I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 36~ Persembunyian



Xavian yang berlari di depan mengendus-endus udara di sekitarnya tanpa ekspresi.


Max menggertakan keningnya saat ia melihat apa yang dilakukan oleh Xavian.


Max menatap heran Lucy yang sedang berlari dan memasang wajah pucat.


Max mulai mendekatkan diri dan berbisik, "Kau lihat dia?"


Lucy terkejut dan menatap sinis Max, "A-apa?!"


Max memiringkan mulutnya, "Kau lihat dia. Bukankah dia seperti anjing? Bahkan dia hanya mau mendengarkan tuan Imorgent seperti majikannya?!"


Lucy membuka matanya dengan panik saat ia melihat bagaimana cara Xavian mengendus, "Ka-kau benar ..."


Max dan Lucy masih saling berbicara sehingga mereka berlari lebih lambat.


Mereka masing-masing memasang wajah aneh dengan warna yang sering berubah-ubah dari biru ke ungu dan ke hijau.


Alv menghela napas panjang setiap kali ia melihat Max dan Lucy berbicara dan berhenti berlari.


"JIKA KALIAN INGIN MATI ... MATILAH SENDIRI!!!"


Max melebarkan matanya dan menatap dengan terkejut saat ia mendengar apa yang dikatakan Alv, "HEEHHH?! Tuan Imorgent, anda bercanda bukan?"


Bahkan, Lucy berteriak dengan wajah yang mulai membiru, "Siapa juga yang mau mati?!"


Alv mengabaikan rengekan demi rengekan Max dan juga Lucy yang kini mulai berlari lagi.


Hazel menghela napas dan berkata dengan terputus-putus, "Saya rasa ... kita harus ... beristirahat, tuan Imorgent,"


Alv mengerutkan alisnya dan memandang ke sekeliling.


Alv dapat melihat wajah lelah dan kotor para penyihir yang selamat.


'Hanya mereka yang selamat,'


Alv menghela napas dan membuka mulutnya, "Baiklah, kalau begitu kita ..."


"Ada rumah!"


Alv menutup mulutnya dan mulai perlahan memperlambat larinya saat ia melihat Xavian sedang berlari dengan wajah menatap ke belakang.


Max berteriak, "Apa?"


Xavian mengerutkan keningnya dan berkata dengan malas, "Aku menemukan rumah,"


Semuanya berhenti berlari saat melihat Alv juga berhenti berlari.


Alv menatap Cathan yang masih bersandar pada tubuh Akashi.


Alv menghela napas, "Haah ... berapa jauh itu?"


Xavian mengangkat jari telunjuknya ke sebuah tempat dengan kabut penuh debu, "Disana ... aku mencium sesuatu yang aneh ..."


Lucy berlari ke arah Xavian dan menatapnya dengan tajam, "Bau yang aneh? Apa kau tak bisa mencium bau bangunan?"


Xavian memutar bola matanya dan membuang wajahnya tanpa menanggapi perkataan Lucy.


Xavian mulai berlari lagi masuk ke dalam kabut tersebut.


Lucy terdiam di tempat saat ia menatap tak percaya apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa dia mengabaikan aku tadi?"


Akashi menarik napas sebentar dan mulai berlari mengikuti Xavian di depannya.


Akashi diikuti dengan wanita berambut biruーXyla dan juga wanita berambut cokelatーHazel.


Dan Alv yang tadinya mulai berhenti berlari juga mulai berlari dan mengikuti di belakang.


Semua mulai berlari bahkan Max dan Lucy yang terlihat tidak yakin tetap mengikuti.


Max berdoa dalam hatinya, 'Jika aku mati sebelum menjadi penyihir kelas lima ijinkan aku hidup kembali ...'


Lucy dengan wajah pucat nya juga ikut berlari.


***


Xavian berdiri dalam diam sambil menatap satu per satu penyihir yang datang.


Ia hanya menghela napas dan berlari lagi saat melihat penyihir yang ia tunggu telah datang.


Para penyihir yang selamat hanya saling memandang dalam diam dan mengikuti Xavian.


Di dalam kabut penuh debu abu yang beterbangan, mereka sama sekali tidak dapat melihat apapun.


Bahkan bangunan yang mereka lewati semuanya sudah hancur.


Tanah bahkan berwarna hitam dan berbau gosong.


Akashi mengerutkan alisnya dan berkata, "Hei, apa kau yakin di sekitar sini?"


