I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 15~ Musuh



Zeffrey membuka mulutnya dan mulai bertanya sambil menoleh ke arah Demetria, "Ibu, kenapa tidak menggunakan sihir teleportasi saja?"


Demetria mengerutkan alisnya dan berkata dengan khawatir, "Adikmu belum bisa mendapatkan paparan sihir, Zeffyku,"


Zeffrey mengangguk saat mendengarkan apa yang di katakan ya oleh Demetria.


Zeffrey mulai membuka mulutnya dan berkata dengan santai, "Begitu ya, bu. Hei, aneh, cepatlah besar agar kamu bisa menggunakan sihir,"


Avyanna memasang wajah kesal sambil melirik dengan sinis ke arah Zeffrey, "Aku juga ingin cepat besal kok ..."


Demetria tertawa melihat ke dua anaknya itu dan berkata, "Haha ... Bisakah kalian hentikan pertengkaran ini?"


Zeffrey mengangguk dan berkata dengan patuh, "Baiklah, Bu,"


Avyanna juga mengangguk seolah mengerti apa yang dikatakan oleh ibunya, Demetria.


Demetria tersenyum dan berkata untuk menjelaskan, "Zeffy, kita akan berjalan kaki sampai rumah makan. Kamu harus makan terlebih dahulu. Ibu tidak tahan melihat wajah lelah mu itu,"


"Ibu yakin, kau tidak makan dengan benar,"


Zeffrey menghela napas lalu mengangguk, "Haah ... Baiklah, Bu,"


Demetria mengangguk merasa puas dengan tanggapan yang di lontarkan oleh Zeffrey.


Mereka berjalan dengan keadaan yang hening sejenak.


Lalu Avyanna mengetuk pipi Demetria dan berkata dengan penuh harap, "Ibu, Avy juga ingin beljalan,"


Demetria memiringkan kepalanya bingung dengan apa yang dikatakan oleh putrinya tersebut, "Bukankah jika berjalan manti Avy akan cepat lelah loh ..."


Avyanna membuat wajah seperti sedang membulatkan tekad, "Tidak, Bu. Avy ingin beljalan agal bisa cepat besal,"


Demetria terdiam sejenak dan mulai terkekeh mendengar jawaban penuh semangat Avyanna, "Baiklah ... Baiklah ... Jalan dengan berhati- hati ya, Avyku,"


Demetria mulai berhenti dan membungkukkan badannya agar Avyanna bisa turun dan mulai berjalan.


Avyanna yang berjalan mulai menoleh ke kanan dan ke kiri dengan takjub.


Sementara itu, Demetria berusaha keras untuk menahan tawa yang akan keluar dari mulutnya.


Karena hal itulah, tubuh Demetria bergetar menahan tawa.


Zeffrey mengerutkan alisnya dan berjalan di belakang Avyanna sambil menyesuaikan kecepatan berjalan Avyanna.


Avyanna terus berjalan dan berbicara dalam hatinya, 'Ini menakjubkan,'


Avyanna dapat melihat sebuah bangunan yang besar berada di belakangnya.


Avyanna menghirup aroma pepohonan dan mendengar suara kicauan burung yang seperti mengiringi jalannya.


Avyanna mulai melihat langit biru hingga ia dapat melihat sesuatu yang aneh.


Avyanna dapat melihat beberapa hewan aneh melintas di langit- langit bersamaan dengan beberapa manusia yang menggunakan pakaian serba hitam melayang bersama dengan hewan- hewan tersebut.


Avyanna memiringkan kepalanya saat ia mulai berhenti berjalan dan bertanya, "Ibu, yang di atas itu hewan apa?"


Demetria yang berjalan sedikit membungkuk untuk menjaga Avyanna agar tidak terjatuh mulai memiringkan kepalanya, "Hewan?"


Avyanna mengangguk lalu mengangkat jari telunjuknya ke atas langit, "Hewan itu, Bu,"


Demetria dan Zeffrey melihat mengikuti arah jari telunjuk Avyanna.


Demetria terdiam sejenak sebelum berkata, "Itu ... "


Zeffrey juga kebingungan, "Apa itu, Bu? Saya tidak pernah melihatnya sekalipun,"


Avyanna mengerutkan alisnya dan masih menatap langit, "Tapi, bukankah itu ... Semakin banyak, Bu?"


Avyanna mengatakan hal benar.


Hewan dengan sayap aneh dan beberapa manusia berpakaian hitam terbang di langit itu semakin lama semakin banyak.


Zeffrey memasang wajah bingung, "Ibu? Ibu, ada apa?"


Demetria terlihat gemetar dan napasnya tidak beraturan.


