I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 12~ Pasar



Setelah Avyanna selesai sarapan, Demetria membawa Avyanna ke kamar mandi dan memandikannya.


Avyanna hanya diam dan terus menggumamkan sebuah kalimat yang sudah ia gumamkan selama ini seperti sebuah mantra.


'Aku masih kecil.... Aku masih kecil... Aku masih kecil... Aku masih kecil.. Aku masih kecil ...'


Avyanna masih merasa malu padahal dari saat ia lahir hingga berusia 2 tahun saat ini, ia sering menunjukkan tubuhnya pada Demetria.


Padahal Avyanna dan Demetria juga sama- sama perempuan.


Tetapi, tetap saja Avyanna merasa malu.


'Ingat! Dia ibumu! Untuk apa berpikiran sempit?!'


Kata- kata ini sering sekali diucapkan dalam benak Avyanna untuk membuatnya sedikit tenang.


Setelah selesai mandi, Demetria memiliki sebuah kebiasaan.


Dimana ia akan mencium kening, pipi dan dagu Avyanna.


Lalu...


"Ibu sangat mencintaimu, Avyku..."


Kalimat hangat itu selalu diucapkan Demetria dengan mata yang berbinar- binar.


Avyanna tersenyum dan berkata dengan semangat, "Avy juga sangat mencintai Ibu!"


Demetria yang mendengar hal itu akhirnya terkekeh dan mulai mengeringkan tubuh Avyanna dengan handuk yang lembut.


Ia juga dengan tangan yang cekatan memilih dan memakaikan pakaian pada tubuh Avyanna.


Demetria juga tak lupa untuk memasangkan sepasang sepatu pada kaki Avyanna.


Setelah selesai, Demetria juga bergantian untuk berganti pakaian.


"Tunggulah ibu sebentar ya, Avyku,"


Avyanna tersenyum sambil mengangguk ringan pada ibunya, "Baik, Bu,"


Demetria kemudian memasuki ruang kamarnya sendiri dan berganti pakaian.


Avyanna yang sedang menunggu terus menatap jendela dan melihat burung- burung kecil berwarna biru berkeliaran sedang mematuk biji- bijian di tanah.


Avyanna memutar matanya dengan malas dan berkata dengan lirih, "Setidaknya mereka tidak lagi berisik karena terus menerus berkicau,"


Pintu kamar Avyanna terbuka dan menampilkan sosok Demetria.


Demetria tersenyum saat melihat Avyanna sedang duduk manis sambil menunggu Demetria, "Memang pakaian warna apapun akan cocok pada Avyku,"


Avyanna yang mendengar pernyataan ibunya itu mulai berdiri dan berlari untuk melihat bayangannya di cermin yang besar.


Avyanna menatap lekat dirinya yang terpantul di cermin.


Kemeja dan rok selutut berwarna coklat muda dengan sepatu coklat yang juga serasi.


Rambut hitam Avyanna di biarkan tergerai dengan pita yang menjepit sisi kanan telinga Avyanna.


Disisi lain cermin itu Avyanna dapat melihat bagaimana rupa Demetria yang sedang berdiri di belakang dengan memasang wajah bangga sambil menatap Avyanna.


Demetria juga memakai pakaian coklat yang sama persis seperti milik Avyanna hanya saja ukurannya yang besar.


Rambut hitam bergelombang Demetria di ikat dengan sisi kanan dan kiri telinganya dibiarkan beberapa helai rambut tergerai.


Avyanna berkata dengan riang, "Ibu juga telihat cantik,"


Demetria terkekeh, "Hehe... Terimakasih, Avyku. Baiklah, bagaimana jika kita pergi sekarang?"


Avyanna berbalik dan mengangguk lalu menanggapi perkataan Demetria dengan semangat, "Ya, Bu!"


Demetria tersenyum lalu mulai mengangkat Avyanna dan menggendongnya.


Anak dan ibu itu berjalan keluar dari rumah sambil berbicara.


"Avy ingin tahu apa yang ibu akan beli di pasal?"


Demetria memiringkan kepalanya dan berkata sambil memajukan sedikit bibirnya, "Ibu ingin mencoba untuk membuat makanan yang sedang populer saat ini,"


Avyanna memiringkan kepalanya, "Popilel? Apa itu, Bu?"


Demetria tertawa pelan, "Bukan Popilel, sayang. Tetapi, populer..."


Avyanna mengerjapkan matanya berulang kali lalu bertanya, "Populel? Masakan sepelti apa itu, Bu?"


Demetria mencubit dagunya membuat kesan berpikir, "Hmmm... Seperti lasagna ataupun pottage,"


Demetria, "Ya, itu semacam makanan yang di hidangkan bersama dengan roti... Hmmmm ..."


Demetria mengelus kepala Avyanna dan melanjutkan perkataannya, "Katanya itu jauh lebih mengenyangkan dibanding hanya memakan roti gandum saja..."


Avyanna mengangguk sejenak dan mulai bertanya, "Tapi, bukankah memakan loti saja sudah sangat kenyang kan, Bu?"


Demetria mengangguk, "Itu benar, sayang. Tapi entah mengapa sekarang gandum mulai mahal... Jadi, kita harus mengganti makanannya yang terbuat dari bahan yang lebih murah,"


Avyanna mengerutkan alisnya, "Gandum? Mahal?"


Demetria mengangguk lalu dengan sabar menjelaskan, "Roti yang biasanya dimakan Avy terbuat dari gandum. Dan juga... Ah..."


Demetria tidak melanjutkan perkataannya saat ia terkejut saat melihat banyaknya orang di suatu tempat.


Avyanna menoleh kearah tempat yang di lihat oleh Demetria.


"Ada apa itu, Bu?"


Demetria menggelengkan kepalanya, "Ibu pun tidak tahu, Avyku..."


Demetria mendekati keributan itu sambil mulai bertanya pada salah satu warga yang juga mengerutkan alisnya.


"Permisi, tuan. Ada keributan apa ini ya?"


Pria paruh baya yang sedang menghisap pipa cangklong melirik kearah Demetria dengan sinis.


"Apa yang ingin kau perbuat memangnya?"


Demetria seperti tak terpengaruh dan berkata, "Kami harus masuk lebih dalam untuk membeli bahan,"


Pria itu menatap Demetria lalu menatap Avyanna dalam diam.


Pria itu menghisap pipanya dan mulai berkata, "Lebih baik kau pulang saja sekarang. Para bajingan itu senang sekali membuat ulah,"


Demetria mengerutkan alisnya dan terlihat marah, "Ha?! Berkata kasar di depan seorang anak? Anda benar- benar..."


Pria itu menatap kesal Demetria, "Hanya satu kata saja kau semarah ini? Jika kau memaksa untuk masuk lebih dalam ke pasar, akan lebih banyak kata- kata itu untuk di perdengarkan pada anakmu!"


Demetria menatap diam pria itu yang mengalihkan pandanganya ketempat lain sambil bergumam, "Cih! Benar- benar wanita tak tahu diri!"


Demetria mengerutkan alisnya dan menoleh kearah keributan di arah pintu masuk pasar.


Avyanna yang dari tadi diam mulai membuka mulutnya, "Ibu, lebih baik kita pulang saja..."


Demetria menatap Avyanna dan mulai mengelus kepala Avyanna dengan lembut.


"Hmmm... Padahal ibu sangat ingin memperlihatkan sesuatu pada Avy... Karena Avyku jarang sekali keluar rumah,"


Avyanna tersenyum, "Tidak masalah, bu... Mungkin lain kali kita bisa pelgi lagi ke sini,"


Demetria mulai berjalan menjauhi pasar, "Apakah Avy ingin pergi ke suatu tempat?"


Avyanna terlihat menunduk untuk berpikir.


Demetria melanjutkan percakapan, "Karena kita sudah terlanjur berada di luar lebih baik kita jalan- jalan kan?"


Avyanna benar- benar tidak ada keinginan untuk pergi kemanapun.


Ia lebih suka berada di rumah sambil mendengarkan Demetria saat membacakan buku dongeng.


Itu jauh lebih menyenangkan karena jauh dari keributan dan kebisingan.


Tapi, mungkin saja Demetria lah yang bosan berada di rumah terus menerus.


Apalagi sudah lebih dari beberapa bulan ini Cathan sangat sibuk.


Jadi tidak ada waktu sama sekali untuk piknik sekeluarga seperti sebelumnya.


Avyanna berpikir, "Hmmm... Avy bahkan tidak tahu mau kemana..."


Demetria tersenyum, "Begitu ya..."


"Ah!"


Melihat Avyanna tiba- tiba membuat suara seperti itu, Demetria bingung, "Hmm?"


Avyanna seperti mengingat sesuatu dan akhirnya mengatakannya kepada Demetria.


Avyanna mendekatkan mulutnya ke telinga Demetria dan mulai berbisik, "Bagaimana jika kita pelgi ke..."


Demetria yang mendengarnya terkekeh dan berkata, "Hmmm... Baiklah, mari kita pergi,"


****