I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 24~ Rencana (2)



Max meneguk air di mulutnya dan mengangguk dengan canggung.


Alv menatap Cathan, "Hei, tunjukkan pada anak-anak ini bakatmu,"


Cathan mengerutkan alisnya, "Kau ini,"


Cathan menggosokkan kedua tangannya dan bergumam sesuatu.


Seketika terowongan redup yang awalnya di terangi hanya oleh cahaya tanaman mulai segera terang seperti siang.


"Hah?! Apa yang terjadi?"


"Waaahhh! Mataku!"


"Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?"


Bukan hanya para penyihir muda yang mulai mencoba untuk menyesuaikan mata mereka dengan cahaya yang tiba-tiba, melainkan penyihir yang lainnya juga mulai bertanya-tanya dan kebingungan.


Alv menepuk tangannya dan berkata, "Kalian tidak merasakan sakit ataupun sesak bukan?"


"Faktanya seorang penyihir tidak akan bisa bernapas dengan baik di sebuah tempat yang tidak ada mana sama sekali,"


Alv menatap langit-langit terowongan tersebut dan berkata, "Kalian masih baik-baik saja hingga saat ini meskipun tidak dapat mengeluarkan sihir karena sumber mana kita bukan lagi berasal dari mana pulau. Melainkan, berasal dari si manusia super ini,"


Alv merangkul bahu Cathan dan tersenyum penuh dengan kesombongan.


Max yang menggosok matanya berulang kali untuk menyesuaikan matanya berkata dengan bingung, "Hah? Apa maksud anda, Tuan?"


Akashi yang berdiri di sampingnya membuka telapak tangannya dan mencoba mengeluarkan sesuatu.


"Api?!"


"Itu api? Bukankah Akashi mengeluarkan api?"


"Bagaimana bisa kau menggunakan sihir? Padahal tadi tidak bisa?"


Hazel menatap tak percaya dan juga mencoba sesuatu.


Dimana cahaya kecil muncul di ujung jari telunjuknya.


Hazel terkejut tetapi ia tersenyum, "Aku ... Bisa menggunakan sihir dengan mudah tanpa merasa sesak?"


Yang lainnya juga mencoba dan menjadi terkejut sendiri.


Selama entah beberapa jam ataupun hari mereka sangat sulit untuk menggunakan sihir akhirnya mereka dapat menggunakannya.


"Hei, lihat aku bisa mengeluarkan air lagi,"


"Aku menggunakannya untuk mengeluarkan tanaman cahaya lagi,"


Akashi menatap Cathan dan Alv yang sedang tersenyum sombong.


"Jangan bilang?"


Alv tersenyum dan berkata, "Pikiranmu benar, anak muda. Sumber dari mana kalian saat ini adalah Cathan,"


Cathan mulai mengangguk dan meredupkan cahaya yang ia keluarkan kembali ke semula.


Bersamaan dengan hilangnya cahaya tersebut menghilang juga beberapa sihir yang dicoba oleh para penyihir.


Mereka menjadi terkejut dan wajah mereka mulai gelap kembali.


Mereka tenggelam dalam pikiran mereka sendiri.


Salah satunya adalah Xyla, ia memiliki banyak pertanyaan yang muncul di kepala miliknya.


Xyla memainkan rambutnya dan berpikir, 'Bagaimana bisa seorang penyihir menjadi sebuah sumber mana?'


'Apa mungkin ia membagikan mana itu kepada semua penyihir atau bagaimana?'


Tetapi pemikiran tersebut di simpan oleh Xyla.


Satu penyihir membuka mulutnya dan bertanya, "Apa yang dapat dilakukan oleh penyihir tanpa mana yang menjadi sumbernya?"


Cathan mulai membuka mulutnya dan berkata, "Kalian sudah mengerti? Tidak akan mungkin jika aku keluar dan meninggalkan kalian hanya untuk memeriksa situasi saat ini,"


Alv mengangguk, "Ya, jika kalian ingin hanya kami berdua yang selamat. Hal itu sudah membuatku merasa kalian adalah penyihir yang memiliki empati yang bagus,"


Akashi mengerutkan keningnya dan tidak menyembunyikan wajahnya yang sedang kesal.


Xyla menatap kedua telapak tangannya dan berkata, "Kalau begitu, lebih baik kami ikut saja anda berdua saja,"


Akashi menatap Xyla tak percaya, "Apa kau?!"


Xyla menatap Akashi dan berkata, "Lalu apa? Apa untuk beberapa saat yang lalu kau sudah merasa menjadi pemimpin yang hebat?"


Akashi, "Berani sekali kau? Padahal tadi kau juga setuju dengan pendapatku!"


