I DO WHATEVER I WANT!

I DO WHATEVER I WANT!
EPISODE 24



Villian mengeluarkan guli merah dari sakunya.


Villian menggigit bibirnya bawahnya saat melihat guli itu.


'Aku, meminta bantuan? Aku?'


Villian menutup matanya dan tangan kirinya menggali tanah.


"Diamon, bisakah kamu membuat penghalang bau darah dari keluar? Jika bisa, tutup kawasan ini dan Rosie."


"Villian, apa yang kamu pikirkan?"


Mata Rosie bergetar takut. Villian menyerahkan guli itu pada Rosie.


"Maaf, aku tidak bisa meminta bantuan. Harga diri ku terlalu tinggi."


Villian tersenyum lembut pada Rosie dan berdiri sambil memegang pedangnya.


Area itu dan Rosie mula di tutupi penghalang bau sama sepert topeng milik Rosie.


"Diamon, maksud menjadi penguasa, bukan menjadi yang terkuat."


Diamon yang tidak terlihat menatap punggung Villian yang kecil.


"Jika kamu adalah penguasa, pastikan untuk melindungi kepunyaan mu. Jangan sesekali tunduk hanya kerana kamu takut. Sampai kamu mati pon, jangan sesekali, kamu tunduk pada banjingan yang mencuba merampas punya mu."


Villian memegang erat pedang di tangannya.


"Itulah namanya penguasa. Namun, jangan jadi seperti ku, ok."


Villian menatap ke belakangnya walau tidak tahu di mana makhluk kecil dan imut itu berada.


Dia tersenyum cerah saat itu.


Werewolf sebesar 3 meter itu sudah seperti monster bagi Villian yang sangat kecil di banding penduduk di dunia itu.


"Heh, anak kecil ini mau bertarung? Biar aku saja yang melayaninya."


"Baik, kakak yang terbaik."


Salah satu werewolf itu melangkah mundur dari pertarungan itu.


Cakar tajam dan kuat yang pasti membuat semua yang berdepan dengannya akan bergetar ketakutan. Villian bahkan tidak mempedulikan itu.


Aura gelap mengelilingi werewolf itu dan langsung di lapisi dengan armor elimental kegelapan.


Namun bahkan setelah melihat itu, tidak ada tanda ketakutan di mata Villian. Jika di bandingkan vampir di belakangnya yang bergetar takut hingga air matanya keluar, vampir kecil itu tenang tampa rasa takut.


Werewolf itu membulat mata mereka saat melihat sosok asli Villian. Rosie terlalu panik hingga ilusi yang dia taruh pada Villian menghilang.


"Manusia?"


Villian menyeringai dengan cara yang menakutkan dan menjilat pedang di tangannya.


"Aku sudah lama tidak berantem. Tolong sedikit berlembut."


Swiing!


Villian berlari ke depan dan dengan hanya hayunan tangan werewolf itu, Villian terbang ke belakang.


Tukd.


Namun Villian yang sudah terbiasa dengan mantel vampir bisa terbang dan menyesuaikan diri dan mendarat di tanah dengan lembut.


Swiiis.....


Villian sekali lagi menyerang dari depan. Werewolf itu menghayunkan tangannya lagi namun Villian dengan cepat mengelak itu dan menggores armor elimental kegelapan itu.


Dengan kekuatannya saat ini, dia tidak akan mampu menghancurkan armor elimental kegelapan.


Villian melihat sekeliling dan menemukan keberadaan elimental di tubuh werewolf itu.


Villian sekali lagi menyerang dan werewolf itu ingin menusuk Villian.


Tung, Bannng!!!


Villian mengelak itu dan hanya mengenai pipinya dan tusukan itu membuat tanah hancur berantakan seperti ada sebuah peledak.


Cung.


Villian mengarahkan pedangnya ke arah dada werewolf itu.


"Berhenti bersembunyi di balik elimental kegelapan, kamu banjingan lemah."


Villian mengatakan itu dan elimental kegelapan dan werewolf terpisah.


"Apa yang kamu-"


Villian menyeka darah di pipinya dan melihat werewolf itu dengan dingin.


"Apa kamu tidak bisa merasakan yang elimental mu kesakitan? Yah, werewolf bodoh seperti mu tidak akan menyadarinya. Kamu dan elimental mu tidak cocok jadi sangat mudah di pisahkan seperti menghancurkan kontrak."


Werewolf itu menggertak gigi taringnya kerana marah.


'Apa apaan? Villian bisa bertarung dengan mereka hanya dengan pedang kosong? Siapa sebenarnya dia.'


Rosie yang masih bergetar takut tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat.


"Rosie, tutuplah mata mu, ini akan mengerikan dari sini."


Walau Villian mengatakan itu, Rosie tetap tidak bisa menutup matanya.


Werewolf yang marah itu menyerangnya dan Villian tentu saja mencuba mengelak itu.


Cukd.


Tusk.


Namun serangan cepat dari werewolf itu menyayat pahanya. Villian tidak tinggal diam dan menusuk mata kiri werewolf itu.


"Argggggggggggggg!"


Werewolf yang kesakitan berteriak melangkah mundur ke belakang.


Villian dengan mata kosongnya terus ke depan seperti dia tidak merasakan. sakit apa pon.


Tusk.


Pedang Villian menusuk bahagian pundak werewolf itu.


"Arggg!"


Slash.


Werewolf itu menampar Villian dengan cakarnya dan itu mengenai perut Villian hingga isi perutnya keluar.


'He, hentikan ini.'


Rosie meringkuk sambil menutup kupingnya dan matanya tidak bisa berhenti mengalirkan air matanya.


Cukd.


