
.
.
.
Wolfram mempersilakan Villian duduk di sofa.
Villian duduk dan menyesap teh yang di dudukinya.
Willy datang dan meletakkan sebuah tombak di atas meja.
Villian melihat tombak putih yang sedikit lusuh itu.
"Ini salah satu senjata yang di selamatkan sebelum di curi. Dia mungkin tahu pelakunya."
Villian mengangguk dan mencuba menyentuh nya.
Streck.
Tangan Villian terkena serangan listrik dari tombak itu.
"Kalau ye pon, tidak bisakah kamu sedikit berlembut!? Tombak sialan ini!"
Keringat mengalir di tubuh ke 2 kurcaci itu. siapa yang sungguh berani berkata kasar pada jiwa pedang saat sudah tahu itu pedang suci?
-Maaf. Aku hanya trauma untuk di sentuh. Bahkan setelah menolak sentuhan orang itu, dia tetap saja memaksa dan menyentuh. Aku tidak ingin merasakan hal itu lagi.-
Suara tombak itu seperti anak kecil.
"Apa tombak ini baru di tempa? Suaranya seperti anak kecil."
"Benar. Senjata suci akan terlihat semakin lusuh semakin tua dirinya. Umur tombak ini 10 tahun."
Villian hanya menganggukkan kepalanya.
'Eh.... Anak kecil lagi.'
Villian yang lemah terhadap anak kecil hanya bisa menghela nafas.
"Aku tidak akan menyakiti mu. Aku hanya maju tahu, ras apa yang mencuba mencuri mu. Jika kamu tidak keberatan, maka, bisa kamu memberitahu ku."
Pedang itu bergetar seperti mengangguk.
-Itu adalah elf gelap. Namun yang memaksa ku adalah jubah biru. Aku tidak tahu dia ras apa. Jubah biru yang menutupi seluruh tubuhnya menghilangkan jejaknya.-
Villian mengangguk paham.
"Dia bilang itu elf gelap. Namun yang memaksa dia untuk tunduk adalah seseorang dengan jubah biru yang menutupi semua keberadaannya."
Ke 2 kurcaci itu mengangguk seperti mereka sudah mengharapkan tanggapan itu.
Dari awal mereka sudah menyangka itu adalah elf gelap.
-Namun elf gelap itu gemetaran dengan jubah biru itu. Jubah biru itu sepertinya mengugut atau melukai elf gelap itu hingga dia dengan patuh mengikuti jubah biru itu.-
Villian memegang dagunya. Dari perkataan tombak itu, Villian tahu yang elf gelap di paksa melakukan itu. Elimental kegelapan yang di belakangnya juga baik. Elf juga tidak akan menyakiti ras lain jika mereka tidak di sakiti duluan.
'Apa plot cerita yang seperti ini? Tidak bisakah aku menulis, 'Dan itu di selesaikan oleh si A?' Aku terjebak dalam masaalah ke manapon aku pergi.'
Villian menatap elimental kegelapan di belakangnya.
"Pergi cari tahu apa yang berlaku. Ini bukan masaalah kecil yang bisa di abaikan."
Elimental kegelapan itu mengangguk dan pergi.
"Siapa jubah biru itu?"
Mereka bertiga hanya bisa memikirkan siapa itu.
.
.
.
"Sebagai hadiah, kamu bisa mengambil tombak ini."
Wolfram mengatakan itu dan menyerahkan tombak itu.
"Apa kamu ingin mengikuti ku? Kerana kamu masih muda, bagaimana jika kita kontrak hingga kamu tidak ingin lagi bersama ku."
Tombak itu bergetar.
-Apa kamu tidak menginginkan ku?-
Suaranya lemah seperti takut.
"Tidak. Kamu hanya terlalu muda dan kurang pengalaman. Lebih. sok jika kita buat seperti ini. Kamu bisa menukar tuan saat kamu tidak ingin lagi bersama ku."
Tombak itu bergetar seketika sebelum akhirnya diam.
-Baik.-
Hanya balasan itu yang di terima Villian.
"Jika begitu, kamu tidak perlu mengungkapkan nama mu."
Wolfram mengatakan itu dan Villian mengangguk.
"Nama mu, Mailo."
Tombak itu bercahaya dan berubah menjadi anak kecil seumuran 10 tahun dengan jubah yang sedikit lebih besar darinya.
Matanya kuning keemasan dan rambutnya kelabu.
'Imut!!!'
Villian langsung memeluk anak itu.
"Kamu sangat imut! Apa Diskon juga akan seimut diri mu! Ahhh!!!"
Mailo dengan kekok bertukar menjadi perhiasan. Itu klip rambut yang cukup indah.
"Baik, aku pulang sekarang."
"Ambil ini."
Villian mengambil sebuah bola besi kosong di tangannya.
"Ini alat komunikasi kurcaci."
Bola itu terbelah menjadi 2 dan menunjukkan hologram dengan wajah Willy.
"Cara penggunaan nya mudah. Kamu hanya perlu berpikir kamu ingin menghubungi siapa dan menekan butang yang ada di bola itu."
Villian mengangguk dan berjalan pergi.
.
.
.
.
.
.
.
"Villian Tex Ajellan, kemana saja kamu pergi?"
Semua orang di ruangan itu menatapnya dengan dingin.
"A, aku hanya ke toko perhiasan dan toko kue."
"Aku percaya jika itu toko kue. Namun perhiasan di tubuh mu bukan perhiasan biasa, kan."
Eugine menatap dingin Villian.
"A, aku pergi ke toko senjata kurcaci. Ke 3 perhiasan ini senjata suci. Pedang, perisai dan tombak."
Saat Villian mengatakan itu, semua perhiasannya menjadi senjata.
Eugine memandang senjata itu dengan tajam.
"Aku percaya ada bentuk lainnya."
Villian mengangguk.
Pedang menjadi pria tampan yang lembut, perisai menjadi wanita yang cantik juga imut dan tombak menjadi anak kecil yang imut.
'Aku ingin membunuh nya!'
Semua melihat Bruno dengan tajam.
Bruno hanya bisa memalingkan wajahnya.
Diskon bertukar menjadi manusia dan berhadapan dengan Mailo.
"Aku Diamon, kau?"
"Ma, Mailo."
Mailo tidak tahu mengapa dia cukup takut dengan anak yang lebih kecil darinya.
"Mailo, ini Diamon. Dia naga penguasa langit. Diamon, berteman baik dengannya. Juga-"
Villian memeluk mereka berdua.
"Kalian sangat imut!"
Villian mengangkat mereka di kedua tangannya.
Dia tidak percaya ada bentuk manusia yang bisa seimut mereka.
"Ouh, itu Bruno dan seorang lagi Estella.
Berteman baik dengan mereka."
'Haha, jika itu Estella, aku pasti itu bisa. Namun untuk Bruno, itu sulit.'
Jihe hanya melihat Bruno dengan tatapan kasihan.
Millia sudah mendekati Estella yang cantik lagi imut.
"Kamu perisai? Tidak di sangka perisai bisa menjadi seorang wanita."
"Itu hanya jiwa. Kami tidak memiliki gender melainkan jiwa yang terakhir dari senjata mengikuti kehendak sang penempa.
Jika dia menginginkan jiwa wanita, itu akan jadi wanita."
Millia mengangguk dengan semangat.
.
.
.
.
.
"Jadi, kamu mengatakan bahwa, penculikan elf bukan satu satunya kerja mereka? Mereka juga mencuri senjata suci?"
Semua orang di kamar itu tidak bisa mempercayai nya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..............
Maaf dikit. Malas soalnya.
Maaf jika ada typo nya..