I DO WHATEVER I WANT!

I DO WHATEVER I WANT!
EPISODE 25



Werewolf yang sudah hampir mati di hajar Villian hanya mampu merasakan ketakutan.


Sementara werewolf lainnya menggunakan elimental kegelapan sebagai armornya.


"Apa kamu pikir bersembunyi di belakang elimental kegelapan akan membantu mu? Nona ku, mengapa kamu melakukan itu pada nona ku, banjingan? Akan ku kembalikan 100 kali untuk kesakitan itu."


Dung! Dung!


Dua kerangka monster terbang yang besar mendarat di belakang Lucard.


"Aku akan menyayat kalian menjadi serpihan daging untuk para monster di luar."


Swing.


Radex mengeluarkan pedangnya dari sarungnya.


Untuk pertama kali, dia mengeluarkan oura master pedang yang mencengkam. Oura yang berwarna putih yang suci namun mengandung kemarahan yang sangat dalam membuat musuhnya tidak berkutik.


"Aku akan menggunakan darah mu untuk karya baru ku. Jangan salahkan diriku kejam. Kamu yang melangkah batasan kalian."


Gerlic mengeluarkan belatinya alih alih pisau pen miliknya.


"Padahal aku sudah berhenti dari kerja pembunuh bayaran."


Gerlic menatap werewolf itu dengan niat membunuh yang sangat kuat.


"Kamu berani menyentuh teman naga yang agung dan perkasa? Kamu ingin aku membalik wilayah werewolf sampai menjadi tanah kosong?"


Mata predator Eugine Di penuhi keinginan membunuh dan penghancur yang kuat.


Mana di sekelilingnya sangat di tekan namun masih sangat berbahaya hingga tanah yang di injaknya hancur.


Zillo meletakkan Villian dengan lembut dan menarik keluar pedang yang ada di pinggangnya.


"Ku bunuh kau."


Hanya itu yang keluar dari mulut Zillo yang di tutupi aura kutukan dan hanya menampilkan mata merah Zillo.


"Aku raja werewolf membenarkan hukuman mati."


"Aku raja kerajaan ini menerima hukuman itu."


Regis mengeluarkan cakar besar dan tajamnya. Alen mengangkat tangannya. Di situ ada pisau pikiran yang tidak bisa di lihat ras lain selain vampir.


'Ahh.... Sepertinya aku akan benar benar mati.'


Dalam beberapa detik saja, ke 2 werewolf itu kehilangan nyawa mereka.


Seseorang melihat itu dari jauh. Dia berjubah biru menutupi seluruh tubuhnya.


Seseorang berjubah hitam menutupi seluruh badannya juga mendekati jubah biru itu.


"Para werewolf sangat bodoh. Mereka hanya orang yang serakah tampa otak. Aku harap ahli nujum tidak sebodoh itu."


Jubah hitam itu hanya tunduk hormat pada jubah biru itu.


.


.


.


.


.


.


.


'Apa aku bermimpi lagi?'


Villian melihat wajah Villian yang menyebalkan itu sedang tersenyum ke arah kakaknya.


"Kakak, aku sangat suka membantu seseorang."


"Iya, kakak tahu."


Itu hanya seperti perbicaraan antara keluarga yang harmonis.


"Tapi, apa kakak tau, aku sangat ingin membantu seseorang. Namun orang itu tidak bisa di jangkau."


"Haha, apa adikku sekarang jatuh cinta? Siapa yang keluarga duke tidak bisa jangkau?"


Villian hanya tersenyum pada balasan sang kakak.


"Apa apaan ini? Apa Villian ada seseorang yang dia cintai? Setahu aku, dalam cerita yang aku tulis, Villian tidak memiliki perasaan pada siapa pon."


Villian hanya bisa memikirkan itu. Mimpi itu memudar dan akhirnya dia berada di ruang yang gelap gulita.


"Hah..... Apa aku koma sekarang?"


Villian hanya bisa mengeluh tentang kondisinya.


.


.


.


.


.


.


.


Swiing......


Naga kristal kaca itu bercahaya dan membuka matanya.


Matanya sedingin es.


'Memori selesai di berikan sekarang.'


Diamon bergumam sendiri dan bertukar menjadi anak manusia berusia 5 tahun.


Matanya seperti kaca yang retak berwarna merah sedang rambutnya sama dengan langit malam yang menunjukkan dia penguasa langit.


Rambutnya akan mengikuti bagaimana perubahan langit di atasnya.


Dia melihat Villian dengan mata dingin.


Dia menyentuh leher Villian. Dia bisa membunuhnya dengan mudah.


[Bunuh dia.]


Suara di kepalanya menyuruhnya untuk membunuhnya.


[Naga penguasa langit selalu membunuh pengasuh mereka.]


Dia masih melihat wajah Villian. Tubuhnya sangat berantakan saat ini. Tangan kirinya hilang, perutnya memiliki parut yang mengerikan, pahanya juga tertusuk dalam di mana mungkin akan mengakibatkan lumpuh.


'Diamon, maksud menjadi penguasa, bukan menjadi yang terkuat.'


Dia mengingat kata kata Villian.


