
"Mereka pasti memiliki rencana,"
Alv mengangguk dengan pernyataan Cathan dan dengan diam mengikuti Max di belakang.
Max membawa Cathan dan juga Alv menuju tempat dimana para penyihir muda yang berkumpul sedang berdiskusi.
Alv dapat melihat Akashi yang melipat tangannya dan menoleh ke arah lain seperti tidak ingin melihat kedatangan mereka berdua.
Para penyihir wanita yang biasanya sangat acuh, mereka juga berkumpul di sana.
Hazel, Xyla, dan juga si gadis dengan rambut merah muda panjang yang terikat dua, Lucy.
Lucy mengerutkan keningnya dan menguap saat melihat Cathan dan Alv yang telah hadir tidak terlalu tertarik.
Cathan memasang wajah datar dan melihat sekeliling sambil berpikir, 'Yang berkumpul hanya penyihir muda ya,'
Alv juga memandang sekeliling dan menangkap seseorang yang juga ikut berkumpul.
Alv tersenyum dan berpikir, 'Dia juga sepertinya kepikiran ya,'
Max yang sudah menempati dirinya yang berada di tengah-tengah para penyihir itu mulai menepuk tangannya dan membuat batuk palsu yang terdengar seperti dipaksakan.
Max memasang wajah bangga yang aneh dan berkata, "Ehem, para hadirin yang terhormat terimakasih karena sudah hadir di tempat yang ..."
Akashi terlihat jengkel dan memukul punggung Max dengan keras hingga bunyinya menggema di dalam terowongan.
Max mengelus punggungnya dan berkata, "Kejam sekali kau, Akashi!"
Akashi melipat tangannya dan berkata, "Cepat katakan atau kau akan aku pukul lagi!"
Max menatap Akashi ketakutan dan mulai membenarkan dirinya.
"Ehem. Saudara-saudaraku para penyihir! Seperti yang sudah kita ketahui, ada tiga informasi yang membuat terkejut dari Tuan Imorgent,"
Max melihat sekelilingnya dan melanjutkan, "Informasi yang membuat kita merasa bahwa kita menjadi makhluk yang sangatlah malang dan makhluk ya ..."
Akashi meletakkan tangan di bahu Max dan berkata dengan senyum, "Dipersingkat,"
Max mengangguk dan berkata lagi, "Baiklah, akan saya singkat saja,"
Max menunjukkan jari telunjuknya dan berkata, "Pertama. Ujung terowongan yang tidak di ketahui,"
Lalu berlanjut dengan menambah jari tengah dan berkata, "Kedua. Menara sihir telah hancur,"
Lalu Max menambahkan jari manisnya dan berkata, "Ketiga. Pulau sihir lebih tepatnya pulau Witchery telah hancur,"
Max mengambil kesimpulan dan mengatakannya, "Karena itu sihir kita terganggu??"
Alv menganggukkan kepalanya dan berkata, "Akan ku jelaskan. Pada dasarnya pulau ini memiliki kekayaan mana dikarenakan adanya pohon Jacaranda berwarna putih dan juga seekor burung yang menjaganya,"
Akashi mengerutkan keningnya dan bertanya, "Karena makhluk itu? Lucu sekali,"
Cathan membantu menjelaskan, "Itu adalah faktanya. Karena kedua makhluk itu adalah spirit penjaga pulau,"
"Spirit?"
"Apa maksudnya spirit yang itu?"
Mendengar perkataan Cathan semua mulai berbisik satu sama lain.
Lucy mengerutkan keningnya dan bertanya, "Tetapi bukankah spirit sudah musnah 2000 tahun yang lalu? Tidak mungkin masih ada spirit di dunia ini,"
Cathan menggelengkan kepalanya, "Tidak juga. Beberapa dari mereka masih hidup dan kedua makhluk itu adalah spirit yang sudah sangat lama tinggal di pulau ini merupakan sebuah fakta yang bahkan di ketahui keluarga kekaisaran dan juga penduduk di sini,"
Lucy, "Itu ..."
Hazel menahan bahu Lucy dan mulai membuka mulutnya, "Keluarga kekaisaran dan juga para penduduk mengetahui hal itu? Lucu sekali, bagaimana bisa saya yang merupakan penduduk asli pulau ini bahkan tidak mengetahuinya?"
Alv mengangkat bahunya, "Kalau begitu kau bukanlah penduduk asli pulau Witchery,"
Hazel mengerutkan alisnya, "Apa?! Beraninya?!"
Alv dengan santai berkata, "Jika kau menganggap dirimu adalah penduduk asli karena kau lahir dan besar di pulau ini, berarti kau salah besar,"
Hazel seperti tersulut amarah, ia mulai meninggikan suaranya, "Apa kau mengejek tentang aku?"
Cathan mencoba melerai mereka dan berkata, "Kau salah paham, Hazel,"
Hazel sangat marah, "Salah paham?"
