I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 29~ Kekacauan



Mendengar pernyataan tersebut para penyihir mulai merasakan sesuatu yang aneh.


Mereka gemetar ketakutan dan tubuh mereka lemas saat melihat seperti apa pulau mereka yang hancur.


Hazel terjatuh, "Ti-tidak mungkin. Desa ... Pulau ... Bagaimana mungkin?!"


Hazel menoleh ke arah Alv dan juga Cathan yang terdiam, "Apa yang terjadi dengan para penduduk? Bagaimana? Bagaimana ini terjadi?!"


Cathan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu,"


Hazel menghela napas dengan sangat berat, "Ti-tidak mungkin,"


Alv berjalan mendekati Hazel dan menepuk bahunya, "Hei!"


Semua penyihir yang ada di sana menatap wajah pucat dan keringat dingin milik Hazel.


Cathan menghela napas dan bergumam untuk dirinya sendiri, "Ba-bagaimana dengan mereka?"


Alv mulai menatap sekeliling dimana hanya suara angin yang terdengar.


Semua penyihir yang sudah sampai di tempat yang menjadi tujuan teleportasi terdiam di tempat.


Xyla dan juga Lucy berjalan mendekati Hazel dan mulai menghiburnya dengan beberapa perkataan.


Max jatuh terduduk saat ia merasakan rasa sesak di dadanya.


"Penyihir tanpa mana sama saja dengan kematian,"


Rygon tertatih-tatih berjalan ke arah Cathan dan juga Alv yang memasang wajah yang tak terbaca.


Cathan menunduk tak menanggapi perkataan Rygon.


Alv menoleh dan menatap wajah Rygon yang membiru.


Alv mengerutkan alisnya dengan heran, "Tuan Rygon?"


Rygon berkata dengan napas yang tersengal, "Ka-kau ... Apakah kau tak bisa memberikan mana milikmu padaku?"


Alv menoleh untuk menatap Cathan yang masih terdiam dengan alis yang mengerut dan wajahnya yang pucat.


Alv membuka mulutnya dan bertanya, "Hei, Cathan?"


Rygon mulai mengangkat tangannya dan berusaha untuk menyentuh bahu Cathan, "A-apa kamu bisa memberikan ..."


Dubraakkkk!!!!!


Belum sempat untuk menyelesaikan perkataannya, Rygon terjatuh di bebatuan yang kasar.


"Tuan Rygon?!"


"Tuan Rygon, apa yang?!"


"Tidak! Tuan Rygon?!"


Wajah Rygon yang semula putih pucat kini mulai perlahan membiru.


Bibir keringnya juga mulai berubah warna menjadi ungu kehitaman.


Bahkan, ujung jarinya yang sudah mengeriput juga membiru.


Rygon bernapas dengan susah payah dimana ia terbaring dengan para penyihir mengelilinginya merasa panik.


Rygon, "To ... Long ... Berikan ... Mana ... Milik ... Mu ..."


Para penyihir khususnya penyihir tua mulai berdiri dan berteriak kepada Cathan yang terdiam di tempatnya.


"Tuan Syvonne tolong sekali saja berikan pada Tuan Rygon mana milikmu!"


"Benar! Ini akan menjadi penyelamatan yang baik,"


"Saya mohon selamatkan Tuan Rygon!"


Tetapi, Cathan tetap diam dan terus bergumam.


Alv mengerutkan alisnya dan berkata dengan lirih, "Cathan?"


Seorang penyihir dari kelompok penyihir tua yang sedang membopong Rygon mulai mencoba memindahkan Rygon dan berdiri.


Ia berjalan ke arah Cathan dan memberikan jari tunjuk dengan wajah marah ke arah Cathan.


"Kau! Hanya ingin memonopoli mana bukan?!"


Orang itu yang di kenal sebagai tangan kanan Rygon.


Ia mengangkat tongkat sihir nya yang tingginya sama dengan orang dewasa dan mulai mengarahkannya kepada Cathan.


"Kau hanya membagikannya kepada para penyihir muda dan kau ingin membunuh tuan Rygon, bukan?!"


Orang itu mulai mengayunkan tongkat sihirnya dan hendak memukul Cathan dengan tongkat itu.


"Berikan mana mu sekarang juga!"


Alv menggertakan giginya dan berlari ke arah Cathan untuk melindunginya.


Beberapa penyihir muda juga berusaha untuk menggagalkan apa yang ingin dilakukan orang itu.


"Tunggu sebentar, tuan!"


"Tolong jangan gegabah!"


Braaakkkkkkk!!!!!


"Haah ... Haah ..."


Tongkat sihir milik orang itu yang hampir saja mengenai kepala Cathan di jatuhkan oleh pemuda berambut merah.


Cathan adalah salah satu penyihir yang tak ada ikatan baik itu fisik maupun mental dengan pemilik tongkat yang merupakan penyihir tangan kanan Rygon.


Bisa disebutkan bahwa kelompok penyihir tua tidak ada yang memiliki pandangan yang baik dengan Cathan maupun Alv.


"Haah ... Ugh ..."


