I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 17~ Menunggu



Demetria mengangguk saat ia segera mengeluarkan botol kaca dengan cairan berwarna merah muda di dalamnya.


"Ya, Avyku. Mana adalah sumber kekuatan yang berasal dari alam dan juga dalam mahkluk hidup,"


Demetria tersenyum lalu mulai mengelus kepala Avyanna dan berkata, "Untuk saat ini mari kita berkemas dulu,"


Avyanna menatap mata biru Demetria lalu mengangguk dan mulai bertanya saat ia mulai berdiri, "Apakah kita akan di kejal, Bu?"


Demetria yang mendengar perkataan putrinya itu hanya bisa tersenyum pasrah sambil menjawab, "Ibu rasa iya,"


Avyanna yang mendengar itu menghela napas lalu mulai mengangguk menanggapi perkataan Demetria dan berlari kearah Zeffrey untuk meminta kantung parsial lalu berlari ke dalam ruangan tempatnya tidur.


Demetria membuka pemutih di botol kaca dan mulai meminum cairan merah muda dari botol kaca itu hingga tak tersisa.


Demetria memejamkan matanya dan mulai mengatur napas miliknya yang terasa berat.


Demetria terdiam sejenak lalu mulai berdiri dan menatap pemandangan di balik jendela dalam diam.


Demetria menatap pemandangan di balik jendela dengan wajah khawatir.


Ia mulai bersiul rendah dan dengan segera seekor burung berwarna biru menghampirinya dan memiringkan kepalanya sambil menatap Demetria.


Demetria melakukan sesuatu pada burung kecil itu.


Setelah itu, burung itu berkicau rendah lalu mulai terbang dan menjauhi rumah Demetria.


Demetria meneguk air di mulutnya sambil meremas pakaiannya dan berkata dengan lirih, "Chatty ..."


"Kuharap kau baik- baik saja ..."


***


Bulan tergantung bersamaan dengan titik- titik kecil yang bersinar, menghiasi langit biru kehitaman dengan indah.


Suara kicauan burung yang mengganggu dan berisik tergantikan oleh suara jangkrik.


Zeffrey menghela napas sejenak dan segera menatap ke bawah dalam diam.


Avyanna yang menguap berulang kali terbaring di atas lantai kayu dengan terus menatap langit- langit.


Total ada 34 kantung tergeletak di atas lantai kayu.


Rumah yang pada awalnya memiliki banyak perabotan dan terang karena cahaya lilin seketika berubah menjadi ruangan gelap dan juga kosong.


Tidak terlalu gelap karena adanya sinar bulan yang menerangi.


Demetria terus berdiri di dekat jendela dengan cemas.


Semua perabotan di dalam rumah telah dimasukkan ke dalam kantung tersebut tanpa menyisakan satu pun barang.


Bahkan lemari tua yang sangat besar dan juga berat juga ikut dimasukkan.


Avyanna menggosok matanya lalu mulai berusaha untuk duduk dan menatap Demetria uang masih terus menatap jendela.


Avyanna menghela napas dalam diam dan mulai membuka mulutnya untuk bertanya, "Ibu, apakah ayah belum datang?"


Demetria mengangguk lemah terlihat jelas rasa khawatir di mata birunya itu.


Zeffrey menghela napas dan juga mulai duduk dalam diam sambil menatap kantung- kantung parsial yang tergelatak di depannya.


Untuk sementara waktu tempat di mana mereka berkumpul sangatlah hening.


Zeffrey dan Avyanna tidak bisa memikirkan sesuatu untuk menenangkan ibunya yang diam.


Hingga akhirnya Demetria mulai membuka mulutnya, "Ibu sangat khawatir dengan ayah kalian ..."


Demetria mengerutkan alisnya sambil meremas lengannya dan melanjutkan, "Hah ... Serangan tadi pasti juga dilakukan di menara sihir. Dan seharusnya ayah kalian juga sudah menerima pesanku,"


Zeffrey dan Avyanna saling menatap dalam diam.


Tidak tahu harus mengatakan apa.


Zeffrey dan Avyanna juga sangat khawatir pada Cathan.


Tetapi untuk saat ini, situasi Demetria juga sangat memprihatinkan.


Demetria pastinya juga terkena serangan dari Louis saat perjalanan pulang mereka dari menara sihir tadi.


Zeffrey mengerutkan alisnya dan berkata dengan lirih, "Ibu ..."


