I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 7~ Ini Sangat Membingungkan



Demetria tersenyum dan mengelus kepala Zeffrey yang berlari mendekat.


"Jangan banyak berlari saat kita berjalan ke sana, Zeffy,"


Zeffrey mengangguk, "Baik, Bu..."


Cathan meraih tangan Zeffrey dan menggandengnya.


Mereka berjalan sambil saling berbincang tentang apa saja.


Membahas bunga.


Membahas tanaman herbal.


Membahas makanan.


Dan apapun yang dapat mereka bahas.


Avyanna mendengar hanya sedikit.


Ia dibuat terpesona dengan pemandangan di sekitarnya.


Awalnya itu rumah-rumah dengan orang-orang yang berlalu lalang.


Beberapa dari mereka menyapa keluarga Cathan, menatap Avyanna dengan senyum di wajahnya.


Setelah itu hanya ada padang rumput dengan pepohonan yang tumbuh di setiap sisi jalan.


Anginnya sangat kencang saat pertama kali kami melihatnya.


Tapi entah mengapa angin yang kencang itu perlahan mulai terasa sepoi-sepoi saat menyentuh tubuh.


"Nah... Bukankah pemandangan disini sangat indah?"


Zeffrey mengangguk dan mulai bersiap-siap untuk berlari, "Benar, Ayah! Bahkan aku sudah tak sabar ingin berlari di sana..."


Demetria memberikan Avyanna kepada Cathan untuk di gendong.


Setelah itu, Demetria mengeluarkan kain tebal dari sebuah kantung dan menggelarnya di bawah pohon.


Zeffrey meletakkan tas kecil yang ia pakai tadi di bawah pohon dan mulai berlari ke rerumputan.


Demetria berteriak penuh khawatir, "Zeffy, hati-hati! Jangan sampai jatuh!"


"Oke, Bu!"


Avyanna masih terus melihat sebuah kantung yang baru saja tadi mengeluarkan kain tebal untuk alas mereka duduk.


Sekarang, Avyanna dibiarkan terbaring oleh Cathan di atas kain tebal.


Avyanna dapat melihat ranting dan dahan pohon.


Sesekali ada burung yang hinggap di atas ranting tersebut dan berkicau.


"Bwabwaaba... Ababa..."


'Langitnya indah..."


"Hee... Avyku sedang berbicara sendiri yaa?"


Cathan kemudian datang untuk duduk di samping Avyanna yang hanya bisa menoleh sedikit ke arahnya.


Cathan mulai mengelus kepala Avyanna dengan lembut.


"Avyku... Ibumu sedang menyiapkan sesuatu... Bagaimana jika kita bermain bersama?"


Avyanna hanya tertawa kecil sebelum pada akhirnya ia di gendong oleh Cathan.


Cathan menggumamkan sesuatu.


Avyanna hanya diam dengan kebingungan saat melihat Cathan.


Sampai Avyanna tidak menyadari bahwa mereka sudah tidak berpijak lagi di tanah.


Avyanna mengerutkan alisnya saat melihat Cathan yang masih tersenyum.


"Avyku... Coba kau lihat ke bawah,"


Avyanna mengikuti perkataan dan menoleh ke bawah.


"Baa?"


'Hah?'


Cathan yang melihat Avyanna tidak merespon sedikitpun akhirnya mulai tertawa sangat keras.


Tawa keras itu membuat Avyanna harus menoleh ke arah Cathan dengan wajah yang bingung.


"Hahahaha! Avyku, kamu bisa seperti burung yang selama ini kamu lihat di depan rumah,"


Avyanna terkejut dan memasang wajah aneh di wajah bayinya.


"Terbang dengan bebas di langit biru,"


'Hah?!'


Avyanna masih terus memasang wajah terkejut di saat Cathan yang senang mulai terbang ketempat yang lebih tinggi.


"Bukankah langit sangat indah, Avy?"


Avyanna menatap dalam diam mata emas Cathan.


Cathan hanya terkekeh dan mengelus kepala Avyanna.


"Sihir itu sangat luar biasa kan?"


Disaat Cathan mengatakannya, tangannya terangkat dan ia mulai bergumam lagi.


Dari atas kepalan tangan yang terangkat itu keluar kelopak bunga dan dedaunan yang berterbangan di tiup angin.


Mata emas Avyanna terbelalak, 'Wahh...'


Rambut Cathan yang berwarna biru gelap itu bergoyang saat tertiup angin.


Cathan memasang wajah mendung, "Andai ayahmu ini dapat menggunakan sihir dengan bebas,"


Mata emasnya menatap Avyanna yang berada dalam pelukannya.


