
"Seperti yang aku sangkakan. Kamu, manusia."
Vampir itu berjongkok melihat wajah Villian.
"Aku tidak percaya bahwa kamu cewek jika kamu tidur seperti ini."
Vampir itu melihat wajah Villian.
"Dia berbau Rosie. Dia pasti membantu cewek ini."
Vampir itu membuka mantelnya dan menyelimuti Villian.
'Dia memiliki bau ahli nujum, werewolf, elf dan bahkan elimental. Juga berbau reptil seperti naga. Siapa cewek kayak cowok ini?'
Vampir itu hanya memerhatikan Villian yang tidur selama 15 minit.
Villian membuka matanya dan duduk. Dia menggosok matanya dan melihat warna rambutnya.
Dia melihat vampir pria di depannya juga.
"Cih, mengapa kamu yang harus mengetahui ras ku."
Villian memegang mantel vampir itu dan menyerahkannya pada vampir itu.
"Kamu sepertinya berteman dengan adik ku. Kamu berbau seperti adik ku."
Villian memikirkan siapa yang di bicarakan vampir itu.
"Ah."
Villian memukul tangan kirinya dengan tangan kanan seperti mendapat siapa itu.
"Kamu kakak nya Rosie. Ah, kalau begitu, kamu........."
Villian mula merasa sedikit takut.
"Iya, kamu baru saja menampar raja kerajaan ini."
Villian memandang ke tempat lain.
"Anak itu tidak pernah memiliki teman dan aku melarangnya keluar. Dia sudah di khianati banyak kali yang membuatnya tertutup. Namun dia membantu mu dan sepertinya sangat rapat hingga memberikan pakaiannya pada mu."
Villian hanya mengangguk.
"Apa semua makhluk gelap ada masaalah kepercayaan atau apa? Jika begitu aku juga ada berengsek."
Villian bergumam sendiri namun itu di dengar vampir di depannya.
"Nama aku Villian Tex Ajellan. Aku jatuh ke sungai dan di selamatkan adik mu dan saat ini terpisah dengan teman teman ku yang lain. Kami ke sini hanya sekadar berkeliling tidak lebih dari itu."
Villian dengan cepat menceritakan masaalahnya. Dia tidak ingin di anggap sebagai musuh yang datang untuk menyelidiki sesuatu. Jika perlu, dia rasa dia hanya akan menyuruh para elimental saja.
"Berkeliling? Di kerajaan makhluk gelap?"
"Apa salahnya? Aku hanya memiliki 2 tahun sebelum mati kerana souhell. Aku tidak ingin jadi makhluk gelap kerana itu tidak membuat ku lebih kuat dari naga juga aku tidak memiliki keinginan untuk hidup lebih dari 2 tahun ini."
Vampir itu bisa melihat mata Villian yang menikmati pemandangan dari kerajaan itu.
"Nama ku Alen. Nama mu indah."
"Apa kamu menggoda ku?"
Villian tersenyum seperti mengejek ucapan Alen.
"Kerajaan ini sungguh indah. Sayang sekali kerajaan ini berada di ambang perang."
"Maksud mu?"
Alen menatap Villian dengan pandangan curiga.
"Bukan ke kerajaan ini berada di ambang perang?"
"Bukan itu. Apa maksud mu, kerajaan ini indah?"
Villian memandang Alen dengan bingung.
"Tentu saja ini indah. Apa kamu tidak berpikir seperti itu?"
"Bagaimana kamu bisa berpikir kerajaan yang hanya mengandalkan kekuatan juga bahkan harus tersorok dari dunia luar, itu indah?"
Villian memandang Alen dengan tidak percaya.
"Tentu saja itu indah. Bukan ke bintang ada di sini saat di langit luar baru saja mendapatkan semula bintang mereka? Juga aku menyukai konsep dari kerajaan di mana mereka menerima semua ras tidak peduli itu ras gelap atau bukan."
Villian mengatakan itu dengan ketulusan dan kekaguman. Bukan semua kerajaan bisa melakukan itu.
