I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 21~ Kabar Buruk (3)



Akashi terus mengeluarkan pendapatnya dan Max yang mencoba sebisanya untuk dapat mengentikan Akashi yang mungkin saja akan mengamuk.


Pernyataan Akashi yang terus menerus terlontar membuat penyihir- penyihir juga mulai mempertanyakan situasi ini.


Apa benar mereka hanya akan dijadikan sebagai objek oleh para tetua menara sihir?


Di sekitar itu sangatlah berantakan.


Terowongan yang tadinya sunyi mulai berubah menjadi berisik.


Ada dua wanita yang berdiri di seberang saling memandang dan mencoba menilai situasi tersebut.


Wanita dengan rambut pendek berwarna coklat mulai menatap seorang wanita lainnya yang sedang berdiri di sampingnya, "Bagaimana menurutmu, Xyla? Apa kau setuju dengan pernyataan si Akashi itu? Dia sama seperti api bukan?"


Xyla tidak tersenyum saat ia memainkan rambutnya yang panjang.


Xyla menoleh untuk menatap temannya yang bertanya padanya itu, "Entahlah, Hazel. Tapi kurasa melihat wajah Tuan Syvonne yang seperti itu menandakan bahwa perkataan Tuan Imorgent memang benar,"


Xyla memutar bola matanya dan berkata dengan sudut bibir yang naik, "Dan juga ... Akashi memang sangat sulit untuk di amankan jika ia belum merasa bersalah,"


Hazel tersenyum dengan lembut dan menatap keributan di depannya lalu berkata, "Begitukah? Apa yang akan kau lakukan?"


Xyla menarik tudung untuk menutupi kepalanya dan mulai mengangkat bahunya, "Tak tahu. Ikuti saja keinginan para pria itu,"


Hazel tersenyum lagi dan berkata, "Baiklah. Kalau begitu aku harus membawa kembali si Lucy bodoh itu,"


Xyla hanya mengangguk tanpa melihat bahwa Hazel telah pergi.


Xyla memainkan rambutnya dan mulai duduk sambil memejamkan matanya perlahan, "Benar apa yang dikatakan Hazel. Para pria itu terlalu ..."


Akashi mulai berhenti dan terus menatap Alv yang juga menatapnya dalam diam.


Akashi mengerutkan alisnya dan berteriak marah, "Apa yang kau lakukan?! Kenapa aku ..."


Max terjatuh saat ia tak lagi kuat menahan tubuh Akashi yang membara untuk tidak bertengkar.


Max mengelap keringat yang mengalir dari dahinya sambil menghela napas, "Hah ... Melelahkan sekali,"


Max menatap Akashi yang memasang wajah tak percaya sambil menatap kedua tangannya yang gemetar.


Max mengerutkan alisnya dan bertanya, "Eh? Ada apa, Akashi?"


Tetapi Akashi tidak menanggapi Max dan hanya seperti tersadarkan akan sesuatu.


Akashi seperti mulai tersulut lagi ia mulai berteriak, "Apa yang kau lakukan?! Mengapa aku tak bisa menggunakan sihir?!"


Max memiringkan kepalanya saat ia mendengar pernyataan Akashi, "Hah? Apa maksudmu?"


Alv hanya menghela napas berat saat pertanyaan demi pertanyaan memenuhi dirinya dari penyihir- penyihir ini.


Bahkan para penyihir yang sudah berumur juga melontarkan pertanyaan kepadanya dan juga Cathan yang hanya bisa diam dalam menanggapi situasi tersebut.


Alv menepuk tangannya dan berkata, "Informasi yang terakhir. Pulau ini telah hancur. Sekian dan terima kasih,"


"..."


Entah mengapa seketika semuanya menjadi hening.


Bahkan, Akashi tidak lagi berteriak dengan cara yang kasar kepada Alv.


Mereka juga tidak saling berbisik lagi meributkan apakah Alv hanya mencoba untuk menipu mereka semua.


Semua hening.


Alv dapat menyimpulkan bahwa 3 informasi yang kejam ini sudah sangat sukses membuat mental mereka semua terguncang.


Bahkan para penyihir tua semua menoleh ke arah satu penyihir dan seperti bertanya- tanya apa yang sebenarnya terjadi.


Mereka semua pasti sangat kebingungan hingga tak bisa berkata- kata.


Sama seperti Alv yang masih belum bisa menerima informasi itu.


