I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 32~ Datangnya Bahaya



Beberapa menit yang lalu ...


Alv menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat ia mulai berkata, "Aku akan mengumpulkan para penyihir. Kau lebih baik melakukan apapun itu agar kita bisa keluar dari pulau ini dengan segera,"


Cathan yang mendengar itu mulai mengangguk menyetujui ide Alv, "Baiklah. Jangan lupa dengan para penyihir tua itu, Alv,"


Alv berjalan menjauhi Cathan sambil melambaikan tangannya, "Ya. Aku tahu itu,"


Alv mulai menatap para penyihir muda yang terduduk dan saling berbicara.


Alv menarik sudut bibirnya dan berpikir, 'Aku sangat yakin mereka semua pasti sedang kebingungan,'


Alv menoleh ke arah yang lainnya dan melihat para penyihir tua yang berkumpul dengan Rygon di tengah-tengah mereka.


Wajah Rygon tampak pucat dan tak terkondisikan.


Rygon hanya melirik sesaat dan membuang wajahnya ke arah lain lalu bergumam, "Aku benar-benar sangat malas mengurus mereka,"


Rygon mendekati Xyla dan Hazel yang terduduk sambil membersihkan sisa-sisa darah dari luka mereka.


Hazel berkata dengan lirih, "Bahkan kekutan suci dewa tidak akan menyembuhkan luka seperti tadi tanpa bekas,"


Alv yang mendengar hal itu melipat tangannya dan berkata, "Sepertinya kau sangat percaya pada dewa,"


Hazel menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tatapan yang kosong, "Tidak. Bagaimana penyihir percaya pada dewa?"


Alv tersenyum pahit, "Kau benar,"


Xyla mengangkat wajahnya dan menatap Alv, "Tuan Imorgent?"


Alv memejamkan matanya dan menghela napas, "Jika kau ingin bertanya tentang hal itu, tanyakan pada yang bersangkutan bukan padaku,"


Xyla terlihat terkejut dengan tanggapan Alv tetapi pada akhirnya ia tetap menganggukkan kepalanya, "Baiklah,"


Akashi dan Max yang berdiri agak jauh dari mereka mulai berjalan mendekat.


Itu juga bersamaan dengan para penyihir muda lainnya.


Mereka serempak berjalan ke arah Alv.


Max membuka mulutnya dan berkata dengan nada getar di dalam suaranya, "Tuan Imorgent, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Alv mengangkat bahunya, "Entahlah. Untuk sekarang lebih baik kita berkumpul seperti ini dulu. Dan kita akan memikirkan cara yang lebih baik,"


Semua penyihir muda mengangguk dan menyetujui apa yang dikatakan oleh Alv.


Alv mulai mengangkat kakinya dan berjalan sambil berkata, "Tunggulah disini,"


Max memiringkan kepalanya dan bertanya, "Anda akan kemana, tuan?"


Alv tidak menanggapi dan berjalan ke arah para penyihir tua.


Salah satu penyihir dari kelompok penyihir muda mengerutkan alisnya dan berkata dengan bingung, "Untuk apa ia ke sana?"


Para penyihir muda saling memandang tanpa berbicara.


Tetapi mereka mengetahui pikiran masing-masing penyihir muda.


'Kenapa ia ke sana?'


'Apa tuan Imorgent ingin membantu mereka?'


'Jelas-jelas kita semua kacau karena keserakahan mereka!'


Tatapan para penyihir muda sangat panas akan amarah.


Tidak terkecuali Akashi yang tidak menyembunyikan tatapan permusuhannya pada kelompok penyihir tua.


Akashi memasukkan tangan kanannya ke dalam kantung di celananya dan berjalan mengikuti Alv.


Max termenung sejenak saat melihat Alv berjalan ke arah para penyihir tua tetapi segera terkejut saat ia melihat Akashi dengan wajah acuh tak acuhnya berjalan mengikuti Alv.


Max terkejut, "Eh?!! Akashi?!"


Alv melirik ke belakang dan tersenyum seakan menyindir, "Heh? Mengapa kau ikut?"


