I DO WHATEVER I WANT!

I DO WHATEVER I WANT!
EPUSODE 16



"Aku akan membantu mu."


Millia menggigit bibirnya.


"Bagaimana?"


Villian tersenyum dan bangun dari kasur dan membuka langsir yang menutupi kamar itu.


Kamar itu di terangi oleh batu cahaya yang mengikuti hari di luar.


"Kamu memerlukan 3 hal untuk mencapai itu. Teman dengan pengaruh besar namun setia, Pencapaiaan yang mengagumkan dan wajah percaya diri yang karismatik."


Villian berjalan ke arah Millia dan memukul belakangnya hingga dia berdiri dengan tegak.


"Jangan menundukkan kepala kamu walau dalam situasi apapon. Kalah atau menang bukan penentunya. Namun jika kamu di hina, kamu harus menang walau bagaimanapon supaya bisa memalukan mereka lebih lagi. Kalah atau menang, berdirilah dengan percaya diri seperti seorang penguasa."


Millia bisa melihat yang tekanan yang dia berikan sedikit berbeza hanya kerana dia menukar cara dia bergerak.


"Jika kamu sampah, kamu hanya perlu menjadi sampah. Tidak perlu hormat pada mereka yang merendah kan dirimu dan jadilah sampah yang mengejek mereka."


Villian berdiri di samping jendela.


"Jangan takut untuk keluar. Pergi tunjukkan kehebatnmu pada dunia."


'Dan dengan itu kartu di lempar. Kamu harapan ku sebagai pengalih perang.'


Millia menggigit bibirnya dan memberikan jubah hitam pada Villian.


"Jubah hitam adalah kebanggaan ahli nujum."


Millia mengatakan itu dan Villian dengan senang hati menerima itu.


.


.


.


.


.


Hal pertama yang mereka harus cari adalah teman dengan pengaruh besar namun setia.


"Di keluarga ahli nujum tingkat 2, ada 3 dari mereka yang pengaruhnya kuat seumuran dengan ku."


Millia mengatakan itu dan mereka melihat 3 gadis yang imut, cantik dan anggun di kelilingi banyak jubah hitam lainnya.


"Yang kiri berambut cokelat dan mata hijau, Yuri. Yang tengah berambut ungu bermata hitam, Rian. Yang kanan berambut hitam dan mata kelabu, Jihe."


"Hm.... Aku fikir ahli nujum akan memiliki rambut hitam dan mata hitam seperti mu."


Millia menghela nafas mendengar itu.


"Banyak ahli nujum dengan rambut dan mata hitam. Itu bermakna mereka dari kalangan kelas bawah. Sama seperti mu, berambut dan mata merah."


Villian menganggukkan kepalanya paham.


"Juga mereka sangat suka memanggil ku sampah."


Villian ambil 1 langkah menjauh dari Millia.


Dia memerhatikan ke 3 ahli nujum itu dengan teliti.


"Yuri dan Rian bukan teman yang baik."


Villian mengatakan itu dan Villian memandangnya.


"Bagaimana kamu tau?"


"Selain dari ahli nujum yang mengerumuni mereka, teman semeja mereka hanya diam sambil menundukkan kepala mereka."


Saat Villian mengatakan itu, baru Millia perasan akan hal itu.


Namun Jihe, dia bahkan tidak mempunyai teman semeja.


"Pergi tantang Jihe."


Millia membulat matanya.


"Apa kau gila!? Di antara ke 3 mereka, dia yang paling kuat! Kamu mau aku mati!?"


Millia meninggikan suaranya dan Villian tersenyum dengan senyuman suci.


'Menang atau kalah bukan penentunya.'


Millia mengingat kata itu.


"Kamu vampir sialan!"


Millia dengan perasaan kesal berjalan menuju Jihe.


Semua orang melihat ke arah Millia si sampah.


'Tunjukkan yang diri kau adalah sampah.'


Millia hanya mempercayai kata itu.


"Hei Jihe, kau terlihat sangat indah seperti biasa. Aku yang sampah ni terasa sangat bersyukur melihat mu."


Jihe mengerutkan alisnya mendengar itu.


"Apa yang kau mau, Millia."


"Apa kamu perlu sedingin itu? Mari bertarung. Jika aku menang, berteman dengan ku."


Jihe masih menatap tajam Millia.


"Apa sekarang kau akan menerima ku sebagai teman?"


Millia menelan semula kata katanya.


'Apa kamu membuang kesempatan berteman dengannya sebelum ini!?'


Villian berteriak dalam hati dan menghampiri Millia.


"Millia teman ku. Apa yang kamu lakukan? Mari kita pergi makan di tempat lain."


[Maksud: Mari pikir ulang rencana kita.]


Millia mengangguk menerima saja rangkulan Villian di bahunya.


'Teman?'


Kata itu membuat Jihe mengerutkan alisnya lebih banyak.


"Tunggu."


'Aku pasti dia hanya ingin menggunakan Millia.'


Tepat sekali.


Villian dan Millia kembali menatap Jihe.


"Aku menerima tantangan itu. Tapi, jika aku menang, kalian tidak bisa lagi berteman."


"Ap-"


Villian menyentuh bahu Millia menghentikan apa yang ingin di ucapnya.


"Ini kesempatan bagus. Kau seharusnya punya teman sesama ras. Aku tidak masaalah dengan itu."


