
Mendengar hal itu mereka semua menatap Cathan yang sedang berbincang dengan Alv.
"Apakah mungkin ia hanya memberikan racun pada penyihir muda itu?"
Mereka mulai berpikir hal- hal buruk sambil sesekali melirik ke arah Rygon yang sedang diam dan mengamati.
Tetapi, perkataan mereka langsung dibantah oleh sebuah kejadian di depan mereka.
Wajah Alv terlihat pucat saat ia berteriak, "Hei, Cathan!"
Cathan terjatuh dengan banyak darah yang mengalir dari mulutnya.
Itu mengerikan untuk dilihat.
Tetapi, Rygon terkekeh dan berkata dengan suara lirih, "Jadi, ini juga ada efek sampingnya ya,"
Mendengar suara kekehan Rygon para penyihir tua mengerutkan keningnya dan tertawa canggung.
"Hahaha ... Ya ... Kurasa yang anda katakan itu benar, tuan Rygon,"
"Ya ... Itu ..."
Rygon berdiri dan memasang wajah sombong sambil berkata, "Kalau begitu, kita lebih baik melihat dengan seksama bagaimana ini akan berakhir,"
Rygon mulai meninggalkan tempat itu dan berjalan agak menjauh dari kumpulan para penyihir.
Alv menepuk punggung Cathan dan menyodorkan sapu tangan padanya sambil berkata dengan khawatir, "Kau baik- baik saja? Apa ini efek sampingnya?"
Cathan tertawa pelan dan berkata dengan pelan, "Jangan khawatir ini bukan hal yang besar,"
Alv mengerutkan keningnya, "Bukan hal besar katamu? Kau ini ..."
Cathan tersenyum penuh arti, "Aku sengaja melakukannya,"
Alv terdiam saat mendengar yang dikatakan oleh Cathan dan mulai memasang wajah aneh.
'Orang ini ... Aku tak tahu apa yang di rencanakannya,'
Max terbaring lemah dengan tubuh dingin dan keringat yang mengalir deras membasahi tubuhnya.
Ia mengangkat tangannya hendak meminta pertolongan, "Tu- tuan Syvonne ..."
Cathan yang mendengar hal itu segera mendekat dan berkata dengan senang, "Wah, kau hebat. Max, kau orang pertama yang berhasil melakukannya,"
Max tersenyum dengan lemah dan sesekali meringis kesakitan, "Be- benarkah?"
"Dia? orang pertama? Konyol sekali,"
Cathan dan Alv menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Akashi dengan rambut merahnya yang lepek dan wajahnya yang terlihat lelah.
Alv tersenyum, "Bahkan, kau terlihat kesulitan ya, Akashi,"
Akashi membuang wajah dan berjalan ke sisi dinding terowongan untuk bersandar, "Cih,"
Max mencoba meraih tangan Cathan dan merengek, "To- tolong, tuan Syvonne,"
Cathan menghela napas dan membantu Max untuk bangkit dan membopongnya untuk bersandar pada dinding terowongan.
Alv juga melakukan apa yang ia bisa.
Ia membantu para penyihir muda untuk bisa duduk atau berdiri dengan benar.
Alv juga meminta para penyihir tua untuk membantu melakukan hal yang bisa mereka lakukan.
Karena pada dasarnya, para penyihir tua sekarang tidak ada bedanya dengan manusia biasa yang menua.
Pergerakan mereka juga terbatas dan sulit.
Lucy meneteskan air mata di sudut matanya dan berkata, "Ap- apa saya berhasil?"
Alv menepuk bahu Lucy dan bertanya, "Apa kau masih merasakan sakit?"
Lucy menggelengkan kepalanya dan berkata, "Su- sudah tidak,"
Alv mengangguk, "Bagus. Itu berarti kau berhasil,"
Lucy tersenyum, "Syukurlah,"
Cathan dan Alv serta beberapa penyihir tua yang dapat bergerak membantu memindahkan para penyihir muda untuk bersandar pada dinding terowongan.
Cathan meminta pada mereka untuk beristirahat dulu.
Ia juga meminta untuk para penyihir muda agar lebih menyesuaikan mana asal mereka dengan mana yang ia bagikan.
"Wah, aku merasa lebih segar!"
"Yahuuu! Ini sudah tidak sakit lagi,"
"Kau benar! Aku sudah tidak merasa seperti terbakar lagi!"
Para penyihir muda bersorak riang karena mereka sudah keluar dari hal yang membuat mereka merasakan rasa sakit terbakar.
Ada juga beberapa dari mereka mencoba untuk mengeluarkan sihir sederhana tetapi nyatanya nihil.
Itu tidak bisa digunakkan.
"Berarti hanya sihir teleportasi yang bisa,"
"Sama seperti yang dikatakan oleh tuan Syvonne,"
Untuk sementara waktu Cathan dan Alv membiarkan mereka untuk beristirahat terlebih dahulu.
Cathan juga menjelaskan lebih terperinci rencananya kepada para penyihir.
Sedangkan Alv membagi para penyihir muda itu untuk berpasangan dengan penyihir tua.
