
"..."
"..."
"..."
Itu sangat hening.
Orang itu hanya menatap anak kecil yang baru saja pingsan karena berteriak.
"Heh..."
Orang itu tersenyum.
"Kau ingin hidupkan?"
Orang itu mulai terkekeh.
"Bahkan, jika kau hidup di neraka?"
Orang itu tidak mendengar jawaban apapun dan akhirnya mulai tertawa terbahak- bahak.
"Konyol,"
Orang itu mulai mengangkat tubuh anak yang kurus.
"Jangan salahkan aku jika kau akan lebih meminta mati nantinya,"
Lalu membawa anak itu bersamanya.
Malam yang gelap tanpa bintang itu terlihat sangat kejam.
Angin dingin yang menerpa tubuh berpakaian tipis membuat tubuh menggigil.
Orang itu terus menghela napas saat ia menatap pemandangan di luar jendela mobilnya.
"Hn?"
Anak kecil itu mengeluh dalam tidurnya dengan meringkukan tubuhnya.
Orang itu melepaskan topi flat cap yang membuat rambut panjang cokelat kemerahan terbebas dari topi.
Orang itu memainkan rambutnya sejenak sebelum akhirnya berkata kepada seorang pria tua di depannya, "Kembali ke markas,"
Pria tua itu hanya melirik dari kaca spion dan mengangguk, "Baik,"
Mobil itu melaju di jalanan penuh mayat dengan gesit, seolah-olah ini bukan pertama kali pria tua itu mengendarainya.
Orang itu menyenderkan kepalanya pada kaca mobil dengan mulut yang tertutup rapat.
Bayangan wajah orang itu terlihat samar pada kaca mobil.
Mata hijau orang itu memandang pemandangan di luar mobil yang melaju tanpa berkomentar.
Orang itu berkedip, membuat bulu mata panjang miliknya terkesan berayun-ayun.
Ujung hidungnya yang kemerahan sama merahnya dengan warna bibirnya yang tak dipoles pewarna sama sekali.
Orang itu menguap beberapa kali dalam perjalanan tetapi tidak membiarkan matanya terpejam lelap.
Matanya terus mengawasi sekeliling dengan waspada.
Entah berapa lama ia berada dalam mobil tersebut.
Orang itu mulai meregangkan tubuhnya setelah matanya menangkap bangunan putih yang besar di tengah hutan.
Orang itu menggulung rambut cokelat kemerahannya lalu memasukkannya ke dalam topi flat cap miliknya.
Pria tua yang mengendarai mobil itu melirik sejenak dari kaca spion mobil tanpa berkata-kata
Orang itu hanya menatap dalam diam tanpa mengatakan apapun.
Seolah mengerti apa yang dimaksud oleh orang itu, pria tua membawa mobil menuju sebuah jalan kecil yang penuh dengan bebatuan.
Getaran dari jalan berbatu itu membuat mobil terguncang dengan cara yang tak menyenangkan.
Hal ini membuat anak kecil itu terbangun dari tidurnya dengan terkejut.
Mungkin karena belum terkumpulnya nyawa pada tubuhnya membuat anak kecil itu menjadi linglung.
"Di-dimana kita?"
Wajah anak kecil itu sangat kurus sehingga bola matanya terlihat akan keluar dari wajahnya.
Tetapi tatapan anak itu dipenuhi dengan kehidupan membuat ia terlihat lebih sehat dari kondisi aslinya.
Mobil seketika terhenti di sebuah tempat yang penuh dengan pepohonan rindang dan sangat sepi.
Suara jangkrik dan juga serangga lainnya mengiringi malam mereka di tempat itu.
Orang itu masih menyenderkan kepalanya pada kaca mobil.
Tanpa melihat ke sekeliling ia berkata kepada anak kecil itu, "Turun,"
Anak kecil itu kebingungan saat mendengar apa yang dikatakan oleh orang di depannya itu.
"A-apa maksud an-anda?"
Orang itu melirik dengan tatapan tak peduli, "Turun,"
Anak kecil itu mencoba menahan rasa takut pada dirinya.
Ia menelan air di mulutnya dan berkata dengan nada bergetar, "Bu-bukankah anda akan ... membiarkan saya hi-hidup?"
Orang itu mengangguk, "Benar,"
"Ta-tapi mengapa saya ... disuruh turun di-disini?"
Orang itu menghela napas dengan panjang dan akhirnya berkata, "Jika kau ingin hidup turun dari mobil ini. Jika kau ingin mati tetaplah di mobil ini dan aku akan membawamu pada kematian,"
Anak kecil itu terlena sejenak saat mendengar suara dari orang di depannya.
Anak kecil itu memberanikan diri dengan tangan yang tertekuk, "I-itu ... ijinkan sa-saya bersama anda ..."
Orang itu membuang wajahnya dan memberikan isyarat pada pria tua di depannya.