Demetria tersenyum pahit, "Aku benar- benar sangat khawatir,"


Demetria terus menatap pemandangan di luar dari jendela berharap sosok pria yang ia tunggu akhirnya tiba.


Suasana itu sangat hening.


Hanya suara jangkrik yang sedari tadi menemani mereka bertiga.


Demetria yang terus terdiam akhirnya mulai tersadar saat mendengar sesuatu.


Dimana Avyanna meletakkan kepalanya di atas perut Zeffrey.


Suara yang di dengar Demetria bukanlah dengkuran halus kedua anaknya.


Melainkan suara perut yang berbunyi dari arah mereka berdua.


Demetria membuka matanya merasa terkejut, "Ah ... Aku bahkan lupa menyiapkan makan malam,"


Demetria memukul dahinya dan mulai mengutuk dirinya di dalam hatinya.


Bagaimana bisa ia melupakan untuk mempersiapkan makanan untuk Zeffrey dan juga Avyanna.


Bahkan, karena pemikiran dan kekhawatirannya ia membiarkan Zeffrey dan Avyanna kelaparan.


Demetria menggigit bibirnya, 'Aku ibu yang buruk,'


Demetria mulai berjalan ke arah kedua anaknya itu tertidur untuk mengambil sesuatu.


Demetria meraih salah satu kantung parsial uang tergeletak di atas lantai.


Ia mulai mencari dan bergumam dalam hatinya, 'Setidaknya ada sesuatu yang bisa mereka makan,'


Demetria meraih salah satu kantung parsial di lantai kayu dan mulai merogoh mencari biskuit yang ia buat kemarin.


'Dimana ya?'


Demetria terus mencari dan tiba- tiba...


Demetria melebarkan matanya lalu membalikkan badannya dengan cepat


Demetria dapat melihat cahaya merah dan asap yang begitu jelas berada di depannya.


"Apa itu? Apakah itu api?"


Demetria juga dapat mendengar ada suara teriakan dari arah api itu.


Kebakaran desa.


"Apa mereka menyadari bahwa aku ternyata selamat?"


Demetria mengeluarkan satu parsial lagi dari saku pakaiannya dan mulai memasukkan kantung- kantung lainnya.


Selagi melakukan itu, Demetria juga membangunkan anak- anaknya yang tertidur.


"Zeffy! Avy! Ayo, bangun ..."


Demetria menggumamkan mantra dan mana biru mengalir menyelimuti sekitarnya.


Zeffrey menggosok matanya dan menguap, "Hoaammm ... Ibu, apa ayah sudah pulang?"


Avyanna juga ikut menguap saat ia masih setengah tertidur, "Kenapa sepeltinya menjadi telang ya?"


Demetria langsung menggenggam kedua tangan anaknya dan berbicara, "Kita harus segera pergi,"


Avyanna yang sedang menggosok matanya dapat melihat bahwa rumahnya berangsur- angsur menjadi lapuk.


Ia juga dapat melihat adanya kumpulan rayap yang keluar dari dalam lantai yang mulai rapuh.


Demetria menoleh ke arah Zeffrey yang juga sedang terpukau dengan perubahan di dalam rumah itu.


"Zeffy, berikan sihir penetralan pada Avy. Ibu akan mulai sihir teleportasi,"


Zeffrey melebarkan matanya, "Teleportasi? Kemana, Bu?"


Demetria menggenggam tangan Zeffrey dan Avyanna lebih kuat, "Ke tempat yang aman,"


Zeffrey masih ingin bertanya tapi ia memilih untuk melakukan apa yang dikatakan ibunya terlebih dahulu.


Zeffrey juga menggumamkan sesuatu dan mana emas berputar di sekitarnya dan juga Avyanna.


Sedangkan mana biru mulai berkumpul di bawah kaki ketiga manusia tersebut dan membentuk sebuah segel.


Avyanna merasa sakit, "Ugh ..."


Demetria menahan untuk tidak menangis, "Avyku, tolong bertahanlah,"


Perlahan wujud dan juga bayangan mereka menghilang.


Ruangan tempat mereka tadi berpijak sudah mulai dipenuhi dengan lumut.


Serangga dan hewan- hewan lainnya mulai memenuhi tempat itu merasa senang mendapatkan rumah baru.


Rumah itu telah berubah.


Tidak lebih tepatnya, kediaman keluarga Syvonne telah hancur.


****