
Di kekaisaran Russhel ada sebuah daerah kekuasaan yang di pimpin oleh sebuah keluarga yang memiliki ikatan darah dengan keluarga kekaisaran.
Suhu yang dingin dan juga banyaknya pegunungan salju menjadikan wilayah ini sangat sulit untuk di pimpin.
Daerah ini di pimpin oleh Duke Grimmwolf.
Duke Grimmwolf adalah satu-satunya Duke di kekaisaran Russhel yang menguasai daerah sebelah utara kekaisaran Russhel.
Dan kini, Avyanna dengan Demetria dan juga Zeffrey tinggal di sebuah kota kecil yang bernama kota Azul.
Kota Azul adalah salah satu kota yang termasuk dalam wilayah kekuasaan Duke Grimmwolf.
Kota Azul dekat dengan kaki gunung yang menjadi perbatasan alami wilayah Grimmwolf dengan wilayah bangsawan lainnya.
Karena itu cuaca di kota Azul tidak sedingin kota lainnya di daerah Grimmwolf.
Avyanna bergandengan tangan dengan Bia sampai kepada sebuah tempat yang mereka tuju.
Sebuah meja batu berbentuk lingkaran dengan kursi yang juga berasal dari batu terlihat oleh mata Avyanna.
Bia tersenyum menyapa beberapa orang yang sudah berkumpul di sekitar meja batu tersebut.
Bia menoleh ke bawah untuk menatap Avyanna yang masih memandang sekeliling.
"Vya, apakah kau bisa bermain di sekitar sini sambil menungguku selesai?"
Avyanna mendongak ke atas dan mengangguk dengan semangat, "Baiklah,"
Avyanna mulai berlari ke tempat lainnya.
Bia hanya tersenyum sambil mengangguk dan berkumpul dengan orang lainnya.
Avyanna yang awalnya berlari mulai mengurangi kecepatannya dan segera berjalan.
Ia memandang ke sekeliling sambil bersenandung.
"Ah ..."
Avyanna memejamkan matanya sambil memegang rambutnya, memastikan untuk tidak berantakan karena tertiup angin.
Avyanna melihat ke atas dimana burung-burung berwarna biru berterbangan.
Avyanna mengangkat tangannya dan dengan segera satu burung biru kecil itu bertengger pada tangan Avyanna yang mungil.
Avyanna menatap burung biru itu dan berkata, "Apakah sudah ada kabar tentang ayahku?"
Burung kecil itu seolah mengerti dengan ucapan Avyanna, ia menggelengkan kepalanya perlahan.
Avyanna terlihat murung segera setelah mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya.
"Begitu ya ..."
Burung kecil itu memiringkan kepalanya dan menepuk tangan mungil Avyanna dengan kedua cakarnya.
Avyanna tersenyum lemah lalu mengangguk, "Aku tahu ... aku tidak akan menyerah. Begitu juga dengan ibu dan juga kakak,"
Burung biru itu mengangguk dan berkicau rendah.
Avyanna kembali menarik sudut mulutnya dan tertawa, "Terima kasih karena tidak menyerah! Karena itulah aku pun juga tidak akan menyerah!"
Burung kecil itu mengangguk dan mulai terbang kembali bersama teman-teman burung lainnya.
Avyanna menatap sejenak langit biru di atas dalam diam.
'Ayah ... kuharap kau selamat ...'
Avyanna menghela napas dan mulai berjalan ke sebuah pohon yang lebih besar di bandingkan dengan pohon lainnya.
Avyanna duduk di bawahnya dengan menyenderkan tubuhnya di atas akar pohon tersebut yang menjulang keluar.
Avyanna memiringkan kepalanya dan mulai memejamkan matanya perlahan.
Ia merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Avyanna sesekali menguap merasakan kantuk.
Avyanna menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat ia terus berdiam diri di bawah pohon tersebut.
Avyanna merasakan rasa nyaman di sekitar pohon itu seolah-olah ia pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya.
"Apakah karena mimpi aneh itu ya?"
Avyanna mencoba berpikir sejenak.
Sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mencoba membuang semua pikirannya yang terlampau banyak.
Avyanna mengeraskan genggaman di kedua tangannya sambil berkata dengan semangat, "Mari kita fokus pada pencarian ayah dulu!"
Avyanna memandang bagaimana angin membuat dedaunan di pohon-pohon ini menari-nari.
Avyanna mencoba memejamkan matanya dan bergumam, "Tempat ini mungkin akan cocok untukku,"
Ia mencoba membuat tubuhnya senyaman mungkin saat angin sejuk menerpa wajahnya.
Avyanna membayangkan apa yang dikatakan oleh Zeffrey, kakaknya kepadanya.
'Fokuskan pikiranmu!'
Avyanna menarik napas lalu menghelanya secara perlahan.
Suara Zeffrey terdengar kembali, 'Bayangkan saja sebuah bola kecil yang tertanam pada jantungmu. Alirkan semua titik-titik kecil yang tersebar di seluruh tubuhmu menuju bola kecil itu,'
Avyanna melakukan hal tersebut dan terus mengalirkan titik-titik kecil itu menuju bola pada jantungnya.
Avyanna terus berkosentrasi sampai dia tak menyadari bahwa wajahnya mulai pucat dan keringat dingin mengalir dari pelipisnya.
"Aahhhh!!!"
Avyanna langsung membuka matanya dengan lebar dan merasakan rasa sesak pada dadanya.
Avyanna meremas pakaiannya dan berusaha keras dalam menenangkan dirinya.
Avyanna berkata dengan kesal dengan napas yang tak beraturan, "Ke-kenapa ... selalu ... begini!"
Setiap kali Avyanna mencoba untuk membentuk inti mana miliknya, ia hanya mendapatkan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Padahal ... kakakku ... bisa mela ... kukannya ... mengapa aku ..."
Avyanna mencoba untuk bangkit tetapi ia tak bisa menahan rasa sakit pada dadanya lebih lama lagi.
Avyanna terjatuh ke depan dan segera meringkuk menekan bagiannya dadanya dengan harapan rasa sakit itu menghilang.
"Urgh ... ibu ... kakak ..."
Air mata menetes dari sudut mata Avyanna.
Avyanna berpikir dengan sedih, 'Ini sangat ... sakit ...'
Avyanna bergumam dan akhirnya menangis, "Ayah ..."
Avyanna mencoba beberapa kali untuk menenangkan dirinya dengan baik.
Menarik dan menghela napas secara perlahan.
Dan menahan tubuhnya yang mulai terasa semakin panas.
Avyanna mengangkat tangannya ke atas dimana ia dapat melihat segerombolan burung biru terbang ke arahnya.
Setiap kali mereka mengepakkan sayap, asap berwarna biru muncul menghiasi pemandangan kabur Avyanna.
Avyanna yang tidak tahan lagi mulai memejamkan matanya.
****
...Jangan lupa untuk like👍 comment💬 yaa🤗🤗🤗...
...Karena dukungan kalian sangat berarti untuk author🤗...