I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 34~ Maverick



Tabrakan antar senjata yang berbeda membuat ledakan merusak di sekitar mereka.


Tanah mulai terkikis dan hancur hingga ke bawah.


Bebatuan berterbangan membuat pemandangan yang sudah buram karena kabut menjadi lebih tak beraturan.


Cathan mencoba menghindari bebatuan itu dengan melompat ke belakang.


Pria berjubah itu juga menyeret senjata sabitnya ke belakang sambil melompat ke arah lain menghindari bebatuan dan bergumam.


Cathan menggigit bibirnya dan mengayunkan pedang emasnya ke depan saat ia sudah menempatkan kakinya pada sebuah tempat yang menurutnya bagus di jadikan pijakan.


Cathan mulai melompat ke arah depan dengan mana emas yang berputar-putra di sekitarnya.


Seperti mengetahui serangan tersebut, pria berjubah langsung memasang perisai api di depannya.


Drrraaaanngggg!!!!


Suara pedang emas yang bertabrakan dengan perisai api mengeluarkan gemuruh di sekitar mereka.


Cathan mendorong pedang emasnya dan berteriak berusaha memecahkan perisai itu, "Arrrghh!!!"


Pria berjubah itu sepertinya mengetahui bahwa terjadi retakan pada perisai api yang ia buat.


Ia melepaskan perisai api itu dengan mendorongnya ke depan.


Bersamaan dengan hal itu ia juga mengayunkan senjata sabitnya ke arah Cathan sambil melompat memberikan jarak antara ia dengan Cathan.


Karena dorongan yang tiba-tiba itu, perisai api itu langsung hancur berkeping-keping.


Tapi hal ini juga menjadi sebuah tanda kelengahan pada Cathan.


Cathan yang tidak menyadari bahwa senjata sabitnya yang panjang mengincar dirinya setelah perisai api itu hancur, mulai mengenai bahu Cathan.


Cathan melebarkan matanya terkejut dan akhirnya mengeluarkan suara seperti mengeluh, "Urgh!!!"


Karena lengahnya Cathan, mudah bagi si pria berjubah itu menyerang Cathan yang hanya fokus untuk berusaha menghancurkan perisai api tanpa memperhatikan apa yang akan dilakukan pria berjubah itu pada Cathan.


Cathan melompat ke belakang saat ia mulai meremas bahunya dan merapalkan mantra penyembuhan.


Cathan menatap lawan di depannya yang mengayunkan senjata sabit itu ke belakang, "Haah ... Haah ... Bagaimana aku bisa sangat ceroboh?"


Pria berjubah itu menatap Cathan dengan tatapan yang menyilaukan dan mulai berkata dengan semangat yang aneh, "Kuakui kau sangat kuat!"


Cathan melirik sejenak ke arah bahu miliknya dan memastikan bahwa robekan itu sudah tertutup setelah di berikan mantra penyembuhan.


Cathan mengerutkan keningnya dan mengayunkan kembali pedang emasnya itu ke arah depan.


Cathan menarik napas dan menghembuskan napasnya dan mulai melompat.


Setiap hembusan napas yang dikeluarkan Cathan asap berwarna keemasan mulai muncul.


Cathan menghembuskan napasnya, "Fuuhhh ..."


Ia membungkus pedangnya dengan aura keemasan, membuat pedang yang semula sudah bersinar kini lebih bersinar.


Draannnngggg!!!!


Cathan melesat sangat cepat.


Ia melesat ke sana ke sini dengan sangat cepat.


Pria berjubah itu tertawa dengan sangat keras sambil mengayunkan senjata sabitnya.


Api yang membara kembali mulai mengelilingi tubuh pria berjubah itu membentuk sebuah perisai.


Cathan mengerutkan keningnya dan terheran, 'Perisai ini sedikit berbeda dengan yang tadi?'


Pria berjubah itu memasang kuda-kuda dan bersiap untuk mencabik-cabik tubuh Cathan yang penuh dengan mana emas.


Pria berjubah itu berteriak dengan wajah yang menyeramkan, "Kemarilah!!!"


Cathan terus melesat dengan sangat cepat sehingga membuat Cathan terlihat seperti petir yang menyambar.


Dan ...


Braaaannnngggg!!!


Cathan, "Urgh!!"


Pria berjubah itu terbatuk-batuk sambil memukul tanah dengan sangat keras setelah ia terlempar.


Cathan mengerutkan keningnya sangat dalam sambil menggigit bibirnya.


Lingkungan di sekitar mereka sudah sangat rusak.


