
"Ini bercerita tentang..."
.
.
.
.
.
"Setelah itu, kumbang biru itu menusuk raja semut merah dan mengeluarkan tahanan dari dalam penjara. Tamat,"
Demetria mengelus kepala Avyanna dengan lembut dan bertanya, "Bukankah itu menyenangkan?"
Avyanna hanya diam.
Ia sangat bingung dalam menanggapi Demetria yang sangat bersemangat.
"Meskipun kumbang biru pada awalnya tidak diterima karena warnanya yang berbeda, ia tetap mau membantu orang-orang dari desa kumbang untuk bebas dari raja semut yang jahat,"
Avyanna, "..."
Demetria tersenyum, "Bukankah sikap baik hati kumbang biru itu harus diapresiasi, Avyku?"
Demetria menepuk buku dan mengelus pipi Avyanna lalu berkata, "Terkadang seseorang yang sudah di jauhi seperti itu dengan orang lainnya akan lebih memilih untuk membalas perbuatan mereka dengan perbuatan yang jaha,"
Demetria tersenyum, "Tetapi, si kumbang biru tidak melakukannya. Ia lebih memilih membalas mereka dengan berbuat kebaikan,"
Avyanna merenung sejenak saat mendengarkan semua perkataan dari Demetria hingga akhirnya ia mengangguk.
"Bwaba..."
'Ya, benar...'
Avyanna mencoba menunjuk buku lainnya dan menatap Demetria.
"Baba.... Bwaaa..."
'Aku ingin yang itu...'
Demetria terkekeh, "Baiklah, buku berikutnya adalah..."
Demetria mencoba membuka buku yang ditunjuk oleh Avyanna.
"Oh, ini... Ini adalah buku tentang pohon yang merasa bosan.."
Avyanna mengerutkan keningnya.
"Ini juga adalah cerita yang akan sangat menyenangkan untuk didengar..."
Demetria membenarkan posisinya duduk dan mulai membaca buku keduanya.
"Dahulu kala, tinggal sebuah pohon muda di pinggir sungai..."
.
.
.
Avyanna menguap lalu menggosok matanya dengan malas.
Sedangkan Demetria terus bercerita saat sambil terus menepuk lembut punggung Avyanna, "Dan pohon itu meminta pada peri agar ia di berikan sepasang kaki..."
Avyanna mengerutkan keningnya dan berpikir bahwa itu menakutkan.
'Pohon yang meminta sepasang kaki?'
Avyanna mengedipkan matanya dan berpikir dalam hati, "Bukankah pohon dengan sepasang kaki sangat menyeramkan untuk di bayangkan?"
Avyanna menoleh ke arah Demetria dengan mengerutkan alisnya.
Avyanna terus mendengarkan Demetria yang bercerita sambil menunjukkan sebuah ilustrasi dari tiap-tiap karakter sebuah cerita.
Ini berlangsung lebih dari tiga jam.
Total ada tujuh buku cerita bergambar yang di baca Demetria untuk Avyanna.
Lalu, Demetria memberikan masukan dan apa saja yang harus dilakukan di masa depan nanti agar menjadi Avyanna bisa menjadi anak yang baik hati.
Dan...
Total 3 cangkir kopi dan 5 piring kecil yang berisi cemilan.
Serta tiga kali Avyanna minum susu.
Dan yang terakhir, mengganti popok sebanyak tiga kali...
Setelah Demetria mulai merasa bahwa cerita ini sebenarnya membosankan, Demetria tertidur dengan kepala yang bersandar di jendela.
Demetria masih terus memeluk Avyanna agar tidak jatuh atau terguling ke bawah.
Avyanna yang duduk di pangkuan Demetria juga mulai memejamkan matanya karena ia merasa kenyang.
'Aku sangat bosan karena ceritanya sangat...'
Avyanna menggosok matanya sekali lagi dan memejamkan matanya kembali.
'Tidak membuat perasaan menjadi lebih baik ...'
***
Avyanna terbangun saat ia merasakan tempat yang ia tiduri jauh lebih lembut.
Dan yang Avyanna lihat hanya mainan yang berputar perlahan di atasnya.
Avyanna menyadari bahwa ia sudah tidak tidur di pangkuan Demetria.
Avyanna telah kembali ke ranjangnya.
'Sepertinya tadi aku di bawa kesini saat aku tertidur...'
Avyanna mengangkat kepalanya dan mencoba menggerakkan tangan dan kakinya.
Sesekali Avyanna akan tertawa kecil dan juga merasa sedih.
Di tempat seperti ini sendirian membuat Avyanna sedikit sedih.
