I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 8~ Selamat Malam, Adikku



Hoaammm...


Zeffrey menggeliat di atas tempat tidur hingga akhirnya dia mencoba untuk bangun.


Matanya menatap jam di atas meja samping kasurnya.


Zeffrey terlihat seperti mengambil sebuah keputusan, ia kemudian turun dari tempat tidurnya.


Zeffrey menggosok matanya dan berjalan tertatih-tatih dengan guling yang ia peluk.


Zeffrey menatap kanan lalu kiri memastikan tidak ada orang lain saat ini.


Ia mengambil sebuah kotak kecil di atas meja belajarnya.


Zeffrey keluar dari kamarnya dan menuju kamar adiknya, Avyanna.


Ibunya selalu menyalakan satu lentera di setiap ruangan di rumahnya.


Karena itu, rumahnya yang sederhana dan dominan kayu itu tidak gelap.


Zeffrey datang ke kamar Avyanna dimana orangtuanya sedang tertidur di kamar mereka.


Zeffrey berusaha sangat untuk berjalan pelan agar tidak membangunkan orangtuanya dan juga adiknya yang berada di ranjang kayu miliknya.


Zeffrey tidak langsung ke ranjang adiknya, melainkan ia berjalan ke meja kecil di tengah ruangan.


Ia meletakkan kotak kecil yang ia bawa dan membukanya.


"Huh..."


Zeffrey melirik ranjang adiknya sejenak dan mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak kecil itu.


Kemudian, Zeffrey berjalan dan sambil menyeret kursi untuk ia pijak saat ingin melihat adiknya.


Zeffrey berusaha agar kursi yang ia seret tidak akan mengeluarkan bunyi sedikitpun.


"Haa... Haaa.."


Zeffrey yang sudah berhasil meletakkan kursi di samping ranjang Avyanna mulai menaikinya.


Zeffrey dapat melihat adiknya yang tertidur lelap dengan mainan di atas yang berputar perlahan.


Zeffrey menatap sejenak dan berbisik, "Cepatlah besar, aneh..."


Setelah itu, Zeffrey menjadi sadar saat menatap mainan Avyanna.


Mainan itu sedikit miring dan jika jatuh nanti bisa mengenai Avyanna yang sedang tertidur.


Zeffrey meletakkan barang bawaan yang berasal dari kotak kecil miliknya di atas perut kecil Avyanna.


Zeffrey mulai mencoba membenarkan mainan yang miring itu agar tidak akan jatuh.


"Bwa?"


"Ha?! Hmmp!"


Mendengar itu Zeffrey terkejut dan hampir saja terjatuh dari atas kursi yang ia pijak.


"Ba?"


Avyanna terbangun saat melihat ada sesuatu yang mencurigakan.


Suara-suara seperti orang mencuri!


Tapi ternyata...


Zeffrey menatap ke bawah dimana mata emas Avyanna bercahaya saat menatap Zeffrey.


Avyanna mengerutkan keningnya, "Baba?"


Zeffrey juga menatap kembali Avyanna dan mulai berbisik, "Sttt... Jangan berisik, aneh,"


"Bwaba? Ba?!"


Zeffrey kembali menatap mainan itu dan mencoba membenarkannya berulang kali.


Di saat Zeffrey sedang serius dengan mainan yang tergantung, Avyanna merasakan ada yang aneh di atas perutnya.


Ia meraihnya dan menatap sebuah boneka kecil berbentuk kelinci.


Itu lucu dan juga lembut.


Avyanna menatap boneka kelinci itu dengan bingung.


'Kenapa ini ada disini?'


Zeffrey merasa bahwa mainan ini sudah tidak miring lagi.


Ia mencoba memastikan berulang kali.


Lalu ia menatap Avyanna yang sedang menatap boneka kelinci yang ia bawa.


Zeffrey menunduk dan berbisik, "Apa kau suka?"


