I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 30~ Kekacauan (2)



Akashi menghela napas, "Haah ... Mereka benar-benar menjijikan,"


Akashi juga mulai menatap Cathan yang berdiri dengan lemas.


Akashi mengerutkan keningnya, "Apa yang ia pikirkan sebenarnya?"


"Argh!!"


Akashi dan Max menoleh ke arah sumber suara itu terdengar.


Mereka dapat melihat beberapa penyihir tua menyerang penyihir muda yang sedang sendirian.


Max terkejut, "Apa yang???"


Akashi mencoba untuk berdiri.


Ia mencengkram dengan kuat bagian bahunya untuk menahan rasa sakit pada lengannya, "Urgh ..."


Max dengan cepat menopang tubuh Akashi yang hampir terjatuh, "Kau ini! Berhati-hatilah!"


Belum sempat Akashi menanggapi ocehan yang dilontarkan oleh Max, Max terlempar dan jatuh.


Max mencoba menahan rasa sakit, "Argh!"


Akashi yang setengah berdiri menatap Max dan berteriak, "Max?!"


Akashi menoleh ke belakang dan melebarkan matanya yang terkejut dimana ia melihat salah satu penyihir tua mengangkat tongkatnya dan hendak memukul Akashi.


Akashi memejamkan matanya dan bersiap untuk sesuatu, "!!!"


Drrrraaakkkk!!!!


Orang yang berasal dari penyihir tua itu terjatuh setelah seseorang menendang bagian pinggangnya dengan keras hingga mengeluarkan bunyi seperti tulang patah.


Akashi yang jatuh terduduk mulai membuka mulutnya saat ia melihat seseorang di depannya dengan wajah yang merah padam, "Tuan Syvonne?"


Cathan menghela napas dan menatap dengan tatapan tajam kepada para penyihir tua.


Para penyihir tua menyerang para penyihir muda yang tidak menggunakan senjata dan bahkan tidak dapat menggunakan sihir.


Tubuh para penyihir muda banyak yang terluka bahkan hampir setengah dari mereka mulai batuk mengeluarkan darah.


Cathan menatap ke arah Alv yang juga sudah terluka di bagian perut dan salah satu kakinya terluka sangat parah.


Cathan menggertakan giginya dan bergumam, "Sebenarnya apa yang mereka pikirkan?"


Seorang dengan tongkat yang merupakan tangan kanan dari Rygon terus berteriak kepada para penyihir tua.


Ia ingin menyiramkan minyak ke dalam kobaran api amarah para penyihir tua tersebut.


Akashi dapat melihat bahwa Rygon hanya terbaring dengan para penyihir tua lainnya melindunginya.


Akashi mencoba untuk berdiri dan berkata, "Tuan Syvonne, mereka ingin mendapatkan mana dari anda,"


Cathan menoleh ke arah Akashi dan mengerutkan alisnya, "Mana? Dariku?"


Akashi melebarkan matanya sejenak dan menatap Cathan yang telah membantunya untuk berdiri.


Akashi mulai berkata sambil memiringkan kepalanya merasa bingung, "A-apa anda tidak mendengar apa yang dikatakan oleh orang itu tadi?"


Cathan menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak,"


Akashi semakin memperdalam kerutan di dahinya, "Hah?! Padahal dari tadi ia berteriak tepat di dekat anda dan hendak menyerang anda. Sebenarnya apa yang sedang anda lakukan tadi? Hingga berdiam diri seperti itu?"


Cathan menghela napas, "Haah ... Aku sedang mencari sumber mana di pulau ini. Dan ... Juga keluargaku,"


Akashi membuka mulutnya ingin bertanya tetapi mereka berdua kemudian mendengar suara teriakan dari sekitar mereka.


Akashi meneguk air di mulutnya dan berkata dengan gemetar, "Sa-saat ini ... Lebih baik kita harus menghentikan mereka dulu,"


Cathan mengangguk lalu mulai menyentuh bahu Akashi dan berkata, "Tunggu disini,"


Akashi tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Cathan.


Ia hanya diam berdiri di tempatnya dan menatap Cathan yang mulai berjalan ke tengah-tengah pertempuran itu.


Alv yang melihatnya mulai berteriak, "Cathan?!"


Orang yang memegang tongkat yang merupakan tangan kanan Rygon menoleh dan tertawa sangat keras.


Ia berteriak sambil mengangkat tangannya, "Wahai saudara-saudara sesama penyihir! Orang yang mencoba untuk memonopoli mana sendirian sedang berada disini!"


Para penyihir tua seperti tersihir dengan perkataannya dan mulai menoleh ke arah Cathan yang sedang berdiri di tengah-tengah mereka.


Orang yang memegang tongkat yang merupakan tangan kanan Rygon berteriak, "Kita harus memberikan hukuman pada orang yang egois!"


Para penyihir tua mulai mengangkat tongkat sihir mereka dan berlari menuju Cathan.


"Ya, anda benar!!!"


"Jangan memberikan mana yang begitu berharga pada penyihir yang berumur seperti bayi itu!"


"Semuanya! Lindungi kehormatan kita!"


Cathan mengerutkan alisnya tanda tak senang.


Alv yang terjatuh mencoba bangkit dan ingin berlari ke arah Cathan.


Akashi tetap berdiri di tempatnya.


Xyla dan juga Lucy mulai batuk darah.