Meskipun kamarnya itu tidak gelap, karena adanya cahaya dari lentera tetapi entah mengapa rasanya sangat hampa dan dingin.
Avyanna merasa kesepian dan akhirnya mulai menangis.
Avyanna terus menangis hingga ada seseorang yang memasuki kamarnya.
"Ada apa Avyku? Apakah kau sudah bangun?"
Avyanna mulai mengeluarkan suara rengekan saat ia melihat Cathan yang menggosok matanya masuk.
"Apakah putriku lapar? Atau mungkin popok yang putriku pakai terasa tidak nyaman?"
"Waaa... Bwaaabaa..."
'Aku merasa sepi, Ayah...'
Avyanna hanya terus mengeluarkan rengekan yang tidak di mengerti oleh Cathan.
"Wabababa..."
'Ayah...'
Cathan menggendong Avyanna dan mengayunkan Avyanna perlahan dalam pelukannya.
Cathan bahkan juga bersenandung dan mencoba untuk menidurkan kembali Avyanna.
Meskipun nada yang dimainkan oleh Cathan tidak seindah nada yang dimainkan oleh Demetria.
Tetapi hal itu masih membuat Avyanna merasa nyaman.
1 jam berlalu...
3 jam berlalu...
Dan...
Setelah hampir 5 jam Avyanna tidak tertidur, Cathan menyerah dan mulai tidak menahan rasa mengantuknya.
Cathan memeluk Avyanna dan tertidur di kursi dekat jendela.
Sebelum tertidur Cathan menunjukkan beberapa bintang di langit dan akhirnya tertidur.
Suara napas Cathan menjadi penghantar tidur untuk Avyanna.
Dan akhirnya si bayi kecil Avyanna mulai tertidur kembali.
Pada pagi harinya, Demetria yang terkejut langsung mengangkat Avyanna dan menidurkannya ke ranjang Avyanna.
Lalu, Cathan dibangunkan untuk tertidur di kamarnya.
"Chatty, kembali dan tidurlah di kamar saja. Tubuhmu pasti sangat lelah..."
Cathan yang mendengar suara istrinya itu mengangguk dan berjalan dengan mata yang masih terpejam.
Demetria yang melihatnya mengerutkan keningnya merasa heran.
"Bagaimana jika ia tersandung lalu jatuh?"
Demetria mengikuti Cathan dan memastikan bahwa Cathan sudah tertidur lelap di ranjang mereka.
Demetria mengelap keringat di dahinya dan menghela napas, "Huh..."
Demetria mulai berjalan ke arah kamar putranya.
Dilihatnya bahwa Zeffrey masih tertidur lelap di kamarnya.
Setelah merasa bahwa semuanya kembali tertidur, Demetria kembali ke dapur dan memasak.
Ia mulai membuat adonan roti, membentuknya, dan memanggangnya.
Tak lupa Demetria membuat susu untuk Zeffrey dan juga teh tanpa gula untuk Cathan.
"Mereka pasti sangat lelah..."
Demetria juga memanggang beberapa adonan yang dimaksudkan untuk membuat biskuit.
Lalu, setelah matang biskuit itu di masukkan kedalam toples.
Setelah itu, Demetria menyiapkan air hangat dan mengantarkannya ke kamar, masing-masing kepada Cathan dan juga Zeffrey.
Demetria meminta mereka bangun untuk sarapan dulu dan boleh kembali tertidur nantinya.
"Zeffy, Kemarilah dan makan dulu..."
"Dan Chatty? Chatty, bangunlah dan mari kita sarapan dahulu..."
Demetria terus sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan.
Demetria sedikit berteriak, "Jangan lupa untuk membasuh wajah terlebih dahulu dengan baskom berisi air yang ada di meja..."
Zeffrey menanggapi dengan lemah, "Baik, Bu..."
Sedangkan Cathan terbangun dengan tertatih-tatih keluar dari kamarnya.
Demetria yang memegang masakan di atas nampan menatap Cathan.
"Chatty? Basuh wajahmu terlebih dahulu. Aku telah meletakkan baskom berisi air disana,"
Cathan yang masih setengah sadar mengangguk dan kembali ke kamarnya untuk membasuh wajahnya dengan air yang sudah disiapkan Demetria.
Zeffrey keluar dari kamar dan mendekati Demetria.
Demetria menunduk sedikit menunjukkan pipinya yang putih.
Zeffrey mengecup pipi ibunya dan berkata, "Selamat pagi, Bu,"
Demetria tersenyum, "Selamat pagi juga, Zeffyku,"
****