
Alv menatap sesuatu dari kejauhan.
Ia menyipitkan matanya dan akhirnya mengetahui bahwa sesuatu yang di lihatnya itu adalah temannya.
Alv berteriak sambil berlari mendekati, "Hei, Cathan!!!"
Alv yang baru saja sampai meninggikan suaranya dengan menggebu-gebu.
Akashi sedang sedikit berjongkok di depan Cathan untuk menggendongnya.
Akashi mengerutkan alisnya, "A-apa?"
Cathan yang memiliki wajah pucat menatap Alv dengan bingung.
Alv memandang dengan heran pada para penyihir, "Hah? Apa ini? Kalian mau kemana?"
Lucy menggigit bibirnya dan mulai berjalan mendekati Hazel dan juga Xyla yang sedang memasukkan beberapa buku ke dalam kantung parsial.
Lucy dengan heran mulai mengerutkan keningnya dan bertanya, "Apa yang sedang kalian lakukan?"
Hazel melirik Lucy dan berkata, "Hanya beberapa buku dari ruang penelitian tuan Syvonne. Hmmm ... kau dari mana saja?"
Lucy memandang beberapa buku yang di masukkan Hazel dan juga Xyla dalam diam sebelum ia menanggapi, "Ahh ... Itu ... Sebenarnya ... Mungkin aku sedikit tersesat tadi,"
Lucy menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan canggung.
Hazel hanya mengangguk dan mulai mengambil beberapa buku lainnya untuk dimasukkan tanpa mengatakan apapun lagi kepada Lucy.
Xyla mengerutkan keningnya pada saat ia melihat wajah Lucy yang kemerahan, "Hmmm ... Ada apa denganmu?"
Lucy dengan cepat menggelengkan kepalanya dan mulai membantu memasukkan buku dengan tangan yang gemetar.
Lucy berkata sambil menggelengkan kepalanya, "Tidak ada apa-apa,"
Xyla menatap sedikit lebih lama pada Lucy hingga akhirnya ia memalingkan wajahnya dan membawa buku-buku lainnya masuk ke kantung parsial.
Di sisi lain ...
Alv menatap dengan heran Cathan yang sudah memejamkan matanya dan tertidur.
Alv memandang Xavian untuk meminta jawaban dengan mengangkat wajahnya sedikit ke atas.
Tetapi, Xavian mengangkat bahunya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Alv mengerutkan keningnya dengan heran, "???"
Max berbisik di belakang Alv, "Kurasa mereka akan pergi, tuan Imorgent,"
Alv mengangguk, "Y-ya aku rasa juga begitu,"
Alv menatap Akashi meminta jawaban.
Akashi memasang wajah datar dan berkata, "Kita mungkin akan keluar dari desa ini, tuan Imorgent,"
Alv mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Akashi, "Memangnya bagaimana caranya?"
Akashi yang sedang menggendong Cathan di belakangnya berkata setelah ia memastikan bahwa ia benar dalam membawa Cathan, "Kita akan mengikuti mana emas milik tuan Syvonne,"
Alv mengerutkan keningnya, "Mana emas ... milik Cathan?"
Akashi mengangguk.
Alv menghela napas dan akhirnya mengikuti apa yang akan mereka lakukan.
Setelah buku-buku milik Cathan telah dimasukkan ke dalam kantung parsial, mereka akhirnya mulai berjalan memasuki sebuah lorong yang tersembunyi di balik tak buku ke lima.
Xavian tetap di tempatkan di depan barisan para penyihir dengan Akashi yang menggendong Cathan berada di belakang Xavian.
Xyla, Hazel, Lucy, dan Max yang berurutan dalam berjalan dengan Alv yang berada di barisan paling belakang.
Saat memasuki lorong, terdapat titik-titik kecil berwarna emas yang diyakini adalah emas milik Cathan.
Para penyihir yang selamat mengikuti mana emas itu dengan hati-hati.
Tepat setelah sepuluh menit mereka berjalan melewati lorong, suara ledakan yang sangat keras menghancurkan seluruh ruangan penelitian Cathan di bawah tanah.
Ledakan itu membuat dinding lorong yang mereka lewati bergetar dengan hebat.
