I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 14~ Pertemuan



Zeffrey menatap sosok di depannya.


Ia dapat melihatnya.


Bahu lebar dan punggung yang kokoh milik ayahnya.


Setiap kali Zeffrey melihatnya ia mengingat sebuah perisai yang sering dilihatnya sewaktu ia pergi bersama Cathan ke istana kekaisaran.


'Itu kokoh dan dapat melindungi banyak hal,'


Zeffrey mengingat siluet seseorang yang berdiri dengan tegak sambil mengatakannya dengan tersenyum.


Meskipun terdapat goresan di sudut bibir orang di dalam pikirannya Zeffrey, hal itu tidak menghilangkan kesan wajahnya yang dapat diandalkan.


Zeffrey berpikir dalam hati, 'Perisai yang beliau perlihatkan sama seperti punggung ayah,'


Meskipun dalam arti yang berbeda.


Zeffrey mulai mengikuti Cathan di belakangnya dalam diam.


Ia tidak melihat di sekitar mereka karena ia sudah biasa melihat lingkungan menara sihir.


'Tidak ada yang berubah,'


Zeffrey dapat melihat bahwa ayahnya, Cathan terus merenungkan sesuatu sambil berjalan dengan wajah yang tertunduk.


'Ayah pasti sangat pusing dan lelah. Tidak ada satupun hari yang menyenangkan setelah hari itu,'


"Zeffy?"


Zeffrey bergegas menoleh ke belakang saat mendengar panggilan.


"He? Ibu? Dan..."


Zeffrey dapat melihat wanita dengan rambut hitam bergelombang sedang menggendong seorang anak dengan mata emas yang terlihat bercahaya saat terkena cahaya matahari.


Zeffrey mengerjapkan matanya berulang kali memastikan bahwa anak yang dilihatnya itu benar.


"Avy?"


Demetria terkekeh sambil berjalan mendekati putra sulungnya itu dan mulai mengelus lembut pipi Zeffrey.


"Zeffyku, apakah kamu sendirian disini?"


Zeffrey yang masih terkejut langsung menggelengkan kepalanya dan berkata, "Ah, tidak, Bu ... saya bersama dengan..."


Zeffrey menoleh kebelakang saat mendapati bahwa ayahnya telah menghilang.


"Loh?"


Demetria memiringkan kepalanya dan bertanya, "Dengan siapa?"


"Tadi saya bersama dengan ayah, Bu. Tapi..."


Zeffrey menoleh ke sekelilingnya tapi tidak menemukan sosok pria dengan rambut berwarna biru gelap.


Demetria mengangguk, "Hmmm... Mungkin saja dia langsung pergi ke suatu tempat,"


Demetria menggandeng tangan Zeffrey dengan tangannya yang bebas.


"Baru sehari Ibu tidak melihatmu. Tapi kamu terlihat sangat kurus, Zeffyku,"


Zeffrey berjalan sambil menggenggam tangan ibunya, "Saya sudah makan, Bu. Itu pasti hanya perasaan Ibu saja,"


"Hmmm? Begitukah?"


Demetria menatap dengan seksama putranya dari sudut pandangnya.


"Kebetulan sekali. Kalau begitu mari kita makan dulu,"


Zeffrey mengerutkan alisnya, "Ibu, saya baru saja makan,"


"Makan dengan apa?"


Zeffrey menjawab tanpa berkedip, "Roti,"


Demetria mengerutkan alisnya, "Hanya roti?"


Zeffrey mengangguk dan menambahkan, "Ah, dengan air minum. Para penyihir yang memberikannya, Bu,"


Demetria hanya tersenyum tanpa membalas.


Zeffrey yang melihat ibunya seperti itu entah mengapa merasakan perasaan yang tidak menyenangkan.


"Kalau begitu, mari kita makan dulu,"


Zeffrey tidak berani mengucapkan sepatah kata untuk menolak pernyataan Demetria.


Zeffrey mengangguk dan berjalan dalam diam.


Avyanna menatap dalam diam interaksi ibu dan anak itu.


Avyanna menatap wajah Demetria yang memiliki kerut halus.


'Entah mengapa saya merasa bahwa ibu sedang kesal sekarang? Apa hanya perasaanku saja?'


Zeffrey yang merasa diperhatikan menoleh ke atas dan menatap Avyanna yang menatapnya.


"Ibu, bagaimana bisa ibu membawa Avy untuk berada disini?"


Demetria terkekeh lalu berkata, "Adikmu yang meminta kesini. Katanya dia merindukan ayah dan kakaknya,"


Zeffrey terkejut sejenak lalu langsung membuang wajahnya dan berbicara dengan tak jelas, "Si aneh ini tambah hari tambah aneh..."