Villian masih bergerak dan menusuk bahagian perut werewolf itu hingga tembus.


Swing.


Dia menarik kembali pedang nya.


Swing, swash.


Villian memotong kaki kanan werewolf itu sedang cakar werewolf itu memotong tangan kiri Villian.


"Arrgg!!!"


Teriakan demi teriakan memasuki kuping mereka yang melihat pertarungan itu.


Namun teriakan itu hanya datang dari werewolf.


"Berisik."


Swing.


"Apa ini saja yang kamu bisa? Apa kamu hanya terlihat kuat, banjingan?"


Tusk, tusk, tusk, tusk.


"Argh, arg! Argggh!"


Villian menusuk nusuk pedang ke lengan kiri werewolf itu. Teriakan demi teriakan yang memekakkan kuping terdengar.


'Apa, dia monster!? Dia bahkan tidak beriaksi pada tangan kirinya!'


Werewolf yang di tusuk itu mula ketakutan akan manusia kecil di depannya.


'Kakak di kalahkan manusia kecil itu?!'


Swing.


Villian menghabisi werewolf itu dengan memotong kakinya yang tersisa.


Dia tidak akan bisa bertarung lagi.


Villian mula melihat ke arah werewolf yang satunya lagi.


Kaki werewolf itu kehilangan kekuatannya dan terduduk.


Villian tidak memancarkan niat membunuh, namun dia sangat mengerikan saat ini.


Perutnya robek, tangan kirinya hilang dan pahanya tertusuk. Namun dia masih bisa berdiri dengan pedang di tangannya.


"Di, Diamon, to, tolong hancurkan ini di luar penghalang. A, aku dah tak sanggup melihatnya."


Rosie mengarahkan guli itu ke langit dengan tangannya. Air matanya mengalir deras dan tubuhnya tidak bisa berhenti gemetaran.


Guli itu hilang dari tangannya yang membuat Rosie tahu yang Diamon mengambilnya.


Dia merapatkan ke 2 tangannya bersama dan menutup matanya.


'Ku mohon, siapa saja, datanglah!'


Villian selangkah demi selangkah mendekati werewolf yang terduduk di lantai itu.


Dia sudah kehilangan banyak darah dan penglihatannya sebenarnya sudah kabur. Tangan dan seluruh tubuhnya sakit. Dia tidak pernah merasakan sesuatu yang sesakit itu sebelumnya.


Namun dirinya sebagai penguasa tidak membenarkan dirinya untuk tumbang sebelum semua musuh di kalahkan.


"Villian!?"


Villian menoleh ke arah suara itu. Dia mengenal suara itu.


Dia tidak bisa melihat wajahnya, namun dia tahu siapa itu.


"Vi, Villian?"


Dia bisa mendengar suara yang gemetar.


Dia tidak bisa melihat expresi mereka. Yang dia bisa sekarang, hanya tersenyum.


"Maaf, buat kalian khawatir. Aku harap kita bisa menyapa di kondisi yang lebih baik."


Dia tidak mendengar balasan mereka.


'Apa mereka takut dengan ku sekarang?'


Pikiran itu melayang masuk ke dalam otaknya.


Dia tidak peduli dan menghilangkan pemikiran itu.


Dia kembali berjalan ke arah werewolf yang berada di depannya.


Namun dia terhenti saat ada yang menyentuh tangan kanannya dengan lembut.


"Villian, kamu bisa beristirahat sekarang. Kami di sini."


Kata itu menusuk kuping Villian. Dia yang sedari tadi berdiri dengan gagah langsung meringkuk kesakitan dan terbaring.


"Errk...."


Namun dia menahan diri dari berteriak.


"Maaf, menyu-"


"Tidak apa, berhenti berbicara. tidur saja."


Villian bisa merasakan tangan hangat Zillo yang berada di pundaknya. Dia perlahan menutup matanya.


Eugine dengan cepat menggunakan sihir penyembuh pada Villian. Namun itu meninggalkan bekas parut yang mengerikan juga tangan kirinya tidak akan kembali.


Masih ada batasan untuk sihir. Sihir bukan dewa untuk melakukan segalanya.


Alen langsung ke arah Rosie dan memberikan potion padanya.


"Apa yang terjadi?"


Alen bertanya dengan wajah dingin. Namun Rosie tahu bahwa kakaknya sedang sangat marah saat ini.


Walau begitu, dia tidak bisa membuka mulutnya untuk berbicara. Air matanya mengalir deras sambil memeluk kakaknya.


Dia merasa dia tidak akan bisa keluar dari kamarnya lagi setelah ini.


'Janji dengan aku, kau tak akan trauma untuk melihat dunia luar.'


Rosie mengingat perkataan Villian.


'Sialan itu, dia pasti sudah mengetahui ini akan terjadi! Seharusnya kita guna saja guli itu dari awal!'


Rosie memarahi dirinya yang lemah dan tidak bisa melakukan apa pon selain menangis dan meringkuk takut.


'Aku lebih kuat dari mu!'


Rosie mengingat apa yang dia katakan pada Villian di awal.


'Kuat? Apa kamu bercanda? kamu hanya beban!'


Rosie hanya bisa memarahi dirinya.


"Baiklah, mari kita urus yang ini."


Rosie mendengar gumaman teman Villian.


Dia tersentak saat dia merasakan kekuatan mereka.


Kakaknya dan Regis juga tidak kalah dengan aura mereka. Niat membunuh mereka semua sangat besar.


Dia bahkan tidak bisa bernafas seketika kerana niat membunuh mereka.


'Kamu berani menyentuh nya? Bahkan mencelakainya? Apa kamu masih ingin hidup?'


Semua tatapan mereka menunjukkan makna yang sama.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung................