I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 33~ Datangnya Bahaya (2)



SSSSSREEEEEEETTTTTCHHHHH!!!!!!


Terdengar suara benda dengan ujung yang tajam sedang ditarik.


Benda itu membuat jejak garis pada tanah yang hangus.


Seseorang menariknya padahal besar benda itu dua kali lipat dari tubuh sang penarik benda tersebut.


BRRRRROOOOMMMMM!!!!!!


Suara dentuman keras membuat telinga siapapun berdenging.


Pandangan pun ikut menjadi buram setelah cahaya merah yang panas mengenai tubuh.


Tepat setelah Cathan berteriak meminta semua penyihir untuk berlari hal yang tak menyenangkan terjadi.


Cathan menggigit bibirnya dan mencengkram dengan kuat lengan kanannya yang berdarah, "Urgh ..."


Pandangan di depan Cathan di penuhi dengan asap hitam.


Bau gosong yang menyesakan dada tercium di sekitarnya.


Cathan terbatuk keras saat serbuk-serbuk abu memasuki hidungnya.


Cathan mencoba melihat ke sekeliling dan mencari para penyihir.


Cathan mengusap wajahnya dan memberikan noda hitam pada wajahnya, "Konyol,"


Cathan mencoba untuk bangkit dan berkosentrasi mencari hawa keberadaan para penyihir.


"Sumber mana ada pada diriku sekarang. Dan konyolnya aku ... Meminta mereka berlari tanpa menggunakan sihir?"


Cathan meneguk air di mulutnya dan mulai memejamkan matanya.


Ia terus mencari hawa keberadaan di sekitarnya.


Cathan menggigit bibirnya, 'Aku harap masih ada yang hidup,'


Cathan mengerutkan alisnya dan berpikir, 'Apa itu mungkin? Apakah mungkin ada yang masih akan hidup setelah merasakan serangan sebesar itu?'


Cathan membuka matanya lalu mulai menampar pipinya tanpa alasan dan berseru pada dirinya sendiri, "Tidak! Jangan berpikir yang buruk! Pasti ada yang selamat ... Alv ... Pasti selamat ... Anak-anak itu juga ... Pasti selamat,"


Cathan mulai memejamkan matanya kembali dan fokus untuk merasakan hawa keberadaan.


Mulanya ada satu ...


Lalu muncul tiga ...


Setelah itu sepuluh ...


Dan hawa keberadaan itu terus muncul.


Hal itu menandakan bahwa masih ada yang selamat dan mungkin mereka berhasil bersembunyi.


Cathan membuka matanya sambil tersenyum.


Ia mulai menuruni bukit bebatuan dan bergegas menuju ke tempat hawa keberadaan yang ia rasakan.


Tetapi ...


BRRROOOOOMMMM!!!!!


Cathan langsung berhenti berlari dan menatap cahaya merah yang menyilaukan itu dalam diam.


Cathan membuka mulutnya saat hawa keberadaannya yang tadinya terasa di suatu tempat mulai menghilang, "A-apa yang?!"


BBRAAAAAAAAAAKKKKKKKKK!!!


Cathan menoleh ke arah suara dentuman keras itu dan berkata tak percaya, "Apa yang sebenarnya?!"


BOOOOOOOOMMMMMMM!!!!


Cathan menoleh ke arah lainnya dan menatap tak percaya.


Ia terdiam.


"Tu-tunggu sebentar ..."


Hawa keberadaan di tempat-tempat yang di serang itu perlahan hilang.


Dan ...


SSSSSREEEEEEETTTTTCHHHHH!!!!


Suara benda dengan ujung tajam terdengar tertarik di tanah.


Membuat sensasi tak menyenangkan yang membuat ngilu.


Cathan menoleh ke belakangnya dan membuka matanya dengan lebar.


Cathan berteriak, "Kau?!"


Seseorang yang memakai jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya mulai melempar sesuatu di udara.


Cathan memandang benda yang sedang melayang di udara dengan heran, "A-apa itu?!"


BRAAKKK!!!


Cathan membuka matanya dengan lebar saat ia melihat apa yang sebenarnya di lempar.


