I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 6~ Mimpi



Langit yang berwarna hitam tanpa satupun cahaya kecil yang menghiasinya.


Dor! Dor! Dor!


Suara tembakan memenuhi langit malam.


Malam itu awalnya berwarna hitam dan sunyi, tapi semua berubah menjadi merah dan suara teriakan terdengar ada dimana-mana.


Dor! Dor! Dor!


Bau darah menyebar di segala penjuru.


Mayat berserakan di jalan-jalan.


Tidak ada satupun yang menghawatirkan tentang pemakaman para mayat tersebut.


Mereka diletakkan begitu saja di jalan-jalan.


Seolah mereka bukanlah manusia.


Tikus, kucing, anjing menggerogoti mayat-mayat itu dengan senang.


Dengan belatung dan juga para lalat yang seperti menari-nari di atas jamuan pesta.


Para hewan itu mendapatkan makanan gratis yang bergelimang di jalanan.


Jika berjalan saja, kita mungkin menemukannya.


Bau mayat yang membusuk.


Bau mesiu di sudut kota.


Terdengarnya teriakan ketakutan.


Suara senjata api yang tak pernah berhenti...


Kota itu sudah lama mati.


Tapi di dalam kota yang seperti itu, masih ada beberapa kehidupan.


Mereka terus bertahan hidup.


Mereka bersembunyi di sudut, berharap mungkin dewa akan menolong mereka.


Salah satunya...


Seorang anak meringkuk di sudut dengan sampah yang mengelilinginya.


Ia tidak tahu berapa lama ia tidak makan.


Berapa lama ia meringkuk di kumpulan sampah dan mayat tersebut.


Ia tidak tahu.


Lagipula tidak ada yang memberitahukannya.


Ia tidak tahu apakah mungkin ada yang tersisa dari kota ini.


Entah apa yang ia lakukan, meringkuk untuk bertahan dari dinginnya malam?


Atau meringkuk untuk menekan perutnya yang berteriak untuk di berikan makanan?


Entahlah...


Tapi kenyataannya adalah ia terus bertahan hidup.


Naluri bertahan hidupnya melawan rasa takut dan juga rasa sakit yang di deritanya.


Malam itu terasa sangat panjang...


Tidak cepat berakhir...


Anak itu berharap agar sinar matahari akan menyinarinya...


Menghancurkan malam yang gelap dan dingin itu.


Membawa sedikit harapan, bahwa ia akan segera keluar dari neraka ini.


Mata anak itu tetap terpejam dengan perut yang terus berbunyi.


Tapi tiba-tiba saja, telinga anak itu bergerak.


Tubuhnya masih meringkuk di sudut tetapi tanda bahwa telinganya bergerak, menandakan bahwa ada suara.


Anak itu mengerutkan alisnya dan mencoba untuk mendengar dengan baik.


Apakah itu tentara?


Atau mungkin para manusia gendut?


Atau mungkin itu anjing yang kelaparan?


Anak itu tidak memiliki ide sama sekali dan hanya memaksakan dirinya untuk lebih melindungi tubuh ringkihnya.


Anak itu mendengarkan sebuah suara.


Suara langkah seseorang...


Seperti mendekat kepada anak itu.


Suara itu berirama.


Tidak terburu-buru dan juga tidak pelan.


Dan akhirnya berhenti tepat seperti di belakang anak itu.


Anak itu dapat mencium aroma yang asing tapi sangat menyenangkan untuk menghirupnya di tengah-tengah sampah dan mayat.


"Hei!"


Ia berusaha untuk menggerakkan kepalanya.


Entah mengapa, ia merasa bahwa ini adalah sebuah harapan.


Mungkin sebenarnya ia juga akan mati.


Tapi anak itu memberanikan diri untuk berbalik dan ia hanya dapat melihat siluet seseorang.


"Ternyata kau masih hidup ya..."


***


Avyanna menggosok matanya yang terasa gatal.


Ia terkejut dan terbangun karena mimpinya.


Mungkin tidak bisa disebut sebagai mimpi.


Ia menatap mainan di atasnya dengan malas.


Avyanna merasa tidak bersemangat sekarang.


'Entah mengapa aku mengingat hal itu sekarang...'


Sudah lebih dari sebulan ia dilahirkan.


Kini keluarga barunya selalu bersamanya dan menemaninya.


Avyanna termenung sejenak sebelum berkata, "Bwaaa... Wababaa...."


Dan Avyanna terdiam lagi.


'Aku... Ingin hidup yang santai...'


Avyanna mengangkat tangan, ia menatap tangan kecil yang kemerahan.


Avyanna ingat dengan jelas sebuah nasihat yang ditujukkan padanya.


Avyanna mencoba menirunya, "Bwaaa... Wababaa..."


'Hiduplah dengan bahagia...'


Avyanna menghela napas sebelum ia mencoba untuk tertidur lagi sambil menyedot jarinya yang mungil.


'Kuharap kali ini aku bermimpi yang baik...'


Avyanna mencoba memejamkan matanya kembali.


Mungkin ia akan mendapatkan mimpi yang indah?


Ia merilekskan tubuhnya yang kecil dan mulai membayangkan hal-hal yang menyenangkan.


Ia membayangkan bagaimana Demetria yang tersenyum menepuk-nepuk punggungnya setelah ia minum susu.


Avyanna membayangkan Cathan yang membacakan buku dongeng setiap malam dan melakukan beberapa trik yang sama dengan mengubah daun menjadi bunga.


Dan Avyanna juga membayangkan bagaimana kakaknya Zeffrey yang sudah seminggu ini sering membawakan barang apa saja yang ia temukan di luar.


Seperti batu berbentuk bulat, daun dengan ujungnya yang bergelombang, dan bunga kecil dengan wangi yang semerbak.


Semua itu dicuci dengan bersih lalu di keringkan dan berakhir di kamar Avyanna.


Avyanna tersenyum saat membayangkan kakaknya di kehidupan kali ini begitu aneh.


'Anak yang aneh...'


Avyanna mencoba melupakan masa lalunya yang sangat menyakitinya.


Karena kali ini, Avyanna di berikan kesempatan untuk hidup lagi.


Hidup dengan keluarga yang menerimanya.


'Aku harap... Kali ini keluarga ini akan menyayangiku...'


Mata emas Avyanna berbinar dan bibirnya bergetar.


Ini menyedihkan.


Tapi di satu sisi ada perasaan melegakan yang menggelitik hati.


"Hwaaa..."


Pintu terbuka dan menampilkan sosok yang sangat cantik.


Aroma yang familier tercium oleh Avyanna.


Demetria selalu terlihat indah sepanjang Avyanna memandang.


Demetria mengangkat Avyanna dan menggendongnya.


"Saatnya untuk berjalan-jalan, Avyku..."


Demetria membawa Avyanna yang berada di dalam pelukannya keluar dari ruangan tersebut.


Angin sepoi-sepoi menggelitik dahi Avyanna.


Membuat rambut hitam pendeknya berterbangan mengikuti angin.


Demetria menguncir rambutnya yang hitam bergelombang dengan rapi.


Dan saat Demetria dan Avyanna keluar dari rumah, mereka sudah di sambut oleh Cathan dan Zeffrey yang berpakaian rapi.


Di tangan kanan Cathan, Avyanna dapat melihat keranjang rotan besar.


Cathan menatap Demetria dan Avyanna dengan senyum tipis, "Ayo, Demy..."


****