Mata emas milik Avyanna yang sama dengan mata milik Cathan mengerjap beberapa kali saat mendengar pernyataan dari Cathan.


Cathan tersenyum dan mengelus pipi Avyanna dengan lembut, "Avyku pasti sangat terkejut kan? Tapi kita akhiri sampai disini ya..."


Cathan menatap kebawah dan mulai tertawa pelan.


"Lihatlah, Avy. Ibumu sangat marah sekarang. Lebih baik kita kembali kepadanya,"


Avyanna hanya terdiam saat ia menatap rambut Cathan yang sekarang bergerak ke atas secara perlahan.


'Kami turun?'


"Hup..."


Cathan menggendong Avyanna dengan lembut saat mereka mulai mendarat di tanah.


"Chatty?! Aku sudah mengatakan padamu bukan?!"


Cathan hanya terkekeh saat tangan kanannya menggaruk pipinya dengan canggung.


"Bayi yang baru berusia beberapa bulan tidak boleh terkena sihir sama sekali! Mengapa kau tak mengerti?!"


Demetria terlihat kesal, ia kemudian langsung membawa Avyanna dan berjalan ke tempatnya menyiapkan cemilan.


Cathan terdiam di tempatnya dan menatap putranya yang juga menatapnya kembali.


Zeffrey mendekat, "Apakah ayah tahu ibu hampir menangis tadi,"


Cathan yang mendengarnya mulai menunduk.


"Haaaa... Sepertinya ayahmu ini mulai melakukan hal yang bodoh,"


Zeffrey mengangkat bahunya sambil berjalan menuju ibu dan adiknya berada.


"Ayah, seharusnya ayah tak melakukannya,"


Cathan mengangguk ringan dan mengikuti di belakang Zeffrey yang sedang membawa setangkai bunga.


Demetria menyiapkan makanan di atas kain tebal itu sambil menggendong Avyanna.


Avyanna menatap wajah ibunya yang cemberut.


"Bwaababa... Ba,"


'Jangan marah, Bu,"


Demetria tersenyum dan mengecup kening Avyanna dengan pelan, "Avyku, apakah kamu mau minum susu?"


Avyanna hanya mengerutkan keningnya karena ibunya sama sekali tak mengerti ucapannya.


'Tentu saja, ia tak mengerti. Aku hanya mengatakan bababa setiap harinya,'


Demetria mengangkat Avyanna dan mulai menyusuinya.


"Ah, Demyku. Tadi aku..."


Demetria memotong Cathan, "Jangan pakai alas kaki saat ingin menginjak kain ini,"


Cathan mengangguk pasrah saat ia mulai melepaskan alas kakinya dan duduk di atas kain tebal.


Zeffrey juga mengikuti hal yang sama dengan Cathan.


Lalu Zeffrey mulai mengambil cemilan yang diletakkan ibunya di atas piring lalu memakannya.


Di saat Zeffrey makan cemilan ia melihat adiknya yang sedang menyusu dan mulai bertanya.


"Ibu, kapan si aneh ini besar? Aku ingin mengajaknya bermain,"


Demetria mengerutkan keningnya tetapi juga tersenyum, "Zeffy, berhenti memanggil adikmu aneh. Dia akan sedih,"


Zeffrey mengerutkan kening sambil memasukkan kue kering ke dalam mulutnya, "Tapi memang benar kan adikku ini aneh?"


Cathan mengelus sedikit kaki Demetria dan tertawa, "Hahahaha... Jangan seperti itu. Zeffy tampan dan Avy cantik,"


Demetria menepis halus tangan nakal Cathan dan tersenyum kepada Zeffrey yang asik menatap adiknya minum susu.


Lalu, Zeffrey mulai mengerucutkan bibirnya dan mulai mengambil cemilan lainnya dan menikmatinya.


"Zeffy, apakah kamu tidak lelah berlari-lari terus? Minumlah air jangan hanya memakan cemilan saja,"


Zeffrey mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan ibunya.


Cathan juga meminum kopi hangat yang dibuat Demetria sambil beberapa kali mengelus telapak Demetria.


Demetria yang merasa geli menatap tajam Cathan yang berpura-pura tak tahu apa yang ia perbuat.


Saat Cathan akan mulai menggelitik telapak kaki Demetria lagi, tangannya langsung dipukul sangat keras oleh Demetria yang memasang wajah jengkel.


Cathan terkejut dengan pukulan tiba-tiba, "Ah!"


"Jangan bercanda saat sedang makan,"


Zeffrey hanya tergelitik sejenak dan mulai dengan lahap memakan cemilan itu.


Avyanna yang melihat hal ini merasakan sebuah perasaan aneh dalam hatinya yang tak bisa ia utarakan.


Itu sangat...


Membingungkan.


****