewa? Bukan hanya itu, mereka juga lebih serakah dari ras manapon?


'Apa ini masih dunia Villian yang aku tulis itu?'


Wajah Villian benar benar seperti dia baru saja di pukul pada belakang kepalanya.


'Aku tidak tahu menahu apa pon tentang dunia ni.'


Itu wajar kerana Villian tidak pernah keluar dari kerajaannya dan dirinya sangat malas untuk memikirkan konsep dunia pada cerita yang memiliki ending di paksa.


Villian menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran yang tidak berguna.


Viloian melempar ikan bakar tu ke Radex dan Radex menangkapnya dengan baik.


"Makan tu."


Radex sedikit ragu namun tidak bisa melawan perintah nonanya.


Ngap..


".......!?"


Mata Radex berbinar memakan ikan bakar itu.


Ngap.


Dia mengambil 1 gigitan lagi.


"Nona muda, ini sangat enak!"


Radex seorang yang tidak memilih makanan namun jika itu enak, dia akan mengatakan itu enak jika tidak dia hanya menggeleng namun tetap makan.


Semua pengawal terliur melihat Radex yang makan dengan mata berbinar.


"Mari kita buat lagi dan hantar pada ayah. Aku juga akan berikan surat."


"Apa itu akan jadi bahan masakan?"


Gerlic bertanya dan Villian mengangguk dengan semangat.


.


.


.


.


.


"Bagaimana kalian ingin menghantar semua ini?"


Eugine bertanya saat melihat 30 kantung besar garam yang siap di bungkus.


"Guna kereta kuda saja. Tidak mungkin aku menggunakan monster kerangka saat ahli nujum di benci dunia."


Villian terlihat sedih saat melihat ke arah Lucard yang dengan bersemangat mengumpulkan garam.


"Anak kecil seharusnya berperilaku seperti anak kecil."


Villian bergumam dan Eugine yang di sampingnya satu satunya yang nganggur seperti Villian mendengar itu.


Dia tidak memahami jadi makhluk lemah kerana naga sudah terlahir dengan sifat merendahkan semua ras di bawah mereka. Gumaman Villian membuatnya harus berfikir apa yang di maksudkan dari perkataan itu. Namun dia tidak memiliki jawaban tentang itu di kepalanya.


Namun Villian tidak melihat Lucard sebagai Lucard. Dia melihat dirinya yang berumur 13 tahun saat dia harus bertarung melawan dunia yang luas dan kejam sendirian.


Dia tidak pernah memiliki teman yang baik atau tempat kerja di mana dia tidak di buli juga semua saudara orang tuanya seperti sampah. Teman yang menemaninya di dunia seperti itu hanya gangster jalanan yang suka cari gara gara dengannya.


Namun mereka tidak melihat dirinya sebagai teman. Mereka melihat dirinya sebagai boss kerana mengalahkan 1 group mereka dengan tangan kosong.


'Hah..... Masa masa kekuasaan ku.'


Tiada keluarga atau teman yang mampu berdiri bersamanya membuat dirinya menjadi sosok yang tertutup.


Jangan kata bercinta, itu nol pengalaman tentunya.


"Aku harus menuliskan surat untuk ayah ku."


'Tapi pikir balik, ibu Villian meninggalkan dirinya dan keluarga duke setelah kelahirannya.'


Villian mengambil pensel dan baru teringat dia tidak bisa menulis.


Tump.


"Hah?"


Jantung Villian berdetak aneh.


Ktak.


Pensel di tangan Villian terlepas jatuh ke tanah.


'¥€%¤¢αβ'


Seperti ada suara dalam kepalanya tidak jelas dengan sosok wanita juga tidak jelas.


'A, apa?'


Villian menggenggam dadanya dan meringkuk ke depan kerana rasa sakit di dadanya dan itu di sambut Eugine.


"Hei, bukan souhell tidak menyakiti penderitanya? Apa jadi pada kau!?"


'Aku juga mau tau!'


Eugine benar benar tarlihat kaget.


'Kamu makhluk bodoh, beraninya kamu menyentuh sesuatu yang aku larang.'


Pandangannya terlihat sebuah kamar yang terlihat suram dan seorang wanita paruh baya yang tadi kabur dan perkataannya menjadi lebih jelas.


Di depannya dia melihat pensel yang terlihat lusuh seperti sangat itu sudah sangat usang.


'Apa, apa yang-'


.


.


.


.


.


.


Bersambung..............