Ia bahkan seperti menggumamkan sesuatu yang tak bisa dimengerti Zeffrey dan juga Avyanna.


Zeffrey menarik ujung lengan pakaiannya dan berteriak, "Ibu?!"


Demetria terkejut dengan keringat dingin mulai mengalir membasahi wajahnya, "Hah?!"


Zeffrey membuka mulutnya dan ia juga terlihat bingung serta panik, "Ibu, ada apa?! Ada apa, Bu?!"


Atmosfer di sekitar mereka bertiga perlahan terasa berat dan juga menyesakkan.


Demetria terlihat mengayunkan tangannya sejenak sebelum akhirnya atmosfernya mulai kembali normal.


Demetria langsung mengangkat tubuh Zeffrey dan Avyanna secara bersamaan lalu mulai berlari.


Zeffrey melebarkan matanya dengan bingung, "Hah? Ibu?"


Avyanna terkejut dan berkata dengan gagap, "Bu? Ibu? Ada apa?"


Demetria berkeringat dingin dan tetap diam saat ia terus berlari tanpa menghiraukan pertanyaan kedua anaknya itu.


Zeffrey secara tiba- tiba mengeluarkan suara terkejut dan mulai berkata dengan gemetar, "A- ada yang kemari, Bu!"


Demetria menoleh ke belakang saat ia dapat melihat aura hitam pekat sedang berlari ke arahnya.


Demetria terkejut, "Orang ... Itu ..."


BOOOMMMM!!!!


Demetria secara mendadak berhenti berlari saat ia melihat jalan di depannya meledak.


Jalan berbatuan itu mulai hancur dan meninggalkan lubang yang sangat besar.


Bahkan pepohonan dan juga rerumputan di sekitarnya hangus terbakar.


Avyanna gemetar, "A- apa yang teljadi?"


Zeffrey membuka matanya lebar saat ia melihat bayangan hitam yang membentuk siluet seseorang dengan asap hitam mengelilinginya.


Zeffrey juga ikut gemetar, "I- ibu ... Itu ..."


Demetria menelan air di mulutnya dengan kasar dan membalikkan tubuhnya.


"Lama tak bertemu,"


Suara berat dan juga kasar menyambut mereka bertiga.


Avyanna mulai gemetar kesakitan, "Ini ..."


Demetria menatap putrinya yang memegang lehernya dan wajahnya perlahan mulai berubah menjadi ungu.


Zeffrey menatap Avyanna dan mulai bertanya dengan panik, "Avy? Avy, ada apa? Kau kenapa?"


Demetria mencoba untuk mengatur napasnya dan menatap lurus ke depannya.


Bayangan hitam itu menampilkan seseorang.


Seorang pria dengan pakaian hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, lalu setengah wajahnya dan hanya menyisakan satu mata berwarna hitam dengan rambut silver yang berkibar diterpa oleh angin.


Demetria menggertakan giginya dengan marah, "Kau!!!"


Avyanna, "Ugh ..."


Zeffrey berteriak panik, "Avy?!"


Demetria merasakan rasa sakit yang tak tertahankan saat melihat Avyanna mengeluarkan rasa sakit seperti tercekik.


Tapi di situasi saat ini Demetria harus bersikap tenang dan tak tergesa- gesa.


Demetria berbisik dengan sangat lirih, "Zeffy, apa kau bisa menggunakan sihir penetralan?"


Zeffrey mengangguk dengan cepat, "Ya, Bu ... Saya akan mencobanya. Saya pasti bisa melakukannya,"


Demetria terus menatap lawan di depannya tanpa mengedipkan matanya.


Demetria yang tanpa menoleh ke arah Zeffrey berkata dengan nada gemetar, "Berikan sihir itu pada adikmu,"


Zeffrey kebingungan saat mendengar apa yang di katakan ibunya itu dan mulai bertanya, "Apa? Tapi, Bu ... Bukankah, Avy tidak boleh terpapar sihir terlebih dahulu?"


Demetria menggelengkan kepalanya, "Tidak, Zeffy. Lakukan saja apa yang ibu minta,"


Zeffrey tidak lagi bertanya ia mulai menggumamkan mantra sambil menyentuh Avyanna yang sudah sangat kesulitan bernapas.


'Heh?'


Avyanna berangsur- angsur dapat bernapas, tapi itu masih sangat menyakitkan.


Wajahnya yang berwarna ungu mulai kembali normal.


"Hoo ... Bukankah itu mana berwarna emas?"


Pria itu mulai berjalan mendekati mereka perlahan sambil melanjutkan perkataannya, "Bahkan, warnanya jauh lebih indah di bandingkan milik ayahnya, ya?"


Demetria melangkah kebelakang perlahan saat ia berteriak, "Louis, kau?!"


****