
Villian membuka matanya dan melihat Diamon di sampingnya.
"Apa yang terjadi?"
Villian bergumam sendiri. Dia tidak bisa mengingat apa pon dalam mimpinya. Dia melihat tangan kirinya.
"Bukan ini sudah terputus?"
Gumaman Villian membuat naga di sampingnya bangun.
"Kakak? Kakak sudah sedar?"
Villian membulat matanya mendengar Diamon berbicara.
"Diamon, kamu sudah bisa berbicara? Ini baru 20 hari bukan."
Diamon menunjukkan senyuman bangga di wajahnya.
"Apapon, apa kakak baik baik saja? Apa ada yang salah dengan tubuh mu?"
Villian menggerak gerakkan tubuhnya dan mengangguk.
"Tubuh ku terasa seperti baru!"
Diamon tersenyum lega mendengar itu.
Teman teman Villian mula memasuki kamar itu.
"Villian!"
Zillo dengan cepat memegang tangan Villian.
"Tangan mu baik baik saja? Bagaimana lengan kiri mu-"
"Itu pasti kamu."
Zillo di potong Eugine yang memandang tajam Diamon.
"Iya. Aku meminjam kekuatan bintang. Si penjaga pohon dunia juga membantu ku menghilangkan pengaruh leluhur ku dari ku."
Eugine mengangguk paham dan menyerahkan potion tingkat tinggi pada Villian.
"Walau kamu sudah sembuh, kamu harus minum potion supaya perkembangan kesembuhan itu menyeluruh."
Villian mengambil potion itu tampa protes.
"Kamu hanya ingin dia menerima potion itu kan."
Diamon berbisik dan kuping Eugine memerah.
"Tidak, tentu tidak."
Eugine membalas sambil memalingkan wajahnya.
"Nona muda, aku pantas mati kerana tidak melindungi mu!"
"Nona muda, aku melukis gambar diri mu supaya kamu merasa lebih baik."
Radex berlutut di depan Villian dan Gerlic menyerahkan lukisan gambar Villian yang sedang menatap langit. Itu sangat indah seperti Villian di dalam gambar itu akan keluar.
"Wau, kemampuan mu untuk melukis benar benar bukan lelucon."
Villian dengan senang hati menerima itu tampa tahu bahwa semua peralatan melukis Gerlic benar benar baru.
Semua yang di sana mengalihkan pandangan mereka dari Gerlic. Mereka tidak menyangka Gerlic yang lembut dan kurang mengancam bisa menyiksa orang dengan sangat kejam. Dia bahkan mengambil darah mereka untuk di buat dakwat melukis.
Villian melihat Radex dan mengelus kepalanya dengan lembut.
"Kamu tidak bisa mati sebelum ku. Kamu pengawal yang di percayakan kakak ku pada ku."
"No~na!!!!"
Mata Radex berkaca kaca dan kembali berdiri di samping Villian dengan wajah cool seperti seorang bodygroud.
Semua orang menggeleng kan kepala mereka melihat Radex.
"Nona, aku sangat takut kamu akan mati!"
Lucard melompat memeluk Villian. Dia benar benar takut saat melihat Villian pensan dengan berlumuran darah.
"Nona, jangan melakukan itu lagi!"
Villian hanya mengelus kepala Lucard sambil mengangguk lembut.
Pintu di buka lagi. Regis masuk membawa buah bersama 2 ahli nujum.
"Villian!!!!!"
Millia memasuki kamar itu dan langsung memeluk Villian.
Millia bersama Lucard memeluk erat dirinya.
"Villian, apa kamu tahu betapa kagetnya aku mendengar kamu bertarung dengan werewolf!? Apa kamu gila bertarung dengan werewolf yang besar itu! Huah!!!!"
"Itu benar! Nona, ahli nujum ini benar!"
Villian hanya tersenyum kekok pada 2 ahli nujum yang melekat padanya seperti ada magnet.
Belum Zillo yang tidak ingin melepaskan tangan kanannya.
Regis meletakkan keranjang buah itu di meja dan mengelus kepala Villian dengan lembut.
"Jangan melakukan itu lain kali."
"Baik......"
Villian hanya menjawab dengan lemah.
Jihe yang melihat adegan itu menggelengkan kepalanya.
'Aku sesat di mana ini? Semua orang seperti di sihir Villian untuk jatuh cinta dengannya.'