Akashi menatap lengan kanannya yang melepuh akibat dari sihir perlindungan tongkat sihir tersebut.


Akashi mencoba melindungi Cathan dengan mendorong orang pemilik tongkat itu dan berakhir dengan lengan Akashi terkena tongkat itu menjadi melepuh.


Para penyihir mulai berteriak panik saat melihat peristiwa tersebut.


Alv terkejut, "Akashi?!"


Max juga berteriak dengan panik, "Akashi?!"


Max mulai menghampiri Akashi dan mencoba untuk mengeluarkan sihir penyembuhan.


Tetapi ...


Max memasang wajah terkejut, "Tidak ... Aku lupa bahwa aku tidak dapat menggunakan sihir ..."


Akashi mencengkram bahunya untuk menahan sakit di lengannya, "Ugh ..."


Max, "Ja-jangan bergerak dulu, Akashi. A-aku ... Memiliki cairan penyembuh!"


Max mulai merogoh tas kulitnya dan mengeluarakan semua barang yang ada di dalam tasnya itu.


"Tung-tunggu sebentar! Aku akan menyembuhkanmu, Akashi!"


Alv yang melihat itu tidak bisa menahan rasa amarahnya dan berteriak, "Apa maksudmu?! Beraninya kau menyakiti sesama penyihir?!"


Orang pemilik tongkat itu yang merupakan tangan kanan Rygon terjatuh saat Akashi mendorongnya begitu keras.


Ia mulai tertawa dengan keras dan berteriak, "Siapa yang menyuruhnya untuk melakukannya?! Itu salahnya sendiri! Mengapa kau salahkan aku?!"


Alv menggertakan giginya dengan marah, "Apa?!"


Orang pemilik tongkat itu berteriak dengan marah dan menunjuk Cathan, "Aku sudah mengatakannya ini semua salah orang ini! Jika ia membagikan mana miliknya kepada semua penyihir tua tidak akan ada yang tersakiti!"


Alv merasa kesal dan mulai berteriak, "Kau?! Apa kau tak tahu apa efek samping dari pembagian mana itu?! Kau beraninya ..."


Orang pemilik tongkat berkata dengan wajah meremehkan, "Apa peduliku? Jika ia mengatakan bahwa penyihir muda mendapatkan mana itu berarti penyihir tua juga harus mendapatkan mana!"


Orang pemilik tongkat itu menunduk dan akhirnya berkata, "Tidak, lebih tepatnya lebih baik kami para penyihir yang sudah lebih lama hiduplah yang mendapatkan mana!"


Dengan perkataan orang pemilik tongkat itu, para penyihir tua mulai berdiri dan mengepung para penyihir muda.


Mereka juga menggunakan tongkat sihir yang dilapisi dengan berbagai macam sihir perlindungan dan juga serangan.


Xyla mengerutkan alisnya, "Yang benar saja!"


Lucy mulai memasang wajah ketakutan, "Ke-kenapa bisa begini?"


Max mencoba melindungi Akashi yang masih menahan rasa sakit di lengannya.


Para penyihir tua mengepung para penyihir muda dan juga Cathan serta Alv.


Penyihir muda melayangkan banyak sekali protes kepada penyihir tua.


Mereka para penyihir muda kalah jumlah dengan penyihir tua.


Alv memasang wajah tak percaya, "Hanya karena itu? Hanya karena membagikannya kepada para penyihir muda, kalian semua melakukan ini?!"


Orang pemilik tongkat mengangkat alisnya, "Hanya? Kau bilang hanya?! Karena itulah tuan Rygon hampir saja ..."


Ia tidak melanjutkan perkataannya.


Orang pemilik tongkat itu menggelengkan kepalanya dan berteriak, "Wahai saudara-saudara penyihir! Mari kita rebut mana itu dan pergi dari sini!"


Para penyihir tua mulai bersorak dan menanggapi dengan semangat perkataan si pemilik tongkat tersebut.


"Si-sial! Apa yang harus kita lakukan?!"


"Yang benar saja?!"


"Tuan Syvonne?! Tuan Imorgent?! Apa yang kita lakukan sekarang?"


Alv menggigit bibirnya dan berpikir, 'Mereka benar-benar!'


Akashi yang terdiam di tempatnya menatap sesuatu di kejauhan.


Akashi melebarkan matanya dan akhirnya memasang wajah biasa lagi.


Ia tersenyum kecil dan bergumam, "Mereka sudah merencanakannya dari tadi rupanya,"


Max menoleh ke arah Akashi dan bertanya dengan keringat dingin di seluruh tubuhnya, "A-apa yang sedang kau bicarakan?"


Akashi, "Kau jadi orang gagap, Max,"


Max mengerutkan alisnya, "Hah?!"


Akashi tertawa pelan saat ia berkata, "Aku melihat sesuatu yang menarik,"


"?"


Akashi melihatnya.


Ia dapat melihat bahwa Rygon yang terbaring dengan wajah berwarna biru itu tersenyum kecil.


Akashi menghela napas, "Haah ... Mereka benar-benar menjijikan,"


****