Keringat dingin membasahi wajahnya dan membuat ujung jari-jarinya mendingin.


"A-ah ..."


Cathan menatap tak percaya, "Tongkat itu?"


Cathan berjalan mendekat ke sesuatu yang terlempar itu.


Cathan melihat untuk memastikan dan akhirnya terkejut kembali.


Tubuh bagian atas dengan leher yang hampir putus.


Tubuh itu sudah mengering seperti terpanggang.


Mata penyihir yang mati dengan naas itu terbuka dengan lebar menunjukkan ketakutan.


Hingga akhir, penyihir ini terus memegang tongkat sihirnya hingga ia kehilangan nyawanya.


Penyihir yang selalu berada di sini tuan Rygon.


Penyihir yang merupakan kepercayaan dan juga penasehat bagi para penyihir tua.


'Dia sudah mati,'


Cathan berjalan mundur dan menatap seseorang dengan jubah di depannya.


Seseorang dengan jubah hitam itu memegang sebuah senjata yang tingginya dua kali lipat dari dirinya.


Senjata itu seperti sabit tetapi dengan ukuran yang lebih besar.


Entah itu pada bagian gagangnya atau pun bagian tajamnya.


Cathan mengerutkan alisnya, "Louis, apa ini perbuatanmu?"


Seseorang itu tidak menanggapi pertanyaan Cathan.


Ia mulai mengangkat senjata sabitnya itu dan mengayunkannya untuk mengenai tubuh Cathan.


"!!!"


Cathan dengan sigap melompat mundur sambil tangan kanannya mengepal.


Karena Cathan menghindar dengan baik, ujung senjata sabit itu tertancap dalam pada tanah.


Dan api itu membakar tanah dan membuat kebakaran di sekitarnya.


Cathan mengerutkan alisnya, 'Kemampuannya ini sangat merusak,'


Cathan setengah membungkukkan badannya dengan tangan yang masih terkepal, "Louis? Apa ini perbuatanmu?"


"..."


Mata Cathan menatap tajam seseorang di depannya.


Ia tidak merasa sakit hati karena pertanyaannya tidak di tanggapi.


Cathan menggertakan giginya, "Baiklah, kaulah yang memintanya!"


Seseorang dengan senjata sabit itu mengangkat senjatanya yang tertanam di dalam tanah dengan mudah.


Ia mulai berlari ke arah Cathan dengan mengayunkan senjatanya.


Di setiap ayunannya terdapat api yang mengiringi.


Asap merah yang di yakini adalah mana mengelilingi tubuh orang itu.


Cathan juga mulai melompat tinggi sambil merapalkan sebuah mantra.


Ujung senjata sabit itu bertujuan untuk menghancurkan tubuh Cathan.


Cathan mengerutkan keningnya saat ia melihat bahwa ujung senjata sabit itu dengan cepat sudah berada di depan perutnya.


Cathan menghela napas.


"!?!"


***


DRAAKKKKKK!!!!


Seseorang dengan jubah itu tersentak saat ia menengadah ke langit.


Ujung senjata sabit miliknya yang ia yakini sudah merobek perut Cathan ternyata meleset dan akhirnya tertancap kembali ke tanah.


Cathan mengerutkan keningnya, "Kau memiliki kemapuan yang berbeda dari sebelumnya, Louis. Apa mungkin ini bukan kau?"


Seseorang dengan jubah itu mengangkat ujung senjata sabit dari tanah dan memanggil senjata itu di bahunya.


Seseorang dengan jubah itu akhirnya membuka mulutnya, "Aku bukan Louis,"


Cathan yang masih melayang di langit melipat tangannya dan bertanya, "Lalu siapa kau?"


"Untuk apa kau tahu?"


Cathan menghela napas dan berpose seperti sedang berpikir, "Hmmm ... Jika aku melihat dari cara kamu mengayunkan senjata itu ... Mungkin saja kau juga adalah keturunan dari keluarga itu?"


BRAAKKKK!!!


Seseorang berjubah itu mengayunkan senjata sabitnya lagi ke arah Cathan sebelum Cathan menyelesaikan pembicaraannya.