"Bisa bersama di antara semua ras tampa membedakan tingkat seseorang. Itu adalah kerajaan yang sangat indah dan harmoni."
Alen kehilangan kata katanya. Selama dia menjadi raja, keluarganya selain adiknya mengekangnya untuk menjadi lebih kuat dan kuat untuk meneruskan tahta yang membuatnya tidak peduli saat mereka mati.
"Kerajaan ini indah sebagai kerajaan itu sendiri. Jika rajanya sendiri tidak mencintai kerajaannya, itu yang membuat sebuah kerajaan runtuh. Ingat itu."
Villian memberi nasihat tampa ia sedari. Dia hanya berbicara seperti dia berbicara pada teman temannya yang lain.
Dun, dun, dun........
Alen mengulurkan tangannya pada Villian.
"Masih ada lagu terakhir. Maukah kamu menari dengan ku."
Villian melihat wajah Alen yang berkilau.
'Ketampanan adalah dosa.'
Villian menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa menari. Seperti yang kamu lihat, aku bahkan duduk tidak bisa sopan."
Ada senyum lembut di bibir Alen. Dia menarik tangan Villian dan menggunakan kekuatan yang sama menukar Villian seperti vampir kecil tadi.
Alen menggerakkan sepatu tinggi Villian dengan kekuatan vampirnya dan memakaikan sepatu tinggi itu di kakinya.
Namun kaki Villian tidak menyentuh lantai. dia terapung di udara.
"Bisakah kita menari?"
Villian terapung di udara dan mantel Alen kembali ke pundaknya.
"Kekuatan vampir adalah pikiran. Semakin kuat pikiran seorang vampir, mereka bahkan bisa menciptakan pisau yang tidak terlihat."
Villian kagum dengan pemandangan dari atas situ.
Dun, dun, dun........
"Sekali lagi, bisakah kita menari bersama."
Bagaimana bisa Villian menolak permintaan dari seorang pria yang sangat tampan.
.
.
.
"Wau, aku benar benar bisa menari dengan baik."
"Tentu saja. Jika pasangan mu hebat, tikus di bawah jembatan saja bisa terlihat seperti singa."
Kata 'tikus' membuat Villian mengalihkan pandangannya.
'Dia sama kan aku dengan tikus? Banjingan ini....'
Villian hanya bisa kesal di dalam. Lagu sudah ingin berakhir. Alen mendekati wajah Villian dan bibir mereka hampir bertembung.
Buk!
Namun itu di hentikan oleh batu yang melayang dari bawah mengenai kepala Alen.
Alen melihat dari mana batu itu melayang.
"Raja werewolf?"
Alen turun ke tanah bersama Villian.
"Regis? Kamu juga di sini?"
Villian dengan cepat melangkah mendekati Regis.
Wajah Regis lembut pada Villian namun sangat ganas pada Alen.
"Bagaimana kamu mengenali ku? Ini ilusi dari raja vampir."
Regis menyentuh rambut Villian dan melepaskannya. Dia menghela nafas pendek.
"Kamu memakai rantai yang ku hadiah kan pada mu, bukan."
"Iya. Ini rantai yang indah! Terima kasih untuk rantai ini!"
Senyum kecil terukir di hujung bibir Regis.
Namun itu langsung menghilang saat Villian memandang ke arah Alen.
"Alen, ini teman ku. Dia membantu ku mencari teman teman ku yang lain."
"Pantas kamu memiliki bau werewolf bersama mu."
Alen mempertahankan wajah cool nya saat kepalanya sakit kerana pria besar itu.
Ikut hatinya, dia pasti sudah melempar Regis ke dalam sungai.
"Ouh, Raja vampir. Sudah lama sejak kita bertemu."
"Ouh? Begitu juga dengan mu, raja werewolf."
Percikan listrik mengalir di antara mereka.
'Jangan berani kau sentuh Villian.'
Tatapan Regis mengatakan itu.
'Ouhh..... Apa kau berani menghalang ku? Mau bertarung?'
