I DO WHATEVER I WANT!

I DO WHATEVER I WANT!
EPISODE 10



Villian merasa dia bisa melihat aliran listrik di antara mereka dan mengambil 2 ketul batu seukuran genggaman anak berumur 5 tahun di tanah.


Dia melempar tepat mengenai kepala mereka berdua.


"Aduh."


Lucard mengerang dan melihat ke arah Villian. Putri duyung itu menyentuh kepalanya dan kuku tajam keluar dari tangannya.


"Beraninya makhluk lemah seperti kau melakukan hal seperti itu pada putri duyung kelas atas."


Putri duyung itu melihat Villian dengan tatapan maut.


Villian hanya membuat wajah tidak bersalah.


"Berhenti bertarung di sini. Apa kalian ingin membuat naga yang besar dan agung marah."


Kata 'naga' membuat keduanya menyimpan senjata mereka.


"Apa yang putri duyung kelas atas lakukan di sini?"


Villian bertanya dan putri duyung itu mengabaikannya.


Putri duyung itu berjalan melewati Villian seperti Villian tidak hujud.


Villian hanya melihatnya pergi.


Dia tidak memiliki pemikiran untuk mengikuti putri duyung yang begitu sombong.


Namun itu di maklumi jika dia sombong.


'Aku rasa Villian yang cantik ni terlihat seperti monyet jika di bandingkan dengan dia.'


Villian mengaku rupanya cantik. Namun di bandingkan dengan putri duyung tadi, dia terlihat seperti monyet terlepas dari zoo.


"Nona, anda baik baik saja?"


Lucard bertanya dan Villian dengan acuh tak acuh mengangguk.


Dalam sekejap, putri duyung itu menghilang.


'Benar benar kelas atas. Ingatkan diri aku jangan buat dia kesal.'


Villian memperingati dirinya dan berdiri.


Radex dari kejauhan mendekati Villian.


"Nona muda, persiapan untuk menghantar serpihan asin itu sudah selesai."


"Mari namakan itu garam. Aku yang menjumpainya, aku berhak memberinya nama."


Radex dengan santai menyetujui itu. Tidak ada yang salah untuk menamai penemuan sendiri. Bahkan jika kau menamainya dengan nama kau.


'Aku lebih terbiasa mengatakan garam. baik menamainya dengan itu atau akan di bilang orang aneh nantinya.'


Villian terlihat kurang semangat saat itu.


"Bagaimana kita akan menghantarnya?"


Lucard bertanya dan Villian melihat penyihir yang sedang nganggur.


"Mari guna teleportasi saja. Apa itu memungkinkan?"


Radex mengangguk pada ucapan Villian.


"Itu akan makan masa hingga pagi kerana kita tidak memiliki penyihir kelas atas yang lagi nganggur."


Villian mengangguk setuju saja. Itu lebih cepat dari guna kereta kuda di mana itu mungkin tidak akan sampai ke kerajaan kerana monster.


Dia juga tidak bisa menggunakan sihir kerana inti mana Villian yang terlahir cacat.


Untuk keluarga duke, itu sesuatu yang memalukan. Duke Ajellan terkenal dengan teknik berpedangnya dan sihir pada masa yang sama.


Villian tidak memiliki inti sihir kerana rusak dan Villian di jauhkan dari pedang kerana dia cewek.


Villian kembali ke tendanya dan mula buat sit up.


Dia juga melakukan banyak renggangan supaya otot tak menegang.


Dia melatih staminanya sejak dia menjadi Villian.


'Bagaimana kau bisa terus hidup dalam tubuh seperti kaca ini? Aku rasa seperti akan terluka kapan saja bahkan saat kamu hanya menggores dengan kuku.'


Villian mengeluh pada kenyataan itu dan berbaring di kasurnya dengan badan penuh keringat.


Dia berbaring dan langsung tertidur.


"Apa dia bisa tidur dengan semua keringat itu? Sungguh menarik."


Eugine mengikuti Villian sejak dia membuka matanya dengan hujud tidak terlihat.


Dia meliahat Villian yang menulis dengan baik dan dia juga melihat bagaimana Villian berinteraksi dengan kenalannya.


Tapi yang paling menarik baginya.


'Dia melempar batu pada putri duyung!?'


Eugine benar benar kaget melihat Villian melempar batu ke arah putri duyung. Kemudian dengan selamba menggunakan namanya.


"Apa urat takut anak ini sudah terputus."


Eugine menertawai dirinya yang berfikiran seperti makhluk lemah untuk sekali.


Namun dari yang Eugine perhatikan, Villian tidak terganggu dengan fakta dia akan mati. Souhell adalah penyakit seperti kutukan di mana penderitanya meninggal tampa sebab yang jelas.


