
Avyanna mengangguk dan berkata dengan suaranya yang tinggi dengan semangat, "Jika kita berhasil melakukannya ibu dan kakak tidak perlu menahan diri dalam menggunakan sihir di depan saya,"
Avyanna mengerjapkan matanya berulang-kali seolah ia berharap, "Kita juga bisa mengetahui dengan baik dimana ayah berada dan lalu menjemputnya pulang,"
Demetria menatap Avyanna sejenak lalu mulai tersenyum sedih, "Itu benar, Avyku. Tetapi ..."
Avyanna memiringkan kepalanya merasa bingung, "Tetapi apa, Bu?"
Demetria menjelaskan, "Tetapi para makhluk yang bukan manusia itu tidak suka berhubungan dengan manusia. Mereka juga akan langsung bersikap agresif saat melihat para manusia,"
Avyanna yang mendengarkan hal itu mulai menunduk dengan sedih, "Ah ...."
Demetria yang melihat putrinya kehilangan harapan mulai merasa bersalah.
Demetria berdeham dan menepuk pelan tangan kecil Avyanna, "Avyku, kamu tidak perlu khawatir. Meskipun tidak bisa meminta dengan makhluk yang bukan manusia itu kita pasti dapat menemukan cara untuk membantu Avy dan menemukan ayah dengan cepat,"
Avyanna tersenyum dan berkata dengan semangat, "Ya, Bu!"
Demetria terkekeh kecil dan mulai bangkit berdiri, "Avyku, istirahatlah lagi. Ibu akan membuatkan makanan untuk mu dan kakakmu,"
Avyanna mengangguk dan mulai memposisikan tubuhnya dengan bersandar.
Avyanna mengerutkan keningnya dan bertanya sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan bingung, "Oh iya, Bu ... saya tidak melihat kakak,"
Demetria yang berjalan keluar berkata, "Kakakmu sedang membawakan obat untukmu. Hmmm ... jadi sepertinya sebentar lagi dia akan sampai,"
Avyanna mengangguk, "Baiklah, Bu,"
Demetria berjalan keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk membuatkan makanan.
Mata Avyanna secara tidak sadar memperhatikan buku yang masih terbuka tergeletak di atas samping tempat tidurnya.
Avyanna mengangkat tangan itu dan mencoba untuk meraih buku itu.
Saat Avyanna hendak menyentuh buku itu, tiba-tiba saja ...
Ploook!
Avyanna terkejut, "Ah??"
Avyanna terheran-heran, "Buku ... yang aneh,"
Avyanna memilih untuk mengabaikan hal itu dan bersandar dengan lebih nyaman.
Ia mulai memejamkan matanya sambil bergumam, "Sihir elementary?"
Ada begitu banyak hal yang tidak diketahui oleh Avyanna.
Karena dunia ini sangatlah luas untuk dirinya yang masih berusia empat tahun.
'Mungkin karena aku mengingat sedikit kenangan di masa hidupku dulu. Aku jadi mudah memahami apa yang di bicarakan oleh orang lainnya,'
Karena pada dasarnya anak berumur empat tahun tidak akan mengerti pembahasan yang sangat banyak dan rumit seperti yang di jelaskan oleh Demetria tentang sihir.
Anak yang masih berusia berumur empat tahun lebih tepatnya bermain-main dan mengenal terlebih dahulu lingkungan, keluarga, teman, hewan peliharaan di sekitarnya.
Avyanna yang masih memejamkan matanya membayangkan sosok yang membuat Avyanna merasakan rasa rindu tak terbendung.
Sosok yang menggendong tubuh kecilnya sambil menahan rasa kantuk di malam hari.
Sosok yang suka membawa angin sejuk untuk menghibur Avyanna kecil yang tak bisa berbuat apa-apa dan hanya berbaring di ranjang kecilnya.
Sosok yang selalu menyanyikan lagu yang tidak jelas nadanya sambil meminum kopi hangat di pagi hari.
Avyanna menggigit bibirnya, 'Oh, ayah ... Dimana anda sekarang berada?'
Di kehidupan kali ini, Avyanna di berikan kesempatan untuk bisa merasakan rasa kehangatan keluarga yang utuh.
'Aku akan sangat merasa putus asa jika ayah ternyata ...'
Avyanna segera membuang jauh-jauh bayangan yang tak masuk di akal pada pikirannya.
Avyanna memandang pemandangan di luar jendela sambil berharap, "Kumohon, tolong lindungi ayahku ..."
****