I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 38~ Siapa Sebenarnya Kau?



Tempat penelitian Cathan adalah sebuah tempat yang berada di bawah rumah Cathan berserta keluarga kecilnya.


Cathan dan Demetria telah menepati rumah ini sekitar tujuh tahun sejak mereka pergi dari ibu kota kekaisaran.


Akashi meletakkan Cathan di atas kursi kayu dan segera memandang ke sekeliling ruangan tersebut.


Terdapat lima baris rak buku berukuran besar dengan ukuran kira-kira sekitar dua meter.


Tidak semua rak terisi dengan buku, ada beberapa juga yang diisi dengan tanaman hias dan juga ada yang dibiarkan kosong begitu saja.


Akashi mencoba meraih salah satu buku dan mulai membukanya.


Ia mulai membalikan lembar demi lembar sambil mengerutkan keningnya lebih dalam.


Xyla yang merasa tertarik, mulai berkeliling sambil menyentuh rak buku tersebut.


Akashi berbalik ke arah Cathan setelah ia menutup buku yang ia lihat.


Akashi yang masih mengerutkan keningnya bertanya, "Tuan Syvonne, apa ini bahasa kekaisaran Russhel?"


Cathan menyenderkan tubuhnya pada kursi kayu lalu menghela napas panjang, "Kurasa bukan,"


Akashi mengerutkan keningnya, "Kurasa?"


Cathan mengangguk lalu memejamkan matanya.


Di sekitar tubuh Cathan muncul asap berwarna emas yang mulanya sedikit akhirnya menjadi lebih pekat.


Xyla yang mencoba untuk meraih salah satu buku di atas rak segera menoleh ke belakang saat ia merasakan sumber mana yang sangat kuat.


Xyla mengerutkan keningnya, "Apakah kita masih bisa bernapas karena anda, tuan Syvonne?"


Cathan tidak menanggapi dan hanya terus memejamkan matanya.


Hazel berdiri dalam diam di sudut ruangan tersebut sambil berpikir, 'Tuan Syvonne adalah sumber mana kami? Bagaimana bisa?'


Akashi membuang wajahnya dan mulai mencari buku lainnya yang mungkin dapat ia mengerti.


Tetapi pikirannya yang sedang berantakan terus saja membuatnya tak nyaman.


Akashi meraih buku dengan sampul berwarna hitam dan tercium aroma aneh dari buku itu.


Akashi, 'Siapa sebenarnya tuan Syvonne?'


Akashi membuka buku bersampul merah itu.


Ia tetap menemukan bentuk-bentuk aneh yang tak bisa dimengerti nya.


Tetapi, salah satu halaman muncul sesuatu yang menarik perhatian Akashi.


Sebuah tulisan yang diyakini Akashi adalah tulisan kuno yang selama ini diteliti oleh menara sihir.


Akashi membaca satu kalimat yang menurutnya terasa aneh.


「 Jiwa yang dilindungi oleh sang naga 」


Akashi mengerutkan keningnya lebih dalam, 'Naga? Melindungi? Bukankah naga sudah musnah?'


Akashi membalikkan lembar demi lembar tetapi hanya satu kalimat itulah yang menggunakan bahasa kekaisaran.


Akashi bergumam sambil memandang sampul merah buku tersebut, "Mengapa tuan Syvonne memiliki buku seperti ini?"


Di lain sisi ...


Xyla juga mencari beberapa buku yang tersusun dengan sangat rapi di sebuah rak yang terlihat jauh lebih usang di bandingkan dengan empat rak lainnya.


Rak yang paling belakang dan juga yang sudah sangat rapuh memiliki beberapa susunan buku yang di kelompokkan berdasarkan persamaan warna.


Satu rak terdapat enam papan pendiri.


Papan paling atas terdiri dari buku dengan sampul berwarna hijau.


Entah itu hijau lumut, hijau zamrud, atau hijau dedaunan.


Papan kedua terdiri dari buku-buku dengan sampul berwarna biru.


Entah itu buku berwarna biru langit, teal, atau turquoise.


Papan ke tiga memiliki buku-buku dengan sampul berwarna ungu.


Di papan ketiga ini hanya ada tiga buku berwarna ungu.


Papan keempat terdiri dari buku-buku dengan sampul berwarna cokelat.