Demetria berdiri sambil menggendong Avyanna hanya tertawa saat melihat sikap lucu anak sulungnya itu.


Demetria dan Zeffrey mulai berbicara hal- hal yang lainnya sambil terus berjalan menuju ke gerbang masuk menara sihir.


Tapi tidak dengan Avyanna, ia merasa kebingungan.


Avyanna mengerutkan alisnya dan mulai bertanya dalam hatinya, 'Aku ingat bahwa warna bola mata Zeffrey adalah emas. Sama seperti warna mata milikku,'


Tapi apa yang di lihat Avyanna saat ini adalah hal yang aneh.


Avyanna memiringkan kepalanya dan bergumam dalam hati, 'Mengapa warna matanya menjadi cokelat?'


Demetria yang merasa bahwa Avyanna hanya diam dari tadi mulai bertanya, "Avyku, apakah ada sesuatu yang salah?"


Avyanna menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata dengan semangat, "Tidak ada, Bu... Avy, hanya melasa asing dengan tempat ini,"


Demetria melihat ke sekeliling dan berkata, "Asing ya... Hmmmm... Tentu saja seperti itu, karena Avy baru pertama kali kemari,"


Avyanna melebarkan matanya dan berkata dengan nada memohon, "Kalau begitu apakah Avy boleh belkeliling, bu?"


Demetria menghela napas lalu menggelengkan kepalanya, "Sayangnya tidak boleh. Avyku masih sangat kecil,"


Avyanna langsung mengangguk tapi ia mulai menoleh ke arah Zeffrey dan bertanya, "Tetapi kenapa kakak boleh?"


Demetria mengelus lembut pipi Avyanna dan berkata, "Itu karena kakakmu sudah berumur lebih dari lima tahun dan juga bisa menggunakan sihir. Jadi di tempat yang banyak sekali aliran mananya akan aman untuk tubuhnya,"


Avyanna mengerutkan alisnya, "Ah? Sihil? Tetapi, mengapa aku tidak apa- apa, Bu?"


Demetria tersenyum sejenak dan mulai berkata, "Karena ibu sedang melindungi Avy dengan perisai yang sangat kuat,"


Avyanna mengerutkan alisnya dan bertanya, "Perisai? Tapi, aku tidak melihat apapun kok, Bu,"


Demetria terkekeh, "Kalau begitu, maaf. Masih terlalu dini untuk Avyku mengenal sihir,"


Zeffrey mengangguk dan juga menanggapi, "Benar, lebih baik kamu memperbaiki terlebih dahulu cara bicaramu itu,"


Avyanna menatap Zeffrey dengan kesal, "Apa? Memangnya apa yang calah dengan cala bicalaku?"


Zeffrey tidak menoleh saat menanggapi, "Banyak. Apa kau tidak sadar, aneh?"


Avyanna membuat wajah terkejut, "..."


'Anak ini?!'


Demetria hanya tertawa saat melihat Zeffrey dan Avyanna bertengkar.


Demetria memperingati dengan wajah yang cerah tampak tak marah, "Sudah. Jangan bertengkar lagi,"


Bahkan, saat mereka bertiga sudah berada di dekat para penjaga gerbang masuk menara sihir Avyanna dan Zeffrey masih terus melanjutkan pertengkaran.


"Anda sangat cepat perginya, Nona Demetria?"


Demetria tersenyum, "Aku sebenarnya hanya ingin membawa pulang putraku,"


"Ah, begitu ya... Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Nona Demetria,"


Demetria mengangguk kecil dan berkata, "Sampai jumpa lagi, Tuan,"


Demetria berjalan menjauhi gerbang masuk sambil diikuti oleh Zeffrey yang menggenggam tangan Demetria.


***


Cathan merenungkan dirinya dan akhirnya mulai kembali tersadar.


"Hmmm... Sepertinya ada yang aku lupakan. Tapi apa ya?"


Cathan yang kini sedang duduk di atas batu mencoba mengingat sesuatu yang sepertinya ada di belakang.


Cathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan akhirnya mulai menyadari sesuatu seperti apa yang di lupakan.


"Putraku?! Zeffyku?!"


Cathan langsung melompat dan berlarian mencari Zeffrey.


"Ahh!! Bagaimana bisa aku malah berjalan tanpa menggandengnya?!"


Karena terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri, ia bahkan sampai melupakan putranya sendiri?!


Cathan memukul kepalanya dengan kesal, "Kau ayah yang sembrono, Cathan!"


Setelah itu, Cathan mulai mencari Zeffrey di seluruh menara sihir tanpa mengetahui bahwa Zeffrey telah bersama dengan istrinya, Demetria.


****