Max berdiri dengan ketakutan, "A-apakah mereka da-datang untuk membunuh kita?!"
Alv berteriak, "Tetap ikuti mana ini dan jalan dengan cepat!"
Para penyihir yang selamat mengangguk dan berjalan dengan cepat sesuai dengan yang dikatakan oleh Alv.
Suara nyaring yang memekakkan telinga terdengar menyakitkan.
Para penyihir yang selamat tetap berjalan sambil berusaha untuk menghiraukan apa yang terjadi di belakangnya.
Alv bergumam sambil mencengkram ujung pakaiannya, "Kita harus keluar dari tempat ini terlebih dahulu,"
Para penyihir yang selamat terus berjalan dalam lorong lembap yang terasa familiar.
Entah berapa lama mereka berjalan.
Suara-suara penghancuran itu sudah tak terdengar lagi.
Dinding lorong juga tidak lagi bergetar.
Ini lebih seperti lorong yang sunyi.
Lorong itu tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil.
Mereka bisa berjalan tanpa harus merasakan sesak.
Mana emas milik Cathan juga seperti memberikan mereka sedikit demi sedikit sensasi sejuk meskipun mereka berada di sebuah lorong.
Alv melihat dari kejauhan bagaimana Cathan yang benar-benar terlihat tak berdaya tetapi masih tetap memberikan mereka sumber mana.
Alv, 'Kau memang ... terlalu baik, Cathan ...'
Sedikit demi sedikit sebuah cahaya terlihat dari kejauhan membuat suasana sunyi di dalam lorong tidak terasa nyata.
"Cahaya!!!"
"Hei, apakah itu artinya kita dapat keluar?!"
"Entahlah ..."
"Tidak usah banyak bicara! Cepatlah dalam berjalan!"
"Untuk apa berjalan, lebih baik langsung berlari saja,"
"Apa kau tak lihat apa yang sedang ku bawa??"
"Apa itu artinya kau mengeluh?"
"Kenapa kau?!"
Mereka semua terlihat saling berteriak satu sama lain.
Tetapi bisa dikatakan bahwa mereka merasakan perasaan lega karena cahaya yang mereka lihat mulai menjadi lebih besar.
Para penyihir yang selamat berlari dan mencoba untuk merasakan cahaya itu.
Sebuah cahaya dimana mereka dapat di bawa keluar dari situasi hidup dan mati ini.
Sebuah cahaya dimana mereka bisa menghirup udara tanpa adanya bau terbakar.
Meskipun dalam lubuk hati mereka yang paling dalam, ada perasaan tidak yakin bahwa mereka bisa keluar dalam keadaan hidup.
Apalagi mereka menyadari banyaknya musuh yang menjadi penyebab terjadinya kehancuran pulau ini.
Apa kita masih bisa selamat?
Pertanyaan itu muncul di kepala para penyihir yang selamat.
Apalagi, satu-satunya penyihir yang dapat menggunakan mana dengan leluasa sedang tak sadarkan diri.
Meskipun mereka memiliki Alv di sisi mereka, tetapi untuk saat ini Alv sama tidak berdayanya dengan mereka semua.
Itu menyedihkan.
Penyihir tanpa mana sama saja dengan manusia tanpa kelima indranya.
Mereka hanya bisa bergantung pada seseorang yang memiliki kelima indra nya itu.
Cahaya yang mulai membesar itu menyilaukan mata para penyihir yang selamat.
Suara yang berbeda.
Aroma yang berbeda.
Dan juga suasana yang berbeda.
Lucy yang berlari berkata dengan napas yang sulit, "Apa kalian ... mendengar sesuatu?"
Max yang kini berada di sebelahnya menganggukkan kepalanya dan berkata, "Ya ... Aku rasa ini seperti ..."
Hazel memiliki tatapan yang berbeda saat ia juga mengetahui apa yang sebenarnya sedang menyambut mereka.
Hazel bergumam, "Aku harap mereka belum sampai di sini!"
Xyla mengangguk saat ia juga merasakan sebuah harapan.
Akashi menjadi urutan paling belakang karena ia membawa seseorang di punggungnya.
Alv yang berlari di sebelah Akashi hanya bisa menyemangati dalam diam.
Akashi hanya tersenyum pahit.
****