
"Hei!"
Anak itu dapat mendengar sebuah suara.
Ia berusaha untuk menggerakkan kepalanya.
Entah mengapa, ia merasa bahwa ini adalah sebuah harapan.
Mungkin sebenarnya ia juga akan mati.
Tapi anak itu memberanikan diri untuk berbalik dan ia hanya dapat melihat siluet seseorang.
"Ternyata kau masih hidup ya..."
Anak perlahan menggerakkan badannya dan mulai membuka mulutnya.
"Hah?"
Anak itu menggeser tubuh dengan lemah.
Ia menyeret tubuh kurusnya mendekat ke arah seseorang itu.
Orang itu mundur dan berkata, "Kau lebih tampak seperti mayat dibandingkan manusia hidup,"
Anak itu membenarkan dalam hati perkataannya.
Ia sudah tidak makan lebih dari seminggu.
Dan ia hanya minum air dari pipa pembuangan kotoran.
Menyedihkan.
Menjijikan.
Anak itu masih berusaha membangkitkan tubuhnya.
Ia ingin mengatakan pada orang ini bahwa dia masihlah manusia.
Bukan mayat.
Orang itu berhenti berjalan mundur, "Kau..."
Anak itu mengangkat wajahnya hanya untuk melihat siapakah orang itu.
Wajah orang itu gelap sama seperti langit malam, tetapi suaranya membuat anak itu merasa seperti berada di tengah- tengah taman.
Sebuah kalimat lirih keluar dari mulut anak itu, "Aku ingin hidup..."
"Hah?! Apa yang kau katakan?"
Anak itu menggigit bibirnya yang penuh dengan luka, menambahkan luka lainnya di bibirnya yang pucat.
"Aku... Ingin... Haaaa... Haaaa..."
Anak itu kesulitan bernapas.
Ia sama sekali tidak memiliki tenaga yang tersisa.
Bahkan untuk mengeluarkan setetes air mata pun ia tak mampu.
Apakah mungkin akan mati disini?
Orang itu sepertinya heran, karena itu ia bertanya, "Apa yang ingin kau katakan? Hei?! Apa kau mati?!"
Anak itu lebih kuat dalam menggigit bibirnya.
Ia merasa bahwa ini adalah kesempatan.
Ia tak bisa membiarkannya begitu saja.
Anak itu memejamkan matanya.
Menarik napas dalam- dalam.
Anak itu membuka mulutnya dan orang di seberangnya itu menunggu dengan sabar.
Anak itu mulai berkata, "Aku... Ingin.."
"Ya? Kau ingin?"
Ini mungkin adalah tenaga terakhir.
Tapi anak itu percaya akan ada sesuatu yang terjadi padanya kali ini.
'Bahkan jika aku mati disini... Aku mungkin tak akan menyesal,'
Diberikan kesempatan untuk bertemu dengan manusia yang berbeda.
Manusia yang tidak menembak sembarangan.
Manusia yang tidak dengan perut besar dan memakai pakaian yang kekecilan.
Manusia yang memegang botol kaca lalu melemparkan kepada orang lain hingga mati.
Manusia yang...
'Ya... Manusia ini berbeda... Aku yakin... Aku...'
Anak itu menelan air di tenggorokannya dan mulai berteriak, "AKU INGIN HIDUP!!!"
Anak itu berusaha menatap wajah orang itu, ingin tahu bagaimana ekspresinya.
Tapi sayang, anak itu menutup matanya perlahan tanpa mengetahui bagaimana orang itu bersikap.
"..."
"..."
"..."
Itu sangat hening.
Orang itu hanya menatap anak kecil yang baru saja pingsan karena berteriak.
"Heh..."
Orang itu tersenyum.
"Kau ingin hidupkan?"
Orang itu mulai terkekeh.
"Bahkan, jika kau hidup di neraka?"
"Konyol,"
Orang itu mulai mengangkat tubuh anak yang kurus.
"Jangan salahkan aku jika kau akan lebih meminta mati nantinya,"
Lalu membawa anak itu bersamanya.
***
Sudah 2 tahun berlalu sejak saat terakhir Avyanna mulai bermimpi.
Mimpi kali ini sama seperti sebelumnya.
Avyanna bermimpi tentang kehidupan masa lalunya.
"Haah..."
Avyanna menatap langit- langit kamarnya yang terbuat dari kayu dalam diam.
'Ini membuatku merasa tak nyaman sama sekali...'
Avyanna mulai menepis perasaan dan pemikiran yang buruk jauh- jauh.
