
"Avy!"
Suara yang bergetar dengan isak tangis yang mengiringinya terdengar menyedihkan.
"Avy!"
Suara lainnya juga terdengar, tetapi tidak dengan isak tangis melainkan suara berat yang bergetar.
"Avy!"
Sebuah aliran hangat terdengar menyelimuti tubuh Avyanna yang masih terpejam.
Demetria terus berusaha memanggil putrinya itu sambil mengalirkan mana biru miliknya, "Avy, ibu mohon bangunlah sayang!"
Mata Avyanna bergetar sangat lemah hampir tak di ketahui orang lainnya.
Tetapi Zeffrey yang berdiri di sebelah Avyanna mulai menatap ke arah Demetria dan berkata, "Ibu, mata Avy mulai bergetar,"
Demetria menganggukkan kepalanya dan terus berusaha fokus untuk menyembuhkan Avyanna, "Ibu akan lebih berusaha,"
Zeffrey yang sangat ingin membantu ibunya untuk menyelamatkan Avyanna dengan sihir miliknya harus menahannya dengan sabar.
Zeffrey terus berusaha memikirkan cara yang jauh lebih aman untuk membantu adik dan ibunya.
Itu dikarenakan Avyanna tidak dapat menerima sihir milik penyihir.
Saat ini Demetria menggunakan mana miliknya dengan cara yang berbeda dengan penyihir.
Demetria menggunakan bantuan para spirit dan diperantarakan dengan tubuh manusia Demetria.
Karena itulah mana yang mengalir ke dalam tubuh Avyanna tidak akan menyakiti Avyanna.
Karena itu adalah kekuatan para spirit.
Zeffrey mengerutkan keningnya dengan keringat dingin yang mengalir dari pelipisnya.
"Bagaimana ini bisa terjadi padamu, Avy?!"
Demetria meneteskan air dari sudut matanya dan menahan rasa sesak pada dadanya.
"Ibu mohon ... tolong buka matamu, nak ..."
Kelopak mata Avyanna bergetar perlahan dan mulutnya yang kecil terbuka.
"I ... Bu ..."
Wajah Demetria mulai melunak saat ia berkata dengan senang, "Avyku?!"
Zeffrey dengan sigap memegang tangan Avyanna yang dingin, "Avy? Kau sudah sadar? Apakah kau mendengarkan diriku dengan baik?"
Avyanna menyipitkan matanya saat ia melihat bayangan pria dengan rambut hitam dan mata emas yang berbinar.
Avyanna bergumam dengan nada yang bergetar, "Ka ... kakak ..."
Zeffrey berkata, "Avyanna, atur pernapasanmu dan jangan memberontak,"
Avyanna mengangguk dengan lemah.
Demetria menatap Zeffrey dengan heran, "Apa yang ingin kau lakukan, Zeffy?"
Zeffrey menatap ibunya dengan tatapan yang menyakinkan, "Saya punya cara, Bu,"
Demetria, "Cara? Cara seperti apa? Zeffyku, adikmu tidak bisa mendapatkan perawatan dari penyihir,"
Zeffrey mengangguk, "Saya tahu, Bu,"
Demetria masih kebingungan saat ia melihat Zeffrey yang mengangkat tubuh Avyanna agar tidur setengah duduk.
"A-apa yang ingin kau lakukan?"
Zeffrey menyakinkan ibunya dengan tatapan.
Demetria menghela napasnya dengan berat saat ia merasa khawatir.
Zeffrey yang sedang membiarkan Avyanna menyenderkan tubuhnya padanya mulai memejamkan matanya.
Asap berwarna emas keluar dari tubuh Zeffrey dan dengan perlahan membentuk bola yang melindungi Zeffrey dan Avyanna yang masih setengah sadar.
Demetria panik dan mulai berjalan ke arah Zeffrey dan Avyanna sambil berkata, "Zeffy, adikmu ... tidak bisa terkena sihir lagi!"
Zeffrey mengangguk, "Saya tahu, ibu ... tolong perhatikan dengan lebih baik,"
Demetria terdiam sejenak setelah ia memperhatikan apa yang terjadi dengan kedua anaknya itu.
"Itu ..."
Demetria terdiam dan hanya menunggu hingga Zeffrey melakukan apa yang menurutnya baik untuk Avyanna.
Wajah cemas Demetria tidak dapat di sembunyikan.
Ketakutan dan kecemasan yang tak pernah padam itu terus mencuat mencoba untuk memberikan luka yang lebih dalam baginya.
Apalagi Avyanna yang seharusnya pandai menggunakan sihir seperti kakaknya dan juga ayahnya memiliki situasi yang membahayakan.
