
"Jadi kumohon, tolong kerja sama kalian. Kita harus keluar dari sini dulu, bersama- sama,"
***
Setelah perkataan panjang lebar Alv, semua orang seperti memiliki pemikiran masing- masing.
Ada yang mulai sendirian untuk memastikan tidak bergunanya mereka sekarang karena tak bisa menggunakan sihir.
Ada yang berbicara dengan teman lainnya dengan berkelompok.
Akashi dan Max juga pergi ke tempat lainnya dan berbicara dengan wajah yang serius.
Ketiga wanita penyihir itu juga membahas sesuatu.
Entah apa yang mereka bahas dengan teman lainnya.
Tetapi hal itu membuat Alv sedikit merasa lega.
Alv menghindar dari kerumunan dan mulai berpikir sesuatu sambil berjalan menuju Cathan.
Pulau di hancurkan.
Pulau ini bukanlah sembarang pulau para rakyat atau pulau yang tak memiliki apapun di dalamnya.
Pulau ini adalah pulau dimana seluruh penyihir dari seluruh benua berkumpul.
Pulau dimana menara sihir pertama di bangun dan tempat ini memiliki kekayaan mana yang berlimpah.
Membuat para penyihir dapat menggunakan mana mereka dengan bebas.
Nama pulau ini adalah Witchery.
Pulau yang terdiri dari 10 desa, tanpa adanya sistem bangsawan disini.
Semua aturan berdasarkan pada aturan menara sihir dan pemimpin 10 desa itu di bagi oleh para pilar menara sihir.
'Kita harus mencari solusinya,'
Alv berhenti berjalan dan menatap Cathan yang masih seperti orang linglung bersandar di tembok terowongan.
Alv kemudian duduk dan menatap mata kosong Cathan.
Kemudian, Alv mulai menepuk punggung Cathan sambil berkata, "Hei, Cathan. Sampai kapan kau seperti ini? Aku tidak bisa membimbing para penyihir ini sendirian,"
"..."
Alv yang tidak mendapatkan tanggapan dari Cathan mulai menghela napas.
Ia mulai membuka mulutnya dan berkata, "Aku juga tidak tahu apakah Selena dan bayi kecilku selamat,"
Cathan yang mendengar itu menoleh ke arah Alv dengan wajah terkejut, "Apa?"
Alv melirik temannya itu dan tertawa pelan, "Selena sedang mengandung. Ia meminta untuk pulang ke rumah orangtuanya dan tinggal disana,"
"Dan kemarin ... Selena baru saja sampai di desa Lore dan aku berencana untuk mengunjunginya nanti. Tapi, aku ... Tidak yakin bisa bertemunya lagi,"
Cathan menatap Alv, "Alv ... Kau ..."
Alv tersenyum pahit dan berkata, "Kau tahu, Than. Kau harus hidup dulu, kau harus bertahan terlebih dahulu. Aku sangat yakin bahwa istri dan kedua anakmu baik- baik saja,"
Alv menatap Cathan, "Demetria itu pintar dan juga kuat. Dan juga, mereka pasti menginginkan dirimu untuk berpikir bahwa keluargamu telah mati, itu pasti tujuan utama mereka,"
"Organisasi itu pasti menginginkan penyihir dengan mana berwarna langka. Mereka menginginkan penyihir dengan mana emas,"
Alv mencengkram bahu Cathan, "Sama seperti orang gila itu!"
Alv terkejut, "Apa maksudmu?!"
Cathan tertawa pelan saat airmata mengalir di pipinya dan berkata, "Hah ... Karena keegoisanku, aku bahkan tidak mengetahui bahwa kau pasti juga mengkhawatirkan Selena. Dan aku berpikir bahwa hanya aku satu- satunya yang sangat menyedihkan karena tidak bisa menyelamatkan dan mendapatkan kabar dari keluargaku,"
"Padahal semuanya juga pasti merasa sedih dan panik saat mengetahui kebenarannya,"
Alv menatap Cathan dan mulai menghela napasnya dengan berat, 'Ini juga bukan kemauanmu kan, Cathan. Kau juga tidak ingin apa yang terjadi hari itu juga terjadi pada keluargamu,'
Alv berdiri dan menepuk bahu Cathan dengan keras hingga berbunyi, "Bangun, Cathan! Kita harus keluar dulu,"
Cathan menghela napasnya dan bergumam, "Maaf,"
Alv mengerutkan keningnya karena ia tidak dapat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Cathan, "Apa?!"
Cathan menggelengkan kepalanya dan menatap Alv, "Jangan khawatir, Selena pasti selamat,"
Alv menatap Cathan dengan mata yang berbinar, yang mungkin bisa saja air mata akan terjatuh darinya.
"Ya. Itu harus,"
Mereka berdua masih membahas beberapa hal lainnya.
Tentang dugaan semua ini dan siapa dalang di balik penyerangan ini.
Hingga menghancurkan pulau bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
Karena pulau ini ada kaitannya dengan kekaisaran.
Dan juga merupakan salah satu aset berharga milik kekaisaran.
Karena semua penyihir adalah milik kaisar.
Saat mereka masih saling berbicara, seseorang datang mendekati mereka dengan gemetar.
"Anu ... Tuan Imorgent ... Tuan Syvonne. Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan,"
Cathan dan Alv serentak menoleh ke arah suara tersebut.
Mereka dapat melihat Max dengan gugup berdiri di depan mereka.
Alv menggulung tangannya di depan dada dan berkata dengan acuh, "Apa kau ingin mengatakan bahwa aku ini gila dan akan membuat kalian menjadi objek penelitian?"
Max terkekeh pelan, "Hahaha ... Bukan seperti itu, ini ... Kami ingin membicarakan tentang apa yang anda katakan tadi,"
Alv mengerutkan alisnya, "Oh, benarkah?"
Max meneguk air di mulutnya dan beralih menatap Cathan.
Max memasang wajah memelas, "Tuan Syvonne ..."
Cathan menghela napas dan meraih bahu Alv lalu berkata, "Lebih baik dengarkan mereka dulu, Alv,"
Alv memasang wajah acuh dan mengangguk, "Baiklah. Tapi, jika kalian berkata seperti ingin membuat sihir teleportasi untuk kembali ke menara sihir aku aka persilahkan,"
Max mengangguk, "Baiklah. Tolong ikut saya sebentar,"
Cathan dan Alv saling memandang dan mulai mengikuti Max di belakang.
"Mereka pasti memiliki rencana,"
****