Semua penderita souhell mati dalam keadaan tidur. Juga tidak ada penemuan untuk penawar penyakit ini.


Eugine mengeluarkan kaca yang bisa di pegang dan menyalurkan mananya.


Cahaya biru mengelilingi kaca itu dan muncul seorang pria berambut hijau sedang menguap di kaca itu.


"Ada apa naga penjaga laut call tiba tiba ni? Aku lagi nyenyak tidur tahu."


Pria itu memarahi Eugine.


"Apa kau tau cara untuk menyembuhkan sakit souhell?"


Pria berambut hijau itu mula mengerutkan keningnya.


"Hei, sapa dulu jika bertemu yang lebih tua! Aku 500 tahun lebih tua!"


"Aku menghormati mu sebagai penjaga pohon dunia dan bukan naga, Magaret."


Pria berambut hijau itu mengerakakn bibirnya mengutuk Eugine.


"Kenapa kau nak tau? Pohon dunia tidak ingin berbicara dengan mu."


Magaret mengatakan itu sambil buang muka. Bukan pohon dunia yang tidak ingin, tapi dia.


"Hanya sekadar ingin tahu."


Eugine membalas dengan acuh tak acuh.


"Ka-"


Magaret ingin mengutuk Eugine namun terhenti dan melihat ke arah belakangnya.


Wajah Magaret dengan cepat menegang dan melihat kembali ke arah Eugine.


"Penguasa langit, akan terbangun sebentar lagi. Itulah yang di ucap pohon dunia."


Wajah Eugine juga menegang.


"Naga penghancur dunia di masa lalu akan bangkit? Kita harus menyingkirkannya sebelum sejarah 10 ribu tahun lalu tidak terulang. Di mana itu?"


Malangnya Magaret menggelengkan kepalanya.


"Telur naga penguasa langit berada di luar penglihatan pohon dunia. Itu kerana setelah kematiannya, penerusnya terputus hubungan dengan dunia ini."


Wajah Eugine menampilkan ketidakpuasanya. Semua naga memiliki gelar penjaga di dunia ini dan hanya ada 1 naga yang di beri gelar penguasa.


Itu adalah naga penguasa langit. Naga terkuat dari semua naga yang ada.


"Dan pohon dunia bilang souhell bisa di sembuhkan namun itu sulit."


Eugine kembali melihat ke arah Magaret.


"Bagaimana?"


Magaret terdiam seketika seperti ragu.


"Dengan menjadi salah 1 makhluk gelap-"


Crash!


Kaca yang di pegang Eugine hancur berkeping keping.


"Jangan bercanda. Tidak mungkin ada yang ingin melakukan itu. Pohon dunia sialan."


Eugine bergumam kesal dan berjalan keluar.


.


.


.


.


.


"Di mana ini?"


Villian menanyakan itu. Dia saat ini berada di atas awan malam tampa bintang.


"Mimpi? Aku ingin kek kalau begitu."


Kerana itu mimpi, ya, kek yang di bayangin Villian muncul.


Villian dengan senang hati memakan kek itu.


Kemudian Villian melihat naga kecil berbentuk seperti kristal kaca biru dengan mata berwarna merah darah.


Naga itu hanya sebesar 1 meter di banding Eugine yang sebesar 20 meter.


Naga kristal kaca itu melihat ke arah Villian. Villian hanya memandangnya dengan pikiran berapa banyak yang akan ia dapatkan jika menjual naga itu.


Naga itu akhirnya membuka mulutnya.


"Kelahiran ku tidak di perlukan. Naga penguasa terdahulu telah membuat dosa yang tidak bisa di maafkan."


'Ngomong apa lagi nih naga?'


Villian memutar matanya dengan malas.


"Kenapa kamu berada dalam mimpi ku?"


'Jangan masuk mimpi seseorang sesuka hatimu kampret.'


Naga itu memandang langit alih alih langsung menjawab pertanyaan itu.


"Kerana kamu memikirkan tentang bintang di langit."


'Omong kosong apa.'


Mata Villian benar benar terlihat kesal dengan omong kosong tidak berguna itu.


"Aku naga penguasa langit yang di takdirkan untuk menjadi penguasa seterusnya. Dengan kembalinya penguasa langit, bintang akan kembali ke langit malam yang indah. Bintang adalah prajurit naga penguasa langit."


'Apa yang baru saja aku dengar? Bintang adalah prajurit? Wau, kalau bintang adalah prajurit apa aku bisa menjadi master pedang?'


Villian benar benar tidak dapat mempercayai apa yang baru saja di dengarnya.


"Apa keberadaan ku penting?"


Villian terdiam saat di lemparkan soalan itu.


.


.


.


.


.


Bersambung..............