Jihe merasa dia seorang saja yang datang kerana dia memang ingin melawat. Masaalah dengan penculikan elf membuatnya sangat sibuk.
'Apa apaan? Mengapa dia gembira melihat ku?'
'Setidaknya ada yang normal.'
Villian merasa seperti akan mati tidak bernafas kerana mereka semua memastikan dia benar benar baik baik saja.
Bahkan naga kristal kaca itu menusuk nusuk lengan kirinya memastikan apa itu baik baik saja.
"Kalian, sudah lah. Aku tidak bisa bernafas jika begini terus."
"Fttt."
Jihe menahan tawanya kerana Villian sepertinya sangat kesulitan kerana itu.
'Dia gembira kerana aku normal? Hahaha Dia benar benar aneh.'
Jihe tertawa dari dalam. Dia menyukai tipe yang seperti Villian. Mereka pasti akan berteman dengan baik.
Mereka semua menjauh dari Villian kerana dia sepertinya kesulitan bernafas.
Pintu kamar itu di buka dan masuk saudara vampir yang tampan dan cantik.
Villian langsung bangun dari tempat tidur itu dan tunduk 90 derajat pada mereka.
"Maaf kan aku."
Ke dua vampir itu bingung dengan respon Villian.
"Kamu bisa bangun. Mengapa kamu meminta maaf?"
Villian kembali berdiri dan tangan kanannya bermain dengan rambut pinknya. Tangan kirinya di sembunyikan di belakang.
Ini pertama kali mereka melihat Villian setelah tahu dia mempunyai souhell bertindak seperti seorang gadis.
"Aku mengajak Rosie keluar dan aku membiarkannya terluka. Aku seharusnya tidak membawanya untuk menyelamatkan elf. Aku mengacaukan kerajaan ini dan menambah kerja mu. Aku minta maaf."
Alen dan semua yang ada di kamar itu selain cewek, terpaku pada Villian hingga tidak mendengarnya.
Tud.
Rosie menyiku Alen dan Alen tersedar dari pesona Villian.
"Ah, tidak apa. Semuanya baik baik saja."
'Apa yang dia katakan?'
Alen mengalirkan keringat di wajahnya.
"Kamu mengatakan kamu membantu elf?"
Jihe yang juga bertanggung jawab atas kasus itu masuk bicara.
"Rosie yang panik dan pensan setelah ketakutan melupakan seluruh kejadian itu. Apa yang terjadi di sana? Apa kamu bisa menceritakan nya jika kamu tidak keberatan?"
Rosie tersenyum malu. Villian terluka parah namun masih mengingat kejadian itu. Dia benar benar lemah.
"Aku hanya mengingat kerana aku terbiasa dengan hal yang berbau penyiksaan ini. Jadi kamu tidak lemah, Rosie."
Mata Rosie berbinar dan memeluk Villian dengan erat.
"Maaf aku tidak bisa melakukan apapon."
Villian membalas pelukan Rosie dengan hangat.
'Sekarang aku tahu bagaimana dia membuat semua orang di kamar ini melekat padanya.'
Jihe tersenyum pasrah.
Villian selalu mengatakan sesuatu yang membuat orang lain merasa nyaman dengannya.
Villian kembali di paksa berbaring di kasur.
.
.
.
"Ok, bisa kamu ceritakan apa yang berlaku."
Semua orang berada di situ siap mendengar kan.
"Aku bisa berbicara dengan elimental dan elimental kegelapan meminta bantuan ku menyelamatkan para elf yang terkurung."
Semua orang membulat matanya mendengar itu. Jika mereka melepaskan salah seorang dari werewolf itu, Villian pasti akan di incar.
"Ada agen rahasia elf juga di sana. Tapi dia sangat bodoh kerana bertindak mengikuti emosi."
Semua orang merasa perkataan Villian untuk elf itu sangat kasar.
"Well, itu bukan point utamanya. Mereka bukan mengincar elf gelap melainkan mereka mengincar daun pohon dunia. Itu daun yang sama membuat ku bisa melihat elimental. Dengan membunuh para elf, mereka bisa mendapatkan itu."
Dengan itu, tujuan mereka menjadi sedikit jelas. Mereka mengincar prajurit werewolf dengan armor elimental kegelapan.
Jika itu mencapai ratusan ribu, itu akan sulit untuk di bereskan.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.................