I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 49~ Kontrak (2)



Sebuah suara berat terdengar dari suatu tempat di dalam segel sihir tersebut.


'"Ayo, lakukan kontrak denganku!"'


Zeffrey berbalik dan melihat siluet seseorang.


Zeffrey mengerutkan alisnya, "A-apa?!"


Karena di sekitarnya banyak sekali segel sihir, mau tidak mau Zeffrey merasakan rasa merinding di sekujur tubuhnya.


Siluet seseorang itu berjalan perlahan mendekati Zeffrey yang mengeluarkan keringat dingin.


Zeffrey berpikir, 'Aku akan langsung mati jika orang ini adalah orang jahat!'


Zeffrey menoleh ke kanan dan ke kiri dan akhirnya menyadari bahwa burung kecil tadi tidak lagi terbang mengelilinginya.


Zeffrey mencoba memejamkan matanya dengan kedua tangannya yang terangkat membuat posisi pertahanan.


Orang itu memiringkan kepalanya dan berkata dengan suara berat yang khas, '"Kenapa kau takut?"'


Zeffrey membuka matanya dengan perlahan untuk melihat seseorang di depannya.


Zeffrey terkejut, "?!"


Zeffrey melihat orang di depannya yang memiliki rambut panjang berwarna biru laut dan warna matanya yang berwarna biru safir.


Ada beberapa bulu burung di pakaian yang ia kenakan.


Orang ini adalah orang dewasa tercantik yang pernah dilihat oleh Zeffrey selain ibunya.


Zeffrey masihlah anak berumur sepuluh tahun saat ia melihat seseorang yang terlihat cantik serta tampan secara bersamaan dan juga orang ini lebih tinggi darinya.


Orang itu membungkuk dengan meletakkan tangan kanannya tepat di dada sebelah kiri.


'"Zeffrey, perkenalkan namaku adalah Erion,"


Zeffrey tercengang saat wajah orang ini hanya berjarak sepuluh jari dari wajahnya.


Zeffrey membuka mulutnya, "E-erion?"


Erion mengangguk sambil tersenyum.


Erion mendekatkan lagi wajahnya dengan wajah Zeffrey.


Tetapi hal itu membuat Zeffrey terkejut dan memilih untuk berjalan mundur.


Zeffrey bertanya dengan suara yang rendah, "Erion, anda siapa?"


Erion memiringkan kepalanya dan menatap Zeffrey dengan wajah yang mengatakan, 'Apa-apaan dengan pertanyaan mu itu?'


Erion hanya menghela napas sejenak dan mulai memejamkan matanya.


Seketika Erion yang tadi berwujud manusia berubah menjadi burung biru kecil di depan Zeffrey.


"Ah?!"


Burung kecil itu mengelilingi tubuh Zeffrey dan berkata, '"Apa sekarang kamu sudah tahu siapa aku?"'


Zeffrey yang masih memasang wajah terkejut segera menganggukkan kepalanya dengan antusias, "Ya! Kamu adalah spirit angin!"


Erion dalam wujud burung tertawa, '"Hahahaha! Bagaimana? Apakah kau ingin melakukan kontrak denganku?"'


Zeffrey menunduk dengan alisnya yang terajut, "Kenapa Erion ingin melakukan kontrak dengan saya?"


Erion berhenti terbang dan berubah wujudnya lagi menjadi manusia.


Erion menatap dari atas Zeffrey sambil memiringkan kepalanya, '"Mengapa kau membutuhkan alasan? Ayo lakukan kontrak denganku!"'


Zeffrey mengangkat kepalanya untuk bisa melihat mata biru safir milik Erion sambil berkata, "Saya masih sangatlah lemah dan itu akan membuat Erion tidak bisa menggunakan kekuatan dengan maksimal,"


Erion masih memiringkan kepalanya, '"Hanya karena itu?"'


Zeffrey terkejut, "Ya ... Apalagi saya mendengar bahwa spirit yang dapat berubah menjadi manusia pastinya merupakan spirit tingkat tinggi. Jika melakukan kontrak dengan saya, Erion hanya akan ..."


Erion mengangkat bahunya dan menghela napas panjang dan akhirnya berkata, '"Aku menyukaimu Zeffrey! Karena itu, kau harus melakukan kontrak denganku!"'


Zeffrey yang masih memasang wajah terkejut berkata, "Ta-tapi saya ..."


Erion, '"Kau ini ... terkadang terlihat sangat dewasa dan berpikiran optimis. Tetapi, sekarang kau malah terlihat sangat pesimis pada kemampuanmu sendiri, ya?"'


Zeffrey menggigit bibirnya dan membayangkan apa balasan dari sikapnya yang sangat menjunjung tinggi bakat miliknya.


Adik perempuannya harus mengalami hal menyakitkan selama ini tanpa tahu alasan mengapa ia tidak bisa membentuk inti mana.


Erion melihat Zeffrey yang merenung dengan sangat menyedihkan akhirnya menghela napas panjang.