Buku-buku ini adalah buku yang sama dengan yang biasa dilihat oleh para penyihir di menara sihir.


Papan kelima adalah papan dengan sampul buku-buku berwarna hitam tersusun dengan rapi.


Buku-buku dengan sampul warna hitam memiliki ketebalan yang sangat berbeda dengan buku lainnya.


Xyla menyentuh buku bersampul hitam tersebut dan bergumam, "Tebal sekali ..."


Papan ini terdiri dari buku-buku dengan sampul berwarna putih.


Ketebalan dan tekstur sampul sama saja dengan buku yang bersampul cokelat.


Xyla mengerutkan keningnya sambil memiringkan kepalanya saat ia melihat ada sebuah buku dengan warna yang berbeda dari deretan buku bersampul putih.


Xyla meraih buku itu dan melihat dengan seksama buku tersebut.


Buku ini memiliki ketebalan yang sama dengan genggaman milik Xyla.


Warna sampul buku itu sekilas seperti berwarna putih tetapi saat dilihat dengan seksama, warna sebenarnya dari buku ini adalah emas.


Bukan emas yang pekat seperti mahkota kaisar.


Ini lebih seperti ...


Xyla merasa heran, "Mana milik tuan Syvonne?"


Xyla menoleh ke arah Cathan yang masih diliputi dengan mana emas di sekitarnya.


Xyla mulai membuka buku emas itu dan mencoba membacanya.


"???"


***


"Tolong tunggu saya, tuan Imorgent ... Saya tidak ingin mati disini ..."


Alv menghela napas untuk kesekian kalinya saat ia mendengar keluhan tak terhenti dari Max.


Alv melirik Lucy yang masih berjalan di belakangnya dalam diam.


Alv mulai menghela napas lagi saat ia memperhatikan bahwa sebenarnya Lucy terus bergumam.


"Aku tidak mau mati disini!"


"Aku tidak mau mati disini!"


"Aku tidak mau mati disini!"


"Aku tidak mau mati disini!"


"Aku tidak mau mati disini!"


"Aku tidak mau mati disini!"


Alv menghela napas lagi sambil mencengkram ujung pakaiannya untuk menahan rasa kesalnya.


Alv berhenti berjalan dan menatap Lucy sambil menyentuh bahunya.


Alv mencengkram bahu milik Lucy dengan keras dan berkata, "Hentikan ... Jangan membuatku harus bersabar lagi ..."


Lucy mengangkat wajahnya dan dapat menatap kilauan mata menyeramkan dari Alv.


Lucy segera memasang senyum canggung dan berkata dengan terbata-bata, "Ta-tapi tuan Imorgent ... saya sungguh tidak mau mati disini!"


Alv mengangguk, "Aku tahu itu. Tetapi ... bisakah kau hentikan rengekan mu itu?"


Lucy melihat sekilas api membara dari mata Alv dan akhirnya segera mengangguk, "Sa-saya mengerti ..."


Alv berjalan lagi dan mengabaikan rengekan lainnya dari Max.


Alv tenggelam dalam pikirannya dan sosok bayangan muncul dalam pikirannya, 'Apakah ... kau selamat?'


Mata yang teduh saat menatapnya dan bagaimana rasa sebuah tangan yang selalu mengelus rambut yang panjang nan halus.


Alv tersenyum pahit saat ia memikirkan beberapa hal yang tak menyenangkan terjadi.


Alv meneguk air di mulutnya dan mulai berjalan mengikuti lorong tersebut.


Alv mencoba menempatkan dirinya sendiri dengan pikiran yang lebih realistis.


Alv menunduk saat ia merasakan sesuatu yang aneh.


Alv mengerutkan keningnya, "Cathan! Kau sialan! Apa yang kau coba lakukan?!"


Lucy dan Max saling memandang dalam kebingungan.


"Ada apa tuan Imorgent?"


"Apa ada sesuatu yang salah??"


Alv mengabaikan pertanyaan mereka dan mulai berbicara dengan suara yang lebih keras, "Cepat! Kita harus berjalan lebih cepat!"


Alv mulai berjalan dengan cepat sambil memaki, "Jika kau melakukan sesuatu yang berbahaya ... aku akan langsung menghajar mu, Cathan!"


Alv yang merasa panik mulai memakai kembali, "B*j*ng*n! Jangan melakukan sesuatu yang berbahaya!!!"


****