Pria tua itu mulai keluar dari pintu mobil dan membawa paksa anak itu keluar.
Anak kecil meringis kesakitan, "Aaakhhh!!!"
Pria tua itu menutup pintu dengan keras dan membawa mobil itu pergi keluar dari tempat itu.
Anak kecil itu bergegas untuk berdiri dan terlihat kesulitan saat mengejar mobil hitam yang melaju dengan cepat.
"Tu-tunggu! Tolong jangan tinggalkan saya!!"
"Saya mohon ... jangan bu-buang saya!"
Anak kecil itu berteriak dan memaksa kakinya yang kurus dan ringkih untuk berlari mengejar mobil itu.
Tetapi sebanyak apapun ia mencoba, ia tak dapat menggapainya.
"Sa-saya mohon jangan tinggalkan saya ..."
***
Kicauan burung terdengar berisik dari dulu hingga sekarang.
Mengacaukan istirahat siang di hamparan bunga.
Kupu-kupu menari-nari di atas bunga-bunga tersebut dengan indah.
Cahaya matahari yang hangat dengan angin sejuk yang menerpa wajah membuat perasaan nyaman.
"Hoaammmm ..."
Avyanna menguap berulang kali saat ia berbaring di atas rerumputan.
Mata emas Avyanna menatap langit biru dengan awan putih yang bergerak perlahan.
"Mimpi aneh lainnya ..."
Avyanna mengabaikan apa yang ia mimpikan.
Avyanna melirik ke sampingnya dan menemukan seekor kelinci kecil sedang asyik bermain dengan kupu-kupu.
Avyanna menaikkan salah satu alisnya dan akhirnya mencoba untuk bangkit berdiri.
Avyanna mendekati kelinci itu dengan perlahan agar tidak mengejutkannya.
Kelinci itu sepertinya merasakan gerakan dari rerumputan yang diinjak oleh Avyanna lalu menaikkan kedua telinganya yang panjang.
Tanpa menunggu Avyanna sampai di tempat kelinci itu berdiri, kelinci itu sudah melompat menjauhi Avyanna dengan cepat.
Avyanna mengeluh, "Hah?"
Avyanna kembali berjalan ke tempat lainnya dan memetik satu tangkai bunga berwarna biru.
Avyanna memainkan batang bunga itu sambil menghirup aroma yang dihasilkan.
Aroma yang sama dengan teh yang selalu di sediakan tetangganya setiap sore.
Avyanna berjalan malas dengan setangkai bunga di tangannya.
Sudah lebih dari setahun sejak kejadian penyerangan yang terjadi di pulau Witchery.
Dan ini juga sudah lebih dari setahun sejak ia bertemu dengan ayahnya, Cathan.
Selama setahun ini tidak ada kabar sama sekali dari ayahnya itu.
Avyanna dan Demetria serta Zeffrey merasakan rasa cemas yang tak terbendung selama ini.
Mereka bahkan datang ke istana kekaisaran tetapi hasilnya tetaplah kosong.
Kejadian di pulau Witchery seperti sengaja disembunyikan.
Avyanna dengan keluarganya kini tinggal di sebuah desa kecil dekat wilayah bangsawan Grimmwolf.
Seorang wanita tua dengan tubuh yang membungkuk berjalan menggunakan tongkatnya menyapa Avyanna yang sedang berjalan, "Vyan, apakah kau dari taman?"
Avyanna tersenyum lebar dan berlari dengan kakinya yang pendek mendekati wanita tua itu.
"Ya, nyonya Bia. Saya baru saja ingin kembali ke rumah,"
Bia tersenyum lebar sambil mengelus kepala Avyanna dengan senang, "Kalau begitu, berhati-hatilah saat kau akan pulang,"
Avyanna mengangguk dan memiringkan kepalanya, "Ngomong-ngomong, nyonya Bia, apakah anda ingin pergi ke balai desa?"
Bia mengangguk dan mencoba melangkah bersamaan dengan tongkatnya, "Ya ... ada panggilan tadi,"
Avyanna menyentuh dagunya dan terlihat berpikir.
Sikap yang dilakukan oleh Avyanna mengundang rasa gemas dari Bia.
Karena itu, Bia mengelus kembali rambut Avyanna sambil berkata, "Apakah kau ingin ikut, Vyan?"
Avyanna mengangkat wajahnya yang bulat untuk melihat mata Bia yang memiliki warna berbeda.
"Apakah boleh?"
Bia mengangguk dan berkata dengan tulus, "Memangnya siapa yang melarangnya?"
Avyanna tersenyum sambil mengandeng tangan Bia yang bebas dari memegang tongkat.
"Saya hanya merasa tidak sopan untuk mengikuti hal yang dilakukan oleh orang dewasa,"
Bia terkekeh pelan, "Tidak masalah ... lagipula akulah yang mengajakmu,"
Avyanna mengangguk kembali dan berjalan di samping Bia dengan sabar.
****