Zeffrey kembali memandang Erion dengan bingung.


Erion, '"Haah ... Tidak masalah jika kau masih lemah sekarang. Karena aku dapat membantumu menjadi lebih kuat nantinya!"'


Zeffrey terdiam, "..."


Erion membungkuk dan menepuk kepala Zeffrey dengan lembut, '"Kita bisa berkembang bersama sedikit demi sedikit, bukan? Waktu yang kau dan aku miliki itu masih banyak sekali!"'


Zeffrey menatap dengan mata emasnya pada tanah bersalju di bawah kakinya.


Wajah Zeffrey sedikit demi sedikit mulai memerah.


Erion menghela napas dengan senyum lembut saat ia melihat bahu Zeffrey yang bergetar.


Erion tahu anak ini terus menerus menyalahkan dirinya sendiri atas ketidakberdayaan miliknya.


'Haah ... anak ini ...'


Erion hanya terus menepuk lembut kepala Zeffrey yang sedang menangis tanpa suara.


Erion mengangkat kepalanya dan menatap langit biru yang tertutup dengan kabut putih sambil berpikir, 'Terkadang aku tak mengerti manusia sama sekali,'


***


Tercium aroma kopi yang menyeruak memenuhi ruangan tempat dimana Demetria berada.


Demetria menatap pemandangan di luar dari jendela dengan wajah cemas.


"Kenapa Zeffy belum juga kembali?"


Demetria menoleh ke belakang dan menatap Avyanna yang sedang tertidur pulas setelah meminum segelas susu hangat.


Udara di luar rumah menjadi lebih dingin seolah salju akan turun.


Demetria menghela napas dan beranjak dari tempat ia berdiri.


Ia mengambil beberapa kayu bakar dan meletakkannya di perapian.


Demetria menatap lama api yang membakar kayu-kayu bakar.


Suasana hening yang aneh menyelimuti rumahnya.


Tuk ... tuk ... tuk ...


Sebuah ketukan tak beraturan terdengar dari arah jendela.


Demetria menoleh dan melihat seekor burung biru kecil sedang mematuk kaca jendela sambil menatap Demetria dari luar jendela.


Demetria segera bangkit dan berjalan ke arah burung kecil itu dengan membuka jendela tersebut.


"Ah?"


Demetria menutupi wajahnya saat angin yang sangat dingin menerpa wajahnya.


Burung kecil itu langsung masuk setelah Demetria membukakan jendela untuknya.


Demetria dengan sigap menutup lagi jendela rumahnya dan menguncinya.


Burung kecil itu terbang ke dekat perapian sambil menggoyangkan tubuhnya.


Demetria melihat burung kecil itu sedang membersihkan bulu-bulunya dengan paruhnya.


Demetria berjalan mendekati burung kecil itu sambil berkata, "Apakah kau baik-baik saja?"


Burung kecil mulai mengepakkan sayap dan terbang mendekati Demetria.


Burung kecil itu berkicau sambil terbang.


Demetria mengerutkan keningnya dan terkejut dengan apa yang dikatakan oleh burung ini.


"Itu ..."


Demetria menenangkan dirinya terlebih dahulu dan meminta burung kecil itu untuk bertengger pada tempat yang sudah ia siapkan, 'Aku harus tenang ... tidak akan ada yang terjadi pada kami. Karena disini kami akan aman,'


Burung itu mengikuti apa yang dikatakan oleh Demetria dan terbang mendekati tempat yang sudah di siapkan Demetria.


Demetria menatap kembali pemandangan di luar jendela dengan cemas.


"Zeffy, dimana kau, nak?"


Demetria menghela napas dan duduk di dekat jendela sambil menatap terus ke luar jendela.


Burung kecil itu menatap pada Demetria yang tidak bergerak untuk waktu yang lama dari dekat jendela.


Burung itu kembali terbang setelah ia merasa bahwa sayapnya tidak lagi kaku seperti tadi.


Ia mendekati Demetria dan bertengger di atas kepala Demetria sambil berkicau.


Demetria yang terkejut menoleh ke atas, "Ada apa?"


Burung itu berkicau lebih keras sambil mematuk dagu Demetria.


Demetria mengeluh kesakitan sambil terkekeh, "Maafkan aku. Hanya saja putra sulungku belum kembali. Karena itu aku belum bisa melakukannya sekarang,"


Burung kecil itu berhenti mematuk dahi Demetria dan berkicau kembali.


Demetria mengangguk dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan wajah cemasnya, "Ya, tadinya dia akan mengambil obat-obatan untuk adiknya dan pergi ke rumah nyonya Bia. Tetapi sampai sekarang, ia belum kembali,"


Burung kecil itu berkicau lagi sambil menatap jendela.


Demetria terkekeh pelan, "Terimakasih sudah mengkhawatirkan putraku,"


Demetria juga menatap pemandangan di luar jendela sambil berpikir, 'Zeffyku, kuharap kau tidak pergi ke hutan, nak,'


'Karena di hutan ...'


****