Zeffrey yang tidak mendapatkan respon dari adiknya itu menggerutu dan berbisik dengan jengkel, "Kalau tidak suka kembalikan padaku,"


Zeffrey mencoba meraih boneka kelinci itu dari tangan Avyanna tetapi di tepis oleh Avyanna.


"Heh? Kan kamu tidak suka... Kembalikan padaku,"


Avyanna memegang erat boneka kelinci itu dan akhirnya memutuskan sesuatu.


Avyanna menggeleng kepalanya dan memeluk kelinci itu.


Avyanna tertawa riang, "Babawaba... Bwaababa..."


'Aku sangat menyukainya... Terimakasih...'


Zeffrey terdiam saat melihat Avyanna yang tertawa dan memeluk boneka kelinci itu dengan semangat.


Mata emas Zeffrey yang sama dengan Avyanna bercahaya di dalam ruangan yang remang-remang.


Lalu Zeffrey tersenyum dan berbisik, "Jadi kau suka ya?"


Zeffrey mengelus pipi halus Avyanna dan berbisik, "Kupikir karena kau kecil dan aneh kelinci adalah yang paling cocok untukmu..."


Avyanna mengerutkan keningnya saat Zeffrey mengatakan bahwa ia aneh.


Tapi Avyanna mulai kembali tersenyum dengan bahagia karena ini adalah pertama kalinya ia di berikan sesuatu yang sesuai dengan umurnya.


Karena sebelumnya Zeffrey akan membawa batu, daun, dan bunga yang sudah layu kepada Avyanna.


'Hanya sesuatu yang pada akhirnya akan dibuang dengan cepat,'


Dan juga ini adalah pertama kalinya ia memiliki seorang kakak yang terlihat menyukainya.


Avyanna termenung sejenak saat ia mengingat kehidupan sebelumnya yang terbilang sangat menyedihkan.


'Sepertinya aku...'


"Hm?"


Zeffrey membuyarkan lamunan Avyanna saat ia menyentuh dahi Avyanna dan berkata, "Cepat besar, aneh..."


Zeffrey menatap jam di atas meja dan mengelus kembali pipi Avyanna dengan lembut.


Lalu Zeffrey turun dari kursi itu dan membawa kembali kota kecil dari kamarnya.


Ia berjalan menuju ke pintu keluar dari kamar Avyanna.


Sebelum menutup pintu Zeffrey menatap ranjang Avyanna dan berkata, "Selamat malam, adikku..."


Ckelek...


"..."


Avyanna di tinggalkan di ruangannya yang sunyi.


Avyanna memeluk boneka kelinci yang diberikan Zeffrey dengan erat.


Lalu Avyanna berpikir.


'Ayah yang baik dan juga konyol...'


'Disamping itu, ibu yang cantik dan juga tegas...'


Avyanna menoleh ke arah boneka kelinci yang sebesar wajahnya itu dalam diam.


'Dan kakak yang ternyata menyukainya...'


Karena selama ini wajah Zeffrey terlihat seperti kesal saat Avyanna selalu bersama kedua orangtuanya, Avyanna berpikir bahwa kakaknya itu tidak suka padanya.


Tapi ternyata Avyanna lupa hal-hal kecil yang di lakukan kakaknya selama ini.


Avyanna sering diberikan hadiah yang berasal dari alam karena Avyanna sering menunjukkan ketertarikan pada pohon bahkan burung.


Zeffrey juga sering mampir ke kamarnya hanya sekadar mengucapkan salam.


Setelah itu, Zeffrey hanya akan diam sambil menatap Avyanna.


'Dia mengatakan bahwa aku mirip kelinci kan?'


Pipi Avyanna yang sudah memerah tambah merah kembali karena merasa malu atas pikirannya yang salah selama ini.


'Zeffrey yang lucu...'


Avyanna tersenyum.


Hatinya dipenuhi perasaan hangat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


'Semoga... Aku tidak akan kehilangan keluargaku di kehidupanku saat ini...'


'Aku berharap kali ini aku...'


****