Cathan dengan cepat menghindari sabit itu dan menatap orang di bawahnya itu dalam diam.


"Kau bisa terbang dengan lama di langit?"


Cathan mengangkat salah satu alisnya, "Ya,"


"Kau tampak tidak seperti manusia sekarang? Kau ..."


Cathan mengabaikan seseorang berjubah itu dan berpikir, 'Mana api yang tidak pernah padam dan juga bisa di alirkan pada sebuah senjata?'


Seseorang itu terus menatap dengan heran pada Cathan.


Ia terdengar berbicara dengan suara heran dari dirinya, "Penampilanmu ..."


Cathan masih tenggelam dalam pikirannya, 'Hanya keluarga Homura dari kerajaan Yorgo-lah yang memiliki mana api seperti itu,'


Cathan memikirkan seseorang dengan rambut merah dan mata merah yang terus berapi-api.


Pikiran Cathan langsung di buyarkan oleh suara dari ayunan senjata sabit tersebut.


Suara ayunan senjata sabit itu ternyata juga memiliki sebuah dampak merusak.


Cathan meringis saat ia menoleh ke arah perutnya yang tergores.


Seseorang berjubah, "Mana yang mengelilingi dirimu mampu menepis sabit milikku rupanya,"


Cathan menyentuh garis yang berbekas pada perutnya tanpa mengeluarkan setetes-pun darah.


Cathan masih ingin mengorek informasi tentang lawannya saat ini, "Kau bukan keturunan Homura,"


Seseorang berjubah itu terdiam sejenak dan akhirnya berkata, "Ya, benar,"


CRINGGGG!!!


Cathan membentuk sebuah pedang dengan mengumpulkan mana yang mengelilingi dirinya.


Pedang itu bercahaya meskipun di sekitarnya penuh dengan kabut.


Cathan mulai menabrakkan pedang mana miliknya dengan senjata sabit lawannya.


Mereka terus mengadu kedua senjata itu yang membuat tanah di sekitarnya retak dan menyemburkan api.


Cathan, "Jika kau bukan keturunan Homura, lalu bagaimana bisa kau memiliki kemampuan seperti mereka?"


Seseorang berjubah itu terdiam sejenak.


Ia berdiri dan entah mengapa mana merah miliknya mulai mengelilinginya dan berputar sangat cepat.


Bagian luar putaran mana milik orang berjubah itu merusak tanah yang sudah retak.


Ia berlari sangat cepat dengan senjata sabit miliknya terayun siap untuk merobek tubuh Cathan.


Cathan mengerutkan keningnya dan menggumamkan sesuatu.


Dengan cepat pedang emas milik Cathan berubah menjadi sebuah perisai yang besar dan juga tinggi.


Perisai itu mampu melindungi dua hingga tiga orang dari sebuah serangan besar di medan perang.


Cathan menepis serangan hebat itu dengan perisai dan menahannya agar ia tak terdorong.


Seseorang berjubah itu terlihat tersentak dan mulai melompat mundur.


"Bagaimana bisa penyihir biasa seperti mu dapat menggunakan mana seperti itu?"


Cathan mengangkat perisai itu ke samping dan menoleh ke arah orang berjubah, "Entahlah,"


Seseorang berjubah itu mengayunkan senjata sabitnya ke belakang dan berkata, "Kini aku tahu mengapa kau sangat diinginkan oleh 'dewa-ku',"


Cathan mengerutkan keningnya, "Dewa?"


Cathan menepis pikiran aneh di kepalanya dan berlari maju untuk menyerang orang berjubah itu.


Perisai yang tadi melindunginya kini sudah di ubah kembali oleh Cathan kembali menjadi pedang.


TRAAANGGGG!!!!


Tabrakan antar senjata membuat ledakan di sekitar mereka.


Tanah mulai terkikis dan hancur hingga ke bawah.


Bebatuan berterbangan membuat pemandangan yang sudah buram karena kabut menjadi lebih tak beraturan.


****


Jangan Lupa Like👍, Comment💬, dan Sharenya yaa🤗🤗🤗 Karena dukungan kalian berharga bagi author😊😊