Para penyihir muda akan dipasangkan dengan penyihir tua dua atau tiga penyihir yang akan mereka bawa saat melakukan sihir teleportasi.
Hanya Rygonlah satu- satunya penyihir tua yang tidak mendapatkan pasangan penyihir muda.
Ia berdiri sendiri di tengah- tengah kerumunan dan berteriak dengan marah.
Cathan menggertakan alisnya sambil menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tuan Rygon, anda akan bersama saya dan juga Alv,"
Cathan melakukan ini bukan tanpa alasan.
Karena para penyihir muda tidak ada yang mau berdekatan dengan pria tua yang perasaannya sangat mudah berubah- ubah.
Rygon mengeluarkan batuk palsu dan segera berkata, "Ah! Sepertinya aku terlalu terbawa perasaan,"
Cathan hanya tersenyum sambil berpikir, 'Terlihat sekali bahwa ia tidak ingin disalahkan,'
Cathan segera mengangguk dan memasang wajah bersahabat, "Tidak masalah, tuan Rygon. Lebih baik kita mulai berangkat sekarang,"
Alv menatap dalam diam perlakuan penyihir tua yang satu ini.
Ia mulai berjalan untuk mendekati Cathan.
Begitu juga dengan Rygon.
Alv mulai berkata saat ia berada di sebelah Cathan, "Aku sudah memberikan koordinat pada masing- masing penyihir muda,"
Cathan mengangguk, "Kalau begitu kita berangkat sekarang,"
Cathan menyentuh bahu milik Alv dan juga Rygon di masing- masing tangan lalu bergumam.
Itu juga dilakukan oleh para penyihir muda.
Mereka semua bergumam menyebutkan mantra sihir teleportasi.
Satu mantra sihir tersebut kemudian membentuk segel sihir besar di bawah kaki mereka.
Segel sihir itu bersinar sangat terang dan menutupi semua penyihir yang berada di sana.
Mereka memiliki satu pemikiran yang sama yaitu titik koordinat yang di berikan oleh Alv pada mereka
Saat mereka semua selesai menyebutkan mantra itu, cahaya mulai membawa tubuh para penyihir tersebut untuk perlahan menghilang.
Fussshhhhhh!!!!
Angin kecil bertiup.
Saat ini, di sebuah terowongan yang dingin dan lembap.
Dimana pada awalnya ada kehidupan, mulai menghilang dengan datangnya cahaya yang dihasilkan oleh para penyihir.
Itu tandanya ...
Mereka semua sudah melakukan sihir teleportasi.
"Ini ..."
"Ki- kita berhasil!"
"Hwaaaaaaa!! Tuan Syvonne! Kita berhasil!"
Para penyihir khususnya penyihir muda bersorak senang karena mereka dapat melakukan sihir teleportasi dengan baik dan selamat.
Selama beberapa hari mereka terjebak di dalam terowongan lembap dan gelap yang membuat mereka merasa sesak.
Para penyihir mulai saling berbincang satu sama lain.
Saat ini, mereka mulai bisa menghirup udara bebas dan juga ...
Max mengerutkan keningnya saat ia mencoba menghirup udara, "Bukankah ini seperti bau ... Terbakar?
Max memandang sekeliling dan mendapati bahwa mereka di kelilingi oleh asap tebal.
Max bertanya dengan heran, "A- apa itu?"
Lucy terbatuk saat ia mencium bau aneh yang menusuk hidungnya, "Uhuk! Apa ... Yang kau maksud?'
Max terdiam dan menunjuk sesuatu di depannya, "I- itu,"
Lucy melebarkan matanya dan berteriak terkejut, "Aahhhhh!!!"
Hazel yang berada tidak jauh dari tempat Lucy berada langsung menoleh saat mendengar Lucy berteriak, "Kenapa? Ada apa?"
Lucy terdiam dengan wajah aneh yang tak terbaca tetapi tangannya menunjuk pandangan kabur di depannya.
Bukan hanya Lucy, tetapi Max juga seperti membeku di tempatnya berdiri.
Hazel mengikuti jari telunjuk Lucy dan melihat apa yang sebenarnya ingin di tunjukkan oleh Lucy.
"Hah?"
Di balik asap tebal itu, tanah yang awalnya hijau karena adanya rerumputan berubah menjadi kering dan retak.
Pepohonan hijau yang biasanya terlihat banyak kini tinggal batang pohon yang sudah hangus terbakar.
"Dimana ... Kita sebenarnya?"
Alv terdiam sejenak sebelum pada akhirnya ia membuka mulut dan berkata dengan gemetar, "Aku yakin kita berada di ujung terowongan,"
Max berteriak saat ia menyadari sesuatu, "Tetapi ini?! Ini mungkin saja bukan ujung terowongan! Atau mungkin kita berteleportasi ke tempat yang berbeda?"
Cathan mengerutkan alisnya lalu menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak. Ini memang ujung terowongan. Tetapi mereka pastinya juga menghancurkannya,"
Akashi melipat tangan di dadanya dan berkata, "Jika mereka yang anda maksud sama dengan mereka yang menghancurkan pulau, itu berarti mereka menyadari bahwa kita mungkin saja kabur melalui terowongan itu,"
****