
Setelah burung kecil itu memberikan sebuah berita kepada seorang anak berumur sepuluh tahun yang berjalan sambil termenung.
Anak itu langsung berlari dengan kakinya dengan cepat.
Burung kecil itu terbang mengikuti anak itu dan mencoba untuk bertengger di bahu anak itu.
Tetapi tidak membutuhkan waktu lama, anak itu segera berhenti saat ia melewati sebuah tempat.
Burung kecil itu terbang sambil memiringkan kepalanya dengan bingung.
Karena anak itu sudah berhenti berlari dan mulai terdiam, burung kecil itu mulai bertengger di bahu anak itu.
Seekor burung biru kecil bertengger dengan manis di bahu seorang anak yang sedang terdiam.
Burung kecil itu tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh anak tersebut.
Burung kecil itu mulai mematuk pelan dagu bulat anak itu sambil berkicau.
Anak itu seperti tersadar dari lamunannya dan segera menoleh ke arah burung kecil itu.
"Apa kamu mengikuti saya?"
Burung kecil berwarna biru itu mengangguk seolah mengerti apa yang dikatakan oleh anak ini.
Anak itu mengangguk, "Baiklah,"
Sebuah jari pendek terangkat dan menunjuk sesuatu di dalam tempat dimana mereka sedang berhenti sekarang.
"Apa kamu mau menemani saya masuk ke dalam?"
Burung kecil itu memiringkan kepalanya sambil melihat mata emas yang indah milik si anak.
"..."
Burung kecil itu berkicau pendek menandakan persetujuan pada pertanyaan si anak.
Anak itu mengangguk lagi dan mulai berjalan perlahan menuju tempat yang ia tunjuk.
"Saya seperti ... melihat sesuatu di sana,"
Burung itu hanya bertengger dengan aman dan nyaman di bahu anak tersebut.
Anak itu berjalan cukup lama karena ia berjalan dengan perlahan.
Kepala burung kecil itu tergantung karena ia merasakan rasa mengantuk.
Tempat dimana mereka masuk sudah tertutup oleh pepohonan pinus yang tinggi dan besar.
Anak itu terlihat memakai pakaian yang cukup tebal tetapi ia mulai memeluk dirinya sendiri lebih keras.
Burung kecil itu hampir saja memejamkan matanya tetapi kepala burung kecil itu tersentuh oleh tangan si anak.
"Apakah kamu tidak kedinginan?"
Burung kecil itu melebarkan sayap birunya sambil berkicau.
Anak itu hanya terkekeh pelan, "Saya pikir burung sekecil kamu seharusnya sudah mati membeku sebelum kita memasuki tempat ini,"
Burung kecil itu berkicau rendah sambil terus mengepakkan sayapnya.
Anak itu tersebut sejenak sebelum dia menghela napas.
Helaan napas yang dikeluarkan anak itu menimbulkan asap putih yang tebal.
"Disini sangat dingin,"
Burung kecil itu memiringkan kepalanya dan menoleh ke arah sekelilingnya.
Burung kecil itu bingung mengapa mereka sampai ke tempat ini, lalu ia mematuk dagu si anak sambil berkicau.
Anak itu sedang menyipitkan matanya segera menoleh ke arah si burung kecil yang bertengger di bahunya.
Anak itu berusaha sekeras mungkin menahan rasa dingin dan berbicara dengan perlahan, "Ada ... apa ..."
Burung itu berkicau sambil terus mengepakkan sayapnya.
"Mengapa?"
Burung itu memiringkan kepalanya dan dengan cepat mendekatkan tubuhnya yang kecil ke arah leher si anak.
Anak itu yang masih memeluk tubuhnya sendiri agar tidak kedinginan segera terkejut saat ada hawa hangat yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
Dari arah leher si anak, burung kecil itu berkicau.
"Apakah kamu yang membuatku merasa hangat?"
Burung kecil itu berkicau lagi dan mengepakkan sayapnya dengan semangat.
Anak itu tersenyum, "Terimakasih,"
Burung kecil itu menatap mata anak itu yang bersinar dengan indah.
Burung kecil itu ingin mematuk mata emas itu dan mengambilnya.
