
Pertarungan Cathan dengan pria berjubah hitam, Maverick membuat Cathan menguras mana miliknya melebihi batas.
Meskipun Cathan adalah penyihir berbakat, ia tetap aka kewalahan jika menggunakan banyak sekali mana dalam satu waktu.
Apalagi ia harus terus menjadi sumber mana bagi penyihir lainnya.
Karena Cathan yakin bahwa pasti ada beberapa penyihir yang masih hidup dan bersembunyi.
Tempat yang Cathan lihat sekarang hanyalah kegelapan.
Meski begitu, ia masih dapat melihat titik-titik kecil seperti bintang yang bertebaran di kegelapan tersebut.
Cathan berjalan di kegelapan itu dan melihat ke sekeliling.
"Tempat ini membuatku bernostalgia ..."
Cathan berhenti di satu titik di mana bintang-bintang yang gemerlap tadi tinggal sedikit.
Itu seperti ujung dari tempat dengan bintang-bintang bergemerlapan.
Setelah itu hanya kegelapan yang terlihat.
Cathan teringat sosok yang mengatakan padanya, 'Jangan melebihi batas,'
Itu adalah perintah untuk Cathan saat ia yang masih kecil berusaha untuk memasuki kegelapan tak berujung itu.
"Entah apa yang ada di sana,"
Cathan hanya terdiam di tempatnya sambil menatap kegelapan tanpa bintang di depannya.
"Jika aku masuk ... apakah aku akan mati?"
Cathan menggertakan keningnya sejenak dan mulai berbalik.
Dan ...
"Urgh!!!"
Cathan kembali tersungkur dan meremas dadanya dengan keras.
Rasa sakit yang sangat menusuk membuat Cathan mengeluarkan air mata.
"Ah! Sial! Kupikir jika disini aku tidak akan merasakan sakit,"
Cathan menutup matanya sambil menggigit bibirnya hingga berdarah.
Seketika tubuhnya seperti terguncang.
Ia mencoba untuk membuka matanya perlahan.
Pemandangan di depannya yang awalnya warna hitam yang penuh dengan bintang perlahan berubah menjadi sesuatu yang berbeda.
Suara yang tak jelas terdengar.
Tubuh yang tadinya terasa sangat berat kini lebih terasa rasa sakitmya.
Sebuah erangan keluar dari mulut Cathan, "Urgh ..."
Sebuah suara akrab terdengar, "Hei! Sepertinya ia sudah sadar!"
"Benarkah??"
"Kita harus segera bergegas!"
"Oi! Jangan berlari seperti itu yang ada kau hanya akan memberikan luka lain pada tubuhnya!"
Suara lainnya terdengar sangat dekat dengannya, "Hah?! Lalu harus berlari seperti apa?!"
Cathan mengelus dan membuka matanya perlahan, "Urgh,"
"Hei, Cathan! Jangan bergerak dulu,"
"Tuan Syvonne?! Apa anda sudah sadar?"
Sebuah wajah dengan wajah penuh bekas darah muncul tepat di depan wajah Cathan.
Cathan menyipitkan matanya untuk dapat memperjelas pengelihatannya, "Kau ..."
Max menghela napas sebelum akhirnya ia berteriak sambil menoleh ke belakang, "Semuanya!! Tuan Syvonne sudah sadar!"
Lucy menghela napasnya yang terdengar berat sambil berkata, "Haaah ... Syukurlah ..."
Alv menepuk bahu Akashi dan berteriak, "Jangan merasa lega dulu! Kita harus lari!"
Akashi menangkisnya dan menatap Alv dengan kesal, "Jangan menyentuhku sembarangan!"
Alv menghiraukannya dan meletakkan tangannya sejenak ada tubuh Cathan, "Bawa dia dengan aman, nak Akashi!"
Akashi menggertakan giginya, "Siapa yang kau panggil nak?!"
Lucy mengeluh saat mendengar bahwa mereka harus terus berlari, "Haaaah ... Aku ingin sekali beristirahat! Tidak bisakah kita beristirahat sejenak, tuan Imorgent?"
Hazel melirik Lucy dan berkata dengan napas tersengal, "Dengan nyawamu sebagai ancamanmya?"
Lucy memasang wajah tak senang dan berkata, "Aaahhhh ... aku juga tau itu ... tapi ..."
Xyla menanggapi rengekan Lucy, "Tidak ada tapi. Tetap berlari,"
Max melirik Lucy dengan kasihan dan akhirnya tersadar bahwa yang harus dilakukannya sekarang bukan kasihan pada Lucy melainkan mengasihani drinya sendiri.
"Haah ..."
Max balik menatap Lucy dan berkata, "Entahlah ... aku tak yakin bahwa kita akan selamat ..."
Lucy melebarkan matanya dan merasa merinding, "Apa yang kau katakan?!"
Sepertinya Alv mendengar semua yang di bicarakan oleh Max dan juga Lucy, ia menanggapi, "Kita akan selamat!"
Max, "..."
Lucy, "Yaah ... aku yakin akan selamat ..."
Cathan masih menerka-nerka tentang hal ini.
Mendengar bahwa ada beberapa penyihir yang selamat, perasaan lega mulai menyeruak dari dalam dada Cathan.
Cathan menoleh ke belakang dengan susah payah dan memanggil seseorang dengan lirih, "Alv ..."
Alv yang merasa belum puas memarahi Max dan Lucy seketika menoleh ke ara sumber suara.
"Cathan?!"
Akashi yang menggendong Cathan di punggungnya mengerutkan keningnya, "Tuan Syvonne, jika anda kesulitan berbicara lebih baik di bicarakan saja nanti,"
Cathan menggelengkan kepalanya, "Aku ... seperti ..."
Alv berlari lebih keras lagi dan mulai mendekati Cathan, "Cathan, ada apa? Jika kau kesulitan lebih baik nan ..."
Cathan memotongnya, "Tidak ..."
"?"
Cathan meneguk air di mulutnya sebelum dia berbicara, "Aku merasakan ... ada sesuatu ..."
Alv mengerutkan keningnya, "Sesuatu?"
Akashi dan yang lainnya yang masih berlari menutup mulut mereka dan mulai mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Cathan.
Cathan, "Teruslah berlari ... sepertinya ada sesuatu ... di depan kita ..."
Max mulai berteriak panik, "Itu sesuatu yang baik atau jahat?! Tuan Syvonne saya tidak ingin mati muda!"
Lucy, "Bagaimana jika itu orang-orang yang tadi?! Kita semua akan mati!!!"
Hazel merasakan rasa kesal yang tak tertahankan, "Diamlah kalian berdua!!"
Cathan berkata dengan lirih, "Rumah ..."
Semuanya, "HAH?!"
Cathan mengabaikan keterkejutan mereka, "Terus lari ke depan ..."
Akashi, "Yang terpenting kita lari dulu! Jika nanti orang-orang itu datang menyerang ... kita balik serang saja!
Max menatap Akashi sangat heran dan berkata dengan nada yang gemetar, "Memangnya kita mau menyerang dengan apa?!"
Lucy terlihat panik, "Huwaaaaa!!! Kita aka mati tanpa bisa menyerang ataupun melindungi diri sendiri!!"
Alv kesal, "Sudahlah lari saja ... Cathan mengatakan bahwa di depan ada rumah,"
Hazel, "Rumah? Memangnya ada yang masih utuh ya?"
Alv, "Sudahlah lari saja! Xavian!!"
Seorang pemuda yang berlari di belakang Xyla segera menoleh ke arah Alv, "Apa yang !?"
Alv, "Gunakan kemapuan penciumanmu untuk menemukan rumah yang di maksud Cathan!"
Xavian menatap sinis Alv, "Apa alasannya?"
Alv mengerutkan keningnya sambil menghela napas panjang, "Haah ... Bagaimana jika kau tidak ingin mati lakukan dengan cepat?"
Xavian mendecakkan lidahnya saat ia menatap Alv dengan tidak suka.
Xavian mulai berlari lebih cepat dan muncul di depan Akashi dengan mendadak.
Akashi hampir terjatuh saat ia terkejut, "Apa yang?!"
Alv berteriak dengan lantang, "Xavian, lari dengan kecepatan manusia normal! Dan lindungi Cathan yang berada di belakangmu!"
Xavian mendecakkan lidahnya dan mulai berlari paling depan menuntun para penyihir yang bertahan.
Alv menunjuk Xavian dan berkata kepada yang lainnya, "Ikuti dia!"
Xyla mengerutkan keningnya saat ia berkata, "Apa dia bisa di percaya, tuan Imorgent?"
Alv mengangguk, "Ya!"
Xyla tersenyum aneh, "Anda seperti atasannya,"
Alv mengabaikan perkataan Xyla dan menatap ke depan sambil terus berlari.
Xyla menatap Alv sejenak sebelum akhirnya membuang wajahnya ke sembarang arah.
Alv tersenyum saat ia memandang punggung Xavian.
'Anak itu ... adalah anak yang jauh lebih peduli dari pada penampilannya!'
****