Akashi yang sudah berjalan tepat di belakang Alv membuang wajahnya dan berkata dengan datar, "Hanya ingin memperingati para tua bangka itu,"


Alv menghela napas, "Haah ... Jangan lakukan hal yang merepotkan, bocah,"


Akashi mengerutkan keningnya, "Siapa yang anda panggil bocah, huh?!"


Alv mengangkat bahunya seolah tak peduli dan mulai berjalan mendekati para penyihir tua yang sudah memasang wajah waspada.


Bahkan di antara mereka ada yang sudah memegang tongkat sihir.


Alv berjalan dengan postur seperti sedang tamasya.


Sambil mengorek telinganya dengan jari kelingking, Alv berkata, "Penyihir yang sudah lama berada di menara sihir dan dipanggil sebagai tetua sihir ternyata tidak tahu harus melayangkan sihir kepada siapa, ya?"


Alv menatap para penyihir tua di depannya dengan wajah datar, "Tidak tau diri, sombong, congak, sok tau, dan ingin menang sendiri,"


Penyihir yang merupakan tangan kanan Rygon dengan sigap berdiri dan memasang wajah marah, "A-apa yang kau katakan?!!"


Rygon bahkan menggertakan giginya untuk mengan amarah dan penghinaan yang dilontarkan secara blak-blakan oleh Alv.


Para penyihir tua lainnya langsung berdiri ingin menyerang Alv dan dengan sigap Akashi ingin mencoba menghentikan mereka.


Alv, "Jika tidak ingin mati apakah kita harus bernegosiasi?"


Rygon yang mendengar hal itu langsung mengangkat tangannya dan seketika para penyihir tua lainnya berhenti bersikap anarkis.


Rygon berdiri dan mengangkat dagunya dengan angkuh, "Negosiasi apa?"


Akashi mendecakkan lidahnya dan menatap tajam pada Rygon.


Alv tersenyum dan berkata, "Kita mungkin akan dijemput oleh pasukan pertolongan kekaisaran. Jadi, jika kalian tidak ingin mati karena tidak adanya mana di tempat ini lebih baik kalian bersikap jinak,"


Para penyihir tua segera memerah wajahnya karena marah.


"Mengatakan kata jinak pada penyihir berpengalaman seperti kami?!"


"Kalianlah yang sangat sombong, brengsek!"


Akashi memasang wajah aneh saat ia melirik Alv yang sedang tersenyum.


Akashi mengerutkan keningnya, 'Kupikir dia akan memaksa mereka untuk membantu atau melakukan perdamaian. Tetapi ternyata dia hanya sedang mempermainkan para penyihir tua itu?'


Alv tersenyum dan merasa bahwa bagian dada yang tadi sesak sedikit demi sedikit menjadi lega.


Alv tetap tersenyum saat berpikir, 'Aku sangat ingin menarik rambut putih mereka dan membakarnya!'


Tetapi untuk saat ini Alv menahan keinginan terpendamnya dan mencoba wajah bersahabat mungkin.


Meskipun Alv berpikir bahwa ia sedang memasang wajah bersahabat atau apapun itu.


Tetapi, di mata Akashi dan juga para penyihir tua Alv hanya memasang wajah penuh dengan hinaan yang akan ia lontarkan kepada para penyihir tua.


Penyihir yang merupakan tangan kanan Rygon berteriak dengan marah, "Negosiasi macam apa itu?!"


"Kau hanya ingin mengancam kami, bukan?! Sialan!"


"Tidak! Mereka pasti ingin mengejek kita, saudara. Beraninya penyihir yang masih seumur ingus bayi itu meremehkan kita!"


Alv menghela napas, "Bahkan kalian tidak ada rasa bersalah sama sekali?"


Alv menurunkan sudut mulutnya dan berkata dengan tatapan tajam, "Bukankah siku kalian sangat menjijikkan? Bahkan, seekor kecoa tidak akan bersikap seperti ini pada penyelamatnya,"


Rygon menggertakan giginya dengan keras dan berkata, "Menyelamatkan? Apa kau merasa menyelamatkan kami? Jangan sombong, bocah!"