Hazel jatuh terduduk sambil mencengkram tanah di bawahnya dengan menahan isak tangis.


Cathan yang melihat para penyihir muda yang terluka mulai merasa sangat marah, 'Bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti ini dengan sesama penyihir?!'


Cathan melihat banyak sekali penyihir tua yang berlari ke arahnya sambil mengangkat tongkat sihir mereka yang di penuhi dengan sihir penyerangan dan perlindungan tanpa membutuhkan mana.


Para penyihir tua mengepung Cathan di segala sisi.


Alv yang melihat itu mulai berteriak dengan suara serak, "Cathan! Menghindar!"


Cathan menghela napas dan perlahan memejamkan matanya.


Selama ia perlahan memejamkan matanya, ia dapat melihat bahwa sedikit demi sedikit pergerakan para penyihir tua yang hendak menyerangnya menjadi lambat.


Dan ...


BOOOOOOMMMMMMMM!!!!!!!!!!


DDRROOOOONNNGGGGGG!!!!!!!


Para penyihir tua yang hendak menyerang Cathan mulai terlempar dan terjatuh dengan tanah yang retak dan ada juga beberapa batu yang juga terbang menghantam tubuh mereka.


"Arghhhh!!!!!"


Para penyihir muda yang melihat serangan luar biasa itu hanya bisa terdiam di tempat tanpa bisa berkata apapun.


Akashi membuka mulutnya lebar menata tak percaya apa yang terjadi depannya.


Cathan menghela napas dan menatap tajam sosok orang yang sedang terduduk dengan batu hasil pecahan tanah menimpa kakinya.


Cathan berjalan mendekati orang itu dan berkata, "Tuan Rygon,"


Rygon mendecakkan lidahnya saat melihat Cathan yang sudah berada berdiri di depannya.


Kaki Rygon terjebak di bebatuan, tetapi dia tetap berusaha untuk memasang wajah terbaiknya.


Rygon berkata dengan wajah kesal, "Kau sepertinya memiliki mana dan ingin memilikinya sendiri, bukan?"


Rygon mencoba untuk membersihkan pakaiannya dan berkata, "Kau ternyata lebih egois dari yang kukira,"


Cathan menatap tajam Rygon yang berada di bawahnya, "Tuan Rygon. Apakah anda pernah membaca kutipan pada buku pertama kaisar sihir?"


Rygon mengerutkan alisnya, "Apa?"


Cathan mulai merendahkan tubuhnya agar dapat menatap wajah Rygon lebih baik.


"Kutipan itu berkata bahwa mana yang mengikuti sejak lahir seorang penyihir adalah milik penyihir itu,"


Rygon terdiam.


Cathan menggertakan giginya menahan rasa kesal, "Jadi ... Mengapa saya egois? Jika dari lahir ini adalah mana milik saya?"


Rygon ingin membuka mulutnya untuk membantah perkataan Cathan, tetapi ia di cegah oleh perkataan selanjutnya dari Cathan.


"Saya pikir anda yang merupakan penyihir tertua mengetahui hal ini lebih baik dari siapapun. Saya salah mengira itu,"


Cathan menghela napas, "Haah ... Saya sekarang tahu mengapa anda tidak dapat menembus tingkat sihir yang lebih tinggi,"


Rygon yang terpancing emosi oleh perkataan Cathan mulai berteriak, "Apa maksudmu, br*ngs*k?!"


Cathan mulai berdiri dan berkata, "Anda tidak pantas. Sangat tidak pantas menggunakan sihir,"


Rygon meneriaki kata-kata tidak pantas.


Para penyihir tua mulai merintih kesakitan saat mereka mencoba untuk menyelamatkan diri dari bebatuan.


Cathan berjalan dan mengeluarkan asap dengan serbuk berwarna emas dari tubuhnya.


Angin yang tadinya sangat kencang berubah menjadi lebih lemah.


Angin itu membuat rambut biru milik Cathan menari dengan ringan.


Cathan yang berdiri di tengah-tengah mengeluarkan sesuatu yang tak pernah dilihat oleh penyihir manapun.


Para penyihir akhirnya melihat mata Cathan yang perlahan mulai berubah menjadi emas.


Asap dan serbuk emas yang berterbangan itu menyelimuti para penyihir muda dan juga Alv.


"Ah?!"


Asap dan serbuk emas itu perlahan menyembuhkan luka para penyihir muda dan juga Alv.


Cathan membuka mulutnya dan berkata, "Ada alasan mengapa aku memberikan para penyihir muda mana milikku,"


Cathan melirik ke arah para penyihir tua yang berpenampilan berantakan, "Itu karena penyihir muda lebih mudah dalam mengalirkan mana inti milikku kepada semua penyihir,"


Lucy terdiam saat luka di tubuhnya sembuh.


Xyla menyentuh dagunya seolah berpikir setelah mendengar perkataan Cathan dan mulai berkata, "Itu artinya kami para penyihir muda yang bersentuhan dengan para penyihir tua saat berteleportasi secara langsung membagikan mana yang kami terima dari tuan Syvonne?"


Cathan mengangguk, "Kalau tidak begitu, bagaimana para penyihir tua masih bisa hidup saat sumber mana bahkan tak terasa lagi di pulau ini. Dan mereka ..."


Cathan melirik dengan tajam, "Sangat tidak tahu terimakasih dan jauh lebih egois,"


****