Tetapi, dengan segera burung kecil itu membuang pemikirannya karena merasa nyaman dengan anak manusia.
Anak itu terus berjalan tetapi ia tidak lagi memeluk dengan erat tubuhnya yang menggigil.
"Saya rasa ibu dan Avy akan merasa cemas,"
Burung kecil itu memiringkan kepalanya lagi seolah bertanya siapa kedua manusia itu?
Anak itu terkekeh dan mengelus kepala burung kecil itu sambil berkata, "Kamu pasti salah satu dari spirit angin, ya?"
Burung kecil itu berkicau rendah sambil menatap anak itu.
"Benar ya? Tetapi sepertinya kamu bukan spirit yang dipanggil ibu. Kamu terlihat berbeda,"
Burung kecil itu tetap berkicau dengan rendah dan mencoba mematuk dagu si anak.
"Kalau begitu ... kamu ini siapa?"
Burung kecil itu berkicau cukup lama dan si anak tetap berjalan sambil mendengarkan kicauan burung kecil itu.
Butuh waktu lama hingga si anak akhirnya mencoba untuk meringkas informasi yang di beritahukan oleh burung kecil itu.
"Jadi maksudmu ada seorang lain yang memanggilmu. Tetapi karena kamu berbaur dengan spirit angin yang dipanggil ibu saya, kamu membantu kami dalam mencari ayah kami ya?"
Burung kecil itu berkicau senang sambil mengepakkan sayapnya dengan antusias.
Burung kecil itu tidak menyangka akan ada manusia yang mengerti bahasa burung.
Si anak terkekeh dan berkata, "ibu saya merupakan penyihir yang melakukan kontrak dengan spirit. Dan juga ... saya mendengar bahwa kelahiran saya juga dibantu oleh para spirit,"
Burung kecil itu tercengang dan mengeluarkan suara seperti cegukan tetapi lebih nyaring dari biasanya.
Anak itu terkekeh dan berkata, "Mungkin karena itulah, saya bisa mendengarkan para spirit berbicara,"
Burung kecil itu mengepakkan sayapnya dan mematuk pelan dagu si anak.
"Ah? Nama saya?"
Burung kecil itu mengangguk.
Anak itu tersenyum, "Perkenalkan nama saya adalah Zeffrey Syvonne,"
Burung kecil itu mengangguk dan mulai terbang.
Burung kecil itu terbang sambil mengelilingi Zeffrey yang sedang diam di tempatnya.
Zeffrey bingung, "Ada apa?"
Burung itu tidak berkicau untuk menjawab pertanyaan Zeffrey.
Zeffrey dapat melihat setiap kali burung itu memutarinya, ada sebuah segel sihir yang muncul.
"Apa ini?"
Burung itu berkicau dan Zeffrey segera mengerutkan keningnya dengan bingung, "Kamu ingin mengadakan kontrak dengan saya?"
Burung kecil itu berkicau lagi dan segel sihir yang lainnya muncul mengelilingi Zeffrey.
"Tetapi bukankah ada orang lainnya yang memanggilmu? Apakah memang bisa mengadakan kontrak dengan saya?"
Burung itu berkicau lagi sambil mengangguk kepalanya.
"Tetapi ... saya sangatlah lemah,"
Burung itu berkicau dan segel sihir lainnya muncul.
Zeffrey menatap sambil memutar burung kecil biru itu.
Untuk sejenak burung yang sedang terbang itu memiliki warna yang berbeda dan juga ukurannya yang lebih besar.
Zeffrey mengerutkan alisnya, "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Sebuah segel muncul lagi tepat di atas kepala Zeffrey.
Zeffrey yang melihat banyaknya segel sihir di sekelilingnya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"!!!"
Sebuah suara terdengar dari suatu tempat di dalam segel sihir tersebut.
'"Ayo, lakukan kontrak denganku!"'
****
...Maaf untuk beberapa hari ini uploadnya gak teratur dikarenakan sibuk di real life🙏🙏...
...Di tunggu untuk next chapternya🤗...
...Jangan lupa terus dukung author ...
...dengan like👍 dan commentnya 💬...
...Terimakasih🙏...