Alv mengerutkan alisnya dan berbicara dengan nada mengejek, "Memang bukan aku tetapi Cathan yang menyelamatkan kalian dengan membagikan mana miliknya, bukan? Apa kalian lupa atau kalian bodoh?"


Terlihat pada pelipis tua Rygon muncul garis-garis berwarna biru kehijauan yang bisa diyakini bahwa itu adalah tonjolan urat.


"Beraninya kau?!"


Untuk sesaat terjadi keributan pada penyihir tua dan juga Alv.


Mereka tidak bertengkar dengan sihir melainkan dengan omongan.


Akashi yang memandang dua sisi itu tidak membantu meredakan situasi dan akhirnya tertawa.


Mendengar adanya suara tawa yang sangat keras, para penyihir muda yang dari tadi juga membicarakan apa yang menyebabkan pertengkaran itu terjadi mulai kebingungan.


Max yang sedang memberikan ramuan pada seorang penyihir muda menoleh ke arah gelak tawa itu, "Akashi? Mengapa ia tertawa?"


Para penyihir tua juga menoleh ke arah Akashi yang masih saja tertawa.


Sedangkan Alv dia memasang senyum dan menepuk bahu Akashi.


Alv, "Hei, sepertinya negosiasi ini batal. Mungkin lebih baik kita kembali saja,"


Akashi tersenyum sambil menghapus air di sudut matanya dan mengangguk, "Baiklah,"


Rygon yang masih memamerkan tonjolan urat pada pelipis tuanya itu berseru marah, "Mau kemana kau, bajingan?!"


Alv hanya mengangkat bahu dan mengabaikan Rygon yang mencoba berdiri.


Rygon terus menerus kesulitan untuk bangkit dan akhirnya hanya berteriak marah di tempatnya dengan beberapa penyihir tua lainnya yang mencoba untuk menopang tubuh Rygon.


Akashi yang berjalan bersebelahan dengan Alv mulai bertanya, "Apa yang terjadi? Ini bukan seperti diri anda, tuan Imorgent,"


Alv hanya tersenyum pahit, "Aku sangat kesal dengan mereka. Dari dulu hingga sekarang besar kepala mereka itu sangat menjengkelkan! Menyakiti sesama penyihir adalah perbuatan yang melanggar prinsip menara sihir! Dan juga mereka tidak tahu terimakasih sekali!"


Akashi menunduk dan terdiam saat mendengar banyaknya alasan yang diutarakan oleh Alv.


Alv menghela napas panjang dan berkata, "Apa kau tak tahu membagikan mana seperti ini memiliki dampak yang sangat merusak,"


Akashi memiringkan kepalanya, "Dampak?"


Alv mengangguk, "Cathan pasti akan kesakitan untuk beberapa hari ke depan. Atau mungkin beberapa bulan ke depan. Membagikan mana seperti ini sama saja dengan memecahkan inti mana miliknya,"


Akashi melebarkan matanya, "I-itu ..."


Jika sumber mana diibaratkan sebagai oksigen, maka inti mana bisa diibaratkan sebagai jantung milik penyihir.


Dan jika inti mana itu hancur, kemungkinan untuk hidup seorang penyihir hanyalah satu persen.


Jika penyihir itu pun masih hidup, maka tubuh penyihir yang sudah kehilangan inti mananya hanya akan menjadi lumpuh.


Itu seperti sebuah musibah pada penyihir.


Dan Akashi tidak menyangka bahwa apa yang dilakukan oleh Cathan tadi akan membuat dampak seperti itu.


Akashi bertanya, "Lalu apa yang harus dilakukan?"


Alv mengangkat bahunya, "Entahlah. Aku tidak tahu. Karena Cathan adalah seorang penyihir yang berbeda dengan penyihir pada umumnya,"


Akashi, "Berbeda ya ... Apa mungkin tuan Syvonne adalah ..."


Sebelum Akashi menyelesaikan pembicaraannya angin yang berhembus menjadi lebih kuat.


Dan seseorang berteriak dengan panik.


Seseorang itu adalah Cathan yang berlari sambil berteriak, "SEMUANYA LARI!!!!!"


****