Tetapi jika ia terus terlarut pada semua itu hanya akan menambah kekacauan pada para penyihir.


Alv menatap Cathan sejenak.


Lalu Alv bertanya dengan tenang kepada keheningan di sekitarnya, "Tidak ada yang ingin bertanya? Atau mungkin ingin memaki diriku lagi?"


"..."


Itu hening.


Semua seperti termenung dalam pikirannya masing- masing.


Pulau ini telah hancur.


Satu kalimat itu sudah cukup membuat mereka tak bisa berkata- kata.


Entah bagaimana cara untuk menyikapi semua ini.


Dengan marah?


Menyalahkan semua pada Alv atau Cathan?


Atau kepada para penyihir tua yang karena mereka ini terjadi?


Tidak tahu apa yang ingin mereka sampaikan.


Dari penyihir muda hingga yang sudah lanjut usia, semua diam.


Ketiga wanita yang berdiri dipojokan yang awalnya sangat santai seketika mengubah wajah mereka menjadi bingung.


Bahkan satu di antara wanita itu mengeluarkan keringat dingin dan terlihat pucat.


Alv menghela napas dan menyadari bahwa tidak ada yang ingin berbicara.


"Apa kalian tahu goncangan apa yang telah menimpa menara sihir beberapa saat yang lalu?"


"..."


Mereka tetap diam, memberikan waktu itu semua kepada Alv untuk menjelaskan kepada mereka apa yang terjadi.


Goncangan hebat yang terjadi sebelumnya mereka pikir adalah perbuatan tak di sengaja para penyihir tua yang sedang bereksperimen.


Tetapi mungkinkah?


Alv membuka mulutnya dan mulai menjelaskan kepada kerumunan penyihir di depannya itu, "Itu adalah serangan dari kelompok yang tidak diketahui asalnya dari mana. Serangan itu menghancurkan semua sihir perlindungan, pertahanan, dan bahkan sihir komunikasi di menara sihir,"


"Karena hal itu, hanya terowongan inilah yang menjadi satu- satunya yang tersisa dari menara sihir,"


Alv melihat sekeliling lagi sambil terus melanjutkan penjelasan, "Aku sangat yakin ... Dari banyaknya penyihir disini pasti ada beberapa yang mencoba untuk melakukan sihir teleportasi. Tapi tidak bisa, bukan?"


Para penyihir yang mendengar ini mulai menyadari kejanggalan akan hal tersebut.


Mereka mengira karena mungkin saja itu hanya kesalahan dalam pelafalan mantra.


Atau mungkin karena mereka berada di tempat yang jauh dari matahari dan tidak terasa adanya mana sama sekali bisa mengakibatkan sulitnya untuk melakukan sihir.


Tetapi ternyata mereka salah.


Ini semua karena penyerangan yang mendadak dan tanpa peringatan terlebih dahulu.


Alv masih melanjutkan, "Jangankan sihir teleportasi. Sihir untuk membuat api saja kalian tidak bisa melakukannya dengan sempurna. Karena itulah kita berjalan berjam- jam dalam kegelapan, dalam tempat yang lembap dan bau ini,"


"Ini bukan karena terowongan yang tidak mendapatkan sinar matahari. Tidak! Ini adalah sebuah penyebab bahwa semua sumber mana telah lenyap,"


"Bukan hanya menara sihir yang di hancurkan! Tetapi desa- desa, tumbuhan, binatang, bahkan para penduduk telah di hancurkan! Mereka semua sudah mati!"


"Bahkan jika kalian kembali ke menara sihir, tidak ada yang akan menolong kalian! Tidak akan ada pihak kekaisaran yang akan datang membantu kalian! Tidak ada!"


Wajah Alv memerah dan mulai mengangkat jarinya untuk menunjuk kegelapan, "Dan di ujung sana, di ujung terowongan ini, kita bahkan tidak tau apa yang akan menunggu kita,"


"Mungkin saja penyihir- penyihir yang menjadi penyebab ini semua terjadi? Atau mungkin pemandangan pulau yang sudah hancur. Tidak ada yang tahu,"


Alv memandang Cathan yang sedang menggigit bibirnya dengan keras dalam diam.


Alv berkata dengan lirih, "Aku tidak bermaksud untuk membuat kalian menjadi objek atau apalah itu. Aku hanya ingin kita semua selamat dan hidup,"


"Jadi kumohon, tolong kerja sama kalian. Kita harus keluar dari sini dulu, bersama- sama,"


****