Xyla menoleh ke arah lain dan berkata, "Apa tadi aku bicara bahwa aku mendukungnya?"


Akashi menjadi kesal, "Apa maksudmu dengan si rambut merah? Aku memiliki nama bocah!"


Lucy mengerutkan keningnya, "Ah?! Aku bahkan baru bertemu denganmu kali ini,"


Akashi, "Apa?!"


Max yang mulia merinding meraih bahu Akashi dan berkata dengan nada gentar, "Su-sudahlah, Akashi. Jangan diperpanjang lagi,"


Akashi, "Siapa yang sebenarnya memperpanjang masalahnya?!"


Max, "I-itu ..."


Cathan yang menatap pemandangan itu sedikit mengerutkan keningnya, 'Sikap Akashi itu benar-benar seperti api ya,'


Cathan mulai membuka mulutnya dan berkata, "Lebih baik kita semua berjalan bersama hingga mencapai ujung terowongan. Setelah itu, kita bisa membagi beberapa kelompok nantinya,"


Para penyihir muda itu saling memandang dan akhirnya mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Cathan.


Max terlihat kecewa.


Mereka membutuhkan waktu yang lama untuk membuat rencana ini.


Tetapi pada akhirnya tidak berguna dan bahkan rencana ini tidak dilaksanakan seperti pada awalnya.


Di saat semua penyihir muda itu berbincang dengan Cathan dan juga Alv, Max menoleh ke arah lainnya dan menemukan Akashi yang berdiri sendirian sambil menatap kedua telapak tangannya.


Max dapat melihat tatapan kosong dari Akashi.


Tetapi ia lebih memilih diam untuk saat ini.


Karena seperti yang diketahui oleh Max, Akashi tidak akan suka dihibur di saat-saat seperti ini.


Max, "Haah ..."


"Lalu, Tuan Syvonne. Apakah anda tidak bisa membuat seperti tadi lagi?"


Lucy menatap dengan mata yang berbinar-binar tanda bahwa ia sangat mengharapkannya.


Lucy memainkan tangannya dan terus menatap Cathan, "Kita bisa menggunakan sihir teleportasi. Bukankah akan lebih cepat jika menggunakan sihir itu?"


Para penyihir muda itu saling memandang dan pada akhirnya satu di antara mereka membuka mulutnya dan berkata, "I-itu benar juga, Tuan Syvonne,"


Beberapa dari mereka yang mendengar menganggukkan kepala menyetujui pernyataan Lucy.


Cathan menggaruk kepalanya dan berkata dengan santai, "Ya, bisa saja,"


Semuanya mulai memasang wajah senang dan ada beberapa yang sudah mulai mempersiapkan mantra yang akan digunakan untuk teleportasi.


Tetapi, Cathan melanjutkan, "Jika kalian ingin aku mati dengan cepat,"


"Haah ... Aku benar-benar sangat lelah ..."


"Su-sungguh, saya sudah tidak tahan,"


"Sampai kapan kita harus ... Terus berjalan seperti ini?"


Para penyihir baik yang muda maupun yang sudah tua terus mengeluh di sepanjang perjalanan mereka.


Setelah beberapa penyihir muda merengek meminta Cathan untuk memberikan mana agar mereka bisa menggunakan mantra teleportasi pada akhirnya semua itu berakhir dengan ditolak.


Alv berjalan dengan santai sambil membawa penyihir muda yang terluka di bagian perutnya.


Wajah Alv terlihat biasa saja tetapi ia juga sangat mengkhawatirkan istri dan juga anak yang di kandung oleh istrinya itu.


Cathan juga tidak terlihat baik.


Ia terus menerus berharap ada burung lainnya yang akan dikirim oleh Demetria.


Tetapi semua harapannya tidak terjadi.


Sekitar dua hari mereka berjalan di dalam terowongan itu setelah Alv memberitahukan tentang informasi tersebut kepada para penyihir.


Berbeda dengan para penyihir muda, penyihir yang sudah tua terkesan lebih diam dan tidak menanggapi secara serius informasi-informasi tersebut.


Dan juga mereka yang pada awalnya bersemangat dan tanpa henti berjalan menuju ujung terowongan.


Kini akhirnya menjadi lebih sering untuk beristirahat.


Karena hal inilah perjalanan mereka menjadi membutuhkan waktu yang lebih banyak.


Max mulai mengatur pernapasannya saat ia duduk untuk mengistirahatkan kakinya yang malang.


Ini belum ada waktu dua jam setelah mereka terakhir beristirahat sebelumnya.


Tetapi para penyihir tua yang sekarang sulit untuk menggunakan sihir sering meminta waktu untuk beristirahat.


****