Xavian hanya melirik dan tidak menanggapi.


Akashi menggertakan giginya dan ingin melayangkan pukulan pada Xavian tetapi menahannya.


Xavian hanya diam dan berjalan ke sebuah tempat dimana ada puing-puing bangunan.


Cathan tersentak sejenak hingga sentakan tubuhnya terasa oleh Akashi yang menggendongnya.


Alv mendekati Cathan dan bertanya, "Apa maksudmu ini rumah?"


Cathan menelan air dalam mulutnya dan mengangguk, "Iya ... ini adalah rumahku,"


Semua penyihir yang selamat menatap Cathan dalam diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Cathan, "Ada sebuah pintu ... yang mungkin bisa menjadi ... tempat persembunyian kita,"


Alv mengerutkan keningnya, "Apa kau yakin?"


Cathan mengangguk, "Ya,"


Alv menatap Cathan dengan kerutan halus di dahinya, "Baiklah, aku percaya padamu,"


Cathan mengangguk lagi dan mulai bersandar pada Akashi sekali lagi.


Alv mendekati Xavian dan berkata, "Kau bisa menemukan bau sesuatu ... mungkin bau seperti rahasia?"


Xavian mengerutkan keningnya sambil mendecakkan lidahnya.


Tetapi ia dengan sigap mulai melompat ke arah puing-puing bangunan itu dan mencari sesuatu sambil mengendusnya.


Max dan Lucy yang melihat ini saling memandang dan berbisik, "Bukankah dia seperti anjing?"


"Bukan anjing lagi ... dia pasti adalah anjing!"


Hazel juga melompat dan mencari sesuatu yang mungkin terlihat berbeda.


Rasa sakit dan kekecewaan yang dirasakannya setelah ia melihat bahwa kampung halamannya hancur menyeruak dan membuat matanya pedih.


Ia bahkan tidak bisa berbuat apapun saat berhadapan dengan salah satu biang masalah dari ini semua.


Hazel mengambil salah satu pecahan kaca dan mengangkatnya.


Terpantul bayangan wajahnya yang terlihat kotor karena debu.


Hazel berkata dengan rasa sesak di dadanya, "Aku masih terlalu lemah ..."


Matanya terlihat lebih besar dan gemerlapan, bahkan air mulai menetes dari ujung matanya.


Wajah satu per satu penduduk yang sering berlalu-lalang melewati dan menyapanya mulai muncul di pikirannya.


Hazel mulai menundukkan kepalanya dan membiarkan rambut cokelatnya menutupi wajahnya yang sedang menangis.


Alv memandang Hazel dari jauh saat ia sedang terdiam sendiri.


"Haah ... kita harus menyembunyikan diri sendiri terlebih dahulu ..."


Alv mendekati Akashi yang terduduk di atas batu dengan Cathan yang juga bersandar pada batu.


Alv setengah duduk dan bertanya, "Apa yang terjadi padamu sebenarnya , Cathan?"


Cathan terbatuk dengan darah yang mengalir di sudut bibirnya, "Uhuk! Aku juga ... tidak tahu ..."


Alv mengerutkan keningnya, "Kami menemukan mu sumpah seperti orang yang mati di atas tanah yang hancur,"


Cathan hendak membuka mulutnya tetapi sebuah suara mulai memotongnya.


"Aku menemukan sesuatu!"


Semua penyihir yang selamat menatap Xavian yang sedang berdiri di atas sebuah tempat dengan batu yang besar.


Alv berdiri dan berjalan mendekati Xavian, "Apa yang kau temukan?"


Bukan hanya Alv tetapi yang lainnya meskipun mereka lelah, mereka juga mulai mendekat kepada Xavian.


Xavian memindahkan batu besar dan menunjukkan sesuatu di bawah baru besarnya, "Pintu,"


Alv mengerutkan keningnya dan terlihat heran, "Pintu?"


Cathan mengangguk, "Ya ... kita harus masuk ke sana ..."


Akashi, "Apa yang ada di sana?"


Cathan, "Ruang penelitian ..."


DRUNNNNGGGGGGGG!!!


"!!!"


Sebuah suara yang kencang seperti sebuah gendang besar terdengar.


Suara ini membuat rambut-rambut halus pada tubuh mulai berdiri terkesan kesetrum.


Cathan berkata dengan tergesa-gesa, "Cepat masuk!"


Meskipun merasa tak percaya mereka semua mulai memasuki pintu yang hampir hancur.


****