Cathan mengangguk, "Penduduk asli yang kami maksud adalah penduduk yang sudah lama berkaitan dengan dua makhluk itu,"
Alv menambahkan, "Bahkan jika kau lahir dan tinggal di pulau ini lebih lama itu tidak menjadikanmu sebagai penduduk asli pulau ini,"
Cathan, "Penduduk asli merupakan pengguna spirit. Mereka memiliki jiwa yang terikat dengan dua makhluk itu. Saat mereka membentuk sebuah keluarga nantinya, anak-anak yang dilahirkan dari keluarga itu akan memiliki penglihatan,"
Alv menambahkan, "Penglihatan untuk melihat para spirit,"
Hazel terdiam saat mendengar pernyataan tersebut.
Cathan, "Karena itulah kami menyebut mereka dengan sebutan penduduk asli pulau Witchery,"
Hazel tidak lagi protes dan hanya diam.
Ia terlihat merenung.
Xyla yang melihat hal itu mulai membuka mulutnya dan bertanya, "Jika pemikiranku benar, apakah kalian ingin menggunakan mereka?"
Cathan menggelengkan kepalanya, "Bukan menggunakan. Tetapi meminta bantuan mereka,"
Xyla mendecakkan lidahnya, "Tch, bukankah itu sama?"
"Itu berbeda,"
Akashi yang melipat tangannya mulai bertanya, "Kenapa anda berpikir untuk meminta bantuan mereka? Apakah mereka akan membantu para penyihir seperti kita?"
Cathan mengangguk, "Mereka akan membantu,"
Akashi mengerutkan alisnya, "Mengapa anda yakin bahwa mereka akan membatu?"
Cathan menunduk, "Aku yakin saja,"
Alv yang menatap hal tersebut mulai berkata hal lainnya, "Apa kalian sudah membuat rencana?"
Max mengangguk dan berkata dengan semangat, "Ya! Kami sudah memilikinya, tapi karena ini jugalah kami memanggil anda berdua,"
Alv mendorong rambutnya dan bertanya, "Apa itu? Jika itu membuat kami menjadi umpan aku rasa aku akan menjadikan kalian objek penelitian ku terlebih dahulu,"
Max yang mendengar hal itu mendadak menjadi tegang dan berkata dengan terbata-bata, "A-anu ... Itu ... Tidak ... Seperti ... Yang ... Anda ... Berdua ... Pikirkan,"
Akashi berkata dengan alis yang terkerut, "Lalu siapa? Kami para pemuda? Kami yang bahkan tidak bisa di bandingkan dengan kacung menara sihir ini dapat berbuat apa?"
Alv menatap tajam Akashi dan berkata dengan tenang, "Bilang saja kalau kau takut, bocah,"
Akashi seperti tersulut amarah saat mendengar apa yang dikatakan Alv, "Apa? Siapa yang kau sebut bocah?!"
Max meraih tangan Akashi dan berkata dengan nada gemetar, "Akashi! Tolong tenanglah!"
Max meraih tangan Akashi dan berkata dengan nada gemetar, "Akashi! Tolong tenanglah!"
Akashi melepaskan tangan itu dengan kasar dan menatap Alv dengan wajah yang marah.
Cathan menghela napas dan menatap Alv dengan tak percaya, 'Apa yang?'
Alv balas menatap Cathan dan hanya mengangkat bahunya dengan santai sambil tersenyum anehm
Cathan menggelengkan kepala dan mulai berdeham untuk menarik perhatian dari para penyihir muda tersebut.
Cathan berkata, "Ehem. Kalau begitu, bisakah kalian menjelaskan rencana itu kepada kami terlebih dahulu? Mungkin saja kami bisa memberikan masukan atau pendapat yang jauh lebih baik nantinya,"
Akashi menggunakan sesuatu yang tak dapat didengar.
Sedangkan Max mulai membuat wajah senang dengan senyum yang lebar.
Max maju selangkah dan mulai membuka mulutnya, "Rencana kami sederhana saja, Tuan!"
"Kami ingin anda berdua keluar dari terowongan ini dan memberitahukan situasinya dengan baik pada kami,"
Alv mulai mendecakkan lidahnya dan berkata, "Kalian tidak akan bisa menggunakan sihir sama sekali. Bahkan, jika kalian ingin menggunakan keluarnya kami untuk membuat para penyihir lainnya memberikan batu sihir,"
Cathan menatap Alv dengan bingung, "Apa maksudmu?"
Alv melipat tangannya dan berkata dengan sarkas, "Para penyihir muda ini ingin merampok beberapa batu sihir yang kau teliti,"
Cathan tidak bisa berkata-kata, "..."
Bukan hanya Cathan yang terdiam melainkan Max yang mulai keringat dingin saat mendengar pernyataan itu.
Dan penyihir lainnya termasuk Akashi dan tiga wanita penyihir langsung membuang wajah mereka.
Max bergumam dengan keringat dingin, "Mereka tidak bisa dibohongi sama sekali,"
Alv menatap Max yang sedang tertunduk dan berkata dengan suara yang rendah, "Ingin mengetahui sesuatu?"
****