Alen membalas.
'Hah?! Kamu baru saja mencabar ku!? Berengsek, mari kita adu tinju sekarang juga!'
Regis membalas lagi.
'Ohho, siapa takut.'
Alen juga membalas.
Villian yang berada di tengah melihat mereka saling menatap sambil tersenyum.
"Sepertinya kalian sangat rapat. Kalian pasti teman yang baik."
Kedua mata yang saling menatap langsung berhenti.
"Aku tidak berteman dengan banjingan ini."
"Sama untuk ku juga."
Villian masih tersenyum.
"Iya, kalian berteman dengan cara yang unik."
'Mereka adalah tipe teman berantem. Tapi mereka pasti akan mempertaruhkan segalanya untuk membantu satu sama lain.'
Regis dan Alen tidak mahu menatap sesama mereka lagi.
"Mari kita pulang. Villian, kamu tinggal di kamar Rosie, kan."
Villian mengangguk dan mengikuti belakang Alen. Dia melambai pada Regis dan Regis membalasnya.
'Aku perlu selesaikan masaalah dengan elf itu cepat. Jaga dia.'
Alen menatap tatapan mata Regis.
'Selesaikan saja masaalah elf itu. Masaalah kerajaan kita masih banyak.'
Alen membalas dan mengalihkan pandangannya. Regis tunduk hormat dan pergi.
.
.
.
.
.
.
.
"Rosie, aku pulang."
Rosie yang mendengar suara Villian langsung membuka pintu.
Dia terkaku saat Villian sudah berada dalam pakaian pria lagi.
Juga kakaknya berada di belakangnya.
"Aku bertemu dengan kakak mu dan tidak sengaja manamparnya kerana dia membuat ku malu."
Villian mengatakan itu dan berjalan masuk.
Wajah Rosie sudah pucat.
'Dia menampar kakak ku!!?'
Alen mendekati adiknya.
"Apa yang di sukai teman mu itu?"
Alen berbisik pada Rosie. Rosie bisa melihat kuping Alen yang sedikit memerah dan wajahnya seperti sedang kesusahan.
Rosie langsung menampilkan seringai nakal di wajahnya.
"Aku tidak begitu tau. Tapi aku tau dia menyukai perhiasan yang berkilau kecuali cincin. Juga dia menyukai makanan yang enak."
Mendengar kata perhiasan membuat Alen melirik rantai yang berada di leher Villian.
'Kamu memakai rantai yang ku hadiahkan pada mu, bukan.'
Alen mengingat kata kata Regis dan dia ingin menanggalkan rantai itu dari Villian secepatnya.
Namun tidak perlu melakukannya. Villian membukanya dan meletakkan kembali rantai itu ke kotaknya.
"Ahem."
Alen batuk palsu dan Villian melihat ke arahnya.
"Sebagai raja, aku akan membantu mu mencari teman teman mu. Apa kamu ada sesuatu yang bisa membuat kamu mengetahui itu mereka?"
Villian berpikir sejenak.
Dia bergerak langsung mengoyakkan mantel yang tersisa dan mengikatnya pada tangan Alen.
"Mereka pasti berbau seperti mantel ini. Kamu sepertinya memiliki hidung yang tajam. Jika kamu mengikat ini di tangan mu, kamu mungkin bisa merasakan aura dan keberadaan mereka."
Villian dengan hangat tersenyum pada Alen.
'Aku tidak ingin membuka ikatan ini selamanya.'
Tiba tiba dia merasa punggung nya sejuk.
Keringat mengalir di tubuhnya.
'Apa apaan dengan aura dan mana yang mencengkam ini!'
Dia bisa merasakan mana dan oura juga kutukan yang sangat besar.
'Apa ini keberadaan teman temannya?'
Alen tampa sedar menelan ludah.
'Apa aku minta bantuan Regis saja?'
Mana, oura dan kutukan yang di rasakan Alen bukan dalam perkiraan mencengkam melainkan bahaya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..................