Dia merasa itu adalah omong kosong saat dia mendengar itu dari seorang gadis yang mana dia bahkan tidak memiliki parut di tubuhnya.


Namun dia melihat gadis itu bertarung sampai akhirnya menumpaskan musuhnya bahkan saat lengannya di pertaruhkan.


Dia tetap berdiri sampai akhir. Dia tertanya, apa dia juga bisa seperti itu.


'Jangan jadi seperti ku, ok.'


Kata itu menusuk dirinya.


"Apa maksudnya kamu mengatakan itu saat kamu menunjukkan pertarungan yang menyakitkan itu. Apa alasan kamu melakukan itu?"


Walau dia bertanya sekarang, dia tidak akan bisa mendapatkan jawabannya.


[Bunuh dia]


'Jangan membiarkan siapa pon merampas milik mu.'


Seringai mengerikan terukir di wajah anak berumur 5 tahun itu.


"Merampas, iya. Kamu banjingan, keluar dari kepala ku. Ini milik ku, bukan kamu lagi."


Diamon menarik tangannya menjauh dari Villian.


"Kehidupan ini milik ku, kau hanya leluhur sialan yang tidak tahu apapon."


Diamon mengatakan itu dan kepalanya langsung pusing hingga mungkin dia akan pensan.


[Kamu tidak tahu berterima kasih! Leluhur mu sudah menjaga semua penerus naga penguasa langit!]


Otak Diamon terasa seperti di guncang seseorang.


"Menjaga!? Jangan membuat ku tertawa! Kamu hanya merampas kebebasan kami untuk melakukan apa yang kamu ingin kan! Bagi ku, kamu adalah banjingan yang mencuba merampas milik ku."


Diamon menentang ucapan leluhurnya dengan suara yang sangat dingin.


"Jika kamu ingin menguasai dunia, lakukan itu sendiri, banjingan!"


Diamon mengatakan itu dan menghantam kepalanya di dinding. Kepalanya keras tidak terluka. Dinding kamar itu retak kerananya.


'Apa tidak ada cara untuk menyingkirkan suara banjingan ini!?'


Diamon mengepalkan tangannya dengan erat. Badannya ingin membunuh Villian yang sedang terbaring pensan di kasur.


'Apa aku tidak bisa lari dari takdir naga penguasa langit!?'


Diamon mencuba yang terbaik untuk tidak melihat Villian.


Dia tidak ingin membunuhnya.


Tiba tiba portal taliportasi muncul di kamar itu dan muncul pria berambut hijau.


"Penjaga pohon dunia?"


[Bunuh dia.]


"Erk...."


Magaret hanya melihat anak itu menahan dirinya.


"Aku datang sini untuk membunuh mu kerana kamu sudah bangkit. Tapi sepertinya, memilih gadis itu sebagai pengasuh mu adalah pilihan yang terbaik."


Magaret berjongkok di depan Diamon yang sedang menahan dirinya.


"Gadis itu benar benar berantakan saat ini. Apa yang di lakukan gadis ini hingga kamu begitu melawan kehendak leluhur mu."


Magaret saja bercanda sambil menyentuh rambut Diamon yang indah.


"Bunuh saja aku. Aku tidak ingin membunuhnya. Aku akan dengan senang hati membunuh mu tentunya."


Magaret mendengar itu dan merasa hatinya di tusuk.


'Mengapa semua naga membenci ku?'


Magaret hanya menghela nafas. Dia menyentuh kepala Diamon dengan kasar.


{Aku penjaga pohon dunia menggunakan kehendak pohon dunia untuk menyingkirkan sesuatu yang tidak diingini di dunia ini.}


[Aaarggghhh!!! Tidakkkkkk!!!]


Mata Magaret berwarna putih saat dia melontarkan mantra.


Tubuh Diamon juga bercahaya dan dia membuka matanya kembali.


Keinginan untuk membunuhnya menghilang.


Dia melihat ke arah Magaret.


"Jangan salah paham. Aku tidak ingin melihat gadis itu sedih kerana kamu mati. Bukan kerana aku ingin membantu mu. Selamat atas kebebasan naga penguasa langit yang sudah hilang sejak lama."


Magaret mengatakan itu dan langsung menghilang.


Air mata Diamon mengalir dan dia memeluk tangan kanan Villian.


"Aku melakukannya, apa kamu akan memuji ku kerana mengalahkan seseorang yang mencuba mengambil milik ku?"


Diamon melihat ke arah langit. Dia menggenggam tangan Villian dengan ke dua tangan kecilnya.


{Aku meminjam kekuatan bintang untuk menyembuhkan seseorang yang penting buat ku. Izinkan aku menggunakan kekuatan bintang.}


Tubuh Diamon bercahaya dan cahaya itu pergi ke arah Villian.


-Semua para bintang memberikan izin.-


-Semua bintang mengucapkan selamat pada penguasa langit yang baru.-


-Umur panjang penguasa langit!-


Diamon mendengar banyak suara memasuki kupingnya. Dia bisa melihat semua parut dan tangan Villian kembali pada asal.


"Mulai sekarang, akulah penguasa langit."


Dia kembali ke bentuk naganya tidur di samping Villian.


"Kakak, mimpi indah."


Itu kata terakhir Diamon sebelum tertidur lelap.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..............