Situasi dimana setiap kali Avyanna terpapar sihir, entah itu dalam bentuk yang kecil ataupun besar Avyanna akan langsung pingsan dengan rasa sakit yang luar biasa.
Karena hal inilah, Demetria harus menghilangkan jejak pemakaian sihir di sekitar Avyanna agar ia bisa hidup dengan baik.
Daerah Grimmwolf adalah daerah yang sangat dingin dan juga terisolasi dari daerah lainnya karena pegunungan esnya yang sangat banyak.
Penggunaan sihir di daerah ini sangatlah tinggi untuk dapat mempertahankan wilayah Grimmwolf agar dapat di huni dengan baik tanpa ada masalah.
Tetapi wilayah ini jugalah satu-satunya wilayah yang dapat dipercaya untuk mereka tinggali.
Karena masalah pada wilayah pusat sangat besar dan juga hancurnya pulau Witchery membuat situasi itu menjadi jauh lebih berantakan.
"Urghh!!!"
Dengerin terkejut dan menatap Avyanna yang menangis dengan wajah yang memucat.
"Avyku!"
Zeffrey mengerutkan keningnya saat ia memeluk Avyanna dan berkata dengan tenang kepada Ibunya, "Bu, tenanglah ..."
Demetria meremas dadanya yang terasa nyeri saat ia melihat Avyanna meraung kesakitan dan Zeffrey yang menggigit bibirnya hingga berdarah.
"Ah ..."
Avyanna membuka matanya dan menatap kosong Demetria yang sudah berlari ke depannya.
"Ibu ..."
Avyanna mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Demetria dengan lemah, "Tolong ... jangan ... menangis ..."
Dan Avyanna memejamkan matanya lagi.
Zeffrey seperti terkejut, "Avy?!"
Ia mulai dengan sigap memeriksa pernapasan Avyanna dan mulai bernapas dengan lega saat ia merasakan bahwa Avyanna sedang tertidur pulas.
Demetria, "Apakah adikmu baik-baik saja?"
Zeffrey mengangguk, "Ya, ibu. Dia baik-baik saja sekarang,"
Demetria, "Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada adikmu, Zeffy?"
Zeffrey meletakkan dengan perlahan Avyanna yang sedang tertidur ke atas tempat tidur.
Zeffrey menatap ibunya dan berkata, "Saya mencoba untuk membuka paksa ikatan inti mana yang ada padanya dengan bantuan para spirit, Bu,"
Demetria melebarkan matanya dengan terkejut, "Inti mana? Bagaimana bisa ..."
Zeffrey mengangguk, "Sepertinya, Avy mencoba membangun inti mana sendirian,"
Demetria menatap Avyanna yang tertidur pulas dengan alis yang terajut, "Sendirian? Apa yang?"
Zeffrey mendekati ibunya dan mulai menenangkannya, "Ibu, lebih baik kita biarkan Avy beristirahat sejenak. Kita akan bertanya padanya setelah ia bangun,"
Demetria menghela napas perlahan, "Haah ... aku sangat khawatir,"
Zeffrey merangkul ibunya dan menenangkannya dengan berkata, "Dia akan baik-baik saja ... lebih baik ibu juga beristirahat untuk hari ini. Saya yang akan pergi ke rumah nyonya Bia dan menyampaikan pesan untuknya,"
Demetria mengangguk dan menyetujui apa yang dikatakan putranya kepadanya, "Baiklah. Ibu lebih baik tetap disini bersama adikmu,"
Zeffrey mengangguk dan mulai berjalan keluar dari kamarnya Avyanna.
Zeffrey meraih mantel cokelat yang tergantung dan memakainya untuk berjalan keluar.
"Saya berangkat dulu, Ibu,"
Demetria mengangguk sambil melambaikan tangannya ke arah Zeffrey, "Berhati-hatilah, Zeffyku,"
Zeffrey mengangguk dan mulai berjalan keluar dari rumah.
Demetria kembali ke kamar Avyanna dan duduk di sampingnya sambil berkata dengan membelai tangan Avyanna yang tertidur, "Tolong, Avy ... jangan membuat ibu merasa seperti ini lagi ..."
Avyanna hanya diam.
Ia tidak mendengar apapun yang dikatakan Ibunya sekarang.
Dimana Demetria yang masih menangis dengan terus menggenggam tangan Avyanna yang masih kecil.
Demetria terisak saat ia membayangkan sosok seseorang yang sangat ia rindukan.
Demetria menatap wajah Avyanna yang tertidur.
Demetria mengusap wajah Avyanna dengan lembut sambil berkata, "Oh, sayangku ... cepatlah sembuh ..."
****
...Maaf semuanya karena telat upload dikarenakan sibuknya saya di real life🙏...