Villian berbisik dan mata Millia bergetar.


"Juga dia cukup prihatin tentang mu. Dia merasa aku mempergunakan mu saat ini. Dia teman yang baik dan ini kesempatan kamu menunjukkan kemampuan mu.


Pergi hancurkan saja mereka."


Sekali lagi Villian berbisik dan mata Millia di penuhi tekad untuk menang.


'Apa yang di lakukan pria itu untuk memperlakukan Millia seperti itu!?'


Jihe memandang Villian dengan tatapan ingin memakannya.


"Baik, aku menerimanya."


.


.


.


.


.


.


"Belum terlambat untuk mengalah, Millia."


"Aku tidak bisa melakukan itu. Teman ku sebagai taruhan."


Jihe menggertak giginya.


'Sejak kapan kita berteman?'


Villian tiba tiba merasa belakangnya dingin.


"Baik, mulakan."


Ting!


Lonceng bermulanya duel berbunyi dan Jihe dengan cepat memunculkan pedang kerangka dan melulu ke depan.


'Aku sangat payah dalam menggunakan pedang kerangka!'


Millia menutup matanya.


"Millia, gunakan cara mu!"


Millia membuka matanya saat mendengar suara Villian.


Pedang yang ingin mengenai Millia terhenti.


"Apa yang-"


Benang hitam yang selalu di gunakan untuk menyatukan dan mengawal kerangka menghentikan pedang Jihe.


Millia menarik benang itu dan pedang Jihe langsung hancur berantakan.


Jihe melangkah mundur dari tempatnya.


"Aku, Millia, sampah keluarga tingkat 2. Selamat berkenalan."


Millia mengatakan itu dengan senyum mengerikan di wajahnya.


Tidak seperti ahli nujum yang sangat mahir dengan tulang belulang, Millia sangat payah dengan itu.


Itulah mengapa dia di juluki sampah ahli nujum.


Namun ada satu hal yang tidak ia sedari.


'Hancurkan saja.'


Kata itu membuat Millia mengetahui potensinya.


"Mengapa mengendalikannya saat aku bisa menghancurkan mereka?"


Keringat mengalir di pipi Jihe dan mencuba membuat pedang baru.


Crash!


Kedang itu hancur berkeping keping sekali lagi.


Berapa kali pon Jihe membuat pedangnya, Itu semua di hancurkan Millia dengan mudah.


Benang Millia semakin banyak dan mengikat Jihe.


Lebih tepatnya, itu mengikat tulang belulang Jihe bersama hingga dia tidak bisa bergerak.


Jika Jihe bergerak, tulangnya akan hancur seperti semua pedangnya yang lain.


"Aku mengalah."


Millia tersenyum dan menghilangkan semua benangnya.


"Jihe kalah? Tidak mungkin kan! Apa yang sampah itu bisa lakukan?"


"Apa apaan?"


"Aku pasti dia curang!"


Semua yang menonton mencemooh dan mengutuk Millia walau dirinya yang menang.


'Jangan sesekali menundukkan kepala mu.'


Millia ingin menundukkan kepalanya namun menahan dirinya setelah mengingat itu.


Plak, plak, plak.


Dari semua cemoohan yang di terima, dia mendengar suara tepuk tangan.


Dia melihat dari mana suara itu datang. Itu adalah vampir yang di bantunya.


Vampir itu tersenyum dan menaikkan ibu jarinya pada Millia.


Air mata mengalir dari mata Millia dan dia mengangkat tangan kanannya tanda kemenangan.


Tidak peduli dengan semua cemoohan, dia adalah pemenang hari ini. Dia tidak di benarkan tunduk di hari itu.


.


.


.


.


.


Millia langsung berlari memeluk Villian yang berada di depannya. Dan saat itu di merasakan lembut di dada Villian.


Walau Villian terlihat seperti pria, tubuhnya tidak berubah sama sekali. Itu hanya sekadar ilusi.


"Vill, kau, cewek?"


Villian menggaru pipinya.


Mereka pergi ke restoran di mana mereka bisa berbual tampa di ganggu.


"Jadi aku cewek dan aku sebenarnya manusia. Aku hanya meminjam kebolehan Adik raja vampir. Nama aku Villian, selamat berkenalan."


Kedua ahli nujum yang bersamanya membuka mulutnya tidak percaya. Namun setelah melihat sosok asli Villian, mereka harus percaya.


"Pantas, tidak, kamu sangat lemah bahkan untuk manusia."


Villian hanya tersenyum sambil melihat ke arah lain.


Bang!


Pintu ruangan mereka di buka dengan kasar.


"Villian, kamu benar benar melakukannya, hah?"


Seorang pria berbadan besar dengan keringat di seluruh tubuhnya, berjalan menghampiri Villian.


Ke 2 ahli nujum itu tentu saja tahu siapa pria itu.


'Raja werewolf!?'


Pria itu bahkan tidak melirik mereka.


"Ha, hai Regis. Sepertinya ambil masa sehari untuk kamu mengikuti ku kali ini."


Villian menyapa sambil mengelak pandangan Regis yang menyengat.


'Siapa sebenarnya yang kita baru saja kenal ini?'


Ke 2 ahli nujum itu mula berpikir untuk tidak membuat Villian kesal.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung................