
"Avy? Sayangku? Apa kau sungguh sudah sadar?"
Avyanna mengangguk sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal dan berkata dengan canggung, "Ya ... ibu ... apa ibu menangis?"
Demetria menghela napas sangat panjang saat Avyanna menjawab 'ya'.
Demetria mengusap wajahnya yang merah karena menangis dan menatap Avyanna sambil menggenggam tangan kecil putrinya itu.
Bayangan anak dengan rambut hitam acak-acakan dan mata berwarna emas tergambar jelas di mata biru Demetria.
Demetria menghela napas sejenak sambil berkata, "Avyku ... bisakah kamu menjelaskan pada ibu apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Avyanna terlihat terkejut saat mendengar apa yang akan ditanyakan ibunya itu.
Avyanna menunduk dan berkata dengan nada rendah, "Apa ibu akan memarahi saya ... jika ibu tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
Demetria menghela napas lagi dengan wajah yang berkerut tanda tak senang.
"Entahlah ... tetapi ibu ingin mendengar dulu apa yang sebenarnya terjadi padamu,"
Avyanna mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk sambil menatap Demetria.
Avyanna melirik ke arah lain sejenak hingga akhirnya ia membuka mulutnya dan berkata, "Sebenarnya ... anu ... ibu ... sebenarnya saya ... itu ..."
Demetria memejamkan matanya sejenak dan menepuk dengan ringan tangan kecil putrinya yang sedang kesulitan menjelaskan pada dirinya.
"Ibu akan mendengarkan dulu,"
Avyanna merasakan rasa merinding yang menyelimuti sekujur tubuhnya.
Ia meneguk air di mulutnya dan menarik salah satu sudut mulutnya itu.
Avyanna membuka mulutnya mencoba menjelaskan.
Itu membutuhkan waktu yang lumayan lama.
Pada awalnya, Avyanna menceritakan bagaimana ia mencari penjelasan demi penjelasan sihir di seluruh kota yang mereka datangi.
Lalu, mencoba sendiri mantra yang ia tulis secara diam-diam dari buku yang ia baca di perpustakaan kota yang pernah mereka datangi.
Bertanya pada orang-orang yang mengaku sebagai penyihir di pinggir jalan tentang bagaimana menggunakan sihir.
Hal itu Avyanna lakukan untuk dapat membantu menemukan ayah mereka yang menghilang tanpa kabar hampir dua tahun ini.
Tetapi Avyanna tidak berani mengatakannya kepada Zeffrey dan Demetria karena takut membuat mereka sedih dan takut akan sesuatu yang belum tentu terjadi pada diri Avyanna.
Avyanna membaca berulang kali buku tentang sihir, mengucapkan mantra yang ia catat, dan berkosentrasi di setiap saat ia mencoba menggunakan sihir.
Tetapi itu tak berguna karena tak ada satupun sihir yang terjadi meskipun Avyanna mengikuti dengan persis apa yang ditulis di buku.
Hingga akhirnya, Avyanna tak sengaja menemukan sebuah buku di rumah Bia tentang pembentukan inti mana.
Avyanna secara diam-diam menulis hal-hal penting dari buku tersebut pada buku catatan milik Avyanna sendiri.
Lalu setelah memahami apa yang harus dilakukan olehnya, Avyanna akhirnya mencoba untuk membentuk inti mana.
Tetapi hal itu malah membuat tubuhnya merasakan rasa sakit yang tak tertahankan.
Demetria yang mendengarkan dari awal hingga akhir penjelasan Avyanna tidak dapat menahan amarah dari lubuk hatinya.
Amarah itu bukan untuk Avyanna, melainkan pada dirinya sendiri.
Demetria merasakan rasa penyesalan pada dirinya sendiri saat ia menyadari bahwa bukan hanya ia yang kehilangan Cathan, suaminya.
Melainkan anak-anaknya juga merindukan sosok ayah.
Avyanna yang mendengarkan itu mengerutkan alisnya dan berkata dengan bingung, "Mengapa ibu minta maaf?"
Demetria mengerutkan keningnya, "Karena ini adalah salahku,"
Avyanna membuka matanya dengan lebar dan berkata dengan nada gentar, "Ibu, mengapa ini menjadi kesalahan ibu?"
"Avyku ... kau tidak dapat menggunakan sihir karena ibu pernah menggunakan sihir yang kuat saat kau masih sangat rentan dengan sihir,"
Avyanna menggenggam tangan ibunya lebih keras, "Tetapi, ibu ... jika bukan karena ibu yang dengan sigap melakukannya, mungkin saya dan juga kakak tidak akan hidup saat ini. Ini bukan salah ibu,"
Demetria menggertakan giginya dan merasakan rasa bersalah yang menyesakkan dadanya, "Seharusnya ibu pada pagi itu menahan ayah kalian agar tidak berangkat ke menara sihir,"
Avyanna menatap dengan sedih pada ibunya, "Ibu, saat itu kita meyakini bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ini bukan salah ibu. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi ke depannya, bukan?"
Tangan Avyanna itu hanya sebesar kurang setengah dari tangan Demetria, tetapi kehangatan yang terasa pada tangannya berhasil menyelimuti Demetria.
Avyanna tidak mendengar tanggapan dari ibunya dan akhirnya melanjutkan pembicaraan, "Kami malah sebenarnya merasa sangat berterimakasih karena ibu masih berada bersama kami sekarang. Jika tidak ... saya dan kakak entah apa yang bisa kami lakukan sekarang,"
Demetria tersenyum lembut sambil mengangkat tangannya yang lain untuk membelai pipi Avyanna sambil berpikir, 'Oh, Putriku ...'
Demetria menatap dengan lembut Avyanna, "Terimakasih, Avyku ..."
Demetria mulai memeluk tubuh Avyanna dan berkata dengan mata yang terpejam, "Aku merasa sangat tak berdaya karena rasa cemas dan takut yang menghantuiku selama ini. Hingga aku bersikap kekanak-kanakan. Maaf,"
Avyanna juga memeluk Demetria dalam diam.
Demetria membelai punggung Avyanna sambil perlahan membuka matanya.
Tiba-tiba saja Demetria mengingat sebuah kenangan yang terjadi sudah sangat lama.
Demetria berkata sambil menepuk halus punggung Avyanna, "Dan juga ... Avyanna?"
Demetria melepas pelukan hangat mereka dan menatap Avyanna.
Avyanna mengangguk dan menanggapi, "Ya, Bu?"
Demetria menasehati Avyanna dengan nada yang tegas, "Ibu sangat khawatir jika kamu melakukan hal seperti itu lagi ke depannya tanpa pengawasan ibu ataupun kakakmu. Jadi, ibu harap kamu tak melakukannya lagi,"
Avyanna menunduk dengan sedih tetapi tetap menanggapi, "Baiklah, Bu,"
Demetria menatap Avyanna dengan wajah bersalah laku menghela napas, "Apa Avyku ingin mengetahui sesuatu?"
Avyanna mengangkat wajahnya dan menatap Demetria dengan bingung, "Mengetahui sesuatu?"
Demetria menganggukkan kepalanya, "Ya,"
Avyanna, "Tentang apa, Bu?"
Demetria menatap mata emas putrinya itu sambil berkata, "Tentang sebuah saran yang juga bisa dikatakan sebagai sebuah larangan, apakah kamu mau tahu?"
Avyanna mengerutkan keningnya sambil memiringkan kepalanya, "Apa itu, bu?"
Demetria menatap wajah penasaran putrinya itu lalu menjelaskan, "Sebelum ibu dan ayahmu menikah, seorang guru mengatakan pada kami sebuah larangan yang juga di jadikannya sebagai saran pernikahan kami,"
Avyanna bertanya, "Apa yang dikatakan oleh guru itu, Bu?"
Demetria tersenyum sejenak dan menjelaskan sambil membayangkan sesuatu di pikirannya, "Guru itu mengatakan pada kami bahwa di saat kedua penyihir akan menikah, akan terjadi sebuah ikatan mana di sekitar jantung sepasang penyihir tersebut,"
"Dan di saat sepasang penyihir itu ingin memiliki penerus akan ada sebuah kejadian dimana mana milik mereka akan tersedot pada penerus penyihir tersebut hingga tak bersisa,"
****