Cathan mencoba mengatur pernapasannya sambil melihat musuh yang jauh terlempar ke belakang.


Pria berjubah itu tersenyum sambil berkata dengan susah payah, "Jujur saja ..."


Wajah pria berjubah itu bercucuran darah merah yang segar.


Pria berjubah itu mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah sambil menatap tajam ke arah Cathan.


"Kau bukan makhluk biasa, bukan?"


Pria itu mencoba bangkit, "Apa kau mungkin ... sama seperti kami?"


Cathan mengerutkan keningnya dan menatap dengan tatapan buram pria berjubah yang sedang mencoba berdiri di depannya.


Telinga Cathan berdengung sangat keras.


Cathan memegang pedang miliknya lebih keras sambi berpikir, 'Aku ... sudah pada batasku ...'


Cathan menggunakan mana yang sangat banyak pada hari ini.


Bagiamana ia mencoba untuk menyalurkan mana miliknya pada penyihir lain.


Mengirimkan spirit ke luar pulau meminta pertolongan.


Cathan menggertakan giginya, 'Sial! Aku tidak boleh sampai mati disini!'


Pria berjubah itu menggunakan senjata sabit miliknya untuk menopang tubuhnya.


Pria berjubah itu mulai menggumamkan sesuatu sehingga api mulai muncul kembali di sekitar tubuhnya bukan hanya di senjata sabitnya.


Ia tersenyum saat melihat Cathan yang sudah setengah sadar, "Aku ... senang sekali bisa melawanmu ..."


Fuuuuuussssshhhhh


Hembusan angin hangat menerpa wajah Cathan hingga mau tak mau Cathan memejamkan matanya sejenak.


Bersamaan dengan angin hangat yang menerpa wajah, Cathan juga dapat mendengar suara dari pria tersebut, "Maverick ..."


Cathan mengerutkan keningnya saat ia berusaha untuk melihat lebih dekat wajah pria tersebut, "?!"


Pria berjubah itu menatap Cathan di balik api yang berkobar-kobar dan berkata, "Itu adalah namaku ... Dan aku merasa kita akan bertemu lagi ..."


Fussshhh!!!


Bersamaan dengan hilangnya kobaran api dan juga sosok pria berjubah itu, pedang milik Cathan juga pecah.


"Urgh!"


Cathan terjatuh ke depan dengan tatapan yang sudah tak fokus.


Cairan berwarna merah dengan bau yang seperti besi keluar dari mulut Cathan bersamaan dengan batuk yang sangat keras.


Cathan meremas tulang dada miliknya yang terasa sangat sakit, "Haah ... Haah ..."


Cathan mencoba dengan sangat keras dalam menenangkan diri dari mengamuknya mana dalam dirinya, "Aku ... sudah ... "


'Itu menyakitkan!'


Tetesan air keluar dari sudut mata milik Cathan.


'Demetria ...'


Cathan ingin sekali bertemu dengan wanita yang menjadi pasangan hidupnya itu.


Mata biru yang selalu menatapnya dengan hangat dan penuh kasih sayang.


'Zeffyku ... Avyku ...'


Cathan juga ingin memeluk anak-anaknya yang selalu terlihat ceria di depannya.


Bayangan bagaimana putra dan putrinya itu sedang berlarian di halaman rumah seketika terlintas di kepala Cathan.


Bayangan wajah putrinya yang menanyakan hal-hal di sekitarnya dengan wajah yang lucu.


Dan bayangan putranya yang menahan diri agar tidak mencubit pipi miliknya adiknya.


'Aku ... Sangat merindukan mereka ...'


Cathan mengulurkan tangannya yang bergetar ke arah depan.


Seolah-olah akan ada seseorang yang akan meraih tangan Cathan dan menolongnya.


Sedikit demi sedikit tatapan Cathan mulai menggelap.


Suara di sekitarnya pun terdengar semakin sunyi.


Ia bahkan tidak hanya dapat mendengarkan hembusan napasnya yang tidak normal, ia juga mendengar detak jantung miliknya yang berdetak sangat keras.


Brruuukkkk!!!


Cathan jatuh tersungkur dan kehilangan kesadarannya.


****


...Ini adalah pertama kalinya aku membuat cerita yang ada adegan berantemnya😅...


...Jadi mungkin ada kalimat yang terkesan aneh dan gak masuk diakal🤔🤔...


...Kalau ada yang salah mohon untuk dimaafkan ya. Memberikan saran juga boleh......


...Terimakasih🙏...


...Jangan lupa dukungan untuk author🤗🤗 Karena dukungan kalian sangat berarti untuk author🙏...