Avyanna mulai turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke pintu untuk keluar dari kamarnya.
"Eh... Avyku? Kau sudah bangun? Kemarilah, sayang,"
Avyanna mengangguk dan berkata, "Ya, ibu..."
Avyanna berjalan mendekati Demetria yang sedang mengangkat sebuah nampan.
Demetria meletakkan nampan itu di atas meja dan menoleh ke arah Avyanna yang berjalan.
"Dimana ucapan selamat pagi pada ibumu ini, huh?"
Avyanna terkekeh dan mendekati Demetria yang berlutut dan mengetuk pipinya dengan jari telunjuk.
Avyanna mengecup pipi Demetria lalu berkata, "Celamat paji, Bu..."
Demetria tersenyum, "Selamat pagi juga, Avyku..."
Lalu Demetria menggendong Avyanna dan meletakkannya diatas kursi yang lebih tinggi di banding kursi lainnya.
Avyanna menatap santapan di atas meja dan bertanya, "Kapan Avy boleh makan dajing, Bu?"
Demetria yang sedang mengaduk sesuatu di dalam panci menoleh kearah Avyanna dan berkata, "Tunggu hingga kamu sedikit lebih besar..."
"Ibu, tapi Avy sudah memiliki jiji..."
Demetria tertawa, "Hahaha... Avyku, kau belum boleh menggigitnya,"
Avyanna hanya membalas dengan wajah yang tertekuk sambil menyaksikan ibunya memasak.
Avyanna menatap dua kursi yang kosong dalam diam.
'Ayah dan kakak pasti belum kembali...'
Karena beberapa bulan yang lalu terjadi sebuah insiden yang merepotkan.
Dalam sebulan hal ini membuat Cathan sangat sibuk, sedangkan Zeffrey yang merupakan anak pertama harus mengikuti ayahnya sambil belajar.
Avyanna menghela napas dalam diam.
Demetria sibuk bersenandung sambil memasak.
Avyanna menangkupkan tangannya dan bersandar di atas meja sambil memandang ibunya, Demetria.
Selama ini tidak ada hal khusus yang berubah.
Hal yang berubah hanya berkaitan dengan Avyanna.
Seperti Avyanna yang mulai berjalan dengan baik tanpa terjatuh.
Gigi Avyanna juga sudah mulai tumbuh dengan baik.
Avyanna yang sudah mulai berbicara meskipun pelafalannya masih salah.
Bahkan, saat pertama kali Avyanna memanggil Cathan dan Demetria dengan sebutan Ayah dan Ibu mereka mulai menangis.
Zeffrey juga tidak banyak berubah, ia masih sama seperti sebelumnya.
Hanya saja, Zeffrey semakin lembut pada Avyanna.
Kata- katanya juga tidak lagi membuat kesal.
'Apa mungkin karena ia sudah mulai tumbuh?'
Dan Zeffrey sudah mulai tidak lagi memanggil Avyanna dengan sebutan aneh, meskipun terkadang ia menyebutkannya juga.
Zeffrey juga tidak membawa batu, daun, dan bunga lagi.
Tapi, Zeffrey lebih sering membawa boneka, sapu tangan, kalung, dan anting yang kemungkinan merupakan buatan tangannya sendiri.
Avyanna terkekeh berpikir bahwa wajah acuh tak acuh milik Zeffrey saat memberikan barang- barang itu kepada Avyanna.
"Heh? Ada apa, Avy?"
Avyanna menghela napas dan berkata, "Tidak, Bu... Avy hanya penasalan kapan ayah dan kakak akan pulang?"
Demetria tersenyum saat ia mulai menyajikan kuah dengan wangi yang lezat ke atas mangkok Avyanna.
"Kemungkinan mereka tidak akan pulang lagi hari ini, Avyku..."
Avyanna hanya mengangguk sambil menyendok masakan ibunya masuk ke mulutnya.
Demetria memperhatikan Avyanna dan berkata, "Apakah mungkin Avyku merindukan mereka?"
Avyanna menatap Demetria dan mengangguk lagi, "Ya... Avy lindu ayah dan juga kakak ..."
Demetria tersenyum, "Avyku sangat lucu... Mungkin karena Avy merindukan mereka. Karena itu pastinya mereka akan cepat pulang..."
Avyanna terlihat bersemangat, "Benalkah, Bu?"
Demetria mengangguk, "Ya, tentu saja. Habiskan makanan itu dulu, Avy. Setelah itu, maukah Avy menemani ibu ke pasar?"
Avyanna yang sedang mengunyah mengangguk dengan riang, "Oke, Bu!"
****