
Matahari bersinar dengan terang.
Sinarnya memasuki sela-sela jendela sebuah ruangan.
Suara kicauan burung saling menyahut dari satu dahan dengan dahan lainnya.
Itu berisik.
Avyanna menggeliatkan badannya dengan tidak nyaman.
Ia baru saja tertidur tapi langsung di ganggu oleh suara burung.
'Aku tarik perkataan ku sebelumnya yang mengatakan bahwa burung-burung disini bernyanyi dengan indah,'
Kicauan para burung itu membuat Avyanna yang mencoba memejamkan matanya kembali terganggu.
Dan akhirnya satu-satunya jalan adalah...
Menangis.
Hweeeeekkkkkkk!!!! Hweeeekkkkk!!!!
Mendengar suara tangisan Avyanna, Demetria langsung bergegas ke kamar Avyanna tertidur.
Demetria mendekati Avyanna sambil berkata, "Avyku sudah bangun ternyata... Apakah kamu lapar, putriku?"
Demetria mendekati ranjang Avyanna lalu kemudian memiringkan kepalanya, "Hah?"
Demetria yang akan menyusui Avyanna terkejut saat melihat benda asing berada di ranjang Avyanna.
Demetria mencoba mengambilnya dari pelukan Avyanna, tetapi Avyanna tidak mau melepaskannya.
"Avyku biasanya tidak suka boneka kan?"
Avyanna hanya menatap Demetria dalam diam karena masih dalam keadaan mengantuk.
'Iya! Aku sangat tidak suka boneka, tapi yang satu ini berbeda...'
Demetria mengangkat Avyanna yang masih memeluk boneka kelinci.
Alis Demetria terajut sejenak tetapi Demetria langsung membawa Avyanna ke kursi dekat jendela lalu menyusuinya.
Demetria bersenandung sambil menepuk pelan tubuh kecil Avyanna.
"Apakah kamu tahu, Avyku? Ibumu ini memarahi ayahmu tadi malam..."
Avyanna hanya diam dan terus mendengarkan perkataan Demetria.
"Dia terus meminta maaf hingga sarapan pagi tadi..."
Demetria terkekeh, "Hehe... Wajah ayahmu itu selalu lucu kalau ia sedang khawatir saat ibumu tidak menanggapinya..."
Kemudian Demetria mengelus pipi Avyanna dengan jarinya.
"Tapi, Avyku. Sihir yang terpapar pada bayi yang masih berusia di bawah satu tahun sangat berbahaya..."
Mata Demetria mendung, "Ibu... Sangat khawatir,"
Demetria terus berbicara, "Banyak kasus yang terjadi. Seperti pangeran ke dua,"
Demetria menghela napas, "Hah..."
Avyanna tidak tahu apa yang sedang dibahas oleh Demetria, tetapi itu mungkin saja bisa menjadi sebuah informasi yang berguna untuk Avyanna.
Avyanna diam-diam berpikir saat Demetria membahas hal-hal yang lain.
'Sihir? Bayi? Dan... Pangeran kedua?'
Avyanna yang merasa kenyang kemudian berhenti dan menatap Demetria.
"Baiklah, Avyku... Bagaimana jika berjemur?"
Avyanna yang sudah selesai menyusu, mulai di tepuk-tepuk pelan di bagian punggungnya hingga ia bersendawa.
Demetria mulai mengangkat Avyanna dan berkata dengan senyum, "Avyku akan berjemur dulu..."
Matahari saat itu bersinar hangat.
Kicauan burung membuat telinga sakit.
'Cih, burung-burung ini seperti tidak punya kesibukan lain saja...'
"Cuacanya sangat bagus ya, Avyku?"
Demetria duduk dan mulai melepaskan pakaian Avyanna.
'Heh????'
Avyanna menggeliat karena malu.
'Bagaimana kamu melakukan ini padaku, ibu?!'
Meskipun tubuhnya masih bayi Avyanna yang ada di dalam sudah dewasa.
Jika pakaiannya dilepaskan di dalam rumah akan lebih baik tapi ini...
'Diluar rumah dimana banyak yang berlalu-lalang!'
Avyanna merasa tak nyaman.
'Yaah... Sebenarnya aku lupa berapa umurku...'
Demetria tertawa pelan, "Putriku, jangan seperti ini. Apa mungkin kamu kedinginan?"
Avyanna akhirnya diam dan pasrah saat pakaiannya di lepas.
Kemudian, Demetria membalikkan tubuh Avyanna lalu menepuknya perlahan.
"Karena hari ini cuacanya hangat, sangat bagus untuk tubuh Avy..."
Demetria juga bersenandung saat dia terus menepuk tubuh Avyanna.
Avyanna menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat dua orang yang tidak terlihat dari tadi.
Seperti mengetahui isi hati Avyanna, Demetria berkata dengan santai,"Ayahmu dan kakakmu sedang pergi mengerjakan sesuatu. Mereka akan kembali paling cepat sore hari, tetapi bisa jadi mereka akan pulang sangat terlambat,"
Avyanna mengangguk dan mulai menikmati pijatan kecil yang di lakukan Demetria di tubuh kecilnya.
'Mantap sekali...'
Setelah selesai berjemur, Demetria membawa Avyanna kembali kedalam rumah.
Demetria, "Aku akan mengelap dulu keringat putriku. Setelah itu, Avyku harus mandi..."
Seperti perkataan Demetria, ia melakukannya dengan baik dan sempurna.
Kini, Avyanna sedang berbaring di ranjangnya dalam keadaan bersih dan wangi.
Popoknya Avyanna juga sudah diganti jadi pada akhirnya Avyanna merasa sangat nyaman.
Demetria masuk kedalam dan tersenyum, "Avyku sangat cantik seperti biasanya,"
Lalu Demetria menggendong Avyanna dan membawanya keluar kamar.
"Kita akan menghabiskan waktu dengan bersantai, Avyku.."
Seperti biasa, Demetria akan duduk di dekat jendela.
Demetria mengambil cemilan dan juga kopi untuk ia nikmati saat akan bersantai.
Demetria juga menyiapkan banyak buku yang bergambar untuk ia bacakan dengan Avyanna.
Demetria duduk dengan memangku Avyanna dan buku bergambar di depan mereka.
"Baiklah... Buku pertama..."
Demetria memilih salah satu buka dan berkata, "Ah! Ini pasti akan menjadi cerita yang menarik, Avyku,"
Demetria membalikkan halaman pertama dan mulai berbicara, "Avyku, ini merupakan cerita yang sangat menyenangkan..."
Demetria mengelus kepala Avyanna dan lanjut berbicara, "Banyak pesan moral yang akan kita ketahui..."
Avyanna mencoba menyentuh buku dengan gambar yang menurutnya sedikit membosankan untuk dirinya?
"Ini merupakan cerita tentang ..."
****