I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 16~ Musuh (2)



Demetria yang terpojok mulai melangkah kebelakang perlahan saat ia berteriak, "Louis, kau?!"


Louis tertawa sangat keras sambil merentangkan tangannya dan seketika muncul banyak sekali asap berwarna hitam pekat yang keluar dari dalam tubuhnya.


Demetria memiliki wajah yang pucat saat melihat apa yang di lakukan oleh Louis di depannya.


Demetria yang sambil menggendong Zeffrey dan Avyanna mulai gemetar dengan keringat dingin yang mengalir di sekujur tubuhnya.


Demetria melebarkan matanya dan berkata dengan suara yang bergetar, "Mungkinkah, kau? Jangan bilang padaku bahwa ..."


Louis yang mendengar suara getar dari Demetria mulai tersenyum dan berkata dengan gembira, "Kau merasakannya kan? Kekuatan ini! Luar biasa, bukan?!"


Demetria mencengkram tubuh Zeffrey dan juga Avyanna dengan keras.


Demetria mulai melangkah ke belakang sekali lagi dan menoleh ke belakang.


Ia hampir saja terjatuh ke dalam lubang hasil ledakan yang dilontarkan oleh kekuatan Louis.


Demetria melebarkan matanya saat ia mulai menyadarinya sesuatu yang tak menyenangkan, 'Tidak ada jalan keluar,'


Demetria membuka matanya lebar di saat ia menyadari bahwa ia sedang terpojok sekarang.


Demetria meneguk air di mulutnya lalu menggigit bibirnya sambil bergumam dalam hati, 'Bagaimana ini?'


Demetria mengerutkan alisnya saat ia menatap Louis yang terus berjalan mendekat dengan perlahan seolah- olah ia telah menemukan mangsanya.


Louis tersenyum dengan cara yang menyeramkan, ia mulai berbicara lagi, "Kau terlihat pucat, Demetria,"


Mata Demetria bergetar dan ia mulai membuka mulutnya lalu berteriak, "Jangan mendekat! Atau aku akan ..."


Louis yang mendengar perkataan Demetria mulai tertawa sangat keras, "Hahahaha!! Kau akan apa? Apa kau bisa melakukan sesuatu?"


Mata hitam Louis menatap tiga mangsa di depannya dengan tak sabar.


Louis berjalan sambil memainkan jari- jari tangannya sembarangan dan berkata, "Terlihat dengan jelas bukan? Kau hanya membawa beban di dalam pelukanmu itu,"


Louis mengerutkan alisnya lalu mulai mengarahkan tangannya ke arah Demetria dan kedua anaknya.


Tangan Louis yang tertutup dengan mantel hitam mulai di selimuti dengan bayangan hitam yang pekat.


Itu jauh lebih pekat di bandingkan dengan yang sebelumnya.


Demetria mulai merasakan bahwa ini akan sangat tidak menguntungkan baginya sama sekali.


Demetria menoleh ke sekitarnya dan menyadari bahwa tidak ada satu pun tempat yang bisa dijadikan sebagai tempat persembunyian.


Demetria hampir menangis.


Ia mulai memeluk lebih erat kedua anaknya itu dan berbisik, "Zeffy, tetap berikan sihir penetralan pada adikmu. Avy, ibu mohon tolong bertahanlah,"


Zeffrey menggigit bibirnya lalu mengangguk dan berkosentrasi dalam mengeluarkan mana untuk menyelimuti Avyanna.


Avyanna menggertakan gigi dan meremas pakaian untuk bisa menahan rasa sakit yang mencekik itu dalam diam.


Avyanna memiliki wajah sangat pucat saat ia mulai berpikir, 'Aku ... Sudah terbiasa dengan rasa sakit seperti ini,'


Bayangan kejadian di kehidupan masa lalunya muncul secara acak.


Avyanna berpikir saat ia mengingat kejadian menyakitkan di kehidupannya dulu, 'Bahkan, yang lebih menyakitkan dari ini ..."


Avyanna dapat melihat mata Zeffrey yang ia lihat sebelumnya, kini telah berubah menjadi warna emas yang jernih.


Rambut hitam Zeffrey berkibar saat asap berwarna emas itu mulai berterbangan di sekitar Avyanna dan Zeffrey.


Louis yang hendak melancarkan serangan berikutnya mulai berhenti sejenak sebelum akhirnya ia berkata dengan nada yang aneh, "Anakmu hebat rupanya,"


Louis memalingkan wajahnya ke arah lain dan mengerutkan alisnya sejenak.


Setelah itu, ia menatap Demetria kembali dan berteriak sambil mengeluarkan asap hitam pekat yang sangat banyak ke arah Demetria dan anak- anaknya.


"Tapi, sayang sekali. Manusia yang memiliki mana emas harus di bunuh! Beserta dengan keluarganya!"


Fshshhhhhhhhh!!!


Asap hitam yang berbentuk panah besar itu mulai menargetkan Demetria dan berputar- putar dengan sangat cepat.


Jalan yang dilewati oleh asap itu hancur seketika.


Demetria yang melihat itu mulai menggertakan giginya dan memeluk kedua anaknya saat ia berbalik melindungi.


Baaaanggg!!!! Baaaaaaannggg!!!!


Jalan berbatuan yang sudah terkena ledakan sebelumnya membuat lubang yang jauh lebih besar.


Semua yang ada di sekitarnya hangus menjadi debu.


Itu hening sejenak setelah Demetria berteriak.


Lalu ...


"Aaarghhhh!!!"


"Tolong! Tolong! Kumohon tolong aku!!!!"


"Semuanya menyingkir!"


"Selamatkan diri kalian!"


"Tidaaaakkkkk!!! Tolong selamatkan putraku!!!!"


Suara teriakan memenuhi desa yang ramai penduduk.


Desa itu terletak di dekat menara sihir.


Dan ...


Baaaaaanggggg!!!! Baaaangggg!!!!


Asap hitam berbentuk panah itu tidak langsung berhenti saat menyerang Demetria.


Asap itu terus bergerak lurus dan menghancurkan desa.


Bau hangus tercium di garis lurus yang di lalui asap hitam tersebut.


Mengakibatkan banyaknya korban yang berjatuhan.


Teriakan seorang anak yang kehilangan orangtuanya.


Teriakan seseorang yang kesakitan saat melihat hilangnya salah satu kaki miliknya


Teriakan minta tolong orang- orang yang tertimpa bangunan yang hancur.


Teriakan ...


"Yaa ... Inilah lagu yang indah untuk penyambutan,"


Louis tersenyum saat ia dapat mencium bau daging terbakar yang tak jauh dari tempatnya.


"Saat bertemu si penyihir itu, aku akan memberitahukannya ..."


Louis mengelus rambutnya ke atas dan berkata dengan gembira, "Bagaimana keluarga kecilnya itu mati,"


Louis menatap tempat di mana lubang itu terus mengeluarkan asap hitam saat ia mulai membuka mulutnya.


"AHAHAHAHAHAHAHA!!!! Ini menyenangkan! Sangat menyenangkan!"


Louis langsung mengeluarkan asap hitam lainnya dan menghilang dimana suara tawanya itu masih menggema.


***


"Ibu?!"


"Ibu, apa ibu teluka?"


Demetria duduk bersandar di tembok rumah sambil bernapas dengan berat.


Demetria berkeringat dingin saat itu mulai mengelus kepala kedua anaknya yang memasang wajah sangat khawatir.


"Ja- jangan khawatir, sayangku ..."


Zeffrey menggigit bibirnya menahan tangis dan berkata, "Ibu ... Tolong jangan berbohong ..."


Demetria tersenyum lemah, "Sungguh ... Ibu baik- baik saja ..."


Avyanna menggenggam tangan ibunya dengan gemetar.


"Pasti kalian takut ya? Tapi, bisakah kalian memberanikan diri sejenak?"


Zeffrey dan Avyanna terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.


Demetria mengangkat salah satu tangannya dan menunjuk sebuah lemari tua di dekat meja makan.


"Zeffyku, tolong ambil semua kantung di dalam lemari itu. Lalu masukan semua barang yang bisa kamu angkat ke dalam kantung parsial itu,"


Zeffy mengangguk tanpa bertanya apapun.


Ia mulai berdiri dan melaksanakan apa yang diminta ibunya kepadanya.


"Dan Avyku ..."


Demetria mulai menggenggam tangan Avyanna dan menggumamkan sesuatu.


Asap berwarna biru langit mulai mengelilingi tubuh Avyanna.


Warna biru ini sama dengan warna mata Demetria.


Itu cantik.


Avyanna merasakan tubuhnya perlahan menjadi ringan dan rasa sakit yang dari tadi ia tahan sudah tidak lagi terasa.


Avyanna bertanya penasaran, "Ibu, asap ini apa?"


Demetria tersenyum lemah, "Terlihat seperti asap ya?"


Avyanna mengangguk, "Bahkan, tadi kakak juga mengelualkannya,"


Demetria mengangguk saat ia melepaskan genggamannya dari tangan Avyanna dan mulai merogoh saku pakaiannya.


"Dalam sihir yang terlihat seperti asap itu di sebut mana, Avyku,"


